Anna..Anna...
Ada apa dengan gadis cantik yang kutemui kenapa mereka selalu berhubungan dengan kerjaan. Apakah semua gadi cantik mengelilingi kerajaan, menyembah kerjaan.
"Kau dengar tadi ?" tanyaku ketika kami berada di di kanal, menyembunyikan diri. sambil mengeringkan diri, kami tidak mau, ada yang curiga dengan baju basah kami. Pakaian khamer yang kami curi sudah kami kembalikan. Walaupun tadinya aku ingin mencuri celananya.
"Aku mendengar hampir semua pembicaraan Tikus. Kenapa ?"
"Anna, kau tahu dia anak gubernur Pasataria"
Kukuta mengangguk-anggukan kepalanya "Aku sangat kenal Anna, kalau kau mau tahu aku bisa menceritakan bagaimana gadis itu tumbuh. Karena aku mantan pengawal gubernur pasataria"
"Uhhh.. kau penuh misteri Kukuta" aku berlagak bangga "Jangan-jangan kau dapatkan luka di wajahmu karena mengabdi melindungi si gubernur ?"
Dia mengangguk "Aku berhenti setelah menikah, karena aku tidak mau berada dalam bahaya lagi. Aku mau hidup sederhana dengan istriku tercinta"
Aku paham, kalau bisa hidup damai, sebaiknya kita memang menghindari masalah. Aku dulu hidup seperti itu. Tapi lihatlah aku dan Kukuta kini disegoki nasib yang buruk.
"Aku bingung, bukannya lelang itu tidak diselesaikan karena p*********n orang-orang Syabir ?" tanyaku polos
"Tidak juga, lelang tetap berlanjut sampai keluar pemenang. Kau pikir Raja mau membuang uang sebesar seratus ribu yach ?"
Aku terdiam.
"Tidak mungkinkan ? Dan seperti jalan iblis, jalan itulah yang digunakan Gubernur untuk mendorong anaknya menjadi seorang Ratu"
"Luar biasa.." aku terkesan dengan cara orang-orang di Pasataria bertahan hidup. Peradaban di Altar belum ada apa-apanya "Apa menurutmu dia akan bahagia ?"
"Siapa ?" tanya Kukuta polos
"Anna" jawabku "Aku sempat bertemu dengannya, aku kasian karena dia terlihat seperti seorang perundung"
"Tidak, anna memang gadis yang tidak pernah bahagia"
"Iya kah ?"
Kukuta mengangguk dengan pasti "Dia memiliki keingin tahuan tidak seperti gadis biasa, itulah yag membuatnya tidak pernah bahagia"
Aku teringat bagaimana gadis itu menekuni tiap partchmant, aku melihatnya menulis dan patchmant berhamburan di kamarnya sementara kamarnya senduru di jaga oleh dua penjaga bertubuh besar "Gubernur itu sangat kejam, Anna mungkin tidak menginginkan sebuah pernikahan" aku berdaham "Saat dilelang itu aku sempat berbincang dengannya. Dia bilang dia tidak ingin ayahnya memenangkan lelang"
Kukuta hanya menghela nafas dalam dan menunduk lebih dalam "Mungkin sekaranghidupnya akan lebih baik bersama Khamer"
"Bagaimana kalau tidak" Si tukang urus urusan orang lain. Oh..., aku berbisik pada keburukan yang selalu muncul dalam diriku. Aku ingat ketik kejadian malam itu, Ketika Deba mendatangi Klan kami, aku baru saja pulang dari Amor, meminang seorang gadis untuk sahabatku, yang sayangnya gagal. Tahu tidak ? Terkadang hal-hal semacam itu membuatku senang tanpa alasan. Aku juga tidak mengerti, tapi itulah yang kurasakan. Rasanya aku ingin mengendalikan dunia agar semua orang bisa mendapatkan yang dia mau dan bahagia. Bisakah seperti itu ? "Ketika di lelang itu dia bilang, seandainya dia memiliki uang beatus-ratus yach dia pasti pergi dari sana" Aku mengamati air yang mengalir di depan kami "Sekarang, dia tidak bisa kemana-mana dia calon Ratu negara ini"
"Sejak kecil, sejak dia baru dilahirkan ayahnya sudah merencanakan ini"
Gila ! seorang bayi perempuan mungil yang jantungnyapun masih sekecil genggaman tangan sudah diperintahkan jadi ratu, dia tidak diberikan kesempatan punya pilihan "Bisakah mereka bahagia, maksudku jika pernikahan politik seperti itu"
"Setiap pernikahan anggota kerajaaan bersifat politik, Takus" Kukuta tertawa samar
Apa kalau aku jadi Raja pernikahanku akan seperti itu ? Pernikahan politis. Kebetulan hatiku memiliki banyak cabang ke pembuluh darah "Kalau aku jadi Khamer kupastikan ketujuh istana ada putrinya"
Kukuta tergelak sampai memegangi perutnya. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mendorongku. Kukuta. Kau aneh ketika tertawa "Aku juga..., dulu aku juga seperti mu rasanya semua gadis bisa kumiliki..."
"Sampai kau bertemu dengan istrimu" aku sudah tahu kelanjutan kalimatnya "Sepertinya istrimu itu merubah seluruh hidupmu" aku bangkit dari dudukku
Dia tergelak "Memang, dan kau akan menemukan yang seperti itu. Gadis yang merubah seluruh hidupmu"
Kalau aku harus bertanya pada diriku sendiri. Siapakah gadis yang merubah seluruh hidupku, membuat hidupku jungkir balik seperti sekarang. Jawabannya pasti Deba.
Aku menghela nafas memikirkannya, seperti ada yang mengganjal nafasku hingga tak terasa lega. Bagaimaan hidupnya tanpa kami. Bisakah dia bertahan di Pasataria. Apa yang dia lakukan untuk bertahan menunggu kami pulang ?
Aku bertamu dengannya di mata rusa waktu itu. Mata birunya tidak penah kulihat lagi pada binatang yang kutemui. Kadang kala aku memperhatikan kecoak, tikus, dan binatang malam lainnya. Tapi tidak pernah ada yang sebiru mata Deba.
?
Hari ini latihan kami lebih berat dari pada biasanya, membuatku lapar bukan kepala. Jirit terheran-heran melihat caraku makan. Kami seharian di suruh mengelilingi benteng memanah ribuan anak panah sampai lengan-lengan kami sakit semua.
Jirit, Gili dana Jon sudah tertidur di sebalahku di barak tentara kami. Ketika aku bangun keesokan harinya. Kami membahas kembali rencana kami di kanal air di mana aku dan Kukuta mengahabiskan malam berbicang-bincang dalam pakaian basah.
Pintu air yang memisahkan luar benteng dengan sungai yang mengalir ke dalam benteng adalah akses bolak-balik istana dengan dunia luar yang paling sempurna buat kami. Pintu air itu biasanya dibuka menggunakan tuas di bagian atas benteng. Tapi ternyata pintu itu memiliki lubang kunci manual. Giri menggandakan kuncinya, dia mencuri dari penjaga pintu. Di bantu Jirit.
Jon duduk di sampingku di meja makan "Kau tahu, tubuhmu lebih besar sekarang"
Aku tidak merasa seperti itu aku merasa sama saja "Aku makan banyak karena ini semua sesuai dengan energi yang mereka kuras"
Jon hanya terkekeh "Kau hebat tadi, kau memang berbakat mengendalikan benda kecil"
"Benar, sebanyak itu aku hanya berhasil memenah 4 target. Menyebalkan" dengus Jirit
"Kau masih muda, masih bisa mmepelajari banyak hal"
Jirit tersenyum hampa "Semoga umurku panjang saja..." lalu dia terkekeh. Tawa kecilnya membuatku pilu.
"Kita akan pulang Jirit !" Kataku tegas.
Dia tidak ingin melihat mataku, dia memalingkan wajahnya.
Gili datang bergabung bersama kami dengan Kukuta mengekorinya "Jadi pagi hari sebelum purnama penuh ?" tanyanya tiba-tiba melepaskan bahan perbincangan diwaktu yang tepat, karena aku tidak mau larut dalam ratapan masalah maut yang mengancam setiap orang di barak ini "kukuta menceritakan semuanya padaku soal semalam"
"Kau belum ceritakan apa yang kau dapat di luar benteng besar ?" pertanyaanku lebih tajam.
Gili tersenyum miring. Lihatlah si mixi ini sedang percaya diri "Pagi hari arah barat. Dasar Napfany.." Gili memiringkan kepalanya "Aku dan Jirit sudah bisa membuat asap yang lebih pekat dengan campuran mesiu dan kayu muaram"
Aku melihat Jirit dia mengangguk "Kami mencobanya semalam, ditengah hutan" aku melihat Jon, si bodoh itu cuma mengedikkan bahunya
"Bagus, itu berarti kita bisa pulang" pemikiran yang terlalu sederhana dari manatan pengawal gubernur seperti Kukuta.
"Kau harus bertahan, tidak bisa dengan asap saja.."
"Benar tidak bisa dengan asap saja" aku melanjutkan sanggahan Jon "Kita harus bisa bela diri, mengeluarkan seluruh kemampuan kita, seluruh kegarangan yang kita punya. Kita tidak mungkin lari dan sembunyi. Kita harus pulang dengan menang" kataku "Kalau hanya asap saja, kita hanya membatasi pengelihatan mereka, kita juga akan memasang ranjau di beberapa tempat"
Gili menjentikkan jarinya "Kau benar" dia mengeluarkan partchman yang sudah di bubuhi tinta dan menjadi sebuah peta yang indah "Di daerah sini ada bebatahuan yang cukup besar. Pekerjaan ini sedikit berat, kita harus bergantian mengerjakannya.."
Aku tersenyum "Kau memang diberkati otak cerdas Gili"
"Kau pasti tahu maksudku kan..."
Aku mengangguk "Kita memanfaatkan dataran tinggi Hanuin yang berbatu. Kita merajut tali dan menahan batu, lalu melepaskannya ketika pasaukan Pustinya datang"
"Tepat sekali"
"Kita cuma berlima.."
Kupu-kupu datang dengan sebuah nampan besar "Bertujuh" dia datang bersama temananya
Aku tersenyum.
Kemenangan tidak lagi terasa mahal buat kami yang punya rencana.
?