Kejutan Makan Siang

1424 Kata
Aku tersentak bangun. Aku melihat ke arah sampingku. Mas Ardi belum juga kembali ke kamar. Aku melihat ke arah jam yang ada di dinding kamar, sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Pikiranku gamang beberapa saat, kemudian tersadar dan segera beranjak dari tempat tidur. Seketika aku merasa merinding begitu berdiri. Aku baru menyadari bahwa aku masih mengenakan lingerie. Kebiasaanku memakai pakaian tidur tertutup membuatku sangat risih dengan pakaian minim seperti ini. Segera aku mencari kimono tidurku dan memakainya kemudian mencari Mas Ardi di ruang kerjanya. Aku membuka pintu ruang kerja Mas Ardi dengan perlahan. Netraku memindai ke dalam ruangan itu. Mas Ardi tertidur di atas meja kerjanya dengan tangannya menumpu kepalanya. “Astaga, kenapa sampai tertidur disini sih?” gumamku yang kemudian melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruang itu. Aku melihat ke arah layar monitor yang ada di atas meja kerja Mas Ardi. Monitor itu terlihat sudah mati. “Mas, bangun mas.” Aku menggoyang pelan tubuh Mas Ardi. Mas Ardi menggeliat pelan, matanya mengerjap kemudian melihat ke arahku. “Dek,” ucapnya dengan suara khas bangun tidur. “Mas kenapa tidur disini sih? Aku nungguin loh di kamar.” “Maaf Dek. Mas ketiduran. Sudah jam berapa sekarang?” tanya Mas Ardi sambil melihat ke sekitarnya. “Jam 4 subuh, Mas.” “Sebentar lagi sholat subuh. Ayo kita sholat, Dek.” Mas Ardi berdiri dari tempat duduknya dan membereskan meja kerjanya. Melihatnya telah selesai membereskan berbagai file yang ada di atas meja kerjanya, akupun berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan itu diikuti oleh Mas Ardi dari belakang. Mas Ardi langsung mengunci pintu ruangan kerjanya dan membawa kuncinya menuju ke kamar. “Gagal lagi deh,” dumelku dalam hati. Seandainya Mas Ardi tahu kalau aku sedang memakai lingerie semalaman sendirian di kamar, dia pasti sudah tertawa terpingkal-pingkal. “Sungguh memalukan!” Aku menepuk pelan kepalaku. Setelah sholat subuh bersama, aku segera turun ke bawah untuk memasakkan sarapan. Mas Ardi kembali disibukkan dengan ponselnya di dalam kamar. Aku berdiri di dekat meja masak sambil memegangi sebuah sendok masak di tanganku. Mataku tertuju pada kuali penggorengan sementara pikiranku melayang. “Apa Mas Ardi gak geregetan ya? Padahal semalam waktunya udah pas banget. Apa karena Mas Ardi memang sedang kecapekan dan banyak pekerjaan?” ucapku dalam hati sambil menghelakan napas. “Komputernya sudah mati semalam, kenapa tidak langsung ke kamar? Dia gak lupa kan sudah punya istri yang selalu menunggunya di kamar setiap malam?” pikiranku langsung menepisnya kembali. Hati dan pikiranku terus saling berdebat. Sampai sebuah suara tiba-tiba melerai dan mengejutkanku. “Dek!” Mas Ardi datang dan dengan cepat mematikan kompor yang ada di depanku. “Ada apa, Mas? Kok di matiin?” tanyaku bingung. “Coba lihat di sekitar kamu dulu.” Aku memindai seluruh sudut ruangan dapur. Ruangan itu sudah di kepung asap. “Asap darimana ini, Mas? Astaga!” Aku tersadar dan mulai terbatuk. Aroma gosong menyeruak ke seluruh ruangan. “Masakan kamu gosong tepat di depanmu, Dek. Untung tadi Mas cepat berlari ke bawah begitu mencium aroma gosong. Kalau tidak pasti apinya sudah naik dan mengenai kamu. Kamu kenapa?” tanya Mas Ardi lembut sambil menatapku dengan tatapan khawatir. Aku membalas tatapan Mas Ardi dengan nanar. Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padanya. Dia kenapa? “Sebaiknya kamu istirahat aja ya.” Mas Ardi menuntunku keluar dari dapur dan mendudukkan aku di sofa ruang santai. “Kamu duduk di sini aja. Biar mas yang buat sarapannya.” “Jangan, nanti mas bisa terlambat.” Aku kembali berdiri dari tempat dudukku dan menahan tangan Mas Ardi, “Aku saja, Mas. Aku janji tidak akan mengulangi hal tadi.” “Tidak apa. Biar mas aja ya. Kamu tunggu disini saja. Ini tidak akan lama.” Mas Ardi melihat ke arah jam di dinding kemudian tersenyum ke arahku. Setelah itu Mas Ardi berjalan ke arah dapur. Aku memilih melangkahkan kakiku ke kamar dan mempersiapkan baju kerja Mas Ardi dari pada hanya duduk menunggu. Pikiranku mulai berulah kembali begitu melihat kemeja kerja Mas Ardi. “Aku penasaran apa saja yang dilakukan Mas Ardi di kantor sampai kancing-kancing bajunya selalu terlepas. Aku akan memberikan kejutan padanya jam makan siang nanti,” ucapku pelan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku spontan melihat ke arah pintu. “Disini rupanya. Ayo kita sarapan dek,” ucap Mas Ardi. “Ayo, Mas.” Aku berjalan mendekati Mas Ardi yang berada di dekat pintu kamar, “Tadi aku siapin baju kerja Mas.” Mas Ardi tersenyum ke arahku. Kami berdua turun ke bawah dan berjalan menuju meja makan. “Kalau ada apa-apa, langsung telepon mas ya,” ucap Mas Ardi. Mas Ardi pasti masih ketakutan dengan kejadian di dapur tadi. “Iya, Mas,” jawabku singkat. Aku tidak mau membahhas hal itu lagi. Mas Ardi terlihat terburu-buru menghabiskan makanannya. Tentu saja karena sudah masuk ke jam genting berangkat ke kantor. “Dek, mas duluan ya. Mas mau mandi dan bersiap ke kantor,” ucap Mas Ardi. “Oke, Mas.” Mas Ardi segera beranjak dari ruang makan dan berjalan cepat menuju ke kamar. Aku menghabiskan sisa makananku kemudian membereskan semuanya. 15 menit kemudian, Mas Ardi turun dari lantai atas dengan pakaian kerjanya sambil menenteng tas di tangannya. Aku bergegas menemuinya dan mengecek kembali penampilannya. “Mas harus buru-buru, Dek. Pagi ini ada meeting penting dengan klien di kantor,” ucap Mas Ardi setelah memakai sepatu kerjanya. Aku mencium tangannya sebelum akhirnya Mas Ardi berjalan terburu masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi. “Aku harus belanja dan memasak makanan untuk aku bawa nanti ke kantor Mas Ardi,” gumamku. Aku bergegas pergi ke pasar dan belanja bahan makanan yang akan aku masak. Setelah itu aku kembali kek rumah dan mulai berkutat di dapur. “Astaga, kenapa waktu berlalu begitu cepat. Aku harus segera bersiap mengantarkan makan siang untuk Mas Ardi sebelum Mas Ardi keburu makan siang di kantornya. Kejutanku bisa gagal.” Aku segera berjalan menuju ke kamar dan mandi. Setelah itu memilih pakaian yang pantas dan sopan untuk ku pakai. Aku harus tampil baik dan sempurna. Ada nama suamiku yang melekat pada diriku dan harus aku jaga kehormatannya. Setelah memoleskan make up tipis natural di wajahku, aku segera turun dan mengambil makan siang yang sudah aku persiapkan tadi. Taksi yang aku naiki berhenti tepat di depan kantor Mas Ardi gedung yang memiliki puluhan lantai itu berdiri begitu megah. Aku segera keluar dari taksi begitu aku selesai melakukan pembayaran. Aku berhenti di depan resepsionis dan menanyakan dimana ruangan suamiku dengan menyebutkan namanya. “Ruangan kerja Pak Ardi ada di lantai sembilan, bu. Mari saya antar.” “Tidak perlu. Saya akan kesana sendiri saja. Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum. Aku berjalan menuju ke lift dan menekan angka lantai sesuat dengan yang disebutkan oleh resepsionis tadi. Entah kenapa jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku mengunjungi kantor suamiku. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang perempuan yang dengan sigap menghentikan langkahku begitu aku akan melangkahkan kakiku menuju keruangan dengan plangkat ‘Manager’ diatas pintu ruangannya. “Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan Mas Ardi Suseno. Apakah dia ada didalam?” tanyaku kembali. “Dengan ibu siapa ya? dan ada keperluan apa ingin menemui Pak Ardi?” “Saya Anggita, istrinya.” Wajahnya perlahan berubah terkejut, “Maaf bu, saya tadi tidak tahu kalau ibu adalah istrinya Pak Ardi. Perkenalkan saya Olla, asisten Pak Ardi.” Olla memberi hormat padaku sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum. Ada getir dalam hatiku begitu mengetahui bahwa Mas Ardi memiliki asisten yang begitu cantik seperti ini. “Mari saya antarkan ke ruangan Pak Ardi, Bu,” ucap Olla sopan. “Tidak perlu. Biar saya sendiri saja. Saya sengaja datang untuk memberikan kejutan. Ruangannya yang ini kan?” Aku menunjuk ke arah ruangan yang tadi akan aku masuki. “Benar, Bu.” Olla menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Terima kasih, Olla.” “Sama-sama, Bu.” Aku melangkahkan kakiku ke depan pintu ruangan Mas Ardi. Begitu aku mengetuk pintu ruangan itu, aku langsung membukanya dan berjalan masuk ke dalam “Mas,” panggilku. “Loh, kamu ke sini, dek?” Mas Ardi terkejut dan berjalan mendekatiku. “Aku membawakan makan siang untuk Mas.” Aku menunjukkan bekal yang aku bawa. Mas Ardi tersenyum kemudian mengambil kotak bekal itu dari tanganku. “Kenapa tidak memberitahu Mas kalau mau ke sini?” Mas Ardi menuntunku menuju ke sofa yang ada di ruangannya. “Sengaja mas. Aku mau kasih kejutan sama kamu,” ucapku. Sekilas aku melihat ekspresi gusar diwajahnya. Entah hanya perasaanku saja atau memang ada yang sedang dipikirkan oleh Mas Ardi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN