TUJUH BELAS

1743 Kata
Igor masih tersenyum kecut "Kau seorang perampok ! Lima ribu Yach ?" dia masih tidak pencaya dengan dengan nominal yang ku ajukan padanya.  Aku mengangkat bahu, aku duduk bersandar mencoba untuk terlihat lebih nyaman. Pandanganku langung tertuju pada Mixi muda yang menempa itu "Dia pasti Gili" kataku sembari tanganku mengambil satu kantong Late dari dalam bajuku "Kenapa kau melihatku seperti itu Gili ?" jujur aku terganggu dengan cara bocah itu melihatku  "Kau terlihat seperti Breng***sek" jawabnya kasar. Secepat umpatananya, dia membuang muka.  "Anakku yang dung^^u ini saja tahu, bentukan kalian seperti apa"  "Kau hanya belum tahu tujuan kami kemari" imbuhku dengan santai Igor melepaskan pekerjaannya, dia mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan ganggang kaca pembesar yang dipeganganya "Kalau begitu katakan dulu apa tujuan kalian ?"  "Kalau begitu izinkan aku bertanya terlebih dahulu, anggap ini adalah caraku untuk sedikit bisa lebih mengenal kalian. Kenapa kalian pergi dari Altar ?"  Igor tertawa terbahak-bahak, tubuhnya sampai tertarik kebelakang Jon cuma menggeleng-geleng, matanya menatapku dengan awas. Takut aku melewatkan kesempatan ini dan akhirnya pulang tanpa sepeserpun Yach bisa kami datapkan.  "Kau pintar anak muda, pintar sekali.." dia menunjuk-nunjuk wajahku dengan kaca pembesar "Siapa namamu ?" Aku menggeleng dramatis, tidak mau menyebutkan namaku "Kenapa kalian pergi dari klan kalian ?"  Ujung senyumnya terangkat mendapati keras kepalaku "Kita memiliki takdir yang berbeda-beda. Aku menemukan takdirku di sini. Aku mendapatkan sepotong roti untuk mengganjal perutku di negri syaka bukan di Altar"  "Ya takdir kita memang berebeda-beda" aku memajukan kursi tempatku terduduk  "Sebagain dari kita juga banyak berakhir di tiang gantungan"  Nafas Igor menjadi semakin berata, matanya menunjukkan emosi yang dalam  "Seaindah-indahnya negri bersalju ini" aku meletakkan satu kantong late di atas meja, mendorongnya lebih dekat pada Igor "Tempat ini tetap tanah kita" dia masih terdiam, tidak menunjukkan respon apapun "Olexys menggulingkan Jafar"  Igor cuma mengangguk, dia bersandar menengadah melihat langit-langit rumahnya "Dia memang pantas digantikan. Waktunya untuk melihat perubahan pada Altar"  "Kau tidak akan menemukan Klanmu lagi, mereka menghapus sistem Klan"  Wajahnya syock "Tidak" dia menggeleng-geleng  "Seribu Yach lagi akan kuberi tahu sisanya" aku tersenyum simpul senang sekali mempermainkan emosi Mixi  Dia diam sejenak, memejamkan mata dan berfikir. Menimbang-nimbang  "Ayah yang benar saja kau akan memberinya enam ribu Yach, itu sangat besar" Gili terlihat sangat tidak terima. Dia sampai menghentikan pekerjaannya. Tapi Igor tidak memedulikan anak itu. Igor larut dalam pertimbangannya. Dia laki-laki yang tidak bisa di pancing dengan berita.  "Kau akan mendapatkan jutaan Yach kalau mendengar kelanjutan ceritaku, enam ribu yang kau berikan untuk berita ini bukanlah apa-apa Igor"  Matanya terbuka  "Katakan !" dia membuka laci di bawah meja kerjanya. Memberikan sekantong Yach "Isinya lima ribu lima ratus Yach. katakan ! Hanya itu penawaranku. Aku tidak punya penawaran lain"  "Lima ratusnya ku ambil itu"  Sejak tadi aku terpikat pada sebuah pedang yang digantung pada papan kayu di belakang Igor, Gagang peadang itu berkilau memiliki dua mata pisau yang berbeda jenisnya yang satu runcing tajam berkilau dan mematikan yang satu bergigi, menusuk. Aku tertark karena simbol ular yang melilit ganggang pedang mengingatkanku pada Bazar.  Igor menghela nafas "Kau memang laki-laki keji"  Pagi tadi aku baru mendengar sebaliknya dari Deba, tidak masalah. Aku sadar bahwa "baik" tidak pernah memiliki warna yang pasti. Kata baik selalu abu-abu.  Biar begitu dia menurunkan pedang yang nampaknya bernilai lebih dari lima ritus Yach. Gili menganga tidak percaya dengan keputusan yang dibuat ayahnya, tapi dia juga sepertinya adalah seorang anak penurut, dia keliatan tidak punya keberanian untuk mencegah ayahnya memberikanku pedang berpegangan ular padaku.  "Pedang ini adalah pedang yang dijual seorang janda padaku. Suaminya seorang prajurit dan dia menukar pedang ini dengan seribu Yach. Kuberikan, karena aku kasihan pada bayinya yang masi sangat kecil"  "Aku akan membuat pedang ini lebih berharga di tanganku" jawabku dengan gerakan cepat mengambil pedang itu dari tangannya "Aku juga yatim piatu" aku tersenyum pada pedang ini  "Sudah kuberikan ! Apa yang akan membuatku mendapatkan jutaan Yach ? Katakan !"  Jon melirikku, dia tidak mengerti dengan permainan yang tengah kubuat. Tapi aku mengerti benar. Semua manusia pada dasarnya tamak dan membutuhkan hal yang lebih besar lagi, lebih besar lagi sampai mereka mmeiliki segalanya.  "Di Altar semua Klan dibantai kecuali Klan Mixi. Aku tidak tahu bagaimana nasib Klan Pasir Hitam dan Berbisik. Kalan kepala besar bersembunyi entah kemana. Orang-orang Altar hidup dengan satu harapan.."  Aku melihat Gili kali ini dia terlihat tertarik, aku dapat mengetahuinya dari caranya melihatku, mata coklatnya berbinar. Dia jenis Mixi paling tampan yang pernah kulihat. Aku menganggumi bagamaian wajah kecil mungil miliknya membingkai raut seorang Mixi.  "Mereka mengharapkan anak kedua dari pemimpin Kwaititi menjadi raja"  "Gila ! itu Klan kalian... kalian mengada-ada kan ?" sergah Gili tidak percaya. Dia mengambil tombak kecil yang membuat ku berkidik. Rasa sakit tombak sejenis itu masih terasa di pingganggku.  "Karena itu memang Klan kami mangkanya kami tahu, seorang gadis penyihir berasal dari pulau Lohye.."  "Tidak..tidak..." Igor berusaha tidak percaya, aku rasa karena aku menyebut pulau Lohye.  "Gadis Lohye itu menyampaikan pengelihatannya disaksikan semua warga kwaititi. Kami mendengarnya sendiri. Gadis itu bersumpah, Altar akan berada di puncak kejayaannya pada saat kepemimpinan putra kedua Gudati ! Sekarang Altar sedang kacau balau. Olexys menawarkan hadiah paling besar bagi siapapun yang bisa membawa anak itu hidup-hidup padanya"  Ku lihat wajah merah Jon berlahan memucat, bibirnya menganga  "Banyak orang mencarinya ke Pustinya, tapi aku tahu dia masih di dinegri yang tidak jauh dari Altar. Dan tujuan kami kemari mencarinya"  Senyum mengembang sangat manis di wajah Igor, dia mengerluarkan harga yang sebanding dengan informasi yang didapatkannya.  Jon keliatan gelisah. Aku mengambil sekatong Yach yang berhasil kudapatkan. Manaruh Yach itu di kantong pakaiyanku.  ? "Kau.." Jon mencekikku di lorong panjang yang kami lewati tadi  "Kau mau bunuh diri atau apa, sialan !"  Aku menaikkan alisku "Aku sedang melempar batu ke satu tempat dan meminta anjing untuk mengambilnya. Itu artinya aku sedang membuat tenggat waktu untuk kita. Sebelum orang-orang tahu siapa aku. Kita harus berhasil masuk ke kerajaan"  "Kau gila Matiti, kau" Jon menarik diri. Dia terlihat putus asa padaku. Dia berkacak pinggang gelisah tidak habis pikir dengan apa yang kulakukan.  "bagaimana kalau Olexys tidak pernah mengadakan sayembara bodoh macam itu ?"  Aku tertawa renyah "Kita terlalu lama tinggal di Altar bukan ? Kau pikir dia tidak mengerahkan orang-orang dalamnya untuk mencariku ke seluruh negri ? semua orang mencariku. Biarkan saja mereka. Semantara aku akan berubah menjadi hantu di malam hari, menggasak uang orang-orang kaya. Dan masuk ke kerajaan menjadi prajurit. Tidak ada orang sembarangan yang bisa menembus benteng kerjaan Negri Syaka. Mereka punya pertahanan yang jauh lebih baik dari yang dimiliki Altar"  Jon masih terlihat ragu dengan rencanaku  "Tenang saja kawan, tenang.. semua akan baik-baik saja. Kita lihat kemana nasib membawa kita. Kalau mimpi Deba benar aku dan kau tidak akan mati. Aku akan menjadi Raja kan ?" aku tertawa lemah  "Kau sedang bunuh diri Matiti"  "Aku sedang membuat skema seolah bunuh diri, padahal aku hanya kabur" aku menepuk bahu besar Jon "Seperti itu sebenarnya"  Aku merokoh kantong Yach dan memberikan beberapa keping yach buat Jon "Cari perempuan yang tadi, bersenang-senanglah"  Aku berjalan meninggalkannya bersama kantong Yach di tanganku "KAU MAU KEMANA ?" teriaknya Aku menghentakkan kaki. Manaruh tanganku di bibir "sttt" dia lupa kalau suaranya sebesar suara genderam perang. Aku berjalan kembali ke desa Margot. aku menggunakan gerakan tangan pada Jon agar dia pergi dari sana.  "Aku mau jalan-jalan, menikmati malam"   ? Menikmati malam ? Malam yang mana ? Malam tidak akan pernah sama buat ku. Setelah semuanya diambil dariku dengan kejam. Aku tidak cukup dewasa menerima semua ini sebagai takdir.  Sepanjang langkahku di malam yang dingin itu aku dibayang-bayangi Hariti "Kalau aku jadi raja..." hanya itu yang terdengar ditelingaku.  Aku tidak takut sama sekali melempar diriku pada kematian, menjadikan diriku sendiri umpan untuk menemukan jalan keluar dan lolos dari bahaya. Aku tidak takut. Yang lebih menakutkan sudah pernah kulewati. Aku hanya perlu bertahan hidup di sini.  Nafasku semakin berat aku sudah jauh berjalan ketimur melewati hutan cemara yang dipenuhi salju. Nafasku memburu berat. udara terasa semakin menipis di atasku.  Aku menengadah. Aku sedang berjalan mendekati kerjaan negri Syaka. Aku menaiki sebuah tembok pendek entah tembok apa setelah aku turun dari tembok aku berada di jalan setapak yang sudah sepi, menyisakan grobak-gerobak dagang yang dibiarkan tertumpuki salju. Lampu-lampu rumah sudah mati.  Desa yang tidak kutahu namanya ini adalah desa yang berada paling dekat dengan kerajaan negri syaka. Dan sudah sangat sepi pukul segini. Aku menaiki gerobaka dagang, berusaha memanjat ke atap-atap miring yang menjuntai. Aku tergerus salju. Tapi aku mencapkan kunaiku kuat-kuat dan bisa bergerak dengan tali temali, sampai menemukan pijakan di atas atap.  Aku merangkak ke atap lain yang lebih datar permukaannya. Rumah yang kupilih adalah rumah paling tinggi di antara desa-desa lain. Jadi rumah itu bertingkat dua. Ada semacam selasar di tingkatan keduanya.  Aku memanjat dan terduduk sejenak di selasar itu untuk  memecah kayu Muaram menjadi dua bagian dan ku genggami.  Sejujurmua aku ingin mengintip ke balik benteng kerjaan.   Tapi dari ketinggian rumah itu, sedikitpun aku tidak bisa melihat ke dalam tembok. Aku terpaksa berjalan membungkuk di jejeran atap rumah. Mengaitkan tali temaliku. Ku pikir aku harus memiliki teknik lebih baik untuk mengaitkan tali-tali ini sebagai penyangga tubuhku.  Aku memutuskan memanjat ke tampat paling tinggi. Menara lampu. Menara lampu dijaga oleh dua penjaga, mereka berjaga di  puncak menara lampu. Aku melihat ruang sempit dimana aku bisa duduk di bawah tumpukan salju tepat di bawah puncak selasar menara. posisi itu cukup tertutup, dan pakaiyan gelapku bisa mengelabui mata para prajurit.  Nah, disini  Aku bisa melihat kehidupan kerajaan dari sini. Aku bisa melihat petak-petak prajurit yang dibuat untuk latihan berada di bawah kastil kerjaan, barak-barak tenda mereka terlihat begitu sederhana. Beberapa prajurit masih berlatih dengan pedang mereka. Ada yang berlari bertelanjang d**a di udara dingin malam, melatih kekuatan tubuh mereka.  Mereka gila, pikirku  Penjagaan kerjaan syaka tidak main-main. Pintu gerbang utama di jaga oleh empat orang prajurit, satu di antara mereka merupakan penjaga gerbang utama. Aku berpendapat seperti itu karena dia bertugas mengawasi seluruh benteng. Dia berjalan mengitari benteng sekali waktu dia akan beridiri di atas benteng dan membunyikan peluit-peluit. Aku tidak mengerti tapi pasti itu adalah kode anar prajurit.  Seorang berjalan keluar dari bangunan utama istana. Laki-laki jompo yang di ikuti tujuh prajurit di belakangnya. Dia memeluk dirinya tersungut-sungut berjalan di antara udara dingin. Aku jadi dia mungkin aku akan berlari. Dia berjalan menuju pintu utama. Tidak lama aku melihat kreta kuda datang.  Penjaga pintu utama bergegas menghampiri pria itu, mereka berbicang tidak lama laki-laki jompo itu pergi dengan kereta kudanya.  Kesimpulanku untuk malam ini adalah, memang terlalu banyak prajurit. Butuh siasat super cerdik untuk bisa masuk ke dalam kerjaan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN