DUA PULUH SEMBILAN

2059 Kata
Kami sudah memutuskan, kami akan keluar untuk mencari kayu Muaram dan daun Liliat. Kami putuskan akan pergi mencari ketika aku dan Kukuta bertugas di menara penjaga. Kami memutuskan yang pergi keluar adalah Gili, Jirit dan Jon. Gili bersikukuh dia harus keluar untuk memetakan tempat. Aku setuju, selama dia ditemani Jon, memperkecil kesempatannya untuk kabur.  Dari ketinggian menara penjaga benteng besar aku bisa melihat lampu-lampu dari rerumputan Alfold. Musuh kami hanya berjarak sepuluh ribu langkah dihadapan kami. Hanya sebatas itu yang terlihat di pandanganku karena sudah malam agak berkabut. Lama aku memperhatikan kabut-kabut yang meghalangi pandanganku ke rerumputan Alfold, akupun mengerti maksud Gili. Ide soal asap itu sangat cerdas. Aku tersenyum.  "Kau kenapa ?" tanya Kukuta dia berdiri di sampingku  "Tidak" aku belum mau membagikan pikiranku, selain itu diskusi ditempat ini sangat berbahaya. Ada dua pasukan elit yang berjaga bersama kami "Bagaimana mereka sudah siap ?" maksudku Jirit, Gili dan Jon.  "Sepertinya sudah"  Aku mengarahkan pandangan pada pasukan elit yang berjaga satu menara jauhnya dari kami. Aku melihat ke bawah, masing-masing pleton sudah tertidur, sebagian terhampar saja tidur di luar di atas rerumputan di langit terbuka karena menagak minuman. Kadang-kadang memang kami di hadiahi Quela oleh orang entah berantah yang baik hati di dalam istana sana.  Kami tinggal menunggu Jirit melakukan tugasnya, mengakali semua orang "Tuan..tuan..."  seorang pelayan naik tergopoh-gopoh ke atas menara, dia memanjat dari tangga darurat. Dia pasti pelayan yang sudah di bayar oleh Jirit untuk melakukan sedikit permainan, mengalihkan perhatian "Putri kecilku yang manis, dia pasti kena masalah. Astaga aku.." dia keliatan sangat piawai melakukan tugasnya, berbohong.  Aku mengangakat kedua alisku pada Kukuta memberikan kode bahwa permainan segera dimulai.  "Anda kenapa ?" dia membuat-buat  Dua prajurit elit terlihat bingung dengan situasi ini, karena tidak ada seorangpun  boleh menggunakan tangga darurat yang mengarahkan ke atas bentang kecuali prajurit yang sedang bertugas "Sedang apa kau nyonya..."  "Oh dewa dewi di langit sana, aku sudah sangat tua" dia  menjatuhkan dirinya "Satu-satunya yang kumiliki cuma putriku"  Aku menggeleng, jangan sampai Jirit melakukan hal aneh, seharusnya aku menanyakan lebih detail apa rencananya "Ada apa nyonya ?" Kukuta juga terlihat sangat bingung, mungkin dia melakukan diskusi dadakan dibawah sana selama kami berjaga. Aku harap apapun rencana mereka, malam ini akan berhasil.  "Dia menghilangkan satu-satunya kunci pompa air yang menuju ke kamar pangeran, hukumlah aku tuan ! Tapi sebelum itu bisa kah kalian berbaik hati mencarikan kucninya. Gadis kecilku ternyata lebih pikun daripada aku" Aku menghela nafas. Tapi helaan nafasku terlalu kentara. Aku harus diam-diam dalam menghela nafasku. Karena yah, aku tidak mau rencana kami gagal cuma karena bernafas terlalu keras. Apa ? bodohnya...    "Apakah itu begitu penting ?" tanyaku pura-pura polos saja "KAU" teriak nyonya pemasak itu membuatku kaget, perempuan kadang sangat menakutakan kalau marah. Seperti ibuku ! Dia menakutkan "KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG..." dia sadar suaranya bisa membangunkan semua orang apalagi di ketinggian begini "Pemegang kunci pasti membunuh putriku, dia seringkali memperingatinya tentang kunci yang satu itu. Tolonglah.." Dia berjalan dengan lututnya, memohon pada salah satu pasukan elit, yang pakaiannya diselimuti oleh zirah besi yang berat.  Sedang kami hanya melapisi tubuh kami dengan rantai-rantai besi sebagai pelindung diri, rantai besi paling murah yang bisa ditemukan di pasar Pasataria.  "Aku tahu kalian mengenal pemegang kunci dengan baik, tolong aku" dia mulai terisak  "Nyonya kami sedang bertugas"  "Berikan saja Zirah kalian pada dua d***u ini hingga kalian disangka sedang berjaga oleh Viz dan aditia" Nyonya ini memang punya lidah seperti Bazar, kalau Bazar punya kemampuan bicara dia pasti seperti nyonya ini "Kau mengenalnya ?" tanya seorang prajurit elit yang hidungnya seperti tanjakan patah  Ragu-ragu prajurit bernama Aly itu mengangguk  "Bantulah dia, kita sama-sama bekerja disini Aly" Aku bangga pada kebaikan hati si hidung patah, karena hatinya yang baik itu akan membuat pekerjaan kami semakin mudah.  Aly terlihat ragu "Aku bisa mati kalau sesuatu terjadi"  "Tidak akan ada yang terjadi" kata si hidung patah "Utusan mereka tidak akan datang malam ini, aku melihat sendiri Vilagit sudah tertidur dalam keadan mabuk. Viz mengerjainya, mengangkat tubuhnya ke atas meja makan dan menyelimutinya bersama puluhan pie"  "Benarkah ?"  Nyonya itu mengangguk  "Baiklah kau kutemani" dia melihat aku dan Kukuta "Kalian bisakah panggil dua teman kalian untuk menggantikan kami"  "Tidak lama kan ?" aku sengaja membuat semua ini terlihat tidak sesuai seperti sesuatu yang tidak direncanakan.  "TIDAK" teriak nyonya itu lagi "Baik..baik..."  Ketika dua orang prajurit elit itu melepas zirahnya dan kami bergantian menggunakannya, aku berjanji pada diriku tidak akan menggunakan baju seberat itu di medan perang. Bukan cuma aku yang bermasalah dengan Zirah ini, Kukuta juga, dia terus menerus mengutuk pakaian itu.  Ketua peleton Kupu-kupu dan seorang dari regunya bergabung bersama kami "Setelah ini ceritakan padaku Tikus" ancamnya sebelum merapikan diri untuk bersiap menggantikan posisiku , sementara aku dan Kukuta menggantikan tempat Aly dan si hidung bengkok.  Lagi-lagi aku berhutang informasi. Kukuta melirikku tidak suka kalau aku membagi rencana kami pada peleton lain. Kupu-kupu berhutang padaku, untuk setiap telanan daging rusa yang menyelamatkan separuh dari regunya yang keleparan.  Dia merapikan pedangnya, berdiri tegak menghadap lapisan pendar cahaya di antara dataran rendah Alfold "Jirit bilang kau punya rencana" dia tersenyum samar "Kalau boleh jujur, aku tahu seharusnya aku tidak membuatmu berbangga hati. Tapi kadang-kadang kau memang menyelesaikan masalah dengan cara aneh. Ketika Jirit bilang kau punya rencana, apapun itu rasanya aku ingin terjun dalam rencanamu itu"  Kukuta menyodok pinggangku dengan gerakan paling bersahabat "Kau punya pengikut lagi, selamat buatmu"  Aku tersenyum janggal. Pengikut ? yang benar saja. Sekarang aku merasa seperti orang suci.  Tidak lama mereka datang. Jirit, Jon dan Gili. Aku sedang memasangkan tali tambang dan pengikat di salah satu tiang agar mereka bisa menuruni benteng.  "Ingat kembali sebelum fajar" aku mengingatkan mereka Merekapun hilang di antara rimbunnya pepohonan dan hutan Hanuin "Apa kau sadar kita tidak mempertimbangkan sesutu ?"  Aku menoleh pada Kukuta  "Tidakkah mereka mengirim mata-mata untuk pergi ke daerah Alfold"  Aku menggeleng "Kurasa tidak, mengingat mereka punya nenek moyang yang tukang ngatur jadi negosiasi akhir yang kau bicarakan cukup untuk mereka. Tanpa mata-mata sekalipun mereka pasti berperang"  ? Tidak beberapa lama setelah dua orang prajuirt elit kembali, dari kejauhan kami melihat empat orang berkuda menuju benteng kami.  "Kau bilang mereka tidak mungkin datang malam ini" Aly bergumam pada si hidung patah Aku menawarkan diri "Biar aku memberi tahu kapten Viz"  Si hidung patah menggeleng "Aku yang pergi, kalian tunggu disini ! Pastikan mereka tidak diperbolehkan melewati benteng besar sebelum aku keluar"  Si hidung patah bergegas menuruni tangga melintasi halaman di luar benteng kecil dan masuk ke benteng kecil hanya dengan teriakan "BUKA PENTING"  "Suaranya besar sekali" sebuah argumen dari Kukuta yang tidak diperlukan untuk saat ini.  Kami memandangi empat kuda yang semakin mendekat "Apa kita harus menghampiri mereka ?" tanyaku, apa aku terlalu polos menanyakan itu. Hingga Aly tidak menjawab peratanyaanku. Dia hanya diam saja, larut dalam pikirannya.  Aly mengeluarka sebuah kalung yang bermata potongan bambu. Bambu kecil berukur sekelingking jari Giri. Oh bambu itu adalah sebuah peluit. Kami berlarian ke arah pintu gerbang benteng, disana ada tuas pembuka yang digerakakan paralel dari bawah ke atas atas.  Aly membunyikan peluitnya, sekali tapi panjang, lalu ada jeda dan dia membunyikannya peluit lagi, sebanyak empat kali, lalu ada jeda lagi, dia membunyikan peluit sebanyak sebelas atau sepuluh kali aku tidak fokus menghitungnya tapi setelah bunyi peluit yang terkahir itu. Aku mendengar bunyi rius di dalam benteng kecil. Benteng kecil di buka.  Berpuluh-puluh pasukan elit keluar dan langsung berbaris dengan sigap  berderet di sepanjang pintu masuk benteng besar.  Aku berbalik melihat mereka. Mereka ada empat orang seorang dari mereka yang menggunakan baju zirah berlapis tembaga di bagian d**a dan penutup kepala terbuat dari besi "AKU UTUSAN DARI PUSTINYA, SAMPAIKAN PADA PANGLIMA MU"  "PESAN KUTERIMA" teriak Aly.  Aku dan Kukuta keliatan seperti orang bodoh di atas benteng ini. Kami berdua belum punya pengalaman sedikitpun dalam perang. Kalau aku jadi Viz aku akan menyerang mereka tanpa ampun, aku tidak pernah mengikuti aturan. Katanya pertahanan paling bagus adalah sebuah p*********n. Kita menyerang untuk bertahan kan ? kenapa mereka justru menunggu untuk di serang ? Perundingan perang ini sangat aneh buatku.  Mereka berempat menunggu di depan benteng besar. Tidak lama para pemanah datang. Mereka mendorongku "Mundur kalian" Kata mereka. Mereka sangat tidak bersahabat pada kami. Salah satu pemanah itu membuang muka dan meludah untuk kami.  Aku mendengar Kukuta mengumpat  "Kita melewatkan sesuatu yang seru Kukuta" gumamaku  "Kau mungkin lupa ! Kunci pompa air menuju kamar pangeran telah digandakan Gili" bisik Kukuta  Bisikan paling indah yang pernah kudengar, aku mau tak mau mengembangkan senyum.  Hanya peleton kami yang bisa menggandakan kunci kerajaan, hanya kami yang bisa menyusup. Aku mahir dalam tali temali tapi kali ini cukup berbeda karena kami mengendap-endap tanpa izin di tengah sarang para prajurit yang berlatih siang dan malam untuk memukuli orang.  memang aku peduli ? Tidak selama aku punya keinginan semuanya akan kulakukan. Selama aku menemukan tanda tanya dalam satu pemikiran ajaibku maka aku akan menjawabnya dengan caraku.  Lihatlah pangeran datang dari arah benteng kecil nampak gagah dengan baju zirahnya, rambut berantakkannya jatuh terurai menutupi dahinya. Dia menyisir rambutnya dengan jari jemarinya. Perempuan yang tidak jatuh cinta pada laki-laki ini pasti dia gila. Kalau aku ? aku punya keinginan yang lebih dari cinta pada Khamer, aku ingin memilikinya dengan cara yang politis. Mungkin aku bisa mempertimbangkan ibunya.  Bicara apa aku. Astaga. Otak ! Matiti, Fokus ! Aku bergabung bersama sekawanan peleton Katak menonton pertunjukan penyambutan utusan musuh ini. Pasti mereka akan merasa menang kalau tahu panglima perang Negri Syaka sedang terkapar di atas kue pei tak berdaya karena Quela. Yang benar saja.  Pintu terbuka, aku melangkahkan kaki tidak sadar bahwa aku melangkah terlalu jauh. Samapai pedang seorang prajurit elit menyilang di dadaku.  "Oh" sergahku canggung Aku mau melihat wajah musuh-musuh ini "Perempuan" aku menggelengkan kepala. Ada apa dengan perempuan-perempuan  medan perang ? Perempuan itu tidak bersenjata, dia hanya menggunakan zirah yang terbuat dari kulit tapal yang kuat. Dia mendekati Sang pangeran tampan, aku yakin mereka akan jatuh cinta dan melanjutkan diskusi ini ranjang. Astaga kepalaku, sepertinya seharunys akau menikah.  Prajurit Pustinya lainnya, dilucuti senjatanya oleh prajurit elit kami. Lidahku kaku sekali menyebut prajurit tidak sopan itu adalah bagian dari kami "Aku Soraya juru bicara ratu Napfeny"  "Aku Khamer, kapten para peleton. Sebelum kalian kami perbolehkan menginjakkan kaki di istana kami. Bolehkah aku mengetahui tujuan kalian ?" Soraya mengambil gulungan partchmant dari tangan prajurit dibelakangnya Khamer menahannya, mengangkat kedua tangannya dan tersenyum angkuh "Aku tidak berhak membaca surat dari ratu kalian, itu adalah kepentingan panglima kami"  Senyum manis mengembang di bibir tipis berkilap Soraya, sontak mengingatkan aku pada gadis yang pernah kucium waktu kecil.  Kulit dan rambut gelapnya masih sama. Dia Soraya gadis pujaan hatiku waktu itu. Soraya..., hatiku berteriak memanggil namanya. Dia masih sangat cantik, sejak dulu aku menggambarkannya seperti malam bertabur bintang.  Rupanya Khamer lumpuh dengan pesona Soraya. Dia tersenyum aneh, sejenak tapi sontak senyum itu digantikan ketegangan ketika dia berselang menundukkan kepalanya. "Maksudku nyonya juru bicara, kau cukup menyampaikan maksudmu kemari, maka aku akan menyampaikannya pada Panglima kami, nanti itu terserah padanya..."  Soraya mengibas tangannya mendengar penjelasan panjang lebar Khamer "Kau tahu kita akan berperang, kita musuh dan ini" dia menjalankan pandangannya pada seluruh prajurit yang berdiri di luar benteng kecil. Tapi berhenti padaku. Dia menyipitkan matanya. Aku terutunduk. Tidak mau dia mengenaliku, bisa habis aku di geret pulang ke Altar dan di penjarakan bersama Riadura "Dan ini adalah bukti bahwa kalian juga menginginkan yang sama, aku kesini untuk mendiskusikan waktu peperangan"  "Aneh" bisikku pada Kukuta Kukuta menyodok ginjalku "Diam"  "Baik, silahkan masuk. Aku tadi cuma bercanda, aku suka bercanda. Kau tidak ?" tanya Khamer dengan tampang t***l.  Dengan senyum dipaksakan Soraya menggeleng, sebelum dia dan prajuritnya di tuntun menemui Vilagat.  Setengah dari pasukan elit mengikuti mereka ke dalam benteng kecil, dan setengahnya lagi berjaga di luar bentang. Itulah saatnya aku dan Kukuta beraksi. Kami memasuki pintu pengangkutan ari, dimana air dbuat mengalir tidak masuk akal menuju ke atas, ke kamar pangeran.  Untuk masuk ke benteng kecil melewati pintu pompa air. kami harus menyelam dulu ke dalam sungai melewati kanal air.  Sial Kupu-kupu melihat kita ! "Kalian mau kemana ?"  Aku menyentuh kedua lengan laki-laki yang besarnya dua kali dariku itu "Ku mohon jagalah aliran suangai ini untuk kami. Kalau ada bahaya kau...." aku memikirkan kode yang bagus "Nyalakan api unggun dimana saja" lanjut Kukuta, itu ide yang bagus karena semua api unggun di halaman benteng besar sudah mati dan kami tidak diberikan lilin. Jadi menyalakan api ditengah kegelapan ini bisa jadi kode yang paling cerdas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN