Apa yang sedang dilakukannya?

1253 Kata
“Sudah siap, Dek?” tanya mas Ardi yang baru saja masuk kedalam kamar sehabis membersihkan tubuhnya. Sebuah handuk melilit menutupi dibagian bawah tubuhnya. Kamar ini memang memiliki kamar mandi sendiri di dalamnya, sehingga membuat aku dan Mas Ardi merasa nyaman saat keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan mas Ardi. Aku hanya beberapa hari disana, tidak terlalu banyak mengotori baju dan barang yang aku bereskan juga tidak terlalu ribet. Mas Ardi berdiri di depanku sambil mengambil baju yang sengaja di bawanya saat menjemputku. Aku tertegun melihat tubuh Mas Ardi yang terlihat begitu atletis dengan d**a bidangnya, padahal setahuku Mas Ardi sangat jarang melakukan latihan otot. Tubuh tinggi dengan bobot otot yang pas membuat siapapun wanita yang melihatnya pasti terkesima. Mataku hampir lupa berkedip begitu menyusuri setiap jengkal tubuh mas Ardi. Mataku berhenti mendadak begitu melihat ke arah tubuhnya yang ditutupi dengan handuk itu. Bagian terpenting bagi seorang istri yang sampai saat ini masih belum bisa aku rasakan secara utuh. Wajahku memerah walaupun dengan ekspresi menyedihkan. “Setelah makan siang nanti kita pamit pulang ya, Dek,” ucap Mas Ardi sambil memakai bajunya. Kami hanya menginap semalam di rumah orangtuaku dan hari ini kami harus sudah kembali pulang karena Mas Ardi mengatakan bahwa dia besok harus masuk ke kantor. “Dek,” panggil Mas Ardi lagi, menyadarkan aku dari lamunanku. “Iya mas?” tanyaku. “Lagi mikirin apa sih?” “Gak ada, Mas. Buruan pakai bajunya. Kita harus segera makan siang. Gak enak di tungguin.” Aku bangkit dari tepi tempat tidur kemudian berjalan keluar dari kamar. Melihat tubuh Mas Ardi yang hanya dililit oleh sehelai handuk seperti itu berhasil membuatku berdebar dan aku tidak ingin Mas Ardi melihat betapa gugup dan merahnya wajahku. Mas Ardi segera keluar dari kamar begitu selesai memakai bajunya. Kami semua berkumpul di meja makan dan menikmati sarapan yang sudah dipersiapkan di atas meja. Kehangatan begitu terasa sejak kami berkumpul semalam. Aku sendiri masih ingin berada disini namun keadaan tidak memungkinkan. “Semua barangnya sudah masuk, Mas?” tanyaku pada Mas Ardi yang baru saja selesai memasukkan koper dan tas ke dalam mobil. “Sudah, Dek.” Aku dan Mas Ardi segera pamit dengan ibu, bapak dan keluarga mas Aryo. Setelah itu kami segera masuk ke dalam mobil dan berlalu pulang. “Mas,” panggilku. “Ya dek?” jawab Mas Ardi sambil terus mengendalikan kemudi mobil. “Perusahaan tempat mas kerja itu aneh ya. Masa buat pelatihan serba mendadak begitu. Mulainya mendadak, selesainya juga mendadak,” omelku. Mas Ardi melihatku sekilas kemudian tersenyum tipis. “Begitulah kalau kerja dengan orang, Dek. Kita harus nurut apapun peraturan yang dibuat.” “Mas kan manager di perusahaan itu. Bisa dong mas kasih masukan ke atasan. Buat peraturan juga kan ada etikanya mas.” Mas Ardi kembali tersenyum melihatku, “Iya, besok mas kasih masukan ya ke perusahaan. Senyum dong.” Aku menarik paksa bibirku untuk tersenyum hanya untuk menyenangkan hati suamiku itu. Sekitar sejam kemudian kami tiba di depan rumah kami aku dan mas Ardi keluar dari mobil. Aku membuka pintu rumah sementara Mas Ardi mengambil barang-barang di bagasi dan membawanya masuk ke dalam rumah. Aku mulai membereskan isi koperku. Memisahkan pakaian kotor dan menata kembali pakaian yang masih bersih ke dalam lemari. “Koper mas mana?” tanyaku pada Mas Ardi yang sedang berdiri dan sibuk dengan ponselnya. “Koper apa dek?” Mas Ardi balik bertanya dengan mata yang masih terfokus pada layar ponselnya. “Koper yang mas bawa ke pelatihan.” “Oh itu, sudah mas masukkan ke dalam tempat kain kotor dek.” Aku berjalan menuju ke keranjang pakaian kotor sambil menenteng pakaian kotorku yang tadi aku pisahkan. Aku meletakkan pakaian kotor di tanganku ke lantai dan mulai memeriksa satu persatu pakaian Mas Ardi yang kotor. Dengan teliti aku memeriksa setiap kancing di kemeja kerja suamiku. Aku mulai merasa aneh dengan kebiasaan itu. Setiap hari selalu saja aku menemukan kemeja kerja Mas Ardi yang kancingnya terlepas. Bahkan anak kecil sekalipun tidak akan seceroboh itu. “Mas beli makanan dulu ya untuk makan malam nanti,” ucap Mas Ardi sambil merapikan koper dan tas yang telah kosong di lantai. “Aku masak aja, Mas. Gak usah makan dari luar.” “Udah, untuk hari ini saja. Kamu pasti lelah kan? Kamu istirahat saja di rumah ya. Mas cuma sebentar kok." Aku mengiyakan usul mas Ardi. Benar saja, aku harus membereskan pekerjaan yang ada di hadapanku sekarang. Tanggung untuk di tinggalkan. “Oke, mas,” jawabku singkat. Mas Ardi segera keluar dari kamar. Tak lama kemudian terdengar suara mobilnya berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah. Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Menjahit kancing-kacing kemeja Mas Ardi yang lepas kemudian mencucinya. Setelah itu aku segera berganti baju yang lebih longgar agar lebih terasa lega. Begitu aku membuka lemari pakaianku, mataku menangkap ke sebuah pakaian berwarna merah. Itu merupakan kado dari Nissa. Sebuah lingerie super seksi yang aku sangat paham apa tujuan Nissa memberikannya sebagai kado untukku. Aku mengambil lingerie merah itu dan merentangkannya di hadapanku. “Entah apa yang ada di pikiran Nissa waktu memilihkan baju ini untukku?” ucapku sambil menggelengkan kepala melihat lingerie yang sebenarnya belum bisa di katakan sebagai pakaian, lebih tepatnya itu hanya tali-tali yang saling bertaut. Tiba-tiba otak nakalku bereaksi. Aku ingin melihat bagaimana respon Mas Ardi jika melihatku memakai baju ini nanti. “Setelah makan malam nanti, akan aku pakai,” gumamku sambil tersenyum malu. Tak lama kemudian terdengar suara mobil datang. Aku bergegas menyembunyikan kembali lingerie yang ada di tanganku dan segera mengganti bajuk, kemudian berjalan keluar menemui Mas Ardi. Pukul 8 malam kami selesai menyantap makan malam kami. Aku baru selesai mencuci piring bekas makan malam. Aku melirik ke arah Mas Ardi sambil menata piring itu di rak piring. “Mas, senin depan aku sudah masuk kerja.” “Mas yang akan antar jemput kamu mulai minggu depan.” “Emang sempat mas? Nanti mengganggu jam kerja mas loh.” “Sempat kok.” “Aku bawa motor aja gak apa-apa kok, Mas,” ucapku lagi sambil mengelap kedua tanganku dan berdiri di hadapan Mas Ardi. “Jangan. Mas bisa kok antar jemput kamu, Dek. Apa gunanya Mas kalau semua masih kamu lakukan sendiri.” Aku tersenyum mendengar jawaban mas Ardi. “Okelah kalau begitu. Yuk mas ke kamar,” ajakku. “Mas ke ruang kerja sebentar ya. ada yang mau mas kerjakan,” jawab Mas Ardi. Kami berdua berjalan bersama kemudian berpisah begitu melewati ruang kerja Mas Ardi. Aku segera masuk ke dalam kamar. Aku mengambil lingerie itu dari dalam lemari dan memegangnya. Pikiranku berubah gamang. “Apa tidak memalukan memakai pakaian begini di depan mas Ardi?” pikirku sambil melihat ke arah lingerie yang ada di tanganku. “Kan suami istri, gak apa-apa dong,” pikiranku yang lain mulai memberikan dukungan. Aku bergegas mengganti pakaianku dengan lingerie itu. Aku melihat pantulan bayanganku di depan cermin. “Astaga, semoga saja Mas Ardi tidak menertawakanku karena baju ini,” gumamku malu. Aku berjalan menuju ke tempat tidur dan bergulung di dalam selimut. Baju ini sukses membuatku kedinginan karena udara dingin penyejuk ruangan langsung menembus ke kulitku. Jam demi jam berlalu. Mataku sudah mulai memberat. Aku meletakkan ponsel pintarku di atas meja nakas kemudian melihat ke arah pintu. “Kenapa Mas Ardi begitu lama? Apa yang sedang dilakukannya di ruang kerjanya? Apakah tugasnya begitu banyak sampai jam segini belum juga selesai? Apa kali ini Mas Ardi sedang mencoba menghindariku?” Tanpa aku sadari mataku perlahan terpejam. Pikiranku terlalu lelah beberapa hari ini karena overthinking.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN