Kami masuk lewat pintu pompa air yang menuju kamar pangeran, untuk ke pintu pompa air kami tidak mungkin lewat dalam istana. Kami menyelam di sungai yang berjalan melintasi kanal yang menuju istana ketujuh.
Memang pompa itu lmenuju langsung kamar pangeran. Aku dan Kukuta hanya perlu memanjat. Berkat ke piawaian ku menjalin tali temali seperi ibu-ibu pemintal kain di pasar aku berhasil sampai kamar mewah itu dengan selamat.
Aku baru tahu kalau ranjang bisa di lapisi emas, dan aku baru tahu kalau sutra kadang-kadang digunakan sebagai kelambu. Luar biasa ! Kaya raya...
"Terus terang aku ingin mengambil sutra itu dan ku berikan pada istriku, pasti dia sangat menyukainya. Dia akan tersenyum sepanjang hari memandangi sutra itu. Ah aku rindu keluargaku Tikus"
"Aku juga" Jawabku asal, tanpa sadar akan ada pertanyaan yang muncul setelahnya
"Kau punya saudara ? ayahmu bekerja sebagai apa ? ibumu pasti sangat cantik" pertanyaan itu diborong semua oleh lidah Kukuta, dia memilih-milih pakaian yang cocok untuknya. Dia kebetulan bertubuh besar dan berwajah menyeramkan. Tidak ada hubungannya dengan wajahnya, asataga aku mulai lagi jadi orang yang memperhatiakn penampilan. Yang jelas dia kesulitan menemukan pakaian ganti. Kami harus melepaskan pakaian basah kami, kami tidak mau meninggalkan jejak air di dalam istana.
"Mereka semua sudah mati, masa laluku kebetulan menyebalkan Kukuta"
"Wah..., pantas saja caramu berfikir sangat frontal"
"Benarkah ?" Kukuta terpaksa hanya menggunakan mantel dan jubah di luarnya, menutupi bagian tubuhnya yang terbuka
Aku mengambil pakaian tidur Khamer, celana kulit yang keliatan bagus dan cukup buatku "Iya seluruh klanku dibakar, tidak tersisa apapun keucali aku dan Jon" aku sedikit bergumam.
Kukuta meremas bahuku "Klan ?"
Aku tersenyum "Klan raksasa. Pernah dengar ?"
Kukuta menggeleng
"Aku bercanda, aku orang biasa" aku pura-pura tertawa karena aku tidak ingin dia menggali lagi identitasku, suatu hari akan kuberi tahu. Suatu hari ketika kami dalam kondisi yang labih baik.
"Kau sungguh misterius"
Aku terkikik pelan, menyusuri sebuah lorong di kerajaan itu dengan kostum seperti orang mabuk. Aku menyabukkan tali, membawa pedangku di tangan. Aku berjalan hati-hati. Kami sampai di aula kerajaan disana sudah di kelilingi dengan prajurit, orang-orang yang selama ini berdiam diri di dalam istana tidak menunjukkan batang hidungnya di luar benteng kecil. Semua ada di sana. Kecuali Vilagit, mereka pasti menyembunyikannya.
Aku dan Kukuta menggelantung di selasar, harus memanjat dulu kemari untuk mendapat sudut pandang agar bisa melihat semua orang. Kami harus fokus untuk mendengarkan, kami sudah susah payah sampai kemari, tidak akan kubiarkan satu katapun lolos dari pendengaranku.
Yang duduk memimpin pertemuan ada tiga orang, Viz, Aditia dan Khamer. Yang membuka diskusi malam itu adalah Viz. Seperti biasa Viz, dia jarang tersenyum, sekalinya tersenyum rasanya seperti hujaman benda tajam ke ulu hati, menyakitkan untuk dilihat.
"Aku tidak bisa berdiskusi dengan perempuan"
Seorang laki-laki Pustinya terlihat terhina "Jaga bicaramu panglima, dia adalah yang terbaik di bangsa kami"
"Dia tidak akan jadi yang terbaik kalau dia di bangsa kami" jawab Viz mengejek, dia mengibaskan tangannya dengan malas "Jelaskan apa yang kau inginkan nona. Kulitmu mengingatkan aku dengan warna s**u coklat yang kuminum pagi ini rasanya manis, sama dengan kau. Kau manis, sayang sekali kau terjun pada politik kerajaan yang rumit"
Soraya tersenyum, senyumnya manis sampai aku juga ikut dibuatnya tersenyum. Seandainya aku masih ingat seperti apa rasa bibir itu bila di sesap, pasti aku akan mimpi indah malam ini. Tapi teman, aku menciumnya ketika aku masih kecil. Mana ingat aku. Yang kuingat justru bibir deba. Asataga..., fokus Matiti..
"Kau kenapa ?" bisik Kukuta kembali membuyarkan konsentrasiku "Kenapa kau tersenyum ?"
"Gadis itu cantik sekali" aku sangat jujur orangnya.., kalau masalah perempuan.
"Kau belum lihat istriku"
Aku mendengus, aku ingin bilang dia bodoh tapi dia laki-laki yang menyayangi istrinya dan tipekal seorang ayah dan suami yang baik. Dimana kau dapatkan laki-laki seperti Kukuta lagi di dunia ini. Aku bisa jamin Babaku mungkin berkhianat pada ibuku tapi Kukuta tidak akan. Dia adalah laki-laki yang dimantarai cinta.
"Aku menyukai sesuatu yang rumit" Soraya menaikkan kedua tangannya di atas meja diskusi. Gerakan cantiknya, selalu menarik perhatianku "Jadi aku mengajukan pagi hari sebelum purnama" langsung ke inti permasalahan.
"Aku tidak bodoh ! Hari itu kemungkinan akan hujan, dan tentara ku yang baju zirahnya berat akan jatuh ke dalam kubangan lumpurmu. Pagi hari ? yang benar saja, kau menyerang lewat barat. Seandainya tidak hujan maka Matahari akan jadi musuh kami" Viz menggelengkan kepala tidak terima
Oh,,,, demi kaum suci Viz mirip sekali dengan Sezarab. Dari mana mereka mendapatkan sikap yang serupa itu. Sezarab dan Viz tidak mungkin saudara, mana mungkin. Tidak sedikitun mereka memiliki kemiripan fisik.
"Akupun tidak bodoh mengajukan hal itu sembarangan, kalau tidak dengan ancaman" bibirnya tersenyum misterius.
Aku tahu semua orang menahan nafas mendengar ancaman gadis ini
"Dua ratus prajurit kami, telah kami lepas di Syabir. Mereka dalam genggaman kami, kau masih menyayangi Syabir-Syabir penghianat itu Panglima ? Tentu iya, bukannya mereka adalah bagian dari negara kaya raya ini ?"
Itu yang tidak kuketahui, kenapa kami harus langsung menyerang Pustinya sementara masalah dalam Negri saja belum diperbaiki. Raja seperti menutup mata pada orang-orang Syabir yang berhianat.
"Karena Raja sangat mencintai, Putri Bahiya. Ibu tiri yang cantik itu.., tidak ada yang tidak mencintainya. Aku rasa pangeran juga akan jatuh hati padanya kalau dia tinggal...."
BRAK !
Itu kali pertamanya kulihat Khamer murka, sangat murka. Wajah putihnya berubah merah sampai ketelinganyapun merah, aku bisa melihat dengan jelas. Karena ruangan itu cuku bercahaya akibat lilin yang tergantung dalam wadah emas.
"Jangan sekali-kali kau bawa Raja, peperangan ini bersifat politis. Tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadi Raja" Aku tidak bisa menjelaskan, pokoknya Khamer seperti orang lain malam itu dia lebih marah daripada marahnya padaku. Karena ini bersifat pribadi, ketika sudah menyentuh bagian paling pribadi di dalam diri seseorang maka kau akan memenangkan pertarungan ini. Selamat Soraya, tidak sia-sia ku ciumku kau waktu kecil dulu. Aku sedikit merasa bangga pernah mengecup bibir berbisamu.
Soraya tidak terlihat terganggu sedikitpun dengan reaksi marah Khamer, kurasa gadis ini tahu siapa Khamer, tidak mungkin tidak ! Kalau dia menggasak kehidupan pribadi raja sampai sedalam itu, artinya dia tahu salah satu pangeran ada di istana ketujuh "Tuan ketua regu peleton" Nada bicaranya yang malas, sudah membuat Khamer mengepalkan tangannya, Khamer tidak bisa tenang, aku tahu dia Ingin sekali menusuk Soraya "Cinta, Tahta wanitA..., itulah yang kami percaya di Pustinya. Jika kau punya Tahta maka kau akan memiliki gadis tercantik di tanahmu dan itu wajar. Aku bertanya-tanya kenapa Istana kedua sulit sekali di tembus pertahananya, ternyata jawaban adalah wanita tercantik di tanah ini"
Aku jadi ingin liat ibu tiri Khamer seperti apa, bisakah aku membuatnya jatuh cinta karena kurasa aku cukup mempesona. Kubilang saja padanya aku calon raja Altar. Bodohnya aku. Fokus !
"Tapi kadang perasaan itu selalu membuatmu tidak berdaya kan ? katakan itu pada Sang Raja Tungga. Jadi..." dia menarik nafas tidak mau memperpanjang diskusi itu "Bagaimana kalau pagi hari setelah matahari tinggi sepandangan mata, tepat sehari sebelum bulan purnama penuh"
Semua ruangan sunyi, tidak ada yang memutuskan.
"Tenang saja, kalau kalian mau menyerang pasukan kami yang ada di Syabir, itu tidak akan bisa. Kami sudah menarik pasukan kami mundur. Kami menawan lebih dari tiga ratus orang. Beberapa di antaranya adalah seorang panglima, mentan putri kerjaan dan seorang guru tua"
Khamer memalingkan wajah, dia memutar tubuhnya tidak mau memperlihatkan emosinya
Soraya memenangkan diskusi. Dia bangkit dari duduknya "Cepatlah kabari Sang Raja Tungga. Dia itu..." Dia menggunakan kata ganti untuk Raja tungga, seolah Raja memiliki derajat sama seperti dirinya "Negri Syaka ini terlalu besar. Terlalu banyak manusia yang harus di kendalikan. Kita tidak bisa mengenalikan terlalu banyak manusia, terlalu banyak pemikiran. Dan mereka semua memiliki kebebasan, kenapa kalian harus memerintahkan mereka menjujun tinggi raja mereka ? Mempercayai Raja seperti merenggut kepercayaan mereka terhadap diri mereka sendiri"
"TUTUP MULUTMU" teriak Khamer tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.
"Kau terlalu banyak bicara Nona, kau belum tahu saja apa yang kami siapkan untuk perang ini"
"Mmm" di mempermiankan wajahnya seperti seorang anak kecil yang manja "Aku sangat suka ini, mari kita lihat samatang apa persiapan kalian. Sebelum bulan purnama penuh, pagi hari !" dia mengulang kembali kesepekatan waktu perang mereka sebelum meninggalkan aula.
Kukuta sudah mau beranjak tapi aku menahannya. Ini belum selesai.
Tepat setelah Soraya meninggalkan aula di kawal oleh pasukan elit. Khamer mengunus pedangnya "Dia gadis licik"
"Napfeny yang licik, dan mereka yang menyusun strategi perang ini" Viz beranggapan. Dia membuang pedangnya sembarangan ke atas meja yang panjangnya tidak masuk akal. Dia menyesap Quela "Kita tidak punya pilihan, kita harus menambah pasukan"
"Kita bentengi Lembah Hanuin, kita jadikan pasukan peleton mahir. Kita latih mereka" lanjut Khamer
"Kau terdengar seperti ayahmu Khamer" Aditia akhirnya angkat bicara "Mereka menawan Sonya, Ruth dan si Guru. Raja menyukai tiga orang itu kalau tidak mereka tidak akan mendapat mandat menempati ketiga kerajaan dengan cuma-cuma"
"Ayahanda pasti sangat marah"
"Bahiya akan sangat sedih gurunya menjadi tawanan, dia akan menangis dan menjadi sedih, menjadi bahaya bagi tubuhnya yang sedang mengandung adikmu.."
"Diam kau aditia dia bukan adikku"
Aditia tertawa "Adikmu. Adikmu, kau memejamkan mata bagaimanapun tidak bisa dipungkiri lagi dia adikmu, dan kalau kau mati dalam perang ini cabang bayi itu akan meggantikanmu. Ratu Monika..."
"Aditia..." Viz menghentikkan Aditia sebelum dia membuat ruangan itu lebih gaduh "Persetan kehidupan cinta raja, bagiku yang terpenting adalah tanah ini. Tanah yang berusaha di rebut oleh nenek moyangku dengan pertumpahan darah tidak akan pernah menjadi miliki perempuan hina seperti Napfeny" Kemarahan, ketidak tenanganan, kekalahan mulai menyelimuti kami semua "Aku akan berjuang sampai mati. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berlatih dan berdoa tidak akan turun hujan. Matahari masih lebih baik dari pada hujan"
Khamer memijat kepelanya, dia kehilangan aura ketampanananya
"Setelah kau berkirim surat dengan ayahandamu, kirimi surat calon istrimu juga. Anna mungkin menghawatirkanmu" Aditia menepuk bahu Khamer sebelum dia meninggalkan aula
"Tikus ayo. Kau mau mati apa ?" bisik Kukuta menyadarkanku.
Tanganku sudah ngilu memegangi tali terus. Bisa-bisa aku kehilangan keseimbangan.
Anna ??
Anak gubernur Pasataria ?
Mungkinkah begitu ?
Kupikir lelang itu tidak sempat terselesaikan...