Ponselku berbunyi saat aku sedang membantu ibu di dapur. Hari ini ibu memasak sangat banyak menyambut kedatangan Mas Aryo dan Mbak Dina dari Semarang. Aku mengambil ponselku yang sengaja aku letakkan di dekat meja makan agar aku bisa mendengar jika ponselku berbunyi.
Wajahku yang antusias berubah begitu melihat nama yang tertera di layar ponselku.
“Halo mas,” ucapku begitu mengangkat panggilan telepon dari Mas Aryo.
“Dek, Ardi lagi pelatihan di Semarang ya?” tanya Mas Aryo.
“Iya mas. Kenapa?”
“Dimana pelatihannya? Kami mau kesana sebentar. Soalnya kan nanti gak bisa ketemu juga di rumah ibu. Cuma mau menyapa saja kok. Gak enak juga kalau lama-lama mengganggu pelatihannya.”
Aku terdiam. Kenapa aku tidak pernah bertanya dimana lokasi pelatihan mas Ardi ya?
“Nanti aku tanya mas Ardi dulu ya, Mas. Aku lupa.” Aku beralibi. Aku merasa bodoh saja kalau mengatakan bahwa aku tidak tahu dimana lokasi mas Ardi pelatihan.
“Baiklah. Nanti langsung kabari Mas ya kalau sudah dikabari sama Ardi.”
“Baik, mas. Mas udah dijalan ya?”
“Belum, ini lagi siap-siap.”
“Oke. Hati-hati dijalan ya mas.”
Aku menutup panggilan telepon Mas Ardi. Sambil menarik napas aku mulai mengetik sebuah pesan untuk Mas Ardi.
Mas, maaf kalau aku mengganggu. Aku mau tanya, apa nama tempat mas pelatihan itu? Mas Aryo katanya mau kesana nemuin mas karena mereka mau berlibur di rumah ibu. Mereka takut gak sempat ketemu mas nanti disini.
Aku mengirimkan pesan untuk Mas Ardi. Pesan itu centang dua. Aku menghelakan napas lega. Akhirnya nomor mas Ardi aktif. Tidak lama kemudian centang dua itu berubah menjadi biru. Aku menunggu balasan Mas Ardi.
“Kenapa lama sekali sih membalasnya,” pikirku sambil terus melihat ke arah layar ponsel.
Aku meletakkan ponselku karena kesal menunggu. Aku kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaanku yang tadi sempat aku tinggalkan. Aku sudah mulai kesal jika harus menunggu kabar balasan dari Mas Ardi.
Setengah jam kemudian mas Aryo kembali menelpon. Aku segera mengangkat panggilan teleponnya.
“Dimana dek tempatnya? Sudah dikabari sama Ardi?” tanya Mas Aryo.
Aku melihat layar ponselku. Pesanku hanya dibaca tanpa ada balasan apapun. Aku menghembuskan napas dengan kasar.
“Belum di balas sama Mas Ardinya. Gak apa-apa, mas langsung ke sini aja.”
“Baiklah kalau begitu. Kami udah dijalan ya, Dek.”
“Iya, mas. Hati-hati.”
“Iya.”
Mas Aryo menutup panggilan teleponnya. Aku masih terus memperhatikan pesanku ke kontak Mas Ardi. Jika sudah membacanya kenapa dia tidak langsung membalasnya? Apalagi isi pesan itu sudah jelas membutuhkan balasan yang cepat.
“Mas Aryo sudah di jalan ya?” tanya ibu yang datang ke arahku
“Iya, bu. Mungkin malam baru sampai. Semoga gak banyak macet di jalan,” jawabku sambil meletakkan kembali ponselku di atas meja makan.
Sore hari, aku sedang bersantai di kamarku sambil berselancar di sosial media dikejutkan oleh suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah orangtuaku. Aku pikir itu pasti Mas Aryo dan keluarga kecilnya.
“Cepet juga Mas Aryo sampai. Sepertinya jalanan sedang tidak banyak macet,” batinku.
Aku berjalan keluar dari kamarku sambil tersenyum menyambut kedatangan kakakku satu-satunya itu.
“Cepet banget sampainya Mas..”
Aku tercengang begitu membuka pintu rumah dan melihat siapa yang ada di depan pintu.
“Mas Ardi?” ucapku terkejut. Aku kedipkan mataku beberapa kali untuk memastikan penglihatanku.
“Mas pulang, Dek,” ucap Mas Ardi sambil tersenyum.
“Pelatihannya sudah selesai, Mas? Kok cepet?” tanyaku bingung.
“Iya, Dek. Dipercepat.”
Aku tersadar kemudian mengambil tangan suamiku dan menciumnya.
“Masuk, Mas. Mas Aryo mungkin sebentar lagi datang.”
Mas Ardi menganggukkan kepalanya, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Ibu dan bapak mana dek?” tanya Mas Ardi begitu masuk ke dalam rumah.
“Keluar sebentar, Mas. Ada yang mau di beli katanya.”
“Ini dek.” Mas Ardi menyerahkan sebuah bungkusan padaku.
“Apa ini, Mas?” aku melihat ke dalam bungkusan. Ada beberapa bungkus makanan khas semarang.
“Oleh-oleh.”
“Mas mandi dulu ya. Aku siapin air hangat.”
“Gak usah dek. Mas sudah mandi tadi di rumah.”
“Loh mas ke rumah dulu ya?”
“Iya kan jemput mobil dulu tadi.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Ponsel mas kenapa jarang aktif sih? Terakhir aku kirim pesan malah gak dibalas,” protesku sambil memajukan bibirku.
“Cantik banget sih kalau cemberut begitu.” Mas Ardi terkekeh melihatku.
“Kesel tahu!”
“Iya maaf. Mas jarang pegang ponsel. Jadi masnya gak tahu kalau ponselnya mati karena habis baterai.” Mas Ardi mengelus lembut rambutku.
“Padahal aku nungguin kabar dari kamu terus loh mas. Malah dicuekin terus.”
Mas Ardi memelukku dan mencium keningku membuat rasa kesalku yang tadi meluap-luap seketika mereda.
“Maaf ya sayang,” ucap Mas Ardi.
Aku menarik napas untuk melepas seluruh rasa kesalku kemudian tersenyum dan menyandarkan kepalaku di d**a bidang Mas Ardi.
Mataku tiba-tiba tertuju pada kemeja Mas Ardi yang sedikit lebih terbuka. Aku memeriksanya, ternyata satu kancing kemejanya terlepas. Terlihat helaian benang tertinggal di sana seperti ditarik paksa.
“Loh kancing kemeja Mas lepas lagi? Yang ini kan sudah aku kuatkan benar-benar kemarin sebelum mas berangkat,” tanyaku bingung sambil memegang bagian yang terlepas.
“Tadi tersangkut lagi dek,” jawab Mas Ardi singkat.
Aku mengernyitkann keningku. Sebenarnya apa yang membuat baju mas Ardi terus tersangkut dan melepas paksa kancing kemejanya?
Suara motor di depan rumah menyadarkan kami yang kemudian spontan segera melepaskan pelukan. Aku segera membukakan pintu rumah.
“Bu, Pak, Mas Ardi sudah pulang,” ucapku begitu melihat kedua orangtuaku di depan rumah.
Mas Ardi berjalan mendekati ibu dan bapak kemudian menyalaminya.
“Loh, bukannya hari rabu nanti pulangnya?” tanya ibu.
“Iya bu. Pelatihannya di percepat karena ada kendala di perusahaan,”
“Ayo masuk,” ucap bapak sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Bapak dan ibu duduk bersebelahan sementara aku dan Mas Ardi duduk di depannya.
“Makan dulu, Di. Ibu ada masak banyak ini. Kebetulan Aryo dan keluarganya juga mau datang,” ajak Ibu.
“Nanti aja bu, barengan dengan Mas Aryo. Kebetulan tadi sudah makan di jalan, Bu.”
“Senangnya malam ini kitra ngumpul semua. Ya kan pak?” Ibu melihat ke arah bapak sambil tersenyum.
“Jadi ingat waktu kalian nikah dulu. Semuanya ngumpul. Ramai. Sayangnya gak bisa setiap hari begitu ya, Pak.” Mata ibu berkaca-kaca.
“Begitulah proses hidup, Bu. Anak semakin dewasa kemudian menikah dan punya kehidupan sendiri-sendiri.”
“Hidup berdua lagi dengan bapak kayak pengantin baru dulu,” ibu terkekeh diikuti oleh senyum dari bapak.
Aku dan Mas Ardi saling bertatapan kemudian tersenyum malu mendengar ucapan ibu.