Aku dan Mas Ardi berjalan menuju teras rumah. Suasana malam itu begitu sejuk. Sangat cocok untuk memulai suatu pembicaraan yang lumayan panas.
Kami duduk berseberagan di kursei set yang ada di teras depan rumah.
“Kamu mau ngomong apa, dek?” tanya Mas Ardi sambil menatapku.
Aku menatap wajahnya yang teduh dan lembut sedang menatapku. Seketika hati ini menciut. Rasanya tidak mungkin wajah seprti itu menyembunyikan rahasia terlarang di belakangku. Namun dengan cepat aku tepis kembali pikiran naifku. Aku harus mencari kebenaran faktanya sekarang. Aku tidak mau kembali tertekan sendirian dengan segala kecuriaanku.
“Mas, aku mau menanyakan sesuatu.” Aku berusaha menyusun kalimat di dalam otakku.
“Tanya aja dek. Mas akan jawab apapun pertanyaan itu.”
“Apa ada sesuatu yang mas rahasiakan dariku?” tanyaku.
Mas Ardi menatapku beberapa saat kemudian mengalihkan pandangannya.
“Apa ini menyangkut Olla? Kamu cemburu padanya, dek?” Mas Ardi berbalik bertanya.
“Bukan hanya itu. Kancing baju yang setiap hari lepas, cincin kawin yang tertukar kemarin, dan.. dan aku juga pernah melihat seseorang yang benar-benar mirip dengan mas padahal mas sedang pelatihan di Malang.” Aku tergagu, suaraku bergetar membeberkan apa yang ada di dalam hati dan kepalaku, “Maaf Mas, aku hanya tidak ingin menyimpan rasa tidak enak ini di dalam hatiku.”
Mas Ardi tercekat. Wajahnya menegang mendengar semua cecaranku barusan. Mas Ardi terdiam tanpa menjawab apapun.
“Siapa nama lengkap Olla?” tanyaku lagi.
“Apa hubungannya dengan itu?” suara Mas Ardi meninggi.
“Katakan saja siapa nama lengkap Olla, Mas!” Aku memaksa Mas Ardi untuk menjawab.
“Kirana Lola Larasati!” jawab Mas Ardi.
Aku memejamkan mataku. Mataku terasa panas.
“Sudahlah. Kalau kamu merasa terganggu dengan keberadaan Olla di kantor, Mas akan segera memecatnya. Soal kancing baju itu, Mas janji hal itu tidak akan terjadi lagi. Itu hanya keteledoran mas saja. Cincin kawin itu milik teman Mas yang gak sengaja tertukar. Bukankah mas sudah pernah mendceritakannya padamu? Dan yang terakhir, laki-laki yang kamu lihat mirip dengan Mas itu siapa? Mas juga tidak tahu. Di dunia ini begitu banyak orang yang mirip.”
Aku menggigit bibirku untuk menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk mataku. Aku tidak boleh menangis.
Ponsel Mas Ardi berdering. Mas Ardi segera merogoh kantong celananya dan melihat ke arah layar ponselnya.
“Mas angkat telepon dulu ya, Dek. Ini dari kantor,” ucap Mas Ardi sambil berjalan menjauh dariku.
Aku terus melihat Mas Ardi yang sedang bertelepon. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang di bicarakannya di telepon. Aku berusaha mendekat ke arah Mas Ardi namun sial, suara mas Ardi masih terlalu halus untuk aku dengar. Mas Ardi membalikkan tubuhnya dan melihat ke arahku. Tidak lama kemudian panggilan teleponnya berakhir.
“Dek, mas harus segera kembali ke kantor. Tadi tim keamanan menelpon dan mengatakan bahwa terjadi pencurian di dalam kantor. Mas harus segera memeriksa kesana. Kamu tidak apa kan kalau mas tinggal sebentar dirumah malam ini?” tanya Mas Ardi.
“Aku ikut ya, Mas.”
“Jangan, dek. Ini terlalu berbahaya. Mas tidak tahu segenting apa keadaan disana. Kamu di rumah saja ya.”
Aku mengalah. Mendengar nada tinggi Mas Ardi tadi membuatku sedikit menciut untuk kembali berdebat dengannya malam ini. Aku menganggukkan kepalaku pelan menjawab ucapan Mas Ardi.
Mas Ardi bergegas masuk ke dalam rumah dan mengganti bajunya kemudian kembali keluar dengan menenteng kunci mobil ditangannya. Berjalan mendekatinya dan menatapnya.
“Masuk dan tidurlah duluan. Jangan lupa untuk mengunci rumah ya dek. Mas sudah bawa kunci cadangan,” ucap Mas Ardi sambil membuka pintu mobilnya.
Aku menganggukkan kepalaku pelan. Mas Ardi menatapku beberapa saat lalu kembali keluar dari mobilnya kemudian mengecup pelan keningku.
“Masuklah,” ucapnya.
Akku menatapnya tanpa ekspresi kemudian segera berjalan masuk ke dalam rumah. Begitu aku menutup pintu rumah, terdengar suara mobil Mas Ardi mulai berjalan dan menghilang.
Aku bergegas berjalan menuju ke kamar dan mengambil ponselku. aku segera mencari kontak Nissa dan menelponnya. Aku tidak perlu menunggu lama sampai akhirnya Nissa mengangkat panggilan teleponku. Sepertinya dia juga begitu menunggu kabar dariku.
“Ya, Gita?” ucap Nissa begitu mengangkat panggilan teleponku.
“Kamu sibuk, Nis?” tanyaku.
“Tidak. Bagaimana? Apa yang terjadi dengan kalian? Kamu sudah menanyakannya dengan Mas Ardi?”
“Sudah. Mas Ardi sedikit marah. Dia membantah semua kecurigaanku Nis. Entah memang hal itu tidak benar atau dia masih berusaha menutupinya.”
“Baiklah. Berarti kita harus menyelidikinya diam-diam, Git. Untuk sekarang, kamu jangan berpikiran negatif dulu dengan Mas Ardi karena kemungkinannya imbang, 50:50. Kamu cukup bersikap seperti biasa dan normal.”
“Oke. Jadi apa yang harus kitra lakukan?” tanya Gita.
“Besok pagi kita ikuti Mas Ardi diam-diam. Apakah benar dia langsung ke kantor atau ke suatu tempat dulu. Aku akan menunggumu di simpang rumahmu ya. Telepon aku segera begitu Mas Ardi sudah mau berangkat. Aku akan menjemput kamu. Untuk awal, kita saja yang langsung menyelidikinya. Jika ada hal tampak mencurigakan, baru kita menyewa profesional untuk hal ini.”
Aku menarik napasku dalam.
“Aku takut, Nis. Bagaimana jika kenyataannya Mas Ardi memang mengkhianati aku di belakang?”
“Apapun kenyataannya nanti, kamu harus menerimanya, Gita. Setidaknya dengan mengetahui faktanya, kamu bisa lebih bijak dalam mengambil lanngkah selanjutnya.”
“Baiklah. Besok akan aku kabari kembali,” ucapku.
“Oke. Istirahatlah malam ini, Gita. Jangan lupa berdoa. Aku juga berdoa semoga kecurigaan kita tidak benar.”
“Terima kasih, Nis.”
Aku menutup panggilann teleponku. Aku meletakkan ponsel yang aku genggam ke atas meja nakas dan mulai membaringkan tubuhku. Pikiranku melayang tidak tenang. Sungguh aku berharap hal yang aku takutkan tidak terjadi. Bagaimana bisa aku mengalami hal buruk ini di awal penikahan kami? Pikiranku terus melayang sampai akhirnya aku terlelap karena begitu lelah.
Aku terbangun pagi hari. Aku melihat ke arah sampingku, Mas Ardi tidak ada.
“Apa Mas Ardi tidak pulang semalaman?” pikirku.
Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Pagi ini cukup menyesakkan begitu pikiranku kembali membayangkan Mas Ardi melakukan hal yang aku benci di luar sana. Aku menarik napas dalam kemuidan membuangnya perlahan untuk menjernihkan kembali pikiranku.
Baru saja aku akan turun dari tempat tidur, terdengar pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Mas Ardi keluar dengan mengenakan handuk dan rambut yang basah.
“Kamu sudah bangun, dek?” tanya Mas Ardi.
“Mas pulang jam berapa semalam?”
“Entah. Mas gak lihat jam lagi semalam. Begitu pulang, Mas lihat kamu sudah tidur dan mas langsung ikut tertidur,” ucap Mas Ardi sambil mengeringkan rambutnya.
Aku bergegas berdiri dan mempersiapkan baju yang akan di pakai Mas Ardi ke kantor.
“Bagaimana pencurinya, Mas? Dapat?” tanyaku sambil meletakkan pakaian kerja Mas Ardi di atas tempat tidur.
“Dapat. Semalan sudah di serahkan ke kantor polisi,” jawab Mas Ardi.
“Masuk dong ke berita kriminal hari ini.”
“Entah. Semalam sepertinya tidak ada satupun yang meliput.”
Aku memeriksa kembali pakaian kerja Mas Ardi.
“Mas, aku mandi sebentar ya. tiba-tiba gerah banget.”
“Oke.,” jawab Mas Ardi sambil tersenyum.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan dengan cepat menyelesaikan mandiku. Ketika aku keluar dari kamar mandi, ternyata Mas Ardi sudah tidak berada di dalam kamar. Aku segera memakai bajuku agar nanti bisa langsung pergi bersama Nissa begitu Mas Ardi berangkat kerja.
Dengan terburu-buru aku turun ke bawah sambil memasukkan ponselku ke dalam saku celana. Aku harus segera menyiapkan sarapan untuk mas Ardi.
“Kemana Mas Ardi?” pikirku yang tidak menemukan Mas Ardi dimana-mana.
Aku segera membuatkan sarapan Mas Ardi. Tidak lama kemudian Mas Ardi datang dan duduk di meja makan.
“Mas dari mana? Kok tadi aku gak lihat mas?”
“Dari luar dek. Masukin tas dan berkas yang mau di bawa ke dalam mobil.”
“Oh, ini sarapan dulu, Mas.”
Aku dan Mas Ardi sarapan bersama.
“Mas nanti pulang lama ya, dek. Banyak yang harus di selesaikan di kantor,” ucap Mas Ardi disela sarapannya.
“Oke, mas.”
Aku melihat Mas Ardi telah menyelesaikan sarapannya.
“Mas mau tambah lagi?”
“Tidak usah dek. Mas harus segera berangkat,” ucap Mas Ardi sambil melihat ke arah jam yang ada ditangannya.
Aku segera membereskan meja makan sementara Mas Ardi berjalan ke depan untuk memakai sepatunya. Aku mengambil ponsel dari dalam kantorng celanaku dan memberitahu Nissa bahwa Mas rdi sudah akan berangkat. Setelah itu aku pergi menemui Mas Ardi ke depan.
“Mas berangkat dulu ya,” ucap Mas Ardi yang baru saja selesia memasang sepatunya.
“Hati-hati dijalan, Mas.” Aku mencium tangan Mas Ardi.
Mas Ardi masuk ke dalam mobilnya dan tidak lama kemudian mobil itu berlalu meninggalkan pekarangan rumah. Aku bergegas mengunci rumahku. Tak lama kemudian, Nissa datang. Aku berlari mendekatinya.
“Kamu pakai ini dulu, buruan!” Nissa memberikan satu jaket miliknya, masker dan kacamata kepadaku.
Aku memang salut dengan temanku satu ini. kalau soal adu kecerdasan, dia memang lebih cepat.
“Kamu siap?” tanya Nissa.
“Aku siap,” ucapku begitu menaiki motor Nissa dan berpegangan padanya.
Nissa segera melajukan motornya mengikuti arah mobil yang sedang di kendarai oleh Mas Ardi.