Aku terbangun dari tidur. Aku melihat jam yang ada di atas meja nakas, sudah jam lima subuh.
“Astaga, aku pasti ketiduran semalam. Mas Ardi pasti menghubungi aku berkali-kali,” batinku.
Dengan cepat aku mencari ponsel yang semalam selalu aku genggam ditanganku. Aku melihat ke sekitar meja dan kasur tempat tidurku, memindai keberadaan ponselku itu.
“Itu dia!” Aku melihat ponselku di dekat bantal, diatas kasur.
Aku ambil ponsel itu dan dengan penuh antusias aku melihat layar ponselku dan mengecek notifikasi yang masuk.
Tidak ada notifikasi panggilan ataupun pesan yang masuk dari kontak Mas Ardi. Aku melemas.
“Mungkin Mas Ardi sedang sibuk dengan pelatihannya dan kelelahan tadi malam. Jadi lupa menghubungiku.” Aku berusaha menghibur diri dan menanamkan pikiran positif.
“Nanti Mas Ardi pasti akan menghubungiku jika sudah ada waktu luang di sela-sela pelatihannya. Aku tunggu saja.” Aku meletakkan ponselku di atas meja nakas dan beranjak keluar dari kamarku untuk melanjutkan aktivitasku.
Pukul 12 siang, Aku duduk santai di teras rumah sambil menikmati teh dan cemilan ringan. Netraku terus melihat ke arah layar ponsel, berharap seseorang yang aku rindukan menghubungiku.
“Ini kan sudah waktunya jam makan siang. Kenapa Mas Ardi belum menghubungiku juga ya?”
Tanganku satu menopang dagu, sementara tanganku yang lain sibuk scrolling layar ponselku walau hanya sekedar keluar masuk aplikasi.
“Aku akan mengirim pesan ke Mas Ardi. Sepertinya itu tidak akan mengganggu aktivitas pelatihan Mas Ardi. Setidaknya Mas Ardi tahu kalau aku menunggu kabar darinya,” batinku.
Dengan semangat aku mulai membuka aplikasi berbagi pesan yang ada diponselku dan mengetik pesan yang aku tujukan pada kontak Mas Ardi, suamiku.
“Mas, Apa kabar? Mas sehat kan? Aku menunggu telepon dari mas loh sejak semalam. Kata mas mau video call sama aku.”
Aku segera mengirim pesan itu ke kontak Mas Ardi. Aku memperhatikan beberapa saat. Pesanku sudah centang dua yang artinya sudah terkirim ke ponsel Mas ardi, namun belum dibaca oleh Mas Ardi.
Aku meletakkan ponselku ke atas meja. Ku ambil cangkir tehku dan menyesapnya beberapa kali. Teh ini sedikit mampu memberikan ketenangan di hatiku.
Bapak datang dari dalam rumah dan duduk di kursi yang ada di sampingku.
“Bapak mau mbak buat kan kopi?” tawarku begitu melihat bapak duduk di kursi.
“Gak usah mbak. Bapak tadi sudah ngopi di dalam.” Jawab bapak.
“Bapak mau pergi?” Aku melhat pakaian yang dikenakan bapak sangat rapi dan formal.
“Iya, ada pertemuan di rumah pak RT. Mau ngomongin masalah pengaktifan kembali poskamling di RT kita karena kemarin sudah ada dua rumah warga yang kemalingan malam-malam.” Jawab bapak.
“Ngeri juga ya pak. Sudah mulai gak aman.”
“Iya, makanya kita jangan dulu keluar dari magrib sampai malam. Banyak rampok dan begal juga sekarang.”
Aku menganggukkan kepalaku menanggapi perkataan bapak.
“Kamu kapan masuk kerja lagi, Mbak?” tanya bapak.
“Minggu depan mbak sudah masuk kerja, pak.”
“Ardi ada keluhan kalau kamu bekerja?” tanya bapak lagi.
“Gak ada, Pak. Mas Ardi dukung apa aja yang jadi keputusan mbak. Mau mbak bekerja tau mbak berhenti, Mas Ardi dukung semua.”
“Baguslah. Jadi kalian satu pendapat dan saling mendukung. Bapak senang dengarnya.” Bapak tersenyum melihatku, “Bapak pergi dulu ya.” Bapak berdiri dan melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.
“Hati-hati ya pak.” Aku ikut berdiri dan mencium tangan laki-laki yang menjadi cinta pertama dalam hidupku itu.
“Bu, bapak pergi ya.” Bapakku teriak dari depan pintu, pamit pada ibuku yang kemudian disahut oleh ibuku dari dalam.
Aku melihat ke arah bapak yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandanganku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Terlihat foto suamiku di layar ponselku. Dia akhirnya menghubungiku dengan video callnya.
“Mas!” ucapku dengan begitu gembira begitu aku mengangkat panggilan telepon darinya.
“Iya dek.” Mas Ardi terlihat tersenyum. Dia terlihat sangat rapi dengan kemeja putihnya.
“Mas lagi istirahat ya?” tanyaku
“Iya, ini lagi waktunya istirahat. Kamu sehat dek? Maaf ya mas sibuk banget sejak hari pertama disini. Pembukaan dan pelatihannya sampai malam, jadi Mas sering ketiduran waktu tiba di kamar hotel.” Jawab Mas Ardi.
“Aku sehat mas. Gak apa-apa, Akunya aja yang bawel. Pelatihan kan memang sibuk banget. Mas gimana disana? Sehat?”
“Mas juga sehat disini, Dek. Jangan khawatir.” Mas Ardi tersenyum.
“Mas sudah makan?”
“Belum. Sebentar lagi. Tadi begitu keluar ruangan pelatihan, Mas lihat ponsel mas ada pesan dari kamu. Makanya Mas langsung menghubungi kamu.”
Aku tersenyum, wajahku memerah dan jantungku berdegup kencang. Aku merasa sangat tersanjung karena diprioritaskan oleh suamiku seperti ini. Dilain sisi, aku juga menyalahkan pikiran dan perasaanku yang sejak kemarin terus curiga pada Mas Ardi.
“Mas lagi dimana ini?” tanyaku yang bingung melihat sekeliling Mas Ardi yang tidak seperti lingkungan hotel. Mas ardi seperti sedang di sebuah pekarangan rumah karena aku bisa melihat sisi pagar yang hampir sama persis dengan pagar yang ada di rumah kami. Hanya saja berbeda warna catnya.
“Di hotel dong dek.” Jawabnya dnegan cepat.
“Pagar hotelnya kayak gitu, Mas?” Aku menegaskan penglihatanku pada Mas Ardi.
Sejenak Mas Ardi terlihat kikuk begitu menyadari apa yang aku maksudkan.
“Oh itu. Mas lagi di luar hotel memang dek. Cari pemandangan baru sejenak. Jenuh juga dikurung terus di dalam.” jawab Mas Ardi.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Bapak dan ibu sehat, dek?” tanya Mas Ardi
Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari Mas Ardi, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil. Mas Ardi dengan cepat melihat ke arah yang bisa aku tebak dengan pasti merupakan sumber suara tadi. Wajah Mas Ardi berubah menjadi tegang membuatku ikut merasa khawatir dan penasaran.
“Siapa itu, Mas?” tanyaku dengan cepat.
“Itu teman pelatihan mas, Dek. Mas harus segera masuk sekarang dek. Nanti mas hubungi lagi ya.” ucap Mas Ardi dengan terburu-buru.
Belum sempat aku mengucapkan salam, Mas Ardi sudah menutup panggilan videonya.
Aku terdiam dengan ponsel yang masih ada di genggaman tanganku. Mataku melihat ke arah depan dan pikiranku kembali pada instingnya.
“Kenapa Mas Ardi panik dan buru-buru mematikan panggilan videonya?” gumamku, “Jika hanya teman, kenapa sebegitu takutnya?”
Aku terus larut dalam pikiranku. Aku yang tadinya bisa menepis kecurigaanku pada Mas Ardi, kini kembali overthinking.
“Mbak, makan siang dulu yuk.” Ajak ibu yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
Aku masih terdiam di tempat dudukku. Sama sekali tidak mendengar dan menyadari kedatangan ibu di dekatku.
“Mbak?” ibu mengulangi panggilannnya yang akhirnya bisa menyadarkanku.
“Eh ibu, ada apa bu?” tanyaku linglung sambil melihat ke arah ibu.
“Mbak melamun? Melamuni apa? Ardi?” Tanya ibu yang sadar bahwa ada yang menganggu pikiranku.
“Gak bu. Tadi mbak keinget kerjaan mbak yang belum sempat mbak selesaikan sebelum cuti nikah kemarin.” Aku berusaha mencari alasan.
“Nanti aja itu dipikirin, mbak. Kan sekarang masih cuti kerja. Nikmati aja dulu liburannya. Nanti kalau sudah mulai masuk kerja baru diselesaikan.” Ibu tersenyum padaku, “Ayo makan siang dulu.” Ajak ibu.
Aku menganggukkan kepalaku dan berdiri dari tempat dudukku. Mengambil makanan dan gelas yang tadi aku nikmati dan membawanya masuk ke dalam rumah mengikuti ibu dari belakang.