Bab 4

1167 Kata
Mata mereka membulat sempurna saat mendengar kembali percakapan mereka tentang pria dihadapannya, wajah mereka seketika merah padam menahan malu. Ke empat wanita disamping Riana benar-benar dibuat malu saat itu, jika bisa, mungkin mereka sudah menyembunyikan wajahnya diketiak masing-masing. Hanya Riana yang memasang wajah datar disana. "Kalian dengar ya, saya tidak akan memperkerjakan tukang gosip seperti kalian." ucapnya dengan sorot mata tajam. "Rama!!" "Iya Pak." jawab seorang pria yang kini berdiri disampingnya. "Bawa mereka semua pergi dari ruangan ini, saya butuh seseorang yang serius ingin berkerja, bukan tukang gosip seperti mereka." Darren Mahardika Atmaja, seorang pemuda dengan julukan bos yang gila kerja, ia tidak pernah suka dengan karyawan yang tidak serius dalam bekerja, tidak pernah ada satu pun tukang gosip yang berhasil masuk keperusahaan tersebut. *** Keempat wanita yang ketahuan bergosip itu pun keluar dari ruangan itu dengan raut wajah kecewa, belum juga melakukan wawancara mereka sudah lebih dulu diusir dari tempat itu. "Kamu!! Kenapa masih disini, kamu juga keluar sekarang juga!!" Teriak Darren sambil menunjuk arah pintu keluar. "Loh? Kenapa saya ikut diusir juga? Saya kan tidak ikut bergosip seperti mereka?" Riana mengerutkan dahinya. "Kamu tidak membaca apa saja persyaratan untuk menjadi sekertarisku?" Darren mulai terpancing emosi "Baca Pak, maka dari itu saya memberanikan diri untuk melamar kerja disini dan ikut wawancara." jawab Riana tegas. "Kamu yakin mau menjadi sekertarisku dengan tubuhmu yang seperti itu? Kamu bahkan tidak akan mampu hanya untuk sekedar menaiki tangga darurat, kamu tahu kan kalau syarat untuk menjadi sekertarisku harus .. " "Cekatan dan pekerja keras kan Pak? Dan saya yakin saya memiliki semua itu." jawab Riana memotong perkataan Darren dan berhasil membuat semua orang yang masih tersisa disana menganga lebar, sebab sebelumnya tidak ada satu orangpun yang berani memotong ucapan Darren. "Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu, saya paling benci jika ada orang yang memotong pembicaraan saya." Riana membuat Darren semakin murka. "Rama!! Tunggu apa lagi, cepat usir si gendut itu dari ruangan ini." suara Darren kembali menggema diruangan itu. "Baik Pak." jawab Rama cepat. Tapi belum sempat Rama beranjak dari tempatnya, Riana sudah lebih dulu bersimpuh dikaki Darren. "Saya mohon Pak, saya butuh sekali pekerjaan ini, meskipun saya gendut, tapi saya akan melakukan apapun untuk perusahaan ini, saya janji Pak." Riana berkata dengan penuh permohonan. "Maya, singkirkan dia dari kakiku sekarang juga, aku benci sekali padanya." ucap Darren pada Maya. "Baik Pak." Maya meraih lengan Riana. "Pak Darren tidak menerima anda bekerja disini, jadi anda harus segera pergi." ucap Maya sambil menggiring tubuh Riana menjauh dari Darren yang kini masih menatapnya tajam. "Tolong izinkan saya berkerja disini Bu, setidaknya berikan saya kesempatan untuk menunjukan kinerjaku, setelah itu anda boleh memutuskan mau menerima saya atau tidak." Riana berkata dengan wajah memelas. "Tapi keputusan Pak Darren sudah bulat, jadi saya mohon agar anda mengerti." "Cepat keluarkan si gendut itu dari tempat ini." teriakan Darren kembali menggema. Riana yang mulai kesal karena terus dipanggil gendut oleh Darren segera melangkah lebar menghampri Darren hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi saja dan detik itu juga. Bughhh!!! Riana menendang kemaluan Darren dengan lututnya. "Tidak asetku!!!" Darren berkata diiringi rasa sakit yang tak tertahankan. "Meski pun aku tidak di terima bekerja disini tapi aku merasa cukup puas karena sudah berhasil memberi pelajaran pada seorang Bos yang sombong sepertimu." Riana berkata dengan kesal dan segera pergi dari ruangan itu. "Aku akan membunuhmu jika bertemu denganmu lagi." Darren berusaha berteriak meski harus menahan sakit. Riana terus mengumpat setelah keluar dari kantor yang menyebalkan itu, dia yang serius ingin bekerja tapi harga dirinya malah diinjak-injak. Riana berjalan gontai menjauh dari kantor itu, ia bingung akan nasibnya kedepannya, kini ia sedikit menyesal karena tidak bisa menahan emosinya tadi. Seharusnya ia bisa lebih bersabar dan lebih memohon lagi agar diterima ditempat itu. Disaat Riana tengah mencak-mencak frustasi tiba-tiba saja ia mendengar suara teriakan seseorang. Jambrett!!! Dengan cepat Riana membalikan tubuhnya lalu memukul wajah sipengendara yang kini tengah membawa hasil rampasannya. Bruukkk!! Si pengendara kini kehilangan keseimbangannya dan menabrak pagar pembatas ditepi jalan. Riana segera berlari menghampiri dan kembali mengayunkan tasnya untuk memukul si pengendara itu. "Dasar menyebalkan, kamu pikir mencari uang itu mudah hah!! Seenaknya saja merapas hak orang lain." Riana yang sedang kesal melampiaskan kekesalannya pada jambret itu dengan terus memukulnya secara membabi buta. Si jambret kini terkulai lemas tak berdaya, dengan cepat Riana mengambil tas milik seorang wanita paruh baya yang tadi berteriak. "Terima kasih Nak, kamu hebat sekali bisa mengalahkan jambret itu." ucap si pemilik tas. "Sama-sama Bu, kebetulan saya sedang kesal pada pemilik perusahaan itu, jadi aku melampiaskannya pada jambret tadi." jawab Riana sambil menunjuk sebuah kantor dibelakangnya. "Mentang-mentang saya gemuk, masa dia tidak mau menerima saya berkerja disana, padahal saya sudah memenuhi semua persyaratan, menyebalkan sekali." tanpa sadar Riana terus menggerutu dihadapan Ibu itu. "Kamu habis melamar kerja disana?" Ibu itu menunjuk kantor dibelakang Riana. "Iya benar, dan Bos disana menyebalkan sekali, kalau begitu saya pamit pulang dulu Bu." Riana meraih tangan Ibu itu lalu mencium punggung tangannya begitu saja. "Tunggu sebentar Nak." Ibu itu merogoh beberapa lembar uang merah dari tasnya lalu menyodorkannya pada Riana namun dengan cepat ditolak olehnya. "Saya menolong Ibu tanpa pamrih, tadi hanya kebetulan saja saya sedang kesal, jadi yang tadi itu bukan apa-apa, saya berterima kasih atas kebaikan Ibu." ucap Riana dan hendak berlalu dari tempat itu. "Tapi saya ikhlas memberi ini, kalau bukan karena kamu, mungkin saya sudah kehilangan banyak barang berharga milik saya." "Sungguh tidak usah Bu, saya juga ikhlas menolong Ibu, dan tadi hanya kebetulan saja, jadi sekali lagi terima kasih banyak." "Baiklah kalau bagitu, terima kasih atas bantuannya ya Nak." Ibu tersebut mengusap lembut bahu Riana. "Iya Bu sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu." Riana segera berlalu dari tempat itu. "Ibu mengenal wanita itu?" Ucap Rama yang menghampiri Bu Windy, seorang wanita paruh baya yang sudah melahirkan Darren. "Wanita itu yang tadi sudah menolongku dari jambret, jika bukan karena dia, mungkin aku sudah kehilangan semua barang berharga ku. Oh iya, aku dengar dia tadi melamar kerja dikantor Darren dan tidak diterima, apa benar?" Tanya Bu Windy. Rama membisikan sesuatu ketelinga Bu Windy yang membuat Bu Windy seketika tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, benar begitu? Aku baru tahu kalau ada orang yang berani melakukan hal seperti itu pada Darren, dia benar-benar wanita yang pemberani." Bu Windy menggelengkan kepalanya. "Rama!!" "Iya Bu" "Cari tahu dimana alamat wanita itu, dia wanita yang jujur dan pemberani, dia sangat cocok untuk menjadi sekertaris Darren. Aku juga melihat kalau dia seorang wanita pekerja keras dan pantang menyerah. Aku yakin dia bisa mengimbangi kegilaan putraku." ucap Bu Windy. "Tapi Bu, Pak Darren akan sangat marah jika mengetahui hal itu. Dia bahkan berkata akan membunuh wanita itu sangking kesalnya, beliau tidak menyukai wanita itu karena tidak sesuai dengan kriterianya. Pak Darren akan membunuhku jika membawa wanita itu kembali kehadapannya." bisa tamat riwayat Rama jika membawa Riana kembali kehadapan Darren. "Biar aku sendiri yang akan membawanya kehadapan Darren, kamu cukup lakukan saja perintahku dan bawa wanita itu kerumah besok." "Baik Bu." Rama tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Bu Windy. ***** *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN