Dia menatap ibunya dengan netra yang pilu, berusaha tersenyum meski tidak mungkin. Sakit sekali. Tetapi nasibnya seperti tak sampai.
"Ibu, apa aku tidak salah dengar? Bagaimana bisa... kenapa aku harus selalu berkorban untuk perempuan ini? Aku anak Ibu! Aku yang Ibu kandung! Aku yang,”
"Tapi dia juga anak Ibu. Dia kakakmu, dia bekerja dan dia punya mimpi saat ini."
Entah seperti apa hatinya kini, tapi ... kata-kata sang ibu seperti menggambarkan bahwa dia tidak berhak punya mimpi.”
Memang benar, Anura hanya gadis tomboy yang baru saja lulus sekolah. Dia belum bekerja, dan tidak seperti menunjukkan punya cita-cita.
Setiap hari, dia hanya akan pulang untuk melemparkan tas, bermain, lalu pergi dan keluar lagi entah ke mana. Berbeda dengan Rissa yang rumahan, Anura lebih bahagia di luar rumah daripada di rumahnya sendiri.
Saat air mata itu hampir jatuh, dia mengelapnya dengan cepat lalu bertolak pinggang. "Jadi aku harus berkorban lagi untuk anak ini? Dia hanya berpura-pura lemah supaya kalian menyudutkan aku untuk menggantikan dia menikah."
"Ayah, jika dia saja tidak mau menikah, apa lagi aku yang lebih muda darinya, aku--" ucap Anura
"Kita tidak punya pilihan lain. Jika Risa tidak mau, maka kau yang akan menikah."
Pemikiran ini sangat tidak masuk akal. Dia selalu saja dijadikan pelarian atas semua masalah. Ini seperti tujuh tahun yang lalu, saat Rissa memecahkan kaca jendela sekolah, Anura yang sangat suka sepak bola harus rela dijadikan tumbal dan dihukum oleh guru, juga dipermalukan oleh banyak orang. Tapi lihat apa yang dilakukan Rissa ... gadis itu menertawakannya lalu menepuk punggungnya dengan bangga.
Tiga tahun yang lalu juga begitu. Semua orang memuji Rissa karena dia gadis dengan kepribadian yang anggun dan lembut, orang-orang berpikir bahwa dia adalah yang paling rajin dan pandai dalam banyak hal. Sedangkan Anura, orang-orang memandangnya sebelah mata karena menganggap dia seperti sampah di rumah karena tidak memiliki karir, preman dan tidak lembut sama sekali.
Dan sekarang, setelah semua dipikir akan baik-baik saja, apa Anura harus melakukan hal yang sama sekali lagi? Berkorban untuk terakhir kali dalam hidupnya, mengorbankan masa depan lalu menikahi pria yang seharusnya menikah dengan Rissa?
"Kau akan menikah, dengan putra Tuan Besar Dony."
"Tuan Dony?"
Jika ada yang mendengar nama ini, semua orang akan menarik turun kaki mereka untuk memberikan penghormatan penuh. Tuan Dony Xiuburg, adalah pengusaha nomor satu di negeri ini yang nama dan karirnya dikenal dunia internasional. Kekayaannya berlimpah, anak perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, juga istri yang kaya raya dan terpandang. Dia punya Empat orang putra, tapi dengan siapakah Anura akan dinikahkan? Ini bukan cabut undian sehingga nasib Anura berada di tangan mereka kan? Saat mendengar Tuan Faizal mengatakan ini, mata semua orang membola penuh. Rissa yang hendak keluar dari ruangan sempat berhenti, dia berbalik dengan cepat saat mendengar bahwa keluarganya akan berbesan dengan orang nomor satu di negara ini, lalu tersenyum licik seperti sudah mengetahui sesuatu yang sengaja dia hindari.
Nyonya Frisly begitu terkejut. Dia mendekati suaminya dan bertanya, "Putra Tuan Dony?"
Semua orang sepertinya sangat tertarik dengan topik ini, tapi Anura tidak. Mulutnya bergerak seperti sedang mengunyah permen dan mendesis, "Siapa pun dia, aku tidak pernah menerima ini. Kenapa sekarang malah aku yang harus jadi tumbal? Aku tidak mau." Anura menarik tas sandang yang ia letakkan di atas meja dan hendak keluar, hanya saja sesuatu sepertinya sedang lebih buruk dari apa yang sedang dia pikirkan. "Keluarga kita sedang bangkrut." Saat kata ini terucap, kaki Anura terasa berat.
"Ayah punya hutang yang begitu besar, juga tanggung jawab yang begitu berat karena harus membayar upah para karyawan. Pernikahan ini akan jadi jalan satu-satunya untuk membantu kita. Tuan Dony berbesar hati untuk membantu, dia akan membantu kita dan ... apa kau mau melihat ayahmu masuk penjara? Ayah sudah hidup dengan nama baik selama lebih dari 22 tahun, apa yang harus Ayah lakukan untuk ini? Apa kau tega melihat semuanya hancur setelah puluhan tahun?” sangat memohon pada putrinya.
“Anura ... demi semua orang, apa tidak ada sedikit saja rasa kasihan mu pada Ayah?" Anura tidak menyukai ini. Dia sangat membenci pernikahan. Mengapa dia dipaksa, sementara Rissa yang harusnya bertanggung jawab malah dibiarkan pergi. Dalam hidupnya, bahkan dia tidak pernah sekali pun bermimpi untuk menikah. Dia tidak percaya pada cinta dan tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun.
Bagaimana bisa ini menjadi pilihan yang baik untuknya jika dia bahkan tidak tahu pada lelaki mana dia harus menggantikan kakaknya yang licik itu?