°° "Mau sama tante ya anak cantik," ujarku sambil menoel noel pipinya. Sebenarnya aku gugup saat ini tapi aku berusaha sebiasa mungkin. Baby Ara terus tertawa di pangkuanku membuat semua orang di ruangan ini ikut tertawa melihat Bayi kecil ini. "Sepertinya Syafa sudah siap menjadi ibu," goda Teh Nina dan di iyakan oleh yang lain. "Kapan Dan?" goda Bi Sari. "Secepatnya kok Bi, tenang saja nanti langsung ku kabari," sahutnya tenang. Aku meneguk salivaku mendengar jawaban Mas Jiddan, dia begitu tenang menjawabnya bahkan seperti bercanda. Mungkin ini hanya lelucon baginya, pikirku. "Ya nggak Sya?" sahutnya lagi sambil mendekat kearahku. Kini aku dan Mas Jiddan duduk berdekatan hampir tidak ada jarak di antara kami. Aku mulai gusar, jantungku mulai tidak terkontrol. Apa-apaan sih Mas

