Bicara Empat Mata

1440 Kata
Aku masih terdiam di kursi malas ruang santai. Pikiranku menerawang jauh. “Aku harus bertanya pada siapa? Mas Ardi anak tunggal. Sementara dikantornya aku baru mengenal Olla. Dia malah orang yang paling aku curigai. Mama dan papa mertua stay di Singapura. Tidak mungkin aku menelpon mereka hanya untuk menanyakan hal pribadi tentang anaknya. Itu benar-benar tidak sopan. Seandainya mereka di Jakarta, aku kan bisa lebih enak bertemu dengan mereka langsung.” Aku menyesap pelan teh hangat yang baru aku ambil dari atas meja. Pikiranku kusut dan terasa buntu. “Apakah sejak dulu Mas Ardi memang semisterius ini?” aku membatin. “Bahkan aku belum pernah di sentuhnya, sedikitpun. Walaupun hanya kecupan dibibir. Apa ada suami yang kuat menahan segala hasrat nafsunya seperti itu? Bukannya dia yang kepanasan, malah aku. Lalu untuk apa dia menikah?” pikirku lagi. “Apa sikap lembut dan perhatiannya selama ini hanya sandiwara? Apa aku hanya diperalat untuk menutupi bangkai busuknya yang entah apa itu?” Aku segera meletakkan cangkir teh yang ada di tanganku. Setelah itu kedua tanganku mulai mencengkeram kuat kepalaku yang terasa begitu sakit. “Aku bisa gila jika seperti ini terus!” ucapku geram. Aku mengambil ponselku dari atas meja dan menelpon sahabatku satu-satunya, Nissa. Aku tahu bahwa hal ini adalah salah, menceritakan permasalahan rumah tangga kami pada orang lain. Namun aku benar-benar sedang membutuhkan seseorang untuk teman bertukar pikiran saat ini. Memikirkan hal ini sendirian membuatku semakin tertekan dengan segala perdebatan dalam pikiran tanpa ada solusi sama sekali. “Hanya dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya mendengarkan semua keluh kesahku,” ucapku sambil menekan option dial di layar ponselku. Deringan demi deringan berlalu, Nissa tak kunjung mengangkat panggilan teleponku. “Ayolah, Nissa. Aku benar-benar membutuhkan kamu sekarang,” ucapku sembari terus menantikan Nissa mengangkat panggilan teleponku. Hampir saja aku menutup panggilan telepon itu, namun tiba-tiba Nissa mengangkat telepon dariku. “Halo, ini siapa?” Suara Nissa terdengar parau. Mendengar itu aku langsung tahu bahwa dia baru saja terbangun dari tidur siangnya. “Maaf Nis, aku pasti sudah mengganggu tidur siangmu,” ucapku. “Ini kamu ya Git? Bentar-bentar aku minum dulu. Masih belum ngumpul ini nyawanya.” Aku terdiam menunggu aba-aba dari Nissa selanjutnya. Bahkan selorohan dari Nissa tidak mampu melenturkan syaraf otakku yang menegang saat ini. “Oke sudah. Ada apa, Git?” tanya Nissa begitu selesai mendapatkan kesadarannya kembali. “Aku bingung harus mulai ceritanya dari mana, Nis.” “Bagaimana kalau di mulai dari kamu menelponku tadi dan membangunkan aku dari tidur nyenyakku?” ucap Nissa. “Ini soal Mas Ardi, Nis.” “Oke. Mas Ardi kenapa? Ceritanya yang lengkap dong Gita, jangan setengah-setengah.” “Aku mau menyelidiki Mas Ardi, Nis.” “Menyelidiki? Kenapa? Mas Ardi selingkuh?” “Entahlah. Aku juga belum tahu apakah Mas Ardi benar-benar selingkuh atau ada hal yang lain yang dia sembunyikan dari aku. Yang jelas aku merasa ada keganjilan dari Mas Ardi.” “Kenapa kamu merasa seperti itu?” “Banyak hal yang menurutku tidak wajar, Nisa. Entah bagaimana aku akan menjelaskannya padamu.” Aku memegangi kepalaku dengan erat. Sulit untuk menemukan padanan kalimat yang pas untuk mewakili isi kepalaku saat ini. “Dia masih belum menyentuhmu?” tanya Nissa yang berhasil membuat darahku berdesir. “Belum,” jawabku pelan. “Oke. Kamu tenang dulu ya. Aku paham apa yang sedang kamu risaukan saat ini. Kamu jangan berburuk sangka dulu sampai kita menemukan faktanya.” Nissa berusaha menenangkan. “Jadi aku harus bagaimana, Nis?” “Coba kamu bicarakan baik-baik dengan Mas Ardi dulu, Git. Semoga saja Mas Ardi mau terbuka dengan apa yang sedang di tutupinya dari kamu.” “Jika Mas Ardi masih tidak mau jujur bagaimana?” tanyaku lagi. Nissa terdiam beberapa saat. Aku yakin dia pun sedang ikut pusing seperti aku. “Kalau mas Ardi masih belum mau jujur, kita lakukan plan B,” jawab Nissa. “Plan B?” tanyaku bingung. Plan A aja aku belum tahu, malah udah ada plan B aja. “Kita akan mengikuti aktifitas Mas Ardi seharian selama seminggu. Kita harus tahu apa saja yang dilakukannya di luar. Aku juga ada kenalan yang bisa membantu kita melakukan hal itu.” Aku menganggukkan kepalaku. Memang Nissa selalu bisa aku andalkan dalam setiap permasalahanku sejak dulu. “Baiklah. Akan aku coba saran kamu nanti ya, Nis. Semoga kenyataannya tidak seperti dugaanku.” “Aku juga berharap begitu. Aku mau kamu bahagia bersama Mas Ardi selamanya.” “Terima kasih ya Nis sudah mau dengarin keluh kesah aku,” ucapku. “Semoga untuk telepon selanjutnya aku bisa mendengarkan kabar baik darimu ya, Git. Bukan berita seperti ini lagi.” “Amin!” ucapku kencang. “Okelah, bye Gita.” “Bye, Nissa.” Aku menutup panggilan teleponku. Aku mulai menarik napasku dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. “Aku harus menanyakan semuanya pada Mas Ardi malam ini setelah makan malam nanti. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran ini lagi,” ucapku. Aku segera ke dapur, memasak untuk makan malam kemudian bergegas membersihkan diri. Aku ingin menyambut Mas Ardi dalam keadaan bersih dan wangi. Setidaknya pikiran Mas Ardi bisa lebih terbuka jika awal penyambutanku baik dan menyenangkan. Pukul lima sore aku mendengar suara mobil Mas Ardi masuk ke dalam garasi rumah. Dia menepati janjinya untuk pulang lebih cepat hari ini. Aku bergegas berdiri dari tempat dudukku dan berjalan menuju pintu rumah. Wajahku tersenyum menyambut Mas Ardi di depan teras. “Mas pasti capek. Aku sudah masak soto hangat untuk mas. Mas suka soto kan?” tanyaku begitu Mas Ardi berjalan mendekatiku. Aku meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. “Tentu saja. Pas sekali mas lagi lapar banget,” jawab Mas Ardi sambil tersenyum dan mengusap pelan rambutku. Aku menatapnya sambil tersenyum. “Bagaimana dia bisa bersikap manis seperti ini kepadaku sementara aku selalu di abaikannya di atas tempat tidur?” batinku. Aku berjalan mengikuti Mas Ardi masuk ke dalam rumah. “Mas mau mandi dulu?” tanyaku sambil menutup pintu rumah. “Iya dek. Mas mandi dulu ya. Udah gerah banget.” Aku mengambil tas yang ada di tangan Mas Ardi kemudian mengikutinya berjalan masuk ke dalam kamar. Mas Ardi membuka pakaian kerjanya. Tanganku dengan sigap meminta pakaian itu dari tangan Mas Ardi. Setelah memberikannya padaku, Mas Ardi bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat aku memeriksa kancing-kancing di baju Mas Ardi. Aneh, baru kali ini semua kancing-kancing itu untuh tanpa ada satupun yang longgar apalagi terlepas. “Tumben sekali begini,” gumamku sambil terus memperhatikan pakaian Mas Ardi. Aku menggigit bibir bawahku dan otakku kembali ikut berputar. Aku mencium aroma di pakaian suamiku. Masih sama seperti hari biasanya. Tidak ada yang berbeda. Aku bergegas membawa pakaian itu ke dalam tempat pakaian kotor kemudian turun ke bawah untuk menghidangkan makan malam kami. Sekitar 15 menit kemudian, Mas Ardi turun dari lantai dua dan berjalan menuju ke ruangan makan dimana aku sedang menunggunya. “Wah, enak nih,” ucap Mas Ardi sambil menarik kursi tempatnya akan duduk. Aku tersenyum ke arahnya sambil meletakkan semangkok soto hangat lengkap dengan sepiring nasi di hadapan Mas Ardi. Perintilan lain seperti cabe, kecap dan bawang goreng lengkap tersedia di depan kami. “Tumben hari ini mas pulangnya cepat. Bukannya tadi katanya ada meeting?” ucap ku di sela-sela proses kami menikmati makan malam. “Meetingnya kan siang, Dek. Kebetulan juga pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak.” Aku menatap Mas Ardi yang sedang begitu menikmati makanan yang aku suguhkan. Pikiranku masih terus menebak-nebak apa sebenarnya yang ada di dalam hati dan pikiran Mas Ardi. Apakah semua hal yang keluar dari mulutnya merupakan kejujuran? Kami hanya terdiam sampai makanan yang ada di piring habis. Entah karena memang sedang begitu menikmati atau sedang berdebat hebat dengan pikiran kami masing-masing saat itu. Aku membereskan piring sisa makan di tempat pencucian piring, sementara Mas Ardi tampak cekatan mengelap meja makan dan merapikan segala hal yang ada di atasnya. Aku menghelakan napasku. Kenapa dia selalu membuat perasaanku bagaikan layangan yang sedang di kendalikannya. Sesuka hatinya mengulur atau menarik kembali. Bisa-bisanya dia membuatku curiga tanpa terlihat mencurigakan. Aku mengelap tanganku begitu selesai mencuci piring kemudian berbalik melihat ke arah Mas Ardi. “Mas mau nonton dulu. Kalau adek mau langsung tidur ke kamar, tidak apa. Duluan saja, Dek. Nanti mas menyusul,” ucap Mas Ardi. “Dia mulai menghindariku lagi malam ini,” gumamku. “Aku belum mau tidur, Mas. Ada hal yang mau aku bicarakan dengan mas. Sepertinya enak kalau kita membicarakannya sambil duduk-duduk di depan. Mas mau kan?” Mas Ardi menatapku tertegun. Entah ekspresi apa itu namanya. Aku masih terus menatapnya. Menunggu jawaban darinya. “Baiklah. Ayo kita ke depan,” jawab Mas Ardi sambil tersenyum ke arahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN