°° Air mataku menerobos keluar mengalirkan bulir bulir pedih di hati. Dengan sangat hati hati aku berusaha duduk. Ku lirik dia yang sedang terlelap dalam tidurnya. Munafik bila aku tidak suka padanya, aku mencintainya sungguh. Cemburu? Jangan ditanya soal itu, wanita mana yang tidak sakit bila suaminya mencintai orang lain. Aku menengadah ke langit langit kamar, menghimbau agar bulir bulir ini tidak semakin deras lagi. Sikapnya yang entah aku sendiri tidak mengerti terkadang manis, terkadang dingin yang membuatku semakin bingung akan dirinya. Semuanya seakan sulit tertebak, aku merelakannya kalau memang Mas Jiddan ingin menikah dengan Mbak Mira. Meskipun, hatiku masih tidak rela aku tidak apa apa. Melihatnya bahagia bersama sosok yang di inginkannya membuatku cukup senang. Aku be

