“Mas masih sibuk ya?” tanyaku pada Mas Ardi yang sedang sibuk membuka bekal dariku.
“Gak kok. Sudah mau selesai juga tadi.”
Aku melihat ke sekitar ruangan kerja Mas Ardi kemudian berdiri dan mengambilkan air minum untuk Mas Ardi sementara Mas Ardi mulai menyantap makanan yang aku bawa.
“Gimana mas, enak gak makanannya?” tanyaku sambil meletakkan segelas air minum di depannya.
“Tentu saja enak. Masakan istri Mas gak pernah gagal,” jawab Mas Ardi sambil tersenyum padaku.
Aku membalas senyum Mas Ardi.
“Yang di depan itu asisten mas ya?” tanyaku memastikan.
“Yang di depan?” Mas Ardi mengernyitkan keningnya, “Oh, Olla? Wanita yang di depan ruangan ini kan? Iya itu asisten mas. Kenapa dek?”
“Gak ada. Tadi sempat bingung aja.”
“Dia gak menemui kamu tadi di depan?” tanya Mas Ardi lagi.
“Ketemu kok. Dia juga sempat memperkenalkan diri. Cuma memastikan aja tadi. Habis dia cantik banget, kayak artis dan selebgram,” jawabku sambil menatap tajam ke arah Mas Ardi.
“Mas pilih dia jadi asisten mas bukan karena dia cantik, tapi karena dia pintar dan cekatan dalam bekerja, Dek, ” ucap Mas Ardi seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiranku.
“Kamu sudah makan, Dek? Yuk barengan makan. Atau mau Mas suapin?” Mas Ardi tersenyum ke arahku.
Aku menatapnya beberapa saat. Mungkin jika aku ikut makan, Mas Ardi bisa makin bersemangat makannya.
“Mau, suapin ya Mas,” ucapku sambil membuka mulutku ke arah Mas Ardi.
Mas Ardi terkekeh melihatku. Dengan cepat di ambilnya satu suapan dan mulai menyuapkannya ke arahku. Aku menyambutnya dan mulai mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutku.
Tiba-tiba telepon yang ada di atas meja kerja Mas Ardi berdering. Mas Ardi dengan cepat berdiri dari duduknya dan segera mengangkat telepon itu.
“Halo?”
“Baik, Pak. Saya akan ke ruangan bapak sekarang.”
“Terima kasih, Pak.”
Mas Ardi menutup kembali telepon itu dan berjalan ke arahku.
“Dek, Mas ke ruangan atasan mas dulu ya. Tadi Mas di panggil, di suruh ke ruangan kerjanya.
Aku menganggukkan kepala. Mas Ardi bergegas keluar dari ruangan. Aku terus memperhatikan geraka dan langkah Mas Ardi sampai benar-benar menghilang dari pandanganku. Tidak ada hal yang mencurigakan. Mas Ardi juga terlihat sangat hati-hati dalam bergerak. Lalu apa sebenarnya yang membuat kancing-kancing di bajunya terus terlepas?
Aku menghelakan napasku. Mencoba menjernihkan kembali pikiranku yang sedang teracuni kecurigaan terhadap suamiku. Aku membereskan makan siang Mas Ardi yang ada di atas meja dan menutupnya. Jika Mas Ardi ingin melanjutkan makan siangnya lagi, dia tinggal membuka tutup makanannya saja.
Pintu ruangan itu di ketuk oleh seseorang.aku spontan melihat ke arah pintu. Beberapa detik kemudian, Olla muncul dari balik pintu dengan membawa segelas minuman dan makanan di atas sebuah nampan.
“Tadi Pak Ardi menyuruh saya membawakan ini untuk Ibu,” ucap Olla sopan sambil tersenyum kearahku kemudian meletakkan makanan dan minuman yang di bawanya di depanku.
“Silahkan dinikmati, Bu.”
“Terima kasih, Olla,” balasku, “Apakah kamu sedang sibuk?”
Olla melihat ke arahku dan terdiam beberapa saat.
“Gak bu. Ada yang bisa saya bantu bu?” tanya Olla.
“Kamu duduk disini ya. Temani saya mengobrol. Boleh kan?”
“Tentu saja, Bu. Dengan senang hati.” Olla tersenyum kemudian duduk dihadapanku.
Aku terus memperhatikan gerak gerik dan tubuh Olla. Dia memang cantik dan ideal. Tubuhnya tinggi, langsing namun bagian-bagian sensual dari tubuhnya terlihat menonjol. Ditambah pakaian yang di kenakannya begitu mencetak bentuk tubuhnya. Rok pendek yang di kenakannya semakin tertarik keatas begitu dia duduk. Untung saja nampan yang ada di tangannya berhasil menutupinya.
Aku mengambil air minum yang ada di depanku dan meneguknya beberapa kali untuk menghilangkan rasa panas yang mulai menjalar dari hati menuju ke kepalaku. Pikiranku mulai melayang ke arah yang paling aku takutkan.
“Kamu sudah lama bekerja disini, La?” tanyaku membuka pembicaraan sambil meletakkan gelas air minum yang ada di tanganku.
“Sudah sekitar 2 tahun, bu.”
“Belum terlalu lama juga,” aku menganggukkan kepalaku, “Kamu kelihatan masih muda. Boleh saya tahu berapa umur kamu, La?”
“Umur saya 25 tahun, Bu.”
Aku menatapnya lama. Kurang lebih kami seumuran. Tapi soal tubuh dan kecantikan, dia terlihat lebih idela dan lebih muda di bandingkan aku.
“Kamu sudah berkeluarga, La?” tanyaku lagi.
“Sudah, Bu,” jawabnya dengan tersenyum manis ke arahku.
“Maaf ya saya terus menanyakan mengenai hal pribadi kamu.” Aku membalas senyum Olla. Entah kenapa aku merasa Olla memiliki pribadi yang begitu hangat.
Pintu ruangan itu terbuka. Aku dan Olla serentak melihat ke arah pintu. Mas Ardi kembali dan berjalan masuk mendekatiku. Melihat Mas Ardi masuk, Olla spontan berdiri dari duduknya.
“Saya permisi dulu, Bu, Pak,” ucap Olla.
“Baiklah. Terima kasih Olla sudah mau menemani saya mengobrol,” ucapku sambil tersenyum ke arah Olla.
“Sama-sama, Ibu. Saya juga sangat senang bisa berbincang-bincang dengan ibu.” Olla tersenyum ke arahku kemudian tatapannya beralih ke Mas Ardi, “Saya permisi.”
Olla berjalan keluar dari ruangan itu. Aku melihat ke arah Mas Ardi yang sedari tadi terusmelihat ke arah berkas yang ada di tangannya tanpa sedikitpun terusik.
“Urusannya sudah selesai, Mas?” tanyaku yang menyadarkan Mas Ardi dari keseriusannya.
“Oh iya, Dek. Maaf tadi mas begitu serius membaca ini. Ada apa tadi?”
“Urusan mas dengan atasan mas sudah selesai?” aku mengulangi pertanyaanku lagi.
“Oh itu. Mas disuruh menghadiri rapat di perusahaan yang bekerja sama dengan kantor nanti jam 2 siang.”
Aku melihat jam yang ada di tanganku. Aku harus segera pulang. Mas Ardi harus segera bersiap pergi ke rapat itu.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya, Mas. Jangan lupa makan siangnya di habiskan.”
“Maaf ya dek. Mas usahakan hari ini pulang lebih cepat.”
“Gak apa-apa, mas. Mas kan kerja bukan berbuat yang macam-macam kan?” ucapku sambil menatap ke arah Mas Ardi.
Aku mengambil sholder bag yang aku letakkan disampingku kemudian berdiri. Mas Ardi ikut berdiri di dekatku.
“Gak usah di antar, Mas. Mas selesaikan aja pekerjaan Mas ya,” ucapku lagi sambil tersenyum ke arah Mas Ardi.
“Hati-hati di jalan ya, Dek. Kalau sudah sampai rumah, kabari mas ya.”
Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian berjalan menuju ke pintu keluar bersama Mas Ardi.
“Aku pulang mas.” Aku mencium tangan Mas Ardi.
Aku berjalan menuju lift dan turun ke lantai satu. Pikiranku meremang. Semua tampak normal tapi kenapa aku selalu merasakan ada yang janggal?
Akuk memesan sebuah taksi kemudian berlalu pulang.
Perjodohan kami memang berjalan begitu singkat. Perkenalan yang hanya sekilas, membuatku belum sepenuhnya mengenal pribadi Mas Ardi. Sejak bertemu dengan Mas Ardi, penilaianku atas dirinya selalu positif. Apa mungkin karena aku terlalu cinta dan terlalu memujanya sebagai pasangan yang terlihat sempurna?
Aku harus segera mencari seseorang yang bisa aku percaya dan juga mengenal Mas Ardi. Tapi siapa orang itu?