°° "Maafkan aku ya Mas, sudah gegabah dalam mengambil keputusan," ujarku menitikan air mata, buru buru Mas Jiddan mengangkat tangannya dan mengusap air mataku, "Tidak aku yang salah maafkan aku Sya, luka yang sudah kuperbuat terlalu banyak hingga membuatmu harus merasakan sakit. Maafkan Mas. Aku akan belajar untuk mencintaimu." Aku terharu mendengarnya, dia kembali menjadi Mas Jiddan. Mas Jiddan yang dulu aku idolakan sewaktu sekolah. Mas Jiddan yang selalu aku sebut dalam sepertiga malamku. Terima kasih Ya Allah engkau telah mengembalikan Mas Jiddanku, meskipun aku belum tau apakah dia mencintaiku atau tidak. Yang pasti itu menjadi tugasku membuatnya jatuh cinta. "Ya sudah aku tunggu di meja makan ya, kasian istriku pipinya merah," godanya. "Mas ih," rengekku. Dia tertawa renyah. Sepe

