Aku turun dari taksi begitu tiba di depan supermarket. Aku berjalan menuju pintu masuk supermarket itu dan mencari Nissa.
“Dia pasti bingung dan mencariku dari tadi,” pikirku.
Aku berjalan ke tempat dimana aku meninggalkan Nissa terakhir kali sebelum mengejar laki-laki itu namun tidak mendapati Nissa disana. Aku melihat ke sekitarku berusaha mencari keberadaannya sambil mengambil ponsel dari dalam tasku.
“Ini anak malah berdiri disini. Aku nyariin kamu tahu dari tadi.” Nissa menepuk pelan pundakku membuatku terkejut dan tersadar.
“Gak Nissa. Tadi aku mau ke toilet tapi gak tahu toiletnya ada dimana.” Aku mencari alasan.
“Toilet? Sini, aku tahu dimana toiletnya. Kenapa gak ngomong ke aku sih dari tadi,” ucap Nissa sambil menarik tanganku masuk kembali ke dalam Mall.
“Jadi kamu selama itu dari tadi nyariin toilet? Aku kira kamu udah selesai terus kesasar,” omel Nissa.
Aku terdiam dan pasrah mengikuti Nissa menuju ke toilet Mall.
“Kamu masuk gih. Aku tungguin disini ya,” ucap Nissa saat kami tiba di depan toilet Mall.
Aku menganggukkan kepalaku kemudian masuk ke dalam toilet. Aku mellihat jam yang ada di pergelangan tanganku.
“Seharusnya Mas Ardi sudah landing jam segini,” batinku.
Aku mengambil ponsel yang ada di dalam tas dan mencoba menghubungi Mas Ardi lagi.
“Masih tidak aktif,” gumamku sambil menggigit bibirku. Entah kenapa batinku menjadi tidak tenang.
“Apa laki-laki tadi hanya mirip saja dengan Mas Ardi?” Aku mencubit pelan daguku, berusaha berpikir keras tentang apa yang aku lihat tadi.
“Ah sudahlah. Nanti pasti Mas Ardi menghubungiku jika dia benar-benar sudah landing.” Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas dan berjalan keluar dari toilet.
“Udah?” tanya Nissa yang berdiri menungguku di luar.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Kamu sakit ya, Git? Wajah kamu kayak lagi gak enak gitu kayaknya,” tanya Nissa lagi sambil terus memperhatikan wajahku.
“Iya, kayaknya aku lagi gak enak badan nih Nis. Boleh gak nontonnya di tunda aja dulu?” jawabku .
“Astaga, kenapa gak bilang dari tadi sih Git kalo kamu lagi gak enak badan? Ayo kita pulang aja sekarang.”
“Maaf ya Nissa,” ucapku tidak enak dengan Nissa. Hatiku memang benar-benar sedang tidak enak dan galau. Moodku hancur.
“Gak apa-apa, Gita. Nonton juga gak mesti kok. Aku cuma pengen nostalgia aja sama kamu tadinya”
Aku dan Nissa berjalan menuju ke parkiran kemudian bergegas kembali pulang ke rumah.
“Aku langsung pulang aja ya, Git. Kamu istirahat aja di rumah,” ucap Nissa begitu sampai di depan rumahku.
“Makasih ya, Nis. Kita ganti aja waktu nontonnya jadi besok,” ucapku.
“Gak usah. Kamu istirahat aja dirumah. Besok aku main kesini. Kita ngobrol-ngobrol aja,” jawab Nissa.
Ibu datang mendekati kami dengan membawa satu kantong belanjaan.
“Loh kok cepet banget pulangnya?” tanya ibu
“Gak jadi, Budhe. Gita gak enak badan katanya tadi.”
“Gak enak badan? Kamu sakit, Mbak?” ibu melihat ke arahku
“Cuma agak kayak meriang sedikit gitu, bu,” jawab Gita
“Ayo ibu antar ke bidan depan, Mbak.” Wajah ibu perlahan berbinar.
“Ih ibu apaan sih. Gita kan nikahnya baru mau masuk dua minggu bu,” jawabku melemas melihat ekspresi ibu yang berbinar penuh harap melihatku
Nissa tertawa begitu lepas mendengar ucapanku. Setelah itu dia pamit untuk pulang ke rumahnya.
“Beneran mbak gak mau ibu antar ke tempat ibu bidan?” tanya ibu lagi
“Gak perlu, Bu. Mbak cuma agak kecapekan aja.”
Tiba-tiba ponselku berdering. Segera aku mengambilnya dari dalam tasku. Kontak suamiku tampil di layar ponselku.
“Bu, Mas Ardi nelpon. Mbak angkat dulu ya, bu.”
“Iya mbak,” jawab Ibu.
Aku berjalan lebih cepat dan segera masuk ke dalam kamar. Aku angkat panggilan dari suamiku.
“Halo, Mas,” ucapku begitu menerima panggilan teleponnya.
“Halo Dek. Mas sudah sampai di Semarang ya. Maaf tadi ambil bagasi dulu, jadi baru bisa mengabari sekarang.”
“Iya Mas, gak apa-apa. Aku boleh video call gak, mas? Aku pengen lihat wajah mas. Aku rindu.” Aku berusaha mencari alasan agar bisa mencari kebenaran atas semua pertanyaan di dalam hatiku sejak tadi.
“Baterai ponsel mas tinggal sedikit dek. Takutnya nanti teman Mas gak bisa menelpon mas. Nanti malam ya tunggu Mas sudah di hotel dan sudah charge baterai ponsel.” Jawab Mas Ardi.
“Baiklah, Mas. Nanti kabari lagi ya, Mas. Sukses buat pelatihannya disana.”
“Makasih ya dek. Mas tutup dulu teleponnya ya.”
“Iya Mas.”
Ardi menutup panggilan ponselnya. Aku menghelakan napas panjang. Ku letakkan ponselku di tepi ranjang kemudian membaringkan badanku.
“Kenapa aku selalu menaruh curiga dengan Mas Ardi?” Aku menyalahkan diri sendiri.
Pintu kamar terketuk oleh seseorang. Aku langsung bangkit dari baringku dan segera membukakan pintu kamar.
“Ini ibu buatin teh hangat. Mbak minum ya biar segeran.” Ibu masuk ke dalam kamar dan meletakkn segelas teh manis hangat buatannya di atas meja yang ada di dekat tempat tidur.
Aku mengikuti ibu dan duduk di atas ranjang tempat tidurku.
“Ardi sudah sampai di Semarang?” tanya Ibu yang duduk di sebelahku.
“Sudah, Bu. Lagi jalan menuju hotel katanya tadi.”
Ibu menganggukkan kepalanya.
“Sudah, jangan sedih-sedih. Kan Ardi berangkat untuk kerja, untuk kamu juga, Mbak.” Ibu mengelus kepalaku.
“Iya, Bu. Gita juga gak berat hati kok bu. Gita memang agak kecapekan. Semalam kurang tidur karena packing baju Mas Ardi dan baju Gita untuk menginap disini,” jawabku.
“Ya udah. Diminum tehnya ya, Mbak.” Ibu mengambil teh kemudian memberikannya padaku, “Diminum selagi hangat, setelah itu mbak istirahat ya.”
“Makasih ya, Bu.” Aku tersenyum pada ibu.
Ibu tersenyum kemudian membalikkan badannnya berniat untuk keluar dari kamarku.
“Bu,” panggilku tiba-tiba.
“Apa, Mbak?” Ibu melihat ke arahku.
“Bu, apa mungkin ya ada orang yang benar-benar mirip dengan orang lain?” tanyaku.
“Maksudnya mbak?” ibu mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaanku.
“Itu bu, tadi Gita melihat orang yang sama persis dengan orang yang Gita kenal. Tapi orang itu tidak tinggal di kota ini,” jelasku.
“Sama persis?” ibu terdiam sejenak, “Bisa aja sih, mbak. Ibu aja beberapa kali pernah bertemu dengan perempuan muda yang hampir mirip dengan mbak. Sampai ibu kira itu mbak, rupanya bukan.”
Aku menganggukkan kepalaku, “Iya ya bu. Mungkin saja cuma mirip.”
Ibu tersenyum melihatku, “Dihabiskan teh hangatnya.”
“Iya, Bu,” jawabku
Ibu keluar dari kamar dan menutup pintu. Aku meminum teh hangat yang ada di tanganku beberapa teguk. Begitu hangat di kerongkonganku. Perlahan pikiranku kembali segar.
“Mungkin memang hanya mirip,” gumamku sambil melihat ke arah jendela kemudian kembali menyesap teh hangat yang ada di tanganku.