DELAPAN BELAS

2076 Kata
"Ini"  Aku melepaskan kantong logam berisi yach ke hadapan Sezarab Sezarab mengangguk mengambil kantong itu. Dia menghitung setiap keping yach di hadapan kami semua. Aku melihat Jon. Dia tidak mendatangi permpuan yang kami lihat di lorong menuju desa Morgot. Setiap kali aku melihat ke arahnya dia menggeleng kepadaku. Aku ingin sekali memukul kepalanya.  "Masing-masing kalian kuberikan seratus yach, terserah mau kalian apakan. Sisanya akan kugunakana untuk membeli perlengkapan" Sezarab menengadah menatapku "Kau mendorong kami semua masuk ke kandang singa. Kau tahu ?" Sezarab menggeret nampan berisi roti, mengambil roti untuk di celup ke dalam teh hangat "Kau ini.."  Tapi dasar mulutku, aku tidak bisa membiarkan kalimat menggantung. Meski sang penanya sebenarnya tidak membutuhkan jawabanku "Kau bisa membeli banyak barang dengan lima ribu yach yang berhasil kudapatkan"  "Apa ini sebanding dengan nyawa kami semua Matiti ?"   Dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena semuanya tahu, tidak sebanding.   "Aku harap hal ini bisa memotifasimu untuk berlatih dengan keras. Mulai sekarang, tiada hari tanpa latihan untukmu !"  Ada keheningan untuk beberapa detik, sebelum Sezarab melanjutkan "Jadi" dia membentangkan sebuah peta. Kami semua sedang duduk melantai di pondoknya "Aku membayar orang di Grochyi untuk menggambar denah rumah Gubernur Pasataria. Dia menggambarnya berdasarkan pengelihatan Deba" Sezarab melihat Deba  Gadis itu terlalu bangga pada dirinya. Akhirnya dia punya andil dalam kelompok pencurian ini.   Aku menarik lentera, kudekatkan ke gulungan parchment untuk melihat baik-baik seperti apa denah  rumah gubenur Pasataria "Setiap kota dan tempat-tempat penting yang menghasilkan pajak yang berlimpah di negeri ini di pimpin oleh satu gurbenur. Aku memilih gebenur Pasataria" Sejujurnya denah itu tampak rumit, aku tidak langsung mengerti tata letak tempat-tempat rumah si gubernur pasataria ini  "Karena kita tidak mencuri untuk mnejadi kaya melainkan mencuri untuk bertahan hidup, pastikan tidak mencuri hal-hal penting. Aku tidak mau mereka mengetahui keberadaan kita. Paham maksudku ?"  Tidak juga, tapi aku punya ego segunung es. Tidak mau dibilang bodoh.  "Aku mengenal gubernur ini, dia sangat menyukai benda-benda berkilau, jadi hindari mengambil benda-benda berkilau. Karena untuk sekarang yang paling kita butuhkan adalah bahan pokok, maka kita mencuri itu dulu" "Itu pekerjaan anak kecil Sezarab" Jon mendesah "Kau tak perlu siasat. Kau bisa membayar anak kecil di Pasataria untuk melakukan itu" "Ada minyak rubah yang sangat mahal, minyak itu bisa menyembuhkan luka yang menganga sekalipun dalam hitungan detik. Harganya sangat mahal di pasataria, hampir-hampir jarang ada yang memilikinya. Para prajurit sekalipun tidak diberikan minyak itu selama mereka menjalani perawatan luka di kerjaan" Sezarab berdecak "Dia punya banyak, berbotol-botol. Aku mendengarnya di bar tadi malam. Kita butuh minyak itu"  Aku hampir tidak tidur semalam bertahan di tengah dingin mengamati barak-barak tentara di balik benteng pertama kerjaan Syaka.  "Selain itu aku mau kalian mengambil persediaan Wezxkur, sejenis racun dari klan amor. Deba akan mempelajari racun itu. Kita akan membutuhkannya suatu hari nanti"  Mata Jon, tidak henti-henti memperlihatkan kebingungan dengan apa-apa yang harus kita jarah dari rumah gubernur Pasataria "Kenapa Gubernur Pasataria ?"  "Karena gubernur ini memiliki penjagaan yang ketat dan aku ingin tahu bagaimana caranya kalian meloloskan diri dari penjagaan rumahnya. Aku tidak akan ikut dengan kalian, terserah. Aku sibuk. Aku mempersiapkan hal lainnya. Kalian berdua harus saling membatu mendapatkan apa yang kuperintahkan" dia menyobek roti dan membuangnya ke dalam mulutnya yang lebar.  Dia bosnya ? mau kutendang saja Sezarab Aku melihat Deba. Semua baik-baik saja kalau Deba ikut, kami membutuhkan pengelihatannya. Aku melihatat Deba, berharap dia ikut bersama kami. Tapi Deba menggeleng dengan dramatis "Hanya kami berdua ?" tanyaku sekali lagi untuk menegaskan rencana pencurian konyol ini.  Mana ada sebuah pencurian direncanakan sangat detail hanya agar aku bisa lolos dari kejaran penjagaan rumah gebenur Pasataria. Wajah bingung Jon sekarang sudah berubah menjadi wajah bodoh Jon. Aku pasti terlihat sama bodohnya dengan Jon.  "Aku tidak bisa hidup di malam hari Matiti. Yang hidup di malam hari hanya kau dan Jon saja. Ada banyak hal yang harus aku dan Deba kerjakan" Sezarab mengangguk-anguk seperti burung pematuk, aku ingin menendang lehernya sampai patah. Apalagi mendengar perkataannya setelah itu "Buka bajumu dan mulailah berlari"  Baru semalam aku mengatakan para prajurit kerjaan itu aneh, dan sekarang aku harus melakukan apa yang mereka lakukan. Yang benar saja !  "Ada perlengkapan yang harus kubeli" Secepat itu dia menegakkan diri. Ketika kami semua masih mengharapkan penjelasan lebih soal pencurian ini. "Bagaimana kalau kita melakukan hal lain ?" celetuk Jon Setelah Sezarab meninggalkan kami bertiga saja disana.  Deba berdiri di depan pintu "Di luar sudah tidak turun salju, kau mungkin bisa mnecoba apa yang dikatankan Sezarab" Deba bersandar di pintu "Karena kau sudah membeberkan ceritaku pada seorang Mixi aku tidak mau berkompromi denganmu hari ini. Maaf teman-teman aku memihak Sezarab. Menurutku dia benar" "Kau pacaran dengannya ?" tanya Jon asal  Aku sudah menanggalkan bajuku. Menyisakan tubuh krempengku yang siap dikuliti oleh udara dingin negri ini. Aku melewati Deba, aku terdiam tepat di ambang pintu. Wajah kami sama-sama menangadah saling memandang untuk beberapa saat "Kita memihak diri kita sendiri, Deba !" kataku tepat di depan wajahnya. Biar dia tahu aku sampai disini karena mimpi anehnya.  Rasanya seperti bergerak tanpa oksegen, aku sulit sekali bernafas. nafasku di buru-buru sementara kulitku terasa di kelupasi satu persatu dari tubuhku. Tapi lama kelamaan suhu tubuhku jadi semakin tinggi karena enegriku, sehingga tidak terasa dingin yang terlalu menyengat. Semuanya hanya masalah terbiasa.. ? "Jadi ? menurutmu lewat mana kita harus masuk"  Aku sedang menggunakankan kembali bajuku untuk menghangatkan tubuh. Tidakkah Jon memberiku jeda sebentar saja untuk untuk bisa berpikir setelah mengelilingi danau sebanyak sepuluh kali di musm yang ekstrim seperti ini.  Tapi dia benar juga, aku memang harus merencanakan pencurian dengan baik  "Bazar akan ikut dengan kalian" kata Deba muncul entah dari mana. Dia melihatku. Aku balas melihatnya. Alisnya terangkat menuntut sesuatu dariku lalu dia melihat kebawah. Tangannya sudah terulur memberiku sesuatu. Aku menangkupkan tangan, pecahan kayu-kayu Muaram kini terasa membakar telapak tanganku "Selipkan diantara bajumu. Akan terasa lebih hangat" Dia mendekati Jon untuk melihat denah rumah gubernur Pasataria sekali lagi. Membuat jaraknya lebih dekat lagi padaku.  "Ular ini tidak bisa bicara untuk menunjukkan jalan, untuk menjelaskan situasi. Dia tida bisa !"  Sebenci apapun aku dengan Deba, aku tetap mengikuti kata-katanya untuk menyisipkan kayu Muram di antara bajuku.  "Sezarab ingin aku berlajar meracik racun. Dan menurutku itu akan berguna di masa depan"  "Jadi apa tepatnya yang dia rencanakan ?" aku melihatnya dari sudut mataku.  "Kita semua tidak tahu Matiti ! Dan apa yang coba kau rencanakan dengan mengubur dirimu di tumpukan salju di menara lampu ?" Deba membalasku Perempuan sial ! aku hampir lupa dia penyihir  "Aku butuh waktu sendiri untuk berpikir, apa begitu saja harus ku sampikan padamu ?" Aku mendengus kesal "Kupikir kau sudah berjanji padaku untuk jujur"  "Kau yang tidak jujur"  "Dimana letakku berbohong, aku ini orang yang jujur. Pada Igor yang tak ku tahu watak aslinya pun aku bisa sejujur anak kecil"  "Sudah-suda kalian seperti kekasih yang saling bertengkar dan aku seperti bapak mertua yang terkutuk. Cepat kita putuskan harus bagaimana. Sebelum si sok penting Sazarab itu datang"  "Ngomong-ngomong" aku terdiam, aku melihat jauh ke deretan gunung es di depanku "Aku tertarik..."  "Apa ?" tanya Deba, untungnya dia tidak bisa membaca pikiranku.  Mata kami bertemu, dia masih seiingin tahu itu, aku tertawa jahil. Suka melihat wajah ingin tahunya "Tidak..tidak..." aku menarik ucapanku.  Aku seakan menepelkan tanda tanya besar di jidat Deba. Deba menghela nafas, kesal. Dia menarik lengatku. Aku keget dan menepis tangannya dengan sepontan, dia sempat terhuyung tapi akhirnya bisa menyimbangkan diri dan tidak jatuh. Aku bersyukur lenganku dilapisi kain tipis.  Deba juga terlihat sama kagetnya denganku "Ap...ah" Deba memilih duduk saja dan berhenti peduli dengan apa yang mau ku katakan. Dia mendengus kesal duduk di dekat Jon "Kau.." dia melihatku  Aku tidak mau duduk aku memilih bersidekap melihat denah yang di bentang pada sebatang kayu. Aku mengenakan satu tangkai kayu panjang menunjuk ke peta itu "Apa kita bisa masuk lewat sini ?"  Deba menggeleng "Ada lima penjaga disana, terlalu banyak kau cuma cepat dalam berlari, kemampuanmu tidak sebanding dengan mereka"  Aku ingin menyumpal bibibrnya dengan... mmm.... kunaiku  "Aku bisa memanjat, aku lumayan handal dalam tali temali"  Jon tertawa "Ikatan talimu seperti ikatan tali ibu-ibu pembuat renda di Khot"  Aku menyodok dadanya dengan kayu kecil yang tadinya kugunakan untuk menunjuk peta "Memangnya kau punya rencana apa ? Kesatria Altar yang senang berperang. Setiap keputusanku kau perolok. Coba kudengar rencanamu"  Dia mengangkat bahu dan mencibir "Aku sih bisa melempar kapakku dan membelah tubuh penjaga ini menjadi dua"  Deba menggeleng "Pencurian ini tidak boleh ketahuan, sepemahamanku. Sezarab mencoba menjadikan pencurian ini tidak terendus sedkitpun. Dia mau kalau si gubernur tidak menyadari bahwa dia kehilangan barang-barangnya"  "Artinya kita tidak meraup semua hartanya" tambahku "Melainkan mengambil barang-barang yang tidak lagi diperhatikan atau barang yang jumlahnya terlalu banyak. Sesuatu yang dia tidak peduli apabila itu hilang"  Deba mengangguk "Sezarab ingin kalian bersih dalam bekerja, kalau sekali saja kalian ketahuan kalian tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk masuk ke kerjaan"  "Bagiku mudah saja masuk ke kerjaan" Jon asal bicara lagi, dia belum lihat para prajurit tersebar di seluruh sudut kerjaan syaka. Setiap prajurit itu tahu siapa yang masuk dan kelaur dari kerajaan. Mereka saling memberikan kode-kode dengan siulan.  "Masuk ke kerjaan memang mudah Jon, kau pura-pura gila saja bunuh semua orang yang ada di Pasatria dan raja akan mengadilimu di kerjaannya" Aku terdiam sejenak " Tapi Aku ingin sekutu"  Deba tersenyum, dia mirip dengan Sezarab.  Aku mengangguk, aku merasa ada dukungan tak kasat mata kudapatkan dibalik senyum Deba "Aku harus menjadikan Negri ini sekutuku. Negri ini besar, mereka punya pertahanan yang tidak sembarangan"  "Kau mau mengusai Negri Syaka ?"  Aku terkekeh "Aku ingin menjadi bagian penting dari negri ini, aku ingin Rakyat Syaka membalas jasaku dengan mendukungku menjadi Raja Altar" "Ya Ampun Matiti, kau buat aku merinding" Jon bergidik, terlihat tidak wajar dengan tubuhnya yang besar  "Aku akan masuk dengan cara yang membekas di benak sang raja" Ada kehening yang membumbung di udara. Masing-masing dari kita sedang memikirkan masa depan buram di yang membentang. Masa depan yang berpondasi keinginan dan harapan-harapan pilu. Untuk mewujudkannya tentu harus kerja keras. Kami semua harus saling mendukung. Kalau satu dari kami berhianat habislah kami semua. Aku tidak mau tahta negri ini, aku mau didukung oleh negri yang besar yang di segani kerjaan lainnya. tidak salah Negri Syaka adalah jawabannya.  Pertama-tama aku harus jadi nomor satu, aku harus masuk menjadi prajurit dan menjadi kebanggaan raja. Menjilatnya sampai kekuku-kuku hingga tidak ada celah buatnya untuk tidak membalas jasaku. Aku mau hubungan timbal balik tak bersyarat darinya.  "Kawan, jadi menurutku kalian harus masuk lewat pintu belakang, tempat para pekerja masuk. Matiti kau harus menyamar menjadi salah satu dari mereka. Dan membukakan jalan masuk buat Jon" jadi begitu siasat Deba, mungkin dia mendengar dari Sezarab, mungkin dia menyampaikan ulang apa yang pernah disampaikan Sezarab padanya, malam ketika mereka membuat peta ini "Lalu disini, mereka saling mengenali satu sama lain. Kau harus menyuap satu dari mereka, meminta dia mengalihkan perhatian pekerja lainnya"  Aku mendengarkan Deba dengan baik, tanpa berkomentar sementara kepalaku memilih satu jalan yang lain yang menurutku lebih aman.  Tidak lama Sezarab datang. Dia datang langsung mengusung pedang padaku "Yang lain pergi, tinggalkan aku berdua dengan krempeng ini"  Apa dia bilang ? Kelak, seandainya tubuhku berubah aku pasti akan menginjaknya.   Pedangnya menari indah di udara dangan cepat mengerat bagain depan bajuku. Laki-laki ini gila. Jon berdiri menepuk-nepuk pantatnya yang penuh salju "Deba kau ingin membantuku berburu tidak ?"  Deba menurut. Dari balik pundaknya Jon berbisik "Mati kau !" lalu hilang ketika menanjak ke bukit untuk berburu bersama Deba. Deba membiarkan Bazar disana. Dia ingin tetap memantauku. Tingkahnya lama-lama seperti ibukku.  Mati aku, memang benar..itulah yang terjadi. Laki-laki ini tidak memberikanku kesempatan bergerak dengan pedang yang ku tukar dari Igor semalam. Dia tidak terlihat seperti sedang berkelahi denganku. Sezarab terlihat seperti menari-nari dengan pedangnya tapi dengan gerakan indahnya dia bisa memotong-motong pakaianku, memotong-motongnya hingga aku bertelanjang d**a akhirnya.  Dia senang menyiksaku, lihat saja senyum yang terkempang setiap kali dia berhasil memotong pakaiyanku.  "Dasar berpedang saja kau tidak tahu. Kau ini terlalu dimanja ibumu"  Aku mengunus pedangku dan hampir mengerat pipinya, dia menggeleng "Masih salah ! Tumpuanmu salah Matiti. Bukan di lengan tapi di betismu dan bisep bagian belakang. Rasakan tekanan pada bagian itu. buat beban di sana sebelum kau mengunus pedangmu" Dia menendang kakiku "Kakimu tidak boleh sejajar, posisikan kakimu dengan posisi bersiap. Mereka harus saling bertumpu"  Dia melihat air danau yang membeku, secepat itu pandangannya berganti pada kayu cemara yang daun-daunya hampir habis "Coba dulu pada kayu-kayu itu, latihan lah. Aku belum bisa jadi tandinganmu"  Aku harus berlatih dengan sebatang kayu ? sehina itukah kemampuan ku membawa pedang ? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN