Beberapa hari ini Rendi dibuat kelimpungan karena kepergian Riana yang tiba-tiba, Byan yang terus saja menangis, rumah yang sudah berantakan seperti kapal pecah, membuat Rendi tak bisa beristirahat dengan tenang.
"Mamamu memang benar-benar keterlaluan!! Dia meninggalkan anak dan rumah seperti ini, sementara dia enak-enakan diluar sana. Coba dia berkata sebulan sebelum pergi, mungkin Papa tidak akan pusing seperti ini. Dia kira mencari pembantu dan baby sitter itu mudah apa." Rendi berkata sambil menendang beberapa mainan Byan yang berserakan.
"SUdah tahu Papa tidak suka melihat rumah berantakan, dengan seenaknya saja dia pergi, memangnya tidak bisa diam saja dirumah meski tahu sesuatu." Rendi membaringkan tubuhnya tubuhnya disamping Byan yang kini tengah memakan buah.
Tubuhnya sudah lelah dikantor dan kini harus direpotkan dengan mengurus anak dan juga rumah.
Sejak kemari Rendi sudah menguhubungi sebuah yayasan yang menjadi penyalur ART dan baby sitter, namun sampai saat ini belum ada yang menghubunginya.
Saat tengah berbaring tiba-tiba saja ponsel Rendi bedering, ia segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
"Iya Han." ucap Rendi malas.
"Aku tidak bisa, aku sibuk, aku sedang menjaga Byan, aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri."
"Aku tidak bisa terus-terusan menitipkan Byan sama Mama karena dia akan curiga."
"Iya.. aku juga kangen tapi ya mau bagaimana lagi."
Jihan menutup panggilan karena kesal, sedangkan Rendi juga ikutan kesal karena tidak bisa berbuat apapun.
Baru saja beberapa hari ia ditinggal Riana, Rendi sudah ingin menyeretnya untuk segera pulang, namun harga diri Rendi dengan keras menolaknya.
Lagi pula ia sudah bosan melihat Riana, hanya saja Ibunya sangat menyayangi dia, dan ia juga masih membutuhkannya untuk mengurus Byan.
***
Keesokan harinya Rendi sudah sibuk didapur, membuat sarapan untuk putrinya Byan yang kini terus merengek meminta makan.
Ia bahkan belum sempat mandi karena bangun kesiangan akibat kelelahan, dan sekarang Byan terus merengek membuatnya kepalanya terasa mau meledak saat itu juga.
"Riana!!! Ini semua gara-gara kamu, aku mengutukmu menjadi Nenek sihir yang tua dan menyeramkan. sshhh aw..!!" Rendi merintih saat terkena minyak panas saat menggoreng telur ceplok untuk Byan.
"Papa!!" Rengek Byan.
"Iya Sayang, sabar ya." jawab Rendi.
Rendi segera melangkah menuju pintu setelah mendengar suara bel berbunyi.
"Sebentar ya Sayang, Papa buka pintu dulu." ucap Rendi pada Byan.
"Mama!!" Rendi berkata sesaat setelah membuka pintu.
"Kamu tidak mau mengizinkan Mama masuk?"
"Oh iya, Ma ayo masuk." jawab Rendi gugup.
Namun baru saja beberapa langkah, Bu Ajeng sudah dikejutkan dengan keadaan rumah yang sudah seperti kapal pecah.
"Kamu bertengkar dengan Riana?" Teriak Bu Ajeng.
"Tidak ko Ma." kilah Rendi.
"Terus dimana Riana sekarang? Kenapa rumah bisa berantakan seperti kapal pecah begini?" Bu Ajeng mulai curiga, karena selama Riana menjadi menantunya ia tidak pernah melihat rumah seberantakan ini.
Bu Ajeng semakin curiga saat melihat menu sarapan Byan.
"Sarapan macam apa ini? Siapa yang masak ini?"
"Aku Ma, soalnya aku cuma bisa masak itu." jawab Rendi.
"Lalu dimana Riana? Kenapa dia tidak memasak dan beres-beres rumah?" Bu Ajeng berkacak pinggang.
"Riana kerja Ma." jawab Rendi asal.
"Kerja? Apa kamu sebagai Suami tidak mampu untuk menafkahi Riana?" Dahi Bu Ajeng berkerut.
"Bukan begitu Ma, Riana berkata kalau dia jenuh dirumah terus, dia ingin mencari suasana baru dengan bekerja." jawab Rendi bohong.
"Lalu kamu mengizinkan dia bekerja? Dimana harga dirimu sebagai laki-laki? Karena sejatinya tempat ternyaman seorang Istri itu dirumah, dia tidak akan keluar rumah kalau merasa nyaman dirumahnya, atau jangan-jangan kamu yang sudah membuat mantu Mama tidak betah dirumah?"
"Bu .. Riana itu jenuh terus tinggal dirumah, jadi biarkan saja kalau dia mau bekerja." Jawab Rendi dengan entengnya.
"Kalau sampai Istrimu tergoda dengan pria lain baru tahu rasa kamu."
"Memangnya siapa yang mau sama wanita yang sudah mirip gentong begitu? Mama jangan halu deh." detik itu juga Rendi tertawa terbahak-bahak.
"Nah ini nih pasti salah satu penyebab Istrimu tidak betah dirumah. Kamu pasti sering menghinanya, jadi Riana memutuskam untuk berkerja, kamu dengarkan Mama baik-baik ya!! Wanita itu kalau sudah bertekad ia bahkan bisa menghidupkan buaya yang sudah mati sekalipun. Kalau Riana sudah berubah, kamu pasti akan sangat menyesal karena sudah menyebutnya gentong air."
"Papamu juga dulu pernah selingkuh saat Mama masih belum bisa merawat diri. Setelah Mama berubah cantik dia terus mengejar Mama setengah mati dan meminta kembali lagi, tapi Mama tidak sudi kalau harus kembali dengan tukang selingkuh." rupanya bakat Rendi berselingkuh diturunkan dari Papanya.
Saat Bu Ajeng tengah asyik bercerita tiba-tiba saja terdengar suara bel pintu berbunyi.
Rangga segera melangkah kearah pintu, dan betapa terkejutnya Rendi saat ternyata yang datang adalah Jihan yang kini sudah siap memeluknya.
Namun niatnya urung saat Bu Ajeng menatap tajam dibelakang Rendi.
"Siapa kamu?" Tanya Bu Ajeng ketus.
"Saya sekertarisnya Mas Rendi Bu." Jawab Jihan seraya mengulurkan tangan.
"Mana ada sekertaris yang memanggil atasannya dengan sebutan Mas?" Dengan cepat Bu Ajeng menepis tangan Jihan.
Jihan menelah ludahnya beberapa kali, ia baru tahu ternyata Ibunya Rendi sangat menyeramkan.
"Jihan, kamu sudah bawa berkas yang saya minta kan?" Rendi memberi kode dengan berdeham.
"Iya sudah Pak, berkasnya ada dimobil." jawab Jihan dengan gugup lalu segera melangkah menuju mobil dan kembali beberapa saat kemudian.
"Ini berkasnya Pak." Jihan menyodorkan sebuah map berwarna merah.
Setelah menerima berkasnya Rendi kembali memberi kode agar Jihan segera pergi dari tempat ini karena situasi sedang tidak aman.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu." ucap Jihan seraya membungkukan badan.
Rendi yang hendak kembali masuk langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara Mamanya.
"Tunggu!!" Suara Bu Ajeng menghentikan langkah Jihan.
"Kamu tahu? Saya bahkan bisa mencium bau pelakor meski dari jauh. Kamu wanita yang sangat cantik, jadi saya harap kamu tidak berniat menjadi pelakor dan merusak rumah tangga orang lain, apalagi rumah tangga anak saya."
"Saya bukan pelakor Bu, saya wanita baik-baik." jawab Jihan gugup.
"Syukurlah." Bu Ajeng mengusap lembut rambut panjang Jihan.
"Kamu tahu? Papanya Rendi juga dulu pernah berselingkuh. Kamu tahu apa yang saya lakukan pada selingkuhannya?"
Jihan menggeleng lirih.
"Saya menyiram wajahnya dengan air keras hingga wajahnya hancur." Bu Ajeng berbisik ditelinga Jihan.
"Dan saya akan melakukan hal yang sama pada wanita yang merusak rumah tangga anakku dan menantu kesayanganku." Bu Ajeng menarik sudut bibirnya setelah menjauhkan wajahnya dari telinga Jihan.
Tubuh Jihan seketika bergetar hebat sambil terus meraba wajahnya, ia membayangkan jika Bu Ajeng akan melakukan hal sama pada dirinya jika tahu kalau dirinya adalah selingkuhan Rendi.
Jihan perlahan mulai melangkah mundur dan hampir saja terjatuh saat menginjak unjung anak tangga.
"Kamu tenang saja, tidak perlu sampai gugup seperti itu, saya tahu kamu wanita baik-baik." ucap Bu Ajeng saat berhasil meraih tangan Jihan.
*****
*****