Bab. 4 Siapakah Kamu?

1509 Kata
Cuaca hari ini cerah sekali, mentari pun tampak meninggi di tengah cakrawala. Sinarnya begitu terasa menyengat, menyinari sebagian orang yang mencari rezeki di bawahnya teriknya. Di sebuah gedung perkantoran, seorang pria tampan lengkap dengan setelan kerjanya sedang menatap ke luar jendela. Sorot matanya yang tajam memandang hamparan gedung-gedung bertingkat yang berdiri kokoh di hadapannya. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian rapi datang menghadap. Setelah dipanggil untuk membicarakan sesuatu yang penting. “Ada apa Dev?” tanya Steve yang merupakan wakil direktur di perusahaan itu. Ia kemudian menghempaskan pantatnya di sofa yang empuk. Devan berbalik dan berjalan sambil menatap Steve dengan wajah menunjukan kegundahan hati. Ia kemudian duduk di bangku kebesarannya dan menjawab, “Aku ingin kamu menyelidiki seseorang.” Steve taampak mengernyitkan dahinya dan bertanya,”Siapa?” “Kalau tahu aku tidak akan menyuruhmu,” sahut Devan dengan gaya coolnya. Steve tampak tersenyum kecil dan menebak, “Pasti wanita, kamu bertemu dengannya di mana?” tanya lelaki itu kemudian. Tanpa sungkan Devan lalu menceritakan kisah perjumpaan dengan Keyza di pesta Darel rekan bisnisnya. Belakangan ini ia selalu terbayang dan semakin penasaran dengan sosok gadis itu. Kebersamaan mereka ketika sedang dinner, seperti sebuah film yang selalu terlintas di benaknya. Entah mengapa malam itu jadi berkesan di hati Devan dan sulit sekali untuk dilupakan. “ … begitulah ceritanya, sekarang cari informasi tentang gadis itu secepatnya!” Devan mengakhiri ceritanya dan memberikan perintah. “Ha … ha ….” Steve tertawa setelah mendengar cerita Devan seperti kisah Cinderella. Di mana Sang pangeran tidak mengenal siapa teman kencannya malam itu. “Apa yang lucu?” tanya Devan dengan sengit sehingga membuat Steve membungkam mulutnya. “Pantas saja belakangan ini kamu suka gagal fokus. Oke, relax! Dalam waktu 2x24 jam kamu akan tahu siapa gadis itu,” sahut Steve dengan yakin. Devan menyandarkan punggungnya di kursi dengan santainya ia pun berkata, “Kelamaan, aku tunggu sampai jam pulang kerja!” “Apa-apan? Kamu kira paket bisa dayli expres,” protes Steve dengan tersunggut. “Kalau lebih dari waktu itu, aku akan mutasi kamu ke Bogor!” ancam Devan yang membuat Steve langsung berdiri. “Baik Tuan Raja, saya akan segera menjalankan perintah,” sahut Steve sambil membungkukkan badannya sedikit. Seperti seorang pelayanan istana. "Bagus, kerja yang cepat ya!" sahut Devan sambil tersenyum melihat gaya Steve. Steve segera pergi dari dari hadapan Devan sambil menggeleng. Ia kembali ke ruang kerjanya dan mengeluarkan ponsel. Lalu lelaki itu menghubungi seseorang untuk menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. [Ada apa?] tanya seorang lelaki dari seberang sana. [Devan, mencari tahu siapa wanita yang bersamanya di pestamu malam itu,] ujar Steve memberitahu tujuannya menelepon. [Buat apa, bukan kah dia bilang wanita itu teman kencannya?] Terdengar lelaki itu bertanya kembali dengan heran. [Kamu seperti tidak kenal Dev saja,] jawab Steve dengan santai. [Sudah kuduga, pasti dia pura-pura malam itu untuk menghindari Mona,] timpal lelaki itu kembali. [Sudah lah Darel, cepat cari tahu siapa gadis itu! Dev mengancam akan memutasi diriku bila lama mendapatkan info tentangnya. Lagi pula itu bagus buatmu bukan?] seru Steve yang membuat lawan bicaranya terdiam sejenak. [Oke, aku akan segera mengabarimu,] sahut Darel menyanggupi dan percakapan itu pun terputus. Steve meletakkan ponselnya di meja. Ia jadi penasaran seperti apa sosok gadis yang telah berhasil membuat Devan jadi resah seperti itu. Padahal setahunya banyak perempuan cantik dan seksi yang selalu mengejar-ngejar cinta Devan, salah satunya adalah Mona. Menurut Steve Mona adalah bentuk dari kesempurnaan seorang wanita. Cantik, semampai, pintar dan berbody bak gitar Spanyol. Banyak lelaki yang dibuat terkagum olehnya, termasuk ia dan Darel. Namun, Entah mengapa Devan tidak pernah meladeni wanita itu dengan serius dan hanya menganggap sebagai teman bisnis saja. “Steve, apa kupingmu sedang tersumbat sehingga tidak mengangkat telepon dariku?” tanya Devan yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja wakilnya itu. Steve tampak terperanjat kaget sambil mengusap dadanya yang berdebar sangat cepat. “Kamu bisa tidak mengetuk pintu dulu, jantungku hampir mau copot tahu?” tanyanya dengan kesal. “Makanya jangan kebanyakan melamun, dasar otak m***m,” ledek Devan yang membuat Steven kian meradang. “Asal kamu tahu ya! Aku sedang mencari info tentang gadis itu,” sanggah Steve yang tidak terima dibilang seperti itu. “Ngeles saja kayak bajaj, ayo kita makan siang!” ajak Devan sambil berlalu. Steve segera berdiri dan mengikuti Devan. Kemudian ia menggerutu pelan, “Sayang aja atasan kalau ga ....“ “Kalau ga, kamu mau apa Steve?” tanya Devan sambil menghentikan langkahnya tanpa menoleh. “A-anu, kalau ga ya tidak masalah, ayo cepat aku sudah lapar sekali!” sahut Steve sambil mempercepat langkahnya mendahului Devan. “Awas kau Steve,” lirih Devan sambil melanjutkan langkahnya. *** Mentari mulai menyingsing di ufuk barat, jalanan mulai terlihat padat merayap karena sudah waktunya jam pulang kantor. Sementara itu Devan tengah menanti wakilnya untuk memberikan laporan yang ia perintahkan tadi siang. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa gadis yang dinner denganya malam itu. Tidak lama kemudian Steve datang dengan tergesa-gesa sehingga membuat Devan tersenyum. “Senang ya sudah membuat aku seperti dikejar, satpol PP?” tanya Steve sambil duduk di hadapan Devan dan mulai mengatur nafasnya. “Oh … pernah ya? Lagi main di mana?” ledek Devan yang membuat Steve jadi meradang. “Cukup bercandanya! Sekarang dengarkan baik-baik!” seru Steve dengan serius, ”gadis itu bernama Keyza teman satu kampus Lisa adiknya Darel. Selama ini dia tinggal di apartemen Lisa, tetapi sekarang sudah pulang ke rumahnya yang entah di mana. Umurnya 23 tahun, tidak pernah bikin status dan posting foto di media social. Bisa beladiri, suka menulis dan sedikit tomboy. Seminggu lagi gadis itu akan wisuda,” beber Steve dengan jelas dan akurat. Devan tampak mendengarkan dengan saksama sambil terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan. “Kenapa kamu tidak tahu di mana alamat rumahnya?” tanya lelaki itu seolah tidak puas dengan apa yang telah Steve katakan. “Kerena Lisa tidak tahu di mana rumah temannya itu. Ponselnya hilang jadi mereka lose contac," jawab Steve menjelaskan. Devan tetap saja tidak puas dengan info yang Steve berikan. Ia terlihat masih uring-uringan sebelum mengetahui di mana rumah Keyza. “Aku tidak mau tahu dalam waktu 2x 24 jam kamu harus mendapatkan alamat gadis itu!” “What?!” tanya Steve sambil tercengang, “kamu kira cari alamat di Jakarta itu mudah? Sepertinya lebih baik aku jadi kurir expres saja.” ujarnya dengan kesal akan perintah Devan yang seolah mengampangkan mencari seseorang. “Jika itu lebih bagus dari jabatanmu sekarang tidak apa-apa,” canda Devan dengan santainya. Arrrrgghh ….! Steve mengapalkan tangan sambil menahan emosinya yang mulai terpancing. Rasanya ia ingin mencekik orang saat ini. Lelaki itu kemudian berdiri dan berkata, “Lain kali kalau berkencan kenalan dong, ajak sekalian ke hotel jika perlu.” “Kamu berani sekali mengajariku seperti itu, saya tidak bodoh,” sahut Devan yang juga mulai tersulut. “Kamu memang kurang pintar soal perempuan,” balas Steve sambil berlalu. Ingin sekali ia menjedotkan kepala Devan supaya encer tentang wanita. “Hei Steve! Mau ke mana? Kita belum selesai bicara,” tanya Devan dengan kesal karena ditinggal begitu saja. Steve menghentikan langkahnya ketika sampai di pintu, tanpa menoleh ia pun menjawab, “Pulang, lama-lama saya bisa gila meladeni kamu. Seminggu lagi aku akan beritahu di mana gadis itu tinggal.” Lelaki itu pun melangkah pergi meninggalkan Devan yang masih termanggu sendiri. Sebenarnya Steve tidak berani bersikap seperti itu kepada Devan jika dalam urusan pekerjaan, tetapi bila di luar kapasitasnya sebagai wakil. Ia mengangap Devan sebagai seorang teman dan sahabat. Devan tampak tersenyum melihat kekesalan Steve, tetapi apa yang dikatakan wakilnya itu memang benar. Ia mengakui jika dirinya memang bodoh soal perempuan dan baru kali ini ia penasaran dengan seorang gadis. Maka dari pada itu ia menyuruh Steve yang kinerjanya sudah tidak diragukan. Apalagi untuk melacak keberadaan wanita, Steve ahlinya. Devan mendongakkan kepala dan menyandarkannya di kursi. Angannya pun menerawang jauh. Ia masih hafal betul harumnya tubuh Keyza dan bibir gadis itu yang merah delima. Lelaki itu pun memejamkan mata. Mencoba mengingat kembali kebersamaan mereka di malam itu. Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan menyadarkannya. Dengan malas Devan meraih ponsel dan mendengarkan voice note yang ternyata dari Steve. “Cepat pulang, jangan melamun saja! Dasar otak mesum.” Terdengar pesan suara Steve. “Sial kau, jika tidak bisa mengetahui di mana gadis itu tinggal akan kumutasi kamu ke Papua!” umpat Devan dengan mengirim balasan. Lelaki itu tidak menduga Steve bisa tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini. “Silahkan dan selamanya kamu tidak akan pernah bisa menemukan gadis itu,” tantang Steve yang membuat Devan tidak bisa berkutik lagi. Devan tidak menyangka jika Steve berani ancamannya. Lagi pula mana mungkin ia memutasi wakilnya itu karena hanya Steve yang bisa diandalkan dalam segala urusan terutama soal perempuan. “Siapa kamu sebenarnya Keyza? Di mana kah dirimu berada? Aku ingin bertemu dan mengenalmu lebih jauh lagi." Devan bertanya pada dirinya sendiri. Ia tidak menyadari jika Keyza telah menjadi seperti virus yang sudah mengacaukan pikirannya. "Oke Steve, aku tunggu kabar darimu," lirihnya sambil melangkah pergi meninggalkan ruang kerja. Lelaki itu sepertinya harus sabar untuk menunggu satu minggu ke depan. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN