Tiga orang prajurit berkuda mendekatiku, matanya buas ingin menghabisiku.
Tahu tidak ? Apa yang paling mengerikan ? Laki-laki yang sudah kehilangan ! Mereka sedang membangunkan sebuah amarah.
Amarahku menggeliat seperti orang baru bangun tidur, rasa lapar memburu dan terasa ingin ku libas semuanya sampai tetes darah terakhir. Temanku meregang nyawa di tempat ini. Ketika Aku mengayunkankn si ular terlintas kata-kata terkahir ku untuknya "Kau bersamaku Jirit !" sungguh janji seorang Raja. Janji palsu yang busuk !
Aku marah pada diriku sendiri, menyesali perkataan yang tidak bisa kupertanggung jawabkan. Jirit mengukuti ku kemari karena dia selalu ingin dekat denganku, dengan harapan aku bisa melindunginya. Tapi aku justru mengabaikannya.
Rasa marah membuatku lapar. Setiap darah orang Pustinya tidak akan pernah cukup untuk mengembalikan Jirit. Aku mengeluarkan si ular kini dia lebih haus darah ketimbang sebelumnya.
Aku menyerang lawan membabi buta tanpa ampun dan belas kasihan, aku tidak peduli mereka laki- laki biasa atau prajurit yang juga punya keluarga yang sedang menunggu mereka pulang, atau seorang anak seperti Jirit yang dinantikan kepulangannya oleh sang nenek. Aku tak peduli. Aku terlalu marah.
Aku marah pada diriku sendiri "Tikus" teriak seorang prajurit padaku "Kami menemukannya"
Telingaku dapat menangkap suara lagi setelah yang bergemuruh sebelumnya cuma amarah. Kini di sekelilingku bergelimpangan jasad penuh darah, aku menancapkan pedangku dengan nafas yang memburu. Darah menetes dari perutku, ada luka sobek yang tidak ku ketahui di sabit oleh pedang siapa.
Aku mengangguk tapi reaksiku datar dan aku masih terdiam "Ikat" kataku dalam, aku takut mendengar suaraku sendiri yang terdengar seperti laki-laki penuh amarah, dan beban. Aku menoleh sekai lagi pada satu jasad kawanku.
Itulah pertama kalinya kurasakan kehancuran yang dasyat, lebih pada ketika klanku terbakar. Aku membawa anak ini kesini, dan aku berjanji membawanya pulang, pulang yang ku janjikan ternyata bukan ke Pasataria ke rumah hangat neneknya, ke pekerjaannya sebagai juru masak di salah satu bar. Pulang yang ku janjikan buatnya ternyata lebih kelam.
Aku mendekati Jirit. Aku mengelus rambutnya, menyisir rambutnya "Jirit, maafkan aku" Aku menelan ludah yang terasa pahit, terasa sakit sampai ke ulu hatiku. Aku meraih pedang kecilnya "Terimakasih kawan, kau menemaniku, terimakasih untuk semua yang kau dengar untukku"
"TIKUS" Teriak seseorang
Aku menoleh, Aly berdiri di sana. Mengayunkan pedang memanggilku mendekat. Barak-barak tentara telah terbakar habis tersapu menjadi debu, bersama darah-darah yang tertumpah.
Jauh sepuluh ribu kaki dari barak ini terompet kemenangan kami telah berbunyi. Negri Syaka berhasil memenangkan perang.
Lalu apa selanjutnya ? perang lagi ? Lebih banyak musuh lagi ? Kupikir perang dilakukan untuk menghentikkan perselisihan dengan cara yang brutal, tapi mungkin aku salah. Perang menjadikan kadar kemurkaan berlipat ganda.
Aku berjalan ke arah Aly "Panglima ketiga, Juru bicara ratu dan Paman sang ratu"
Aku melipat tanganku di d**a, bajuku sudah tidak karuan compang-camping kesana kemari terkena sayatan pedang. kulit perutku terbuka dan mengeluarkan darah yang sudah mengering. Aly mengernyit melihat tampangku.
Aku mencondongkan tubuhku ke arah juru bicara ratu "Tidakkah kau pernah bertanya pada ratumu itu Soraya ? Apakah ini pantas buat kami ? Semua darah ini, apakah dia menginginkan semua ini ?"
"Rajamu yang menginginkannya"
"Dan kau menanggapi keinginan bodohnya" balasku, aku dekatkan lagi wajahku hingga wajah kami berjarak sehembusan nafas "Ada yang harus di balas kaummu padaku, semua nyawa teman-temanku"
Aku melihat bibir tebal bulat dan penuh Soaraya, sangat nikmat untuk di cium. Tapi aku tidak ingin lagi, semua rasanya berbau darah sekarang, tidak pernah lagi ada yang nikmat buatku. Soraya menelan ludah.
Aku tersenyum sangsi "Kau pernah mengecup bibirku Soraya, lupakah kau ?" aku tertawa terbahak, terbahak tapi terdengar amat pilu karena ketika berbalik aku kembali menghadap jasad Jirit yang matanya masih terbuka.
Aku tercekat tiba-tiba "Bawa dia, bair Viz memutuskan"
Aku berjalan menuju kudaku mengambil pedang Jirit dan kembali ke benteng besar.
------------------- ------------ ------------------
Tadi pagi sebelum pintu gerbang benteng besar terbuka, aku sudah berencana seandainya kami memenangkan perang, aku akan bersenang-senang, meneguk Quela paling enak, sampai perutku kembung, sampai aku muntah-muntah, tertawa dan meninggalkan rasa takut ku di medan perang. Tapi rupanya itu terlalu sederhana. Rasa takut, kesengsaraan dan derita di medan perang akan ku bawa sampai mati.
Aku bersandar pilu pada kanal air di bawah istana ke tujuh. Aku melihat lirih pada air sungai yang mengalir. Rembulan penuh terpantul di sungai. Tidak jauh dari tempatku beberapa prajurit sedang membersihkan diri mereka. Mereka tidak keliatan seperti orang yang menang dalam perang, mereka keliatan seperti orang yang baru kehilangan. Tidak ada prajurit yang bergembira pada kemenangan sebuah perang, satu-satunya yang bergembira adalah Raja. Kita kehilangan teman dan saudara dalam kekerasan. Dalam situasi yang menyedihkan itu, berusaha untuk bisa tetap merasa beruntung karena selamat. Ini adalah trauma yang tidak akan pernah hilang.
"Matiti.." Jon berdiri beberapa langkah dariku, enggan mendekatiku "Tubuhmu sudah makin besar, kau harus pakai baju lebih layak. Cepatlah obati lukamu agar tidak memburuk" Dia meletakkan pakaian ganti dan sebotol minyak rubah yang sudah tinggal sedikit.
Aku mengangguk, tapi tanganku masih di atas kedua pahaku. Tidak bergeming
"Viz menunggumu di aula istana, kalau kau sudah lebih baik temuilah. Mereka ingin bicara padamu"
Aku mengangguk.
Jon melihatku dengan tatapan sedih, yang kupaham maksudnya pasti masalah kehilangan ini. Seperti kataku, kami semua kehilangan. Kami semua berduka. Kami tidak menang, kami hanya pion di lantai catur. Satu-satunya yang menang adalah Raja.
Jon pergi memberiku waktu untuk sendiri.
Mereka ingin bicara apa denganku ? pertanyaan itu cepat-cepat ku usir. Aku tidak peduli dengan mereka. Apapun yang mereka inginkan bukan lagi masalah buatku. Kalau mereka mengancamku, atau melakukan hal buruk pada teman-temanku aku bunuh pangeran loyo itu dengan tanganku sendiri. Aku tidak takut, tidak ada yang kutakuti lagi. Aku seperti berada di depan jurang, siap untuk lompat dan merasakan paru-paruku meledak sebelum tubuhku terbentur batu keras dan mati.
Aku sedikit bergerak, dan serasa nyeri di bagian perutku. Benar kata Jon luka ini bisa semakin parah. Aku melihat perutku yang sobek, kurasa lukanya tidak dalam tapi bagian sisinya sudah membiru karena terkena udara. Aku meraih minyak rubah, sekalian dengan pakaian yang diberikan Jon. Apakah tubuh sungguhan berubah ?
Bawahanku memang terasa sudah sangat sesak. Aku mendekati air untuk melihat pantulan diriku.
Astaga, apa ini aku ? Aku melihat Hariti. Hariti dengan tatapan lebih kosong, dengan mata lebih coklat dengan kulit lebih kelam dan rambut pendek tak beraturan. dengan otot yang menonjol-nonjol, dengan luka di beberapa bagian di wajahnya. Ini aku ?
Aku tanpa sadar turun dari undakan tempatku biasa duduk di bawah kanal dan berdiri di atas air sungai yang mengalir sepahaku. Dibawah pantulan bulan bayanganku terlihat sangat jelas. Kemana tubuh kerempengku ?
Oh, aku ternyata memang Kwaititi. Aku adalah Klan raksasa tak masuk akal. Tidak masuk akal buatku, kupikir aku selamanya akan cungkring.
Aku melihat lukaku, membasuhnya dengan air dingin dan merasakan kulit keras dan kokoh di sana. Seperti lapisan kulit yang mengering yang kuat kulit yang biasanya dijadikan zirah oleh para kesatria kwaititi. Seperti itulah kulitku. Aku menggosok minyak rubah. Dan ternyata minyak itu tidak terlalu cukup untuk menghilangkan semua bekas lukaku. Bekas lukaku masih menimbulkan garis menonjol di perutku dan dadaku, juga di lenganku ada bekas panah. Seandainya aku Matiti yang sama yang waktu itu lari dari Altar mungkin panah yang menghujam lenganku sudah membunuhku di medan perang. Tapi kulitku berubah, tubuhku berubah, tulangku berubah. Semuanya...., bahkan hidupku.
------------------ ------ --------------
Gili sekarang jadi sangat kecil, dia hanya setungkaiku. Orang-orang melihatku dengan tatapan aneh, kemungkinan besar aku akan di penjara seperti Riadura. Mungkin aku sebesar dia sekarang. Mereka bertanya-tanya apa yang mereka lihat, sungguhan si Tikus yang cungkring ?
"Kwaititi Sejati, memang berubah saat perang" ujar Gili "Kau akan ke aula ?" tanyanya, dia duduk di meja agar bisa sejajar dengan aku yang tengah menyantap makanan. Perang membuatku lapar
Aku menganggauk
"Teman, aku berterimakasih"
Aku meliriknya "Kita melakukannya bersama-sama, berterima kasihlah untuk keberanian yang kau miliki hari ini"
"Ya.." dia tersenyum "Keberanian itu juga timbul karena kau, mahluk berotot"
"Benarkah ?"
Dia tidak menjawab, dia justru mengambil sebuah pedang, meletakkan pedang itu bersebelahan dengan nampan makananku "Kita bawa ini dan abu Jirit pulang pada neneknya"
Aku pura-pura tidak mendengar, aku sedang berpura-pura untuk tidak terbawa suasana. Aku ingin sekali berhenti makan. Aku ingin sekali tidak membahasnya, aku tidak ingin larut dalam duka semacam ini. Itu bukan keahlianku, bergelut dengan duka.
Gili menepuk bahuku "Makanlah yang banyak, setidaknya kita harus bersyukur, mereka yang gugur di medan perang di perlakukan dengan baik" Gili lantas lompat dari kursi langsung ke tanah. Tubuhnya yang kecil membuat bergerak terlihat sangat mudah. Aku tidak menghiraukannya ketika dia pergi.
Tidak lama setelah Gili meninggalkanku Aly datang "Khamer dan Viz memanggilmu, tidak kah kau tahu ?" tanya Aly dingin penuh tuntutan
"Tidak kah kau tahu aku sedang makan ?" tanyaku lebih garang, aku sadar suarakupun berubah, aku tidak terdengar lagi seperti bocah, suaraku dalam dan berat. Seperti...
Baba. Baba ketika memimpin Klan, Baba ketika punya rencana. Baba ketika bicara denganku tentang hal yang serius
Secara teknis aku adalah gabungan Baba dan Hariti. Itulah aku. Yang ku ambil dari ibuku hanya bola mata coklatku. Aku seutuhnya Kwaititi, kalau kutahu cara mendapatkan tubuh yang kuimpikan ini dengan cara mengerikan begini tentu aku lebih memilih tubuh krempengku.
"Aku akan menunggumu sampai kau selesai makan"
"Terserah kau" ujarku dingin, tanpa melihatnya aku fokus saja pada makananku. Padahal kepalaku sedang berfikir, semua ku pikirkan. Hatiku sedang berduka. Tubuhku bergejolak, jantung bertedak karena amarah. Aku tidak mengerti, kenapa aku jadi begini.
Perang ? Inikah yang kudapatkan dengan perang ?
Aku menyusuri tangga berkelok istana ke tujuh dengan mata dayang-dayang istana tertuju padaku, aku agak terganggu tapi sudahlah. Mereka tidak penting. Langkahku kini menimbulkan suara menggema sampai lantai berikutnya.
"Aku baru lihat manusia sebesar kau" gumam Aly padaku
"Apa aku membuatmu terpesona ?"
Dia tidak menjawab.
Kami akhirnya sampai di aula diskusi istana ke tujuh. Tuan-tuan ternyata aku tengah ditunggu di ruangan ini menjadi tamu istimewa yang akan siap di sidang. Duduk di singgasananya masih lengkap dengan baju zirahnya. Pangeran, Vilagit dan Viz. Ada Aditia tapi dia berdiri memperhatikanku dengan mulut terbuka. Ada juga orang-orang yang tidak kukenal, tapi dari cara mereka berpakaian sudah pasti mereka adalah petinggi kerajaan.
Vilagit tersenyum bangga melihatku, dia mungkin merasa aku putranya tapi sesungguhnya aku tidak sudi. Dia mengangguk-angguk takjub "Inilah dia Klan pembunuh, Klan Kwaititi. Klan raksasa yang berasal dari langit, kita sepertinya tidak perlu lagi buku yang Altar miliki. Kita sudah memiliki satu disini"
Aku mendengus memalingkan wajah
Raut wajah Vilagit lantas berubah melihat reaksiku "Kau sepertinya berkeribadian tidak baik, tuan raksasa"
Aku bersidekap tidak peduli pada mereka, dan status sosial mereka di kerajaan Syaka "Kita langsung saja, jangan kau banyak membual dan bicara omong kosong di depanku. Apa maumu ? Apa mau kalian memangilku kemari ? aku berharap kalian berterimakasih padaku !"
"Lihat dia sangat congkak" Vilagit tertawa bodoh tidak ada yang meresponnya. Para pejabat kerajaan malah ketakutan melihat reaksiku, satu di antara mereke mengeluarkan keringat mulai mengusap-usap kepala botaknya
Apa aku masih berbau darah ? Apa tampangku semengerikan itu
"Apa benar tubuh kalian berubah ketika terjun ke sebuah perang ?" Aditia bertanya ragu-ragu
Aku mengangguk "Karena adrenalin kami terpancing dan membuat kami lapar begitulah cara kerja tubuh ini. Kenapa ? Kalian punya masalah dengan Klan ku ?" Aku berdecak "Jangan Khawatir semuanya sudah mati, Klanku sudah terbakar habis hanya tinggal aku dan temanku Jon" Aku memiringkan kepala berpindah pada wajah Viz yang kaku "Dan Riadura yang di penjarakan Jafar untuk menakut-nakuti kalian"
Khamer tertawa sinis, sangat sinis sampai se-isi ruangan ikut dingin karena suara tawanya "Kau pasti menginginkan kedudukan di kerjaan ?"
Aku menggeleng "Aku ingin ratusan perang" Kataku mantap
Dan semua orang di ruangan itu berdecak "Aku ingin ada di setiap perang kalian. Aku rasa keinginan kita sama, Bukan begitu Vilagit ?" Aku mendengus "Raja menginginkan kerjaan yang luas bukan ?" Tidak ada yang menjawab meski ku jeda pertanyaanku "Hai Khamer, katakan pada ayahmu kau berhutang nyawa padaku. Dan katakan padanya sekarang dia punya senjata"
"Dia gila" bisik seorang petinggi kerajaan pada temannya
Aku mendekatinya, ku tatap dan kukunci setiap tatapannya yang menimbulkan ngeri di matanya "Kukatakan padamu, aku terlalu bau darah untuk disebut gila"
"Matiti..." Viz menyebut namaku dengan sangat jelas "Duduklah, tenangkan dirimu. AKu tahu tidak mudah untukmu menghadapi semua ini. Kita berdiskusi"
Aku tersenyum sinis, kepalaku menggeleng tidak menginginkan diskusi macam apapun dengan mereka "Khamer percepat acara pemakaman, aku tidak sudi jasat temanku di makan burung bangkai" kataku sebelum meninggalkan ruangan aula.