TIGA PULUH DUA

1622 Kata
Siang itu yang bertugas untuk menjuluri batu adalah Jon dan Gili. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama. Sebelumnya telah pulang Jirit dan Syaz, Syaz adalah anak laki-laki yang berada di peleton kupu-kupu. Nanti malam giliran aku dan Kupu-kupu. Kebetulan karena kami berdua adalah ketua peleton sehingga kami harus menunggu semua tertidur baru bisa keluar dari benteng besar.  Sekarang aku sedang berdua dengan Jirit, kami berada di kanal, duduk dengan sebotol Quela yang kami curi dari nyonya pemasak. Jirit mengenalnya dengan baik, karena Jirit memiliki keahlian di bidang memasak. Dia seringkali ada di dapur untuk membantu. Ku rasa dia juga dekat dengan gadis kecil si nyonya pemasak. Entahlah aku tidak tahu namanya. Aku lupa.  Sejak kemarin aku memang ingin menanyakan sesuatu pada Jirit "Jirit kau tahu banyak, aku tahu kau pendengar yang baik"  Jirit tersenyum  "Kau tahu keahlian masing-masing dari kami, itulah kau. Kau selalu bisa memanfaatkan peluang yang ada" Dia menyesap Quela Setelah dia menaruh kembali botol Quela aku menyembunyikannya. Tidak ingin dia minum terlalu banyak. Bagiku dia masih bocah yang tidak diperbolehkan mabuk.  "Kisah cinta Sang Raja Tungga. Kau tahu"  Mulutnya mengerecut ketika berpikir "Tidak juga, aku cuma mendengar selentingan ketika aku bekerja di bar"  "Katakan.."  "Putra mahkota tidak dekat dengan Raja karena ratu Bahiaya"  "Jelas ! anak-anak  suka terlalu naif. Kau tahu, seringkali mereka berpikir ayah dan ibu mereka dipenuhi cinta satu sama lain. Padahal pada dasarnya  mereka punya kepentingan sendiri-sendiri"  Jirit mengangguk antara setuju dan tidak karena wajahnya sedikit mencibir "Mungkin, tapi mungkin juga ada perkara yang lain karena bebera cerita mengatakan Bahiya adalah teman putra mahkota ketika mereka sedang belajar di istana ketiga, dia anak seorang gubernur disana"  "Wah, menarik" Aku tertawa  Jiirit melihatku dengan wajah aneh "Kau tidak merasa aneh, kalau itu terjadi padamu Matiti ?"  Aku tertawa "Keluargaku sudah mati semua, aku sebatang kara"  Dia menggeleng "Kalau Raja adalah kau, apa kau akan mencintai orang lain selain Ratumu ? Apa kau bisa, tidak mematakhkan hati anak-anakmu ?"  "Aku..." aku terdiam, terlintas sejenak wajah ayahku malam itu "Aku akan menjadi Raja ketika aku duduk di singgasana ku. Menjadi ayah dan suami ketika aku kembali ke rumah kami" aku terdiam sejenak merasa sedikit terusik dengan memori tentang Baba "Mendiang ayahku laki-laki yang seperti itu, dia bekerja di luar rumah, tapi ketika di rumah dia akan menjadi ayah yang hangat dan penyayang" Dia tersenyum "Kau pasti dibesarkan dengan baik"  Entah kenapa aku jadi emosianal dan berkaca-kaca. Aku teringat mereka semua "iya" aku menunduk lemah. Aku merasakan rangkulan Jirit di bahuku.  Aku mendengar helaan nafas beratnya.  ? Para ketua regu peleton dikumpulkan, dua malam sebelum dua sebelum purnama penuh. Kami di persilahkan memasuki istana ke tujuh, dikumpulkan dia aula di mana meja besar  tak masuk akal berada. Kami duduk disana.  Kali ini Vilagit ada, laki-laki berisi itu duduk di singgasana panglimanya di sisinya ada Viz dan disisi lainnya ada Aditia dan Khamer "Ada dua belas peleton dan mereka sebanyak seratus lima puluh orang"  Viz menggelengkan kepalanya "Mereka harusnya lebih banyak, kenapa hanya seratus lima puluh ? Ada apa dengan orang-orang di perbatasan Syabir di sekitaran Luith dan di istana keempat dan  ke tiga juga ? Aku heran kenapa Raja tidak mau melepaskan orang-orang itu"  "Raja membutuhkan mereka untuk bertani" jawab anaknya Raja Kupu-Kupu dari tadi melihatku, dia sudah diberi tahu bahwa Khamer adalah putra mahkota yang tidak pernah keliatan batang hidungnya. Setiap kali Khamer bicara kupu-kupu selalu melihat ke arahku. Seolah dia ingin membuktikan Khamer benar-benar putra mahkota.  "Ladang di sekitaran istana ke tiga sangat luas, dan menghasilkan buah persik terenak yang harganya mahal, selain itu bahan-bahan pangan berasal dari dua istana itu, raja tidak mau hasil bumi berkurang karena perang yang menurutnya tidak sebanding dengan besarnya kerajaan Syaka"  Kini aku paham maksud Kukuta yang mengatakan bahwa Raja tidak akan mau kehilangan seratus ribu yachnya hanya dengan serangan tak berarti itu. Lelang tetap dilaksanakan walaupun di luar benteng isrtana pertama telah terjadi kekacauan dan pertumpahana darah.  Lalu apa yang kami lakukan disini ?  "Kalian ?" Viz menjuk kami yang masih tidak bisa mengerjapkan mata dari pemandangan megah istana ketujuh, ya karena kami orang biasa ! Tempat seperti ini tidak biasa buat kami. Viz terlihat frustasi, timbakaunya menimbulkan bau pangar yang tidak enak di dalam istana. Tapi tidak ada yang bisa mencegahnya mengehembuskan rokoknya terus menerus bahkan Vilagit. Laki-laki itu muram dan keliatan tidak bersemangar, aku pikir karena dia masih mabuk atau bagimana.  "Kemungkinan kita akan kalah" itu bukan pertanyaan suara Viz terdengar seperti  pendapat yang sahih "Pasukan kita kalah talak, tiga kerajaan telah di kosongkan, sekarang raja mau apa ? Dia masih tidak ingin kan hasil panen ? Katakan padanya kerajaannya mungkin akan hancur"  "Kau terlalu tegang Viz" yang tegang malah wajah Vilagit, mi kliamt yang keluar justru terdengar optimis tidak sesuai dengan raut di wajahnya "Raja pasti mempertimbangkan dengan bijak" mungkin maksud Vilagit, Raja tentu mempertimbangkan kekayaannya sendiri. Untuk apa keberlimpahan itu kalau pada akhirnya semua rakyatnya menderita. Bukan cuma kekalahan saja, penderitaan setelah perang itulah yang menyakitkan. Raja dan semua keluarganya bisa tetap hidup dengan nyaman tapi tidak dengan rakyat. Tidak dengan anak-anak yang kehilangan ayahnya ketika si ayah berjanji akan pulang, tidak dengan istri yang kehilangan tompangan hidupnya dan tidak dengan orang-orang yang mulai kelaparan.  "Bagaimana rencanamu dengan mereka yang cuma seratus limapuluh orang ?" tanya Vilagit pada Khamer "Barisan pertama tentu saja" Jawab Khamer lantang, matanya berjalan menuju padaku "Tikus dan kawan-kawannya berada di barisan pertama"  Wah...  "Selanjutnya peleton lain, dan pasukan pemenah. Pasukan kuda berlari dari arah bukit" Dia tersenyum meremehkanku "Kita punya 200 pasukan berkuda"  "Bola api siang ini sampai, kita keluarkan setelah mereka memulai perang. Aku ingin membuat mereka yakin kalau kita tidak mempersiapkan apapun selain dua belas peleton" lanjut Viz  Itu berarti memang kami dijadikan tumbal. Tapi mereka salah. Kami tidak akan jadi tumbal. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.  "Bagaimana kalau hujan ?" tanya Aditia  "Jangan keluarkan pasukan berkuda, posisikan pasukan pemanah di sisi kiri dan kanan arena tarung"  Khamer masih saja melihatku dengan tatapan yang aneh, apa yang dia inginkan ?  Persetan, aku tidak peduli dengan rencana mereka. Aku lebih peduli pada kami, orang-orang yang dijadikan tumbal.  ? Jadi malam itu adalah malam terkahir, mungkin saja besok kami sudah tidak bernafas lagi, mungkin salah satu atau bahkan semua dari kami tidak bisa kembali ke Pasataria. Mungkin rencana yang seminggu ini kami usahakan tidak berhasil, semuanya..., semuanya terkadang bisa diluar rencana manusia.  Aku tertidur dengan nafas tersengal-sengal mata menerawang penuh dengan pikiran ngeri. Satu-satu dari kami sudah mengantongi serbuk daut liliat yang dikeringkan. Aku baru tahu daun itu berwarna biru dan menyala di kegelapan. Itu adalah satu cara agar ketika bisa mengenali siapa teman dan siapa lawan.  Kami masih tidur bersama terlentang di tenda yang sempit, aku berharap besok malam kami masih tidur di tenda seperti ini. Walaupun aku merasa sesak sekarang tubuhku yang semakin besar "Matiti" untuk pertama kalinya Jirit memanggil namaku  "Aku tahu siapa kau"  bisiknya  Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, aku mendengar dengkuran Kukuta dan Gili saling bersahutan. Jon tertidur di luar tenda karena tubuhnya besar sekali tidak cukup di tenda kecil kami Jirit menarik lenganku "Sudah tidur saja"  Aku kembali merebahkan tubuhku di sisinya, berdoa untuk pertama kali agar dia tidak mengetahui siapa aku sebenarnya. Kalau dia tahu siapa aku maka ada orang lain juga yang tahu siapa aku. Anak ini pakar dalam mencuri dengar pembicaraan orang lain.  "Kau dari klan raksasa ?"  Aku memejamkan mata, langsung seketika itu aku tahu dari mana dia tahu. Kukuta "Dari Gili aku tahu nama Klan kalian Klan Kwaititi, ada pemberontakakn yang terjadi disana. Hingga kalian berpindah kemari, mengikuti seorang mata-mata yang telah lama menghilang, mata-mata yang namanya sering sekali ku dengar"  "mmm"  Aku mendengarkan tapi tidak mau menanggapi apapun, aku ingin mendengar kesimpulan yang dimilikinya tentang aku. Aku tidak ingin mengiyakan, atau bahkan bilang tidak. Perlawanan yang bisa kulakukan saat ini adalah diam.  "Aku diasuh oleh seorang nenek yang renta di tengah hutan, di Morgot. Dia sangat tua tapi dia seorang mantan pelayan di kerjaan, yang memilih berhenti karena rasa dukanya terhadap ratu terdahulu" Ada jeda yang panjang, aku menoleh padanya, matanya melayang-layang di antara kegelapan di tenda kami "Dia adalah pencuri dengar sama sepertiku, aku tahu Sezarab di penjara di Klan Kwaititi selama bertahun-tahun. Menurutku tidak mungkin dia kembali hidup-hidup. Aku mendengar juga dari Gili kalau ada sebuah ramalan tentang laki-laki yang akan menjadi raja dan menyejahterakan rakyat Altar" dia terdiam lagi "Aku tidak tahu Altar itu seperti apa, tapi katanya rakyat Altar kini percaya bahwa Raja itu akan membawa era perdamaiyan bagi mereka" Oh ternyata aku yang memberi tahunya, ya secara tidak langusung, berarti akulah yang memberi tahu Jirit. Karena Gili mengetahui tentang mimpi gadis Lohye itu dari aku.  "Dari nenekku aku juga mendengar tentang wabah Lohye, orang-orang yang diasingkan ke sebuah pulau"  "Nenekmu mengetahui banyak hal rupanya"  Dia terkekeh "Dia memang tahu banyak sekali, tapi akhir-akhir ini dia terlalu pikun untuk mengingat" Aku merasakan tanganku di ganggam Jirit seperti seorang kekasih "Aku tahu gadis Lohye itu adalah gadis yang kau  bawa ke bar ku ketika malam lelang, tidak sengaja aku melihat mata birunya dan rambut putihnya"  Aku memejamkan mata  "Calon Raja itu kau.."  Aku hanya bisa terdiam, menyesali hal itu harus diketahuinya. Aku tidak ingin memberi harapan pada seorang pemuda. Bukan karena apa, rasanya Jirit seperti adikku sendiri. Aku tidak ingin dia terbawa-bawa dalam masalah raja ini.  "Sezarab menyelamatkanmu, karena dia menginginkan sesuatu. Dia orang yang tidak memedulikan orang lain tanpa tujuan yang jelas"  "Jirit" aku melepaskan tangannya dan meletakkan tangganya di dadanya "Tidurlah. Besok akan panjang" aku menghela nafas dalam dan berat.  "Apa aku benar ? Apa tebakanku benar ?"  Aku berbalik tidak mau mengatakan apapun. Kepalaku di penuhi pikiran tentang besok yang seperti apa.  "Kalau itu benar aku ingin minta sesautu padamu"  Aku diam saja.  Percakapanpun berakhir karena aku tidak menanggapi Jirit.  ?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN