Matahari belum menyingsing, perut kami sudah tersisi tapi tidak ada yang bisa makan dengan benar. Kecuali seseorang dari peleton Katak dia makan banyak, dia makan sebanyak yang dia mau. Temannya bertanya kenapa dia makan begitu banyak. Jawabannya membaut pilu hatiku "Ini mungkin makanan terakhirku. Seumur hidupku aku terus kelaparan. Paling tidak aku akan mati dalam keadaan perutku terisi penuh"
Aku memalingkan wajahku tidak kuat melihat bagaimana dia memaksakan seluruh makanan masuk ke mulutnya. Jon duduk di sebelahku.
"Kau lihat, perang yang kau inginkan itu tidak menyenangkan Matiti" Jon berbisik "Syukurlah aku pernah mengalami siatuasi menakutkan ini, paling tidak aku bisa sedikit lebih tenang"
Ketiga temanku yang lain Gili, Kukuta dan Jirit bergabung dengan kami. Aku memaksakan masuk sepotong dua potong roti. Tidak ada yang bersuara, situasi semakin terasa menegangkan ketika mereka menggeret tembakan bola api mendekati gerbang. Para pemenah menyiapkan panahnya.
Tangan Jirit gemetar ujung matanya melihatku
"Tetap di sisiku Jirit" Kataku untuk menenangkannya
"Kita akan selalu sama-sama" Gili meyakinkan dengan wajah percaya diri yang juga dipaksakan, menepuk-nepuk punggung Jirit.
Kami seolah berusaha menyembunyikan semua rasa takut kami, menguburnya dalam-dalam hingga tak terlihat. Mata kami yang awas sudah memperlihatkan betapa tidak tenangnya perasaan kami pagi itu. Bertanya-tanya siapa di antara kami yang akan pergi, siapa yang akan pulang. Kalau kami menang apakah tidak akan ada perang lagi ?
Prajurit elit, mempersiapkan diri dengan propesional, seolah perang adalah salah satu pekerjaan mereka yang dilakukan setiap hari. Mereka mendegarkan komando-komando ketua masing-masing kelompok pemanah, prajurit berkuda dan penembak bola baja. Mereka semua dipersiapkan.
Aku menenagadah ke atas langit, langit mulai mendung. Berarti mereka akan menarik pasukan berkuda, mereka akan memilih baju zirah yang lebih ringan. dataran rendah terbuka di depan benteng akan di penuhi lumpur, itu akan mempersulit pasukan berkuda
Aku meminta para ketua peleton berkumpul di belakang kanal. Ini keputusanku yang tidak diketahui Gili dan yang lainnya. Aku ingin mereka orang-orang tak terlatih ini selamat dari sini. Kemarin mereka hanya seorang pedagang keadaan memaksa mereka tergeret ke medan perang dengan dalih kesetiaan terhadap Raja. Padahal Raja sendiri hanya memikirkan kekayaan. Orang-orang ini adalah orang-orang yang didesak hidup mencari pajak buat Raja dan matipun untuk Raja.
"MAU APA KAU MENGUMPULKAN KAMI" teriak Katak membahana di kanal sepi itu. Masih terlalu pagi. Pasukan dan Kapten lain terlalu sibuk di dalam benteng kecil. Kecuali pasukan pemanah mereka sedang mendengarkan komando.
"Aku punya rencana agar kita semua bisa pulang" aku meminta mereka untuk tenang, dan dengan tenang menjelaskan semuanya pada mereka "Jangan takut. Ikuti saja perintahku di medan perang"
"Tapi kami harus mendengarkan apa kata Kapten Khamer"
"Khamer memimpin tentara di belakang kalian, kalian cuma di tugaskan untuk mengulur waktu dan terbunuh di tangan mereka. membuat tenaga mereka berkurang. Secara teknis peperangan kita ini adalah tumbal" Kalau ada yang masih tidak mengerti akan hal itu biar ku jelaskan lagi "Mereka tidak memihak kita, tidak ada yang akan melindungi kalian di medan perang. Kalian mau mengadu pada mereka, silahkan saja. Kalian tahu kalian akan sangat terlambat sekarang. Kita akan mati"
Mereka semua tidak lagi membatahku, mereka mendengarkanku dengan baik. Aku mensyukuri itu. Dan ku harap bisa memegang kepercayaan mereka.
"Latar belakang kita semua disini sama, kita adalah orang baisa yang dipaksa untuk setia dan berbakti pada Sang Raja Tungga sementara dia tidak menunjukkan batang hidungnya berperang di garis terdepan bersama kita. Teman-teman, aku mengajak kalian untuk pulang. Untuk bisa pulang kembali ke rumah kita. Kita perlu bertahan hari ini saja"
"Aku ikut kau Tikus" seru ketua peleton Murai
"Terimakasih Murai"
"Aku juga" Kata kupu-kupu, ya karena dia memang bagian dari rencana ini
"Aku juga" kata Angsa
Dilanjutkan oleh Capung dan terakhir Katak terlihat paling tidak yakin dengan rencanaku. Aku mengeluarkan tujuh kantong yang berisi bubuk daun liliat sudah, ku bagi pada mereka secara rata. Tanpa sepengetahuan teman teman yang lain bahkan Kupu-kupupun tidak tahu.
Aku harap mereka mengerti, kalau semua peleton paling tidak tujuh peleton berasal dari Pasataria akan kembali.
Aku memberinya satu Kantong itu terkahir pada Katak "Kantong ini berisi bubuk dari daun liliat, aku cuma butuh kalian melumuri wajah kalian dengan bubuk ini"
"Untuk apa ?" Tanya Angsa
"Agar kalian bisa terlihat dalam kegelapan"
Mereka saling melirik satu sama lain tidak mengerti. Aku tidak perlu mereka mengerti sekarang. Aku menghela nafas "Sampai bertemu di arena kawan-kawan. Ku harap kita semua bisa kembali pulang"
Mereka tidak ada yang menjawab. Larut dalam kebingunan dan sebagian dalam rasa sedih karena mendengar kata "pulang" yang biasanya sangat enteng untuk di ucapkan, tapi kini tertahan di leher, sulit untuk menyebutnya. Mungkin karena peperangan ini sangat tidak mungkin buat mereka.
Ketika kami berbaris, Gili meilirikku, kupikir dia akan kesal padaku dan menusukku dengan tombaknya yang selalu bikin aku ngilu setiap kali melihat ujungnya. Dia malah menepuk punggungku, dia kan bertubuh mungil, sulit untuknya menggapai bahu ku "Mau pulang sama-sama ?"
Aku mengedikkan bahu, padahalkan dia tahu aku bukan berasal dari Negara Syaka. Tapi dia tetap mengajakku pulang.
"Hujan" Seru Jirid
Aku melihat Gili, dia menggeleng dengan wajah yakin. Aku melihat warna biru yang memenuhi tanganku tidak luntur sedikitpun tersapu oleh air hujan "Dia membuat serbuk ini dari apa ?" tanyaku pada diri sendiri.
Lalu aku teringat warna biru menyala yang kutemukan di kamar adiknya Anna waktu itu. Kurasa warna ini berasal dari bahan dasar yang sama. Viz dan Khamer datang dari arah benteng kecil, dibelakangnya pasukan elit mengambil ancang-ancang. Sebagian mereka dibukakan pintu gerbang untuk mengambil posisi memblokade benteng besar.
Khamer melirik semua pasukan peleton "Kalian sedang apa ?" dia melihat semua pasukan yang menggunakan pewarna pada tubuh dan wajah mereka.
"Ini senjata kami Ketua"
Dia menahan amarah ketika mendengarku "Tanpa seizinku ?" suaranya dia tekan penuh amarah
Aku memeringkan kepalaku pura-pura terlihat bodoh "Kau bilang kami boleh mempersenjatai diri kami sendiri"
Sezarab menghela nafas, dia mulai menunggang kudanya "Sudah Khamer, kita harus menyiapkan pasukan. Tidak ada waktu untuk meledani jadah kecil ini"
Khamer mengunci tatapannya padaku, seolah memberi tahuku kalau sampai aku bertahan hidup nanti, aku tetap akan mati ditangannya.
Aku ingin bilang padanya bahwa hidupku masih panjang.
Kupu-kupu menyikutku "Hanya kau yang bisa bicara seperti itu pada seorang pangeran"
Jauh disana Jiri berbisik pelan, tapi aku masih mendengarnya "Karena Tikus adalah Raja"
?
Beberapa peleton memilih mengenakan baju zirah lengkap untuk melindungi diri mereka. Sedangkan aku dan teman-temanku sudah tahu medan akan berlumpur karena hujan. Kami akan kuwalahan dengan baju zirah itu sendiri. Aku sungguh tidak cocok dengan pakaian besi itu.
Khamer bersama aditia di belakang kami semua. Aku berada pada barisan paling depan, mereka memberiku prisai tapi aku memberinya pada Jirit. Aku tidak butuh benda berat seperti itu.
Aku memejamkan mata "Serang pangkal pahanya, lumpuhkan lewan. Kenali musuhmu akan menyerang lewat mana"Semua kata-kata Sezarab di latihan kami waktu itu bergitu melekat di kepalaku. Belati dan kunaiku sudah terpasang di jerat pahaku. Sisanya aku hanya bersenjata si ular yang sudah diasah dengan magis oleh Sezarab. Aku merindukannya. Bodoh. Padahal aku benci sekali padanya, tapi di saat seperti ini adanya Sezarab akan menenangkanku. Dia tinggal berbisik di telingaku "Serang Matiti, ambil tubuh bagian samping, menunduk, berbalik..." Aku akan mendengarkannya, setiap aba-aba yang dia berikan. Bahkan aku bisa memejamkan mata dan mengikuti arahannya lalu musuhku akan tewas.
Hujan semakin deras, warna biru masih menempel di wajah dan bagian rantai-rantai besi zirah tipis kami. Gili beberapa langkah di belakangku. Jon bersama Jirit dan Aku didepan dengan Kukuta, Syaz dan Kupu-Kupu.
"Aku mendengar deru kudanya"
"b******k mereka berkuda" seru Kukuta
"Memang kuda mereka bisa terbang ?" Kupu-kupu sangsi "Mereka yang menentukan waktu perang lalu kenapa mereka berkuda"
"Mereka bisa mengakali lumpur ini, lebih cerdas daripada kita yang hanya memilih memakai Zirah rantai" aku berkesimpulan. Nafasku memburu, bertalu-talu. Keringatku bercampur dengan hujan. Sudah setengah jam kita berbaris di barisan paling depan. Seratus lima puluh tumbal Sang Raja Tungga.
"Teman-teman kita harus pulang, jangan biarkan Raja mengolok-olok nasib kita" sepertinya aku menyemangati diriku sendiri. Karena yang lain hanya terdiam. Nafas mereka semakin berat seiring dengan mendekatnya pasukan
"Pulang" bisik Murai di belakangku
Aku mengangguk
"PULANG..." teriak angsa dikeheningan
Kuda Aditia mengikik di belakang. Semua orang menjadi tegang dan berteriak satu persatu, meneriakan keputus asaan di tengah medan berlumpur. Dari kejauhan mereka mulai terlihat.
Berdiri terus ditempat yang sama membuat kaki kami mengering di dalam lumpur "LEPASKAN SEPATU KALIAN, BERTELANJANG KAKI !"
Aku melepaskan sepatuku dengan gerakan yang cepat mengingat mereka semakin cepat
"SEDANG APA KAU d***u ?" teriak Khamer di belakang kami, dia menarik kekang kudanya ingin. mengahampiriku
Aku menggeleng "Ini perangku" bisikku
"LUMPUHKAN MEREKA...REBUT HARGA DARI KITA...BERI TAHU BAHWA TANAH INI MILIK KITA..." Aku sudah berlari menyerang di tengah hujan, berlumpur. Tubuhku terasa lebih ringat tanpa sepatu.
Pasukan Pustianya syock melihat penyerangankku yang tiba-tiba tanpa komando. Teman-temanku, dua orang peleton berlari ikut menyerang seperti aku. Lalu diikuiti yang lain mereka menyerang pasukan berkuda Pustinya tanpa Komando.
Semakin mendekat naluriku semakin memuncak, jantungku berdegup, berdenyut dan memerintahkanku untuk menghabisi satu-satu orang-orang yang membuat kami berkahir disini. Aku harus melindungi laki-laki Pasataria, aku harus membawa mereka semua pulang. Karena tampat mereka bukan di medan perang.
Aku memejamkan mata sesasat, ketiak membukanya satu pedang melayang di atas kepalaku. Aku menghunus pedangku. Menyabit apa saja dengan gerakan berputar, meliuk dan berlari secepat yang ku bisa. Merunduk dan menghumi pasukan kuda Pustinya. Satu-satu mereka tumbang.
Satu temanku tersabit terkabapar dan terinjak "GILI..." Teriakku karena tiba saatnya kami menggunakan asap yang sudah kami siapkan. Aku bersembunyi di antara ringkasan pedang. Aku mengayunkan pedang. Merebit satu kuda mereka ku jadikan tunggangan.
Kuda mereka menggunakan tapal yang sudah diakali agar bisa berlari cepat di lumpur. Melihat salah satu temanku terkapar darahku semakin mendidih. Ku libas mereka tanpa ampun. Ku keluarkan, bubuk Wazkur dan ku buang beberapa ke hadapan mereka.
Kuda meringkik merasakan panasnya bubuk itu, prajurit langsung tumbang dan menjerit. Suara jeritan semakin nyalang ditengah derai hujan. Aku melihat panah-panah melayang, mereka sudah mulai menyerang. Khamer dan Viz melepaskan kudanya dan berlari di ikuti pasukan mereka untuk bergabung.
Beberapa teman-teman peleton terkapar "GILI" Teriakku lagi. Kenapa dia lama sekali ?
Dan dalam hitungan detik asap kelabu yang pekat memenuhi udara, aku merasa seperti berenang dalam kubangan lumpur. Asap itu berterbangan tidak menyisakan apapun kecuali kegelapan. Tapi aku bisa melihat kawan-kawanku, daun liliat itu menyala di kegelapan, menyinari dan memberi arah.
Aku membunyikan peluit, panjang yang hanya patah dua kali. Artinya. MUNDUR !! MENEPI... !!
Pasukan Peleton mundur menepi ke sisi bukit. Kami melarikan diri. Aku melihat teman-temanku masih utuh semua. Gili, Jirit, Kukuta dan Jon. Aku memberi isyarat agar mereka mendekati bukit.
Jon dan Gili tahu mereka harus mendekati batu yang sudah berminggu-minggu kami susun membentuk gunungan agar bisa di glindingkan sebagai ranjau. Gili memberi kode pada peleton yang masih tersisa untuk mengikutinya ke balik gunung.
Viz melihatku, tidak percaya dengan kebrutalan yang kami sajikan tanpa dia ketahui. Aku memanah dalam kegelapan kabut. Aku memberi kode pada Viz agar meninggalkan orang-orang Pastinya di guluangan kabut. Dan dia mendengarkanku. Dia menarik kembali pasukannya untuk memblokade benteng besar.
Tapi tidak dengan Khamer, seklias aku masih melihatnya di anatara kabut.
Aku menerjang kabut untuk menolongnya. Tapi begitu kembali dalam gulungan kabut aku tidak bisa melihat apapun. Dalam keterbatasan pandangan aku hanya bisa menyayat, mengayun-ayunkan pedangku dengan asal "KHAMER" teriakku.
Aku mendengar suara dencingan pedang. Aku memainkan instingku, dan aku melihat kelebat wajah Khamer. Aku meraih bubuk Liliath dan melemparkannya pada Khamer agar aku tetap bisa melihatnya. Aku berdiri di belakangnya "Kau.." Bisiknya marah padaku.
sstreeck
Sialan, wajahku tergores, satu lagi pedang mengenai dadaku, membuka perisai rantai di dadaku. Lalu seorang pajurit Pustinya menyabit dadaku dengan lihai, goresennya menyilang di ujung bahuku. Aku mengambil ancang-ancang. Kembali aku mendengarkan suara Sezarab "Bukan lengan, tapi betis bagian belakang dan bisep" Aku memutar si ular, ku arahkan sisi pengeratnya. Aku maju dua langkah dan ku tebas orang yang mengayunkan pedangnya tadi.
Aku berpetur secepat itu, lalu aku melihat Khamer dalam bahaya. Ujung mataku melihat melihat sebuah pedang mengayun ke arahnya. Aku menekuk Lutuku dan membidik paha musuh. Menyerang sambil belutut. Aku mengayunkan mata kunai ke satu arah berbeda menyelamatkan Khamer untuk kedua kalinya.
Akhirnya setelah sekeliling kami terlihat lenggang. Khamer masih berispa-siap untuk kembali menyerang. Aku menarik kerah baju zirahnya. Ku dorong penutup kepalanya hingga terjatuh. Kugeret dia, aku kaget bobot tubuhnya tidak seberat yang kukira.
Khamer melihatku dengan mata mebelalak "Kenapa dengan tubuhmu ?"
Aku menariknya membuangnya ke atas punggung kuda seolah dia hanya tumpukan karung "PERGI, TURUNKAN BOLA API. CEPAT..."
Splash....
Anak panah salah sasar mengenai lenganku, sial ! Aku tanpa menghiraukan rasa sakit mematahkan kyu anak panah itu berajalan tanpa suara. Satu orang mendekati kuda Khamer dan aku menyerangnya seperti cara beruang yang waktu itu menyerangku "LEPASKAN BOLA ! LARI KHAMER !"
Setelah beberapa menit berjuang dengan serangan di sekelilingku, aku akhirnya berhasil keluar dari kabut. Darah siapa ini. Aku tidak tahu tapi bajuku telah terlepas dan darah memenuhi tubuhku.
Aku berjalan maniki sisi bukit ke tempat yang lainnya pergi.
?
Vilagit menutup benteng besar. Para pemanah sudah kehahabisan mata panah mereka. Asap yang kami buat berlahan tersapu angin. Gili melihatku tak percaya "kemana bajumu Matiti ? Kau..." dia melihat kulitku yang terbuka karena sayatan pedang.
Jon Datang. Dengan cepat mencabuti panah dari lenganku dan mengusap dadaku yang menganga dengan sebuah cairan. Dia memberikan satu botol untuk Gili. Regu pemanah mendatangiku "Kapten mengatakan apa ?" Mereka rupanya menunggu perintah
Pemanah adalah prajurit elit yang sudah terlatih "Apa pekerjaan kalian hanya memanah ?"
"Tidak"
Dari kejauhan aku melihat lima ratus barak tentara di lepaskan lagi oleh Pustinya. Dari kejauhan saura deru langkah kaki kuda terdengar. Aku melihat Jon "Kukuta, Jon dan Gili lepaskan batu ketika mereka datang"
"Tikus, kau tidak bisa memerintah dengan seenaknya" Aly, laki-laki yang berjaga denganku di benteng besar, dia seorang ketua pemanah "Kita harus menunggu panglima"
Aku menggeleng "Aku tidak diperintahkan untuk mendengar panglima, aku diperintahkan untuk menyerang mereka"
Aku berjalan pergi ke sisi yang lain "Tikus !" Teriak Jirit
"Batu. Tugas kalian" Kataku menekankan sekali lagi.
Aku menemukan satu kuda terpisah tanpa awak "Aly kau mau diam saja, melihat teman-temanmu Mati ? Kita harus bergarak !"
Akupun pergi menyerang langsung ke barak tentara mereka di kaki bukit Alfold.
Mana kau Napfany...
Kami bergerak melewati bukit begian belakang. Aku melihat kawanan pemanah ada yang berlari dan sebagian berhasil mendapatkan kuda. Mengikuti ku ke arah barat ke perbukitan Alfold. Aly di sisiku "Kau mau apa ?" tanyanya dengan nafas memburu
"Aku mau Napfany.. Soraya atau siapa saja yang bisa ku jadikan alat untuk menghentikan mereka"
"Kau gila"
"Memang"
Tapi dia tetap mengikutiku.
Kami berhenti di jarak yang tepat. Barak di lindungi lebih dari seratus tentara "Kita akan mati" bisik seseorang.
"Tidak" Kataku yakin "Selama kalian punya pedang untuk di ayunkan, mereka cuma laki-laki berotot tak punya otak" Aku mengendap tanpa bersuara "Kau menyusuplah, bakar barak mereka" Aku memerintahkan Aly dan beberapa temannya.
Tidak lama akupun melihat kebakaran. Aku keluar dan menyerang menimbulkan keribuatan berlipat ganda di barak yang tadinya begitu tenang. Aku mengayunkan pedang dengan buas "CARI MEREKA"
Aly mengerahkan beberapa orang untuk mencari Napfany, panglima perang atau siapapun yang bisa ku jadikan alat untuk mengakhiri perang ini dan membebaskan orang-orang yang ditawan.
"MATITI"
Aku menolah
"Akch..." Jirit tidak bisa melanjutkan kalimatnya laki-laki berkumis lebat menusuk perutnya dengan tombak. Dia terkapar menyamping. darahnya mengenai kakiku. Aku melihat kaki telanjangku penuh lumpur berlapis darahnya. Masih tidak percaya.
"Serang dia" Laki-laki berkumis itu mengincarku, dan aku tidak mengelak. Aku mengusung pedangku. Dengan gerakan ringan, mengalihkan posisiku dengan cepat kebelakangnya. Aku menendang punggungnya, dia tersungkur. Aku menahan tubuhnya dengan kakiku, hingga dia kesulitan bernafas. Sebelum aku mengakhiri peria itu dengan si ular aku mendengar suara Jirit di belakangku.
"Hid...upt... raja Altar"
Mataku nyalang dan satu ayunan pedangku mengahiri hidup laki-laki sial yang membunuh sahabatku.
Aku menoleh pada Jirit. Dia terkapar memegangi tombak ditubuhnya. Aku bersimpuh di dekatnya. Dia meraih tanganku, tanganya gemetar menahan sakit "Permintaan...akk...u...punya...permintaan...." dia memejamkan mata. Aku menyentuh keningnya "Nenekku..."
Aku hanya bisa mengangguk, tak kuat lagi melihatnya
"Hidup Raja Altar..." dia tersenyum padaku sebelum memejamkan matanya.
Aku tidak menyukai perang. TIDAK