°°
Duar!
Seakan meledak jantungku, rasanya badanku lemas seketika. Mataku sudah berkaca-kaca, menahan air yang siap membanjiri pipi dan mataku. Aku mencoba tersenyum meskipun sesak di hatiku. Aku paksakan tersenyum di depan Mbak Mira.
"Alhamdulillah, selamat Mbak pasti Mas Jiddan senang mendengarnya," kataku memberikan selamat meskipun sakit yang kurasakan.
Mbak Mira tersenyum, "Iya makasih ya Fa. Jiddan pasti masih di kantor ya?"
"Iya Mbak," jawabku seolah tegar.
Mbak Mira melirik jam yang bertengger di tangannya, "Yasudah Fa, nanti tolong bilangin ke Jiddan ya. Kalau aku sudah kesini, nanti dia suruh hubungin aku. Maaf ya Fa tidak bisa berlama-lama,"
"Iya Mbak, mari kuantar kedepan," aku mengantar Mbak Mira kedepan.
"Makasih ya Fa," katanya.
"Iya Mbak hati-hati dijalan,"
"Iya Fa. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," dan perlahan Mbak Mira pergi menjauh dengan kendarannya.
Blam!
Aku menutup pintu dan tubuhku terperosot kebawah, aku menangis tersedu-sedu. Ini masih seminggu aku menjadi istri Mas Jiddan tapi cobaan ini semakin berat. Hatiku sakit mendengar kabar ini. Dan yang paling menyakitkan Mbak Mira menyukai Mas Jiddan.
Bagaimana perasaannya kalau Mbak Mira mengetahui bahwa aku istri Mas Jiddan. Aku tak tau harus berbuat apa. Dadaku semakin sesak mengingat itu semua.
Aku baru ingat dan baru menyadari bukankah sehari yang lalu aku mendengar umi dan Mas Jiddan menyebutkan nama seoarang wanita.
Iya, Namira sebutnya. Aku langsung lemas dan tidak bisa berkutik bukankah nama Mbak Mira, Namira Elsa Khoirunnisa?
Benar. Jadi Namira Namira itu Mbak Mira? Dan Mas Jiddan juga pasti menyukainya. Sebentar lagi Mas Jiddan akan tau bahwa Mbak Mira menerima ta'arufnya dan mereka menikah. Mas Jiddan bakal menceraikan ku? Tangisku pecah tak bisa membayangkan baru seminggu aku menikah kemudian diceraikan.
Kepalaku pusing sekali, akibat menangis terus menerus. Aku mencoba bangkit pergi ke kamar. Aku terus beristighfar. Mungkin ini sudah takdir yang digariskan Allah kepadaku. Aku harus menerimanya dengan ikhlas.
Bukannya aku sudah berjanji aku harus menemani Mas Jiddan dalam keadaan apapun sampai Mas Jiddan sendiri yang menyuruhku pergi dari hidupnya.
Segera ku tunaikan sholat dan membaca al-qur-an. Ku tenangkan hati dan pikiranku, agar nanti bila Mas Jiddan datang aku tidak kalut mencerca nya dengan berbagai pertanyaan.
°°
Habis magrib Mas Jiddan baru nyampek rumah. Ku layani dia selayaknya biasa. Kutawari dia makan, kusiapkan pakaian gantinya. Berusaha menjadi istri yang baik untuknya.
Setelah makan Mas Jiddan masuk ke dalam ruang kerjanya. Aku semakin was-was, kuberanikan diri untuk menghampirinya. Di depan pintu yang bertuliskan 'workspace'. Aku menghembuskan nafas dan beristigfar biar semakin relax nanti di hadapa Mas Jiddan.
Tok.. Tok.. Tok..
Ku ketuk pintu kerjanya, menunggu persetujuan dari nya.
"Masuk aja Sya, pintunya gak di kunci kok," katanya dari dalam.
Kubuka pelan pelan pintu ruang kerjanya, dan di saat sudah terbuka mata kita saling bertemu, cepat cepat aku mengalihkan pandanganku kearah lain. Sebenarnya dadaku kembali sesak sesaat mata ini bertemu dengan mata hitam legam miliknya. Tapi aku selalu percaya rencana Allah lebih baik daripada rencana hambanya.
Aku melangkah mengambil tempat duduk dibelakangnya, kutarik nafas pelan, "Mas Jiddan sibuk?"
"Tidak, hanya mengecek email-email yang masuk," katanya sambil menatap layar handphone nya.
"Boleh aku berbicara sebentar?" tanyaku pelan.
"Boleh,"
"Tadi Mbak Mira datang kesini Mas," kataku berhati-hati. Reflek mendengar kata Mira dia membalik badannya menghadapku.
Aku menegang sudah kuduga Mas Jiddan akan kaget mendengar itu. Aku terus merapalkan istighfar di batinku.
"Untuk apa dia kesini?" tanyanya tanpa basa-basi dan tanpa menjelaskan padaku siapa itu Mira, meskipun aku sudah tau sebenarnya.
Aku menelan saliva ku, dengan jantung berdebar, "Mbak Mira mau memberi jawaban soal cv ta'aruf yang mas kirimkan sebulan yang lalu," kataku hati-hati.
Wajah Mas Jiddan berubah datar dan dingin. Apa yang salah dari kata-kataku, aku membicarakan fakta yang terjadi.
Tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya dan hendak berdiri, aku tak tinggal diam, aku memberanikan diri mencekal tangannya.
"Mas bisakah kau duduk dulu disini?" aku memohon kepadanya.
"Aku harus pergi," jawabnya dingin.
"Duduklah sebentar saja," aku tetap merayunya. Tak lama dia pun duduk kembali ketempatnya.
"Mas aku tau jawaban Mbak Mira," dia kembali menatapku.
"Dia menerima ajakan Mas untuk ta'aruf," lanjutku dengan senyum menyakinkan, padahal hatiku teramat sakit saat ini.
Dia kembali menatapku tak percaya,"Dia menitipkan pesan untukmu Mas, katanya kalau Mas sudah pulang, Mas suruh menghubungi Mbak Mira." Mas Jiddan diam tidak bergeming.
"Yasudah Mas, cuma itu yang mau aku bicarakan. Terima kasih waktunya. Selamat malam Mas," tambahku lagi.
Buru-buru aku keluar dari ruang kerja Mas Jiddan dengan air mata yang sudah lolos membanjiri pipi, dengan segera aku menuju kamar dan masuk ke kamar mandi. Ku hidupkan kran air agar tidak ada yang mendengar aku menangis disini.
Setelah lega, aku mengambil air wudhu, ku lanjutkan sholat sunnah dua rakaat agar pikiran dan jiwaku tenang.
"Ya Allah apapun ketetapanmu aku ikhlas menerima semuanya, beri hamba kesabaran agar hamba mampu melewati segala ujian-Mu," pintaku.
°°
Hari ini aku akan pergi bersama Nabila, dan Rania. Refreshing sejenak memang perlu untukku saat ini, agar masalah-masalah yang kemarin tidak terlalu menjadi beban fikiranku.
Soal Mas Jiddan, setelah kejadian aku memberi taunya tentang Mbak Mira, dia tetap berada di ruang kerjanya. Sekitar pukul 22.00 baru dia kembali ke kamar dan tidur tanpa berbicara apapun.
Tadi pagi aku juga masih melayani dia dengan baik, tapi pagi ini dia banyak diam, menjawab pertanyaanku pun hanya dengan menganggukkan kepala. Aku tak ambil pusing untuk itu. Dan aku masih berlaku sewajarnya.
Aku mengambil handphone saat handphone ku berdering menandakan ada panggilan dari seseorang. Dan ternyata dari Nabila.
"Assalamualaikum bil,"
"Waalaikumsalam Fa," jawabnya diseberang sana.
"Fa ini aku dan Rania sudah di tempat biasa,"
"Oh iya Bil, ini sebentar lagi aku berangkat kesana," kataku.
"Hati hati ya Fa,"
"Iyaa, Assalamulaikum,"
"Waalaikumsalam," setelah mendengar jawaban dari Nabila aku memutuskan sambungan teleponnya. Dan bergegas untuk pergi menemui Nabila dan Rania.
Soal ijin ke Mas Jiddan, aku sudah meminta ijin untuk pergi keluar bersama Nabila dan Rania, Mas Jiddan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
°°
Taksi yang kutumpangi berhenti tepat di cafe yang sudah di sepakati olehku, Nabila dan Rania. Dan tepat di sisi pojok kanan cafe tersebut nampak Nabila dan Rania yang tersenyum kepadaku. Ku hampiri mereka, "Assalamualaikum." sapaku.
"Walaikumsalam Bunda," goda mereka kompak.
"Aish, Apa apaan sih kalian ini?"
Mereka kompak tertawa, "Kapan perutnya isi?" tanya Nabila.
"Baru aja seminggu nikah udah di tanyaiin beginian. Doakan aja ya," jawabku sambil pura-pura merajuk.
"Kali aja Fa. Ya kan Bil?" tambah Rania.
"Iya betul. Aku dan Rania, tak sabar ingin menjadi tante," ujar Nabila.
"Sudah-sudah!" ujarku menglihkan pembicaraan.
"Kalian sudah pesan belum?" lanjutku.
"Belum, kita kan nungguin kamu," kata Rania.
"Yaudah, yuk pesan," ajakku.
Setelah memesan menu yang kita mau, pelayan datang mengambil buku menu kita. Dan tak beberapa lama, pesanan kita pun datang.
"Eh kalian tau gak? Mbak Mira baru datang lho dari Yaman," kata Nabila.
Sontak aku yang mendengar nama Mbak Mira disebut menghentikan makanku.
"Seriusan?" tanya Rania.
"Iya serius. Pokonya mah Mbak Mira itu wanita idaman ya? Udah cantik, sholehah, rajin, pintar, sopan, haduh masih banyak lagi," puji Nabila.
Deg!
Hatiku kembali remuk.