°° Aku dan Syafa berjalan menuju warung terdekat, akhirnya kami memilih untuk membeli soto lamongan yanh sepertinya enak dimakan siang-siang begini. "Enak enggak?" tanyaku sambil menyantap semangkok soto. Syafa mengangguk antusias mengiyakan bahwa soto ini benar-benar enak. Pantas saja rame. "Kok tadi Mas Jiddan tidak ngasih tau kalau siang mau makan bareng?" "Surprise," jawabku singkat. Dia menatapku heran, "Kenapa? Tidak suka makan siang bareng mas?" "Suka kok tapi Syafa heran aja," katanya sambil mengerutkan keningnya. "Mas kan udah janji mau berubah jadi suami yang baik dan bertanggung jawab buat kamu," Lagi lagi pipi Syafa bersemu merah gemas sekali melihatnya, "Kok merah lagi sih pipinya?" godaku. "Mas ih, lanjut makan sana keburu terlambat balik kantornya," aku tertawa re

