Aku terduduk diam di tepi tempat tidurku. Sejak semalam aku mencoba menghubungi Mas Ardi namun nomor Mas Ardi tidak aktif. Entah kenapa perasaanku terasa tidak enak.
“Mbak, ayo sarapan.” Ajak Ibu dari depan pintu kamarku.
“Iya bu.” Jawabku yang kemudian beranjak dari tempat tidurku keluar dari kamar.
Aku berjalan menuju ke meja makan dimana ibu dan bapak sudah duduk menungguku.
“Mbak sakit? Kok lemas?” Tanya ibu sambil terus menatap wajahku.
“Gak kok bu. Semalam Mbak susah tidur. Mungkin karena kebanyakan main handphone di kamar.” Jawabku sambil tersenyum. Tidak mungkin aku menceritakan kegundahanku terhadap Mas Ardi pada ibu dan bapak. Aku tidak ingin harga diri Mas Ardi jatuh di depan ibu dan bapak.
“Selesai sarapan kita ke Bidan depan ya, Mbak.” Ajak ibu dengan lembut. Dibalik wajahnya yang khawatir tersirat raut kegembiraan dan aku tahu kemana arah pikiran ibuku saat ini.
“Gak usah, Bu. Mbak cuma kurang tidur aja semalam. Mbak gak kenapa-kenapa kok. Nanti malam Mbak gak begadang lagi deh.” Aku berusaha meyakinkan ibu.
“Gak apa-apa, Mbak. Pergi aja bareng ibu ya. Nanti kan bisa di kasih vitamin sama ibu bidannya biar gak tumbang.” Bapak menimpali, mendukung ide dari ibu.
Aku tidak bisa membantah lagi jika sudah ibu dan bapak yang berbicara. Aku menganggukkan kepalaku,”Iya, Pak. Nanti mbak dan ibu pergi ke tempat bidannya.”
Ibu dan bapak tersenyum dan saling pandang. Aku sempat tergelitik melihat tingkah kedua orangtuaku itu. walaupun dalam hati kecilku sedih karena belum bisa memberikan apa yang menjadi harapan mereka saat ini.
Kami pun makan dengan tenang. Ibu dengan cekatan meladeniku seakan-akan aku adalah orang yang sedang sakit.
“Mbak, mandi dulu ya bu.” Aku pamit pada ibuku yang sedang sibuk berbenah didapur setelah aku selesai mencuci piring bekas makan kami tadi.
“Iya mbak. Ibu juga nanti langsung siap-siap.” Jawab Ibu.
Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju gantiku dari dalam lemari. Aku melirik ke arah ponselku. Dengan cepat aku menyambar ponselku dari atas meja rias dan melihat notifikasi yang masuk di layarnya. Aku takut Mas Ardi menelponku saat aku makan tadi dan tidak mendengar nada dering ponselku.
Kembali aku menelan pil kekecewaan karena melihat tidak ada satupun notifikasi dari kontak Mas Ardi, baik pesan ataupun panggilan.
Aku mencoba melakukan panggilan telepon lagi ke kontak Mas Ardi tapi tetap nomor itu tidak dalam keadaan aktif. Aku meletakkan kembali ponselku, masih berusaha berprasanga baik terhadap suamiku.
“Mungkin Mas Ardi sedang sangat sibuk sampai lupa mengabariku.” Gumamku berusaha menguatkan hati.
Aku segera mengambil baju gantiku dari dalam lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Sekilas aku melihat ibuku sedang bertelepon dengan seseorang, entah siapa.
Selesai mandi, aku segera bersiap dan berdandan tipis. Aku tidak ingin orang-orang yang melihatku menganggapku sedang berbadan baik mengingat aku adalah pengantin baru seperti yang ibu duga. Aku mengambil tas tanganku dan memasukkan ponsel beserta dompetku ke dalamnya. Setelah itu aku menentengnya keluar dari kamarku.
“Ayo kita berangkat, bu.” Ucapku keluar dari kamar.
Ibu yang sedang duduk segera menoleh ke arahku.
“Sudah siap, mbak?” tanya ibu.
“Sudah bu. Ibu sudah siap?” tanyaku kembali.
“Sudah. Ayo.” Ibu berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
“Ibu tadi bicara dengan siapa di telepon?” Tanyaku sambil berjalan bersama ibu keluar dari rumah.
“Masmu mau datang. Katanya mau liburan disini. Kebetulan tanggal merahnya berdekatan dengan hari sabtu, jadi lumayan untuk jalan-jalan kesini katanya.” Jawab Ibu sambil mengunci pintu rumah.
“Bapak lagi keluar ya, bu?”
“Iya, tadi pergi dengan Pak RT melihat lahan yang mau di jadikan lapangan olahraga Desa kita.”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Nah sudah, ayo kita jalan. Rumah bidannya dekat kok. Kita jalan aja ya mbak.” Ajak ibu.
“Iya bu.” Aku tersenyum ke arah ibu.
“Kamu kapan selesai cuti kerja, mbak?”
“Minggu depan sudah masuk kerja, Bu.” Jawabku
“Loh jadi gak nunggu Ardi datang dulu?”
“Mas Ardi kan selesainya senin depan bu. Mbak masuknya hari rabu. Jadi nunggu Mas Ardi jemput dulu bu.”
“Oh syukurlah. Jadi kamu juga masih sempat ketemu dengan Mas dan Mbakmu. Mereka mau datang besok dan pulangnya hari minggu.”
“Mas dan Mbak datang dari semarang naik apa bu?” tanyaku
“Naik mobil. Soalnya bawa anak-anak. Biar lebih bebas katanya. Tadi mereka senang banget begitu ibu bilang kalau kamu juga ada disini.”
Aku tersenyum mendengar omongan ibu. Aku juga sudah sangat rindu dengan abangku satu-satunya itu. Padahal baru dua minggu yang lalu kami berkumpul di acara pernikahanku.
“Nah kita sudah sampai.” Ucap ibu ketika kami tiba di depan sebuah klinik yang bertuliskan nama seorang bidan.
Kami langsung di sambut oleh seorang perempuan muda yang bekerja di sana.
“Silahkan masuk ibu.”
“Ibu bidannya ada?” tanya ibu begitu kami duduk.
“Ada, Bu. Sebentar saya panggilkan ya bu.”
Kami menunggu sambilmelihat-lihat ruangan itu. Hatiku seperti merasa berbunga-bunga ketikamelihat berbagai poster yang menggambarkan keadaan ibu dan janin saat kehamilan. Tanpa sadar aku memegangi perutku dan tersenyum. Sungguh aku sudah sangat ingin merasakan anugerah terindah sebagai seorang perempuan seperti di poster itu.
“Ibu juga sudah gak sabar, mbak gendong cucu dari kamu.”
Ucapan ibu barusan menyadarkanku dari fantasi mimpiku. Euphoria angan-anganku tadi buyar mengingat kenyataan yang masih belum bisa mengukir kebahagian seperti angan ibu dan aku.
“Selamat pagi Bu Dyah.” Sapa bidan itu dengan ramah.
“Selamat pagi, Bu Bidan. Ini Gita bu kayaknya lagi gak enak badan.” Ucap Ibu langsung ke masalah inti.
“Gita yang baru menikah itu, Bu? Duh, sepertinya kita bakal punya kabar bahagia ini bu.”ucap Bu Bidan sambil tersenyum ke arahku.
Aku membalas senyum dari ibu bidan itu dengan perasaa yang tidak enak.
“Ayo baring dulu biar ibu periksa ya.” Bidan iru menunjuk ke arah tempat tidur yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien.
Aku berbaring di tempat yang ditunjuk tadi. Bidan itu mulai memeriksa tekanan darahku kemudian beralih ke perutku.
“Sudah telat berapa hari, Git?” tanya Bu Bidan sambil terus meraba perutku.
“Bulan ini memang belum jadwalnya bu.” Jawabku
“Tapi dia sudah dua hari ini kelihatan lemas dan sedikit pucat. Bu.” Ibuku dengan cepat menimpali.
Ada rasa sedih melihat wajah ibuku yang sangat antusias seperti itu. Aku merasa sangat merasa bersalah atas ekspektasi ibu yang tidak bisa aku realisasikan.
“Oke sudah.” Ucap Ibu bidan sambil menutup kembali perutku.
Aku terbangun dan turun dari tempat tidur itu kemudian berjalan kembali ke tempat dudukku mengikuti bu bidan.
“Setelah saya periksa, belum ada tanda-tanda kehamilan dalam diri Gita. Gak apa-apa kan masih baru pengantinkan. Nikmati saja dulu masa-masa pengantin barunya, Gita.” Ucap Bu Bidan sambil tersenyum kepadaku, “Bu Dyah juga sabar ya. Gita juga kan masih sangat baru menikahnya. Belum ada hal yang perlu di khawatirin. Mbahnya sabar dulu ya.”
Aku melihat raut kecewa di balik senyum ibuku. Aku paham ibuku bukannya ingin menuntut, hanya saja melihat keadaanku yang lemas kemarin membuat ibuku berekspektasi seperti itu.
“Gita, nanti ibu kasih vitamin ya biar lebih segar.” ucap Bu Bidan
“Baik bu.” Ucapku sambil menganggukkan kepalakua.
Setelah ibu Bidan memberikan vitamin itu kepadaku, kami pun pulang ke rumah.
Aku duduk di pinggiran tempat tidurku. Ku buka tasku dan mengambil ponselku dari dalam.
“Apa masih tidak aktif ya? Tapi kalau aku telepon dan masuk, apa tidak mengganggu pelatihan Mas Ardi?” Aku menggenggam ponsel yag baru aku ambil dari dalam tasku tadi.
“Aku kirim pesan saja dulu.”
Aku mulai mengetik pesan yang berisi menanyakan kabarnya kemudian mengirimkannya. Pesan itu hanya centang satu.
“Kenapa pesannya tidak terkirim? Apa karena sinyal atau memang ponselnya sedang tidak aktif?” aku terus bertenay-tanya di dalam benakku.
Aku mengayunkan ponselku ke atas seakan mencari sinyal padahal sinyalku sedang dalam keadaan bagus dan penuh.
Aku mengirimkan pesan ke Nissa untuk mengetes apakah sinyalku bagus atau tidak.
“Nissa.” Ketikku kemudian mengirimkannya ke kontak sahabatku itu.
Dalam hitungan detik, pesan itu langsung berubah menjadi centang dua dan tidak lama kemudian menjadi biru yang artinya telah di baca oleh Nissa.
“Ada apa, Git? Kangen?” Balas Nissa.
Aku menghelakan napasku. Ku lihat pesanku untuk Mas Ardi masih centang satu yang berarti masalah sebenarnya ada pada ponsel Mas Ardi. Setelah cukup meyakinkan diri, aku kembali menelpon kontak telepon Mas Ardi dan kontak Mas Ardi masih belum aktif.
“Mas Ardi kenapa sih? Sudah mau dua hari ponselnya masih juga tidak aktif. Apakah mengabariku setiap hari terlalu merepotkan bagi Mas Ardi? Apa bagi dia mengabari pasangan itu tidak penting? Terlebih lagi kita masih dalam masa pengantin baru begini.” Batin Anggita menggeram.
Anggita melemparkan ponselnya ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Pikirannya kusut dan hatinya mulai panas.
“Apa aku yang berlebihan dalam menuntut perhatian Mas Ardi?’ batin Anggita kembali berdebat.