°° Memang Mbak Mira sesempurna itu, batinku. Aku masih tidak menggubris apa yang dibicirakan Rania dan Nabila. Tiba-tiba saja selera makanku hilang. Padahal nasi goreng ini makanan kesukaanku, tapi entah mood makanku hilang. Aku berusaha sebisa mungkin menunjukkan sikap yang biasa saja, meskipun aku sudah tak biasa. "Iya setuju Bil. Beda dengan kita bertiga ini, kita mah apa? remahan rempeyek. Gaada apa apanya sama Cinderella," kata Rania yang semakin menohok hatiku. Seakan kata katanya barusan menamparku telak. Menyadarkan diriku ini siapa, jauh dari Mbak Mila, membuatku makin menciut untuk berjuang mendapatkan hati Mas Jiddan. Aku menyudahi makanku kali ini. Benar benar tidak selera sama sekali. Aku sudah kenyang mendengarkan pujian untuk Mbak Mira dari dua orang sahabatku. "Loh

