Pelatihan ke Luar Kota

1129 Kata
“Dek, besok Mas ada pelatihan di Semarang selama 6 hari. Kamu gak apa-apa kan kalau Mas tinggal?” ucap Mas Ardi begitu pulang dari kantor. “6 hari? Aku boleh ikut mas?” mataku berbinar, berharap bisa ikut dengannya keluar kota. “Mas juga pengennya begitu, tapi kamar hotelnya sudah di booking per dua karyawan dek. Gak ada yang diperbolehkan membawa keluarga. Lain kali ya dek kalau ada family gathering kantor kita pergi bareng,” jawab Mas Ardi sambil membuka dasi dan kancing kemejanya. “Lagian masih pengantin baru masa udah disuruh pelatihan diluar kota, seminggu lagi,” omelku. Mas Ardi tersenyum melihatku cemberut sambil menggerutu. Dicubitnya pelan ujung hidungku. “Cemberut gitu nanti jadi jelek loh dek,” goda Mas Ardi. Aku menghela napas pelan. Enam hari ditinggal pasti sangat kesepian. “Aku boleh menginap di rumah ibu gak selama mas pergi? Aku malas di rumah sendirian,” tanyaku sambil mengambil kemeja yang baru saja dibuka oleh Mas Ardi “Tentu saja boleh dek. Malah mas senang kalau kamu ditempat ibu selama mas pergi. Mas khawatir juga kalau kamu di rumah sendirian.” Aku tersenyum mendengar ucapan Mas Ardi. Ku cek kemeja Mas Ardi sebelum ku masukkan ke dalam keranjang tempat kain kotor. “Tumben gak lepas lagi kancing kemejanya mas,” ucapku memasukkan kemeja itu ke dalam keranjang pakaian kotor. Mas Ardi hanya tersenyum menanggapi perkataanku. “Ini untuk kamu.” Mas Ardi menyerahkan sebuah paper bag bertuliskan nama sebuah toko padaku. “Apa ini mas?” tanyaku sambil menyambut bungkusan itu dari tangan Mas Ardi. “Lihat aja.” Mas Ardi tersenyum padaku. Aku membuka bungkusan itu dan mengeluarkan sebuah homedress mini tanpa lengan berwarna merah muda dengan corak bunga. Ku rentangkan baju itu dengan senyum yang mengembang. Bagian d**a dan belakang baju itu lumayan rendah. “Mas Ardi sudah mulai nakal,” pikirku sambil tersenyum “Suka?” tanya Mas Ardi “Suka,” jawabku mengangguk walaupun kurang menyukai coraknya. “Tapi Mas kok ukuran XL sih mas? Memangnya aku sebesar itu ya? Mas tahu kan ukuran bajuku apa?” omelku begitu melihat tag ukuran di baju yang kupegang “XL? Bukannya M?” Mas Ardi mengambil baju itu dari tanganku dengan lembut dan melihat tag ukuran yang tertera di leher baju. Aku terkesima mendengar Mas Ardi mengetahui dengan tepat ukuran bajuku. “Dia memang suami yang sangat perhatian,” batinku. Mas Ardi tertegun beberapa saat. “Mas pasti salah ambil,” ucapku pada Mas Ardi sambil memperhatikan baju yang ada ditangannya. “Besok Mas tukar ya bajunya. Nanti biar diantar sama asisten Mas ke rumah ibu. Sekalian beli buat ibu juga,” ucap Mas Ardi yang langsung melipat asal baju yang sedang dipegangnya. “Gak usah Mas. Nanti aku kecilin aja sendiri. Besok kan Mas mau pelatihan ke Semarang. Nanti Mas terlambat lagi gara-gara ini.” aku mengambil kembali baju itu dari tangan Mas Ardi “Maaf ya dek. Nanti mas belikan lagi yang baru,” ucap Mas Ardi dengan wajah bersalah sambil mengusap pelan rambutku. “Mas mandi dulu ya,” ucap Mas Ardi yang kemudian berjalan menuju kamar mandi. Aku melihat kembali homedress yang ada ditanganku. Coraknya full bunga padahal hampir semua bajuku polos, paling hanya ada beberapa baju yang bermotif sedikit dan kecil. Aku melipat kembali baju itu dengan baik dan menyimpannya di lemari. Besok akan aku bawa sekalian ke rumah ibu. Dekat rumah ibu ada penjahit langganan keluarga kami, akan aku kecilkan baju itu besok disana. Bagaimanapun baju ini adalah pemberian Mas Ardi. Aku akan memakainya suatu hari nanti didepan Mas Ardi agar dia senang. Aku keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju lantai satu untuk mempersiapkan makan malam selagi Mas Ardi mandi. Aku melihat ke arah pintu kamar. Mas Ardi sepertinya belum juga selesai mandi. Aku segera menyelesaikan tugasku di meja makan dan bergegas naik ke lantai atas untuk memanggil suamiku. Aku menaiki tangga menuju lantai dua. Aku membuka pintu kamar namun tidak mendapati Mas Ardi disana. Aku berjalan masuk dan mengetuk pintu kamar mandi namun tidak mendapat jawaban. “Mas, makan malam sudah siap. Mas masih mandi?” Aku kembali tidak mendapat jawaban. Perlahan aku buka pintu kamar mandi, Mas Ardi juga tidak ada disana. “Kemana Mas Ardi?” pikirku Aku bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga hendak turun ke bawah. Namun langkahku terhenti ketika melewati ruang kerja Mas Ardi yang ada di ujung lantai dua rumah kami. Lampu ruangan itu hidup, terlihat dari bawah pintu ruangannya. Aku mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali. “Ya sayang. Masuk saja,” ucap Mas Ardi dari dalam Aku menghela napas lega, akhirnya aku menemukan Mas Ardi. Aku memutar kenop pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. “Mas ngapain disini? Aku dari tadi nyariin mas loh,” ucapku sambil menutup kembali pintu ruangan yang aku buka tadi. “Makan dulu yuk, Mas,” ucapku lagi. “Mas mau ambil beberapa berkas yang harus Mas bawa besok,” jawab Mas Ardi sambil memasukkan beberapa lembar berkas ke dalam sebuah map. “Mas, kenapa sih ruangan ini selalu di kunci? Bagaimana aku bisa membersihkannya kalau kuncinya mas bawa terus. Aku gak akan jahil kok ngotak atik file-file disini.” Aku melihat ke sekitar ruangan itu. “Nih lihat, debunya udah tebel.” Aku mengelus meja kerja Ardi dengan jari tanganku dan memperlihatkan debu yang menempel ke arah Mas Ardi. “Ruangan ini terlalu banyak barang. Biar mas saja yang membersihkannya nanti. Kamu bisa capek kalau membersihkannya,” jawab Mas Ardi sambil terus memasukkan file yang akan di bawanya besok ke dalam tasnya. “Nah sudah. Ayo kita makan,” ajak Mas Ardi memberi kode agar keluar dari ruangan kerjanya. Aku berjalan keluar diikuti oleh Mas Ardi dari belakang. Mas Ardi segera mematikan lampu dan menutup pintu ruangan kerjanya. “Sebentar ya dek, Mas masukkan berkas ini dulu ke dalam tas mas yang ada di mobil,” ucap Mas Ardi ketika kami menuruni tangga ke lantai satu. Aku menganggukkan kepalanya dan berjalan duluan menuju ruang makan. Aku duduk di kursi dan menunggu Mas Ardi datang. Mas Ardi cukup hebat bisa memiliki rumah sebesar ini di waktu lajangnya. Ibu mertuaku pernah cerita kalau Mas Ardi benar-benar anak yang mandiri dan pintar. Mas Ardi pernah mengatakan bahwa dia ingin menikah setelah memiliki aset dan uang yang cukup agar calon istrinya kelak bisa hidup dengan tenang dan bahagia. “Padahal Mas Ardi anak tunggal. Tentu bukan hal yang sulit bagi orangtuanya untuk memenuhi semua hal itu,” pikirku sambil melihat ke sekeliling ruangan. Lamunanku buyar begitu melihat Mas Ardi berjalan ke arahku. “Besok jam delapan pagi Mas antar ke rumah ibu ya dek. Soalnya pesawat Mas jam sebelas,” ucap Mas Ardi begitu duduk di kursi meja makan. “Iya mas,” jawabku sambil menyendokkan nasi ke dalam piring Mas Ardi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN