ENAM BELAS

2132 Kata
Tiba-tiba rencana kami berubah. Sezarab berfikir untuk mempercepat rencana pencurian kami. Dia dan Deba berencana untuk mempetakan rumah salah satu mentri kerajaan yang mengatur masalah pangan.  Semantara aku dan Jon, dipaksa menggunakan otak kami untuk bisa berpikir gimana caranya agar kami bisa mengubah Late menjadi Yach. Itu agak sulit. Entah kenapa aku jadi mau balik ke gunung batu Mixi dan bertemu Yubax, aku mau bilang "Hei Yubax, ayo saling bertukar ! ku beri kau tujuh ratus Yach, kau beri aku lima ribu Yach" Nilai mata uang Altar jauh lebih rendah dari pada "yach"-nya Negri Syaka. Negri ini sedang makmur harag-harga disini semuanya dibuat tinggi. Untuk orang miskin mereka lebih baik menyingkir dan pergi ke Pustinya menjadi buruh pembuat tembok-tembok besar.  Setelah masing-masing misi kami terselesaikan kami berjanji untuk bertemu di Pasataria. Tempat orang-orang Syaka minum-minum. "Tempat ini indah Matiti, Lihat !" Dia menunjuk ke langit lepas, lapisan udara di langit menjadi biru. Pancaran aurora berwarna hijau, biru dan ungu bekejar-kejaran dengan lapisan udara dingin. Langit ini, luar biasa. Saking indahnya bintang keliatan seperti menggantung di langit "Kita terlalu lama hidup di tengah-tengah pohon ek"  Aku tidak bisa membatahnya, dia benar. Tempat ini indah. Rumah-rumah di Negri Syaka terlihat lebih megah dari rumah-rumah penduduk Altar, rumah mereka bertingkat-tingkat dan atapnya berbentuk segitiga. Atapnya dibuat terjulur sampai ke tanah. Setiap rumah memiliki cerobong asap yang asapnya mengepul membumbung sampai ke langit. Tidak heran tempat ini sangat dingin.  Perumahan penduduk terletak di bawah istana pertama,  mereka menyebutnya Pasataria. Rumah-rumah di sekitar sana berjejer sangat rapi, seakan memang dibuat dan dibentuk oleh seornag seniman.  Kami harus naik semakin ke atas untuk menuju ke desa Morgot. Kami sempat bertanya pada seorang laki-laki mabuk yang hampir mati kedinginan di pinggir jalan, dia terlalu mabuk untuk menemukan jalan pulang  "Ada urusan apa kalian bertemu mahluk cebol itu ?" katanya agak ketus  "Kau tidak perlu banyak tanya, kau beritahu saja jalan ke Morgot" Jon mengancam, dengan ketus. Orang mudah ketakutan kalau mendengar dia bicara. Itu karena besar tubuhnya yang tidak normal.  Jadi sebelum diminta menemui Mixi, aku diberikan penghangat oleh Deba. Kayu Muaram, kayu yang membuat suhu tubuh menjadi lebih hangat di udara dingin, cara menggunakannya hanya dengan menggenggam kayu itu di kedua tangan yang membeku. Entah darimana gadis itu tahu. Deba selalu mengetahui hal yang tidak masuk akal, bukan ?  Aku menunduk memberikan satu kayu Muaram ke tangannya. Dia tidak berkata-kata tapi aku tahu dari cahaya matanya yang tidak berkedip melihatku. Dia berterimakasih "Malam yang panjang tuan" kataku sebelum meninggalkannya.  Tuan pemabuk tadi meminta kami mengikuti jalan setapak dan di persimpangan dekat istana pertama kami harus berkelok ke dekat deretan bar mengikuti alur bar-bar itu hiangga menemukan lorong yang mengarah turun.  Kami mengikuti apa yang dikatakan pria itu. kami berjalan di sepanjang perumahan yang padat dengan bentuk rumah yang serupa, perumahan itu terus membawa kami menanjak. Aku masih belum melihat penampakan istana pertama. Aku memeluk pinggangku sendiri karena dingin. Seperti bocah. Sementara Jon berjalan dengan gagah.  Ini sudah larut, tapi aku masih saja melihat satu-dua orang berjalan, ketika kami saling berpapasan, orang-orang itu melihat kami, beberapa dari mereka menghentakkan kaki. Jon ragu-ragu melakukan yang sama "Apa itu tadi Jon"  "Begitu cara mereka memberi salam"  Tempat ini unik. Mereka saling menyapa, tidak peduli itu musuh atau teman. Kalau di Altar, semua orang akan memelototimu sampai kau berpikir kau sendiri adalah orang paling aneh di dunia. hingga mentalmu terpuruk dan kembali ke kampung halaman tidak pernah menginjakkan kaki lagi di Altar.  Semakin tinggi penampakan rumah-rumah beratap menggantung itu, tidak terlihat, bangunan berubah menjadi kastil-kastil tinggi, berhias lampu-lampu, jendela-jendela kecil. Terlihat ada kehidupan. Manusia-manusia dari jendela. Cerobong asap kastil-kastil itu sangat besar mengeluarkan asap-asap yang terlihat aneh. Rasanya aku mau menaiki rumah mereka hanya untuk menghangatkan diri di cerobong asap. Tapi kastil-kastil itu tidak mudah di masuki, ada penjaga-penjaga di pintu masuknya.   "Tempat-tempat apa ini ?"  "Kata Sezarab tempat-tempat itu adalah tempat pedagang-pedagang kaya"  Aku terkekeh "Benarkah ?"  "Kata Sezarab, kita tidak akan bisa membayangkan sekaya apa mereka. Mereka kaum-kaum yang memiliki pasukannya sendiri. Mereka paling sedikit punya lima ratus pasukan. Terkadang Raja meminjam pasukan-pasukan para orang kaya ini untuk berperang "  Aku kagum pada Jon "Kau mendengarkan cerita Sezarab dengan baik Jon"  Dia mengangkat dagunya berlagak "Mungkin karena negri ini membuatku tertarik"  Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa Sezarab ? Apakah dia orang penting kerjaan ? tapi dia pasti sudah kaya raya kalau seperti itu. Lalu kenapa dia bisa ke Altar mendapingi Raja Negri Syaka, dan diperlihatkan Riadura Kami lanjut berjalan,  ? Akhirny aku melihat istana pertama. Istana itu lebih mirip kastil ketua Klan ketimbang disebut Istana.  Istana pertama di kelilingi sebuah benteng tinggi nan kokoh.  Pintu masuk Istana pertama terbuat dari kayu ek, jujur melihat urat kayu pada pntu masuk itu mengingatkanku pada rumah. Pintu masuk di tunggui empat orang penjaga gerbang, membawa pedang di sisi tubuhnya, berpakaiyan kulit yang tebal tebal dan keras. Khas para prajurit.  Sepertinya mereka mencurugai kami, itulah yang kurasakan dari cara mereka melihatku. Tapi setelah aku melihat lagi ternyata tidak ! Mereka memang mencurgai siapapun yang lewat di depan gerbang istana pertama "Mereka memiliki wajah yang menakutkan" gumamku tanpa sadar setelah melalu pintu masuk istana pertama.  "Mereka punya tujuh istana" Jon tidak memudilkan pendapatku tentang para penjaga pintu  "Yang benar saja ?"  "Lihat !" Ketika kita berkelok ke sebuah jalan dan terlihat satu gunung batu yang menjulang tinggi lebih tinggi dari semua gunung es, disanalah kerajaan Negri Syaka berada. Kerajaan itu berada di puncak tertinggi gunung betu, berkelok, berpendar bak keristal di malam penuh aurora ini "Kerajaan yang indah"  Aku tidak bisa mengatakan apapun "Indah sekali"  "Lebih indah dari Kerjaan Altar ya ?" Jon meminta persetujuanku Sejujurnya aku tidak mengingat kerajaan Altar sebagai kerjaan yang indah, kerajaan itu bernuansa kayu galap dan berbau amis seperti pasar ikan. Satu-satunya yang ku sukai dari istana Altar adalah sungai jernih yang mengalir di luar gerbang istana yang berkelok menuju lautan.  Kerajaan Negri Syaka memiliki tujuh menara, mengelilingi bangunan utama yang megah tinggi dan bertingkat-tingkat "Kapan-kapan kita harus berjalan ke dekat kerjaan"  Jon menggeleng "Sezarab bilang, terlalu banyak penjagaan" dia diam "Satu-satunya cara masuk kerjaan hanya dengan menjadi prajurit. Mereka dilatih di bawah tebing di belakang istana. Mangakanya kerjaan itu dipenuhi dengan prajurit. Sedangkan istana pertama ini diperuntukkan hanya untuk persediaan makanan demi melewati musim dingin"  Negri Syaka negri yang tidak bisa di anggap remeh. Pemerintahan mereka kuat, tidak tergeser. Monarki mereka tertata dengan apik, mereka tidak main-main dalam urusan pertahanan dan privasi sang raja di jaga dengan baik, dibatasi dan disegani. Orang-orang Negri Syaka lebih mudah untuk diatur dari pada para Klan di Altar. Bisa kukatakan negri ini tertata dengan sangat rapi meski disini musim dingin sangat panjang.  Secepat langkah kaki kami melewati deretan bar dan pusat dari keramaian Pasatria yang lain, secepat itupula pemandangan kerajaan Negri Syaka hilang. Aku tidak tahu kalau mereka masih senang bersenang-senang meski udara membuat kaki begitu susah bergerak. Orang-orang yang bekumpul di luar bar merayu wanita-wanita yang menggunakan pakiayan yang terlihat seperti tumpukan selimut bulu domba. memegangi Quela bermacam-macam warnanya.  Kami mengikuti perkataan laki-laki mabuk tadi, mengikuti deretan bar sampai menemukan lorong yang mengarah turun. Semakin ke masuk ke deretan bar, perut kami semakin tersiksa dengan wang roti dan makanan di sepanjang jalan itu.  Kami berpapasan dengan muda-mudi yang sedang jatuh cinta dan prajurit-prajurit mabuk yang terbahak-bahak. Mereka menghentakkan kaki kanan mereka sambil mengunci pandangan mereka ke arah kami. Kami membalas dengan melakukan hal yang sama "Selamat bersenang-senang kawan" ujarnya pada kami.  "Mereka punya adab lebih baik dari pada Kaln-klan kita"  "Kita tumbuh ditengah pemerintahan yang buruk, Jon "   Jujur saja kami berjalan sedikit lebih lama karena menikamti suasana di sepanjang pusat kesenangan Pasataria. Di sisi kiri dan kanan adalah makanan enak. wangi yang menghempas ke hiudng kami. bau daging bakar, roti panggang. Apa mereka tidak pernah kekurangan makanan dan minuman di sini. Rasanya semua terbuang-buang disini. Jon tidak henti-hentinya menelan ludah sepanjang jalan.  Sampai akhirnya jalan semakin menyempit dan mulai turun, dimana kami melihat satu-satunya lorong di sebelah kanan jalan setapak. Lorong itu panjang dan hanya di berikan pecahayaan yang redup. Ukurannya hanya sebentangan tanganku. Di ujung gang ada tangga batu turun-turunan yang terjal menuju ke tempat yang lebih terbuka. Aku bisa melihat tumpukan salju putih membentang. Rumah-rumah penduduk yang hangat, cerobong asap yang mengeluarkan asap-asap pekat.  Ada seorang nona bergegas menaiki tangga dia terlihat terburu-buru. matanya coklat dan pipinya penuh bintik-bintik merah  "Nona" Sekali lagi aku harus bertanya. Dia sedikit kaget karena langkahnya yang cepat-cepat aku hentikan.  Dia mengepit dirinya di dalam luaran bulu-bulu halus, alisnya terangkat, keliatan agak sedikit congkak  "Kami mencari seorang Mixi, yang tinggal di Morgot"  Dia mengangguk sekali, rambut keriting yang jatuh di jidatnya begoryan-goyang. Dia menunjuk sebuah rumah jauh di ujung rumah-rumah yang lain "Dia memisahkan diri sendiri. Rumahnya yang ada pagar batu" DIa mencondongkan tubuhnya. Aku sedikit syock. Spontan menjauh karena takut dicium tiba-tiba. Dia tersenyum geli melihat rekasiku "Aku cuma mau bilang namanya Igor, punya anak laki-laki bernama Gili dan Jili, istrinya berasal dari Syaka namanya Kara"  Informasi yang cukup kami syukuri malam itu  Perempuan itu mengedipka mata "Punya Yach ?" tanyanya genit padaku. Kakinya keliatan tidak sanggup berdiri lama-lama karena udara yang dingin. Mungkin dia ingin cepat-cepat lari dari udara dingin dan masuk ke gang sempit yang lebih hangat.  Dengan sedih aku menggeleng "Maaf"  Dia menghela sedih "Aku bekerja di bar, kalau kalian butuh penghangat aku bisa memeluk kalian sepanjang malam" dia kembali berkedip padaku  Oh...  Yang salang tingkah malah Jon. Jon tersenyum-senyum, memiringkan kepalanya yang besar untuk alasan yang tidak jelas.  "Semoga kalian beruntung, tampan"   Dengan alasan apa dia menyentuh pipiku. Gadis itu. Benar-benar gila Lalu dia berlarian meninggalkan aku dan Jon. Jon masih tidak bergerak dia tentu sangat berharap bisa di peluk sepanjang malam oleh gadis itu "AKU AKAN MENCARIMU" teriaknya  Si gadis terlihat tidak suka dengan teriakan Jon dia menggelengkan kepala memberikan kode jari di bibir agar Jon tidak berteriak. Jon menutup mulutnya "Apa kita tidak boleh berteriak Matiti ?"  "Suaramu itu kelewat besar Jon" aku berlari menuruni tangga  Suara kaki besar Jon mengikuti di belakangku  Jadi, rumah Igor memiliki pagar setinggi da**daku, pagar-pagar batu yang tidak sudi ku sentuh karena dinginnya pasti tak terkira menyengak kulitku. Satu-satunya rumah yang memiliki pengetuk pintu besi. Sengan susah payah ku longgarkan karena sudah membeku. Kau mengetuk pintunya menggunakan benda itu.  Laki-laki berwajah masam, berambut merah, yang wajahnya mengkerut seakan turun mengikuti gravitasi bumi. Dia melihat kami dari  selasar depan rumahnya, dia menggelengkan kepala. janggutnya yang dikepang terayun-ayun tersapu dinginnya angin malam bersalju. Aku terpaska mengikuti tingkah perempuan tadi yang berlarian di tempat untuk menghentikkan dingin yang mulai naik membekukan otakku.  Aku yakit dia adalah Igor, karena dia terlalu tua untuk jadi Gili dan Jili dan terlalu cebol untuk jadi Kara. Igor menggerakan tangannya mengusir kami.  "Ayolah kawan.." Jon berdecak malas ditolak karena kami sudah sampai sini  "PULANGLAH KALIAN KE ALTAR SANA" teriaknya.  Sesungguhnya kami bisa saja melompati pagarnya tapi siapa yang tahu dia tidak menanam jeruji-jeruji yang bisa bergerak sendiri seperti yang ada di gunung Mixi  "Kami tidak ada hubungannya dengan Altar, kami cuma mau meminta jasamu" kataku jujur dengan kedatangan kami "Kami mau menukar Late"  Dia melihatku terlihat ragu sejenak lalu bergerak mendekati pintu masuk. Apa semua Mixi itu materialistis mereka gampang sekali dibayar dan selalu berkaitan dengan logam, dan proses menempa besi.  "Masuk dulu lah, di luar dingin"  Dia adalah Mixi pertama yang baik hati. Aku tidak menyangka itu alasannya membuka kan kami pintu. Aku menoleh pada Jon. Mata Jon membesar tidak percaya diperlakukan baik oleh seorang Mixi.  Kami di bawa ke tempat Igor mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang penampa. Dari balik api yang menyala-nyala aku melihat Mixi lain, yang lebih agak sedikit tinggi. Bermata bulat tampan, berambut coklat aneh, matanya coklat menyiratkan keingin tahuan. Dia sedang membentuk sesuatu, memukul-mukul besi, mengadunya dengan palu besi.  "Duduklah"  Jon berusaha sekuat tenaga beradaptasi dengan segala sesuatu yang berbentuk mini yang sama sekali tidak cocok dengan ukuran tubuhnya "Kami berdua dari Altar"  Dia mengangguk, mengangkat perkakasnya kembali duduk di meja kerjanya yang panjang besar  penuh dengan besi lempengan kecil-kecil. Dia melanjutkan pekerjaannya "Katakan apa yang kalian inginkan"  "Menukar Late dengan Yach" kataku singkat  "Berapa kantong yang kalian punya ?" dia melihatku dari balik besi-besi yang sedang dia kerjakan, mengaitkan satu demi satu tali temali besi itu hingga menjadi besi-besi aneh lainnya  "Tujuh ratus"  Dia tertawa, sambil menggeleng-geleng merendahkan "Cuma tujuh ratus, apa yang kalian harapkan dari Late sesedikit itu ?" "Jumlah yang sama dalam bentuk Yach"  "Wah" dia menggeleng "Kalian tidak lupa dengan cara tukar menukar barang kan ?"  "Kami mengharapkan hal yang seimbang"  Dia tertawa terbahak-bahak "Kau gila" katanya  Memang aku gila, bukan cuma dia yang mengatakan demikian "Kuberitahu kau apapun tentang Altar dan beri aku lima ribu Yach"  Tawanya mereda raut wajahnya berubah, matanya membesar. Ada keingin tahuan di mata Igor. Sebagaimana Klan Mixi mereka adalah orang-orang yang melahap informasi jenis apapun. Otak mereka diciptakan untuk terus berpikir bahkan ketika tidur. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN