1. PHOS CAFE
Pintu kafe berdenting. Jenna langsung menuju kasir begitu masuk melewati pintu café.
“Caramel Macchiato please,” pintanya pada seorang barista tampan yang tengah tersenyum manis padanya. Berharap Jenna memesan menu paling mahal yang ada di menu.
Dalam sekejab Jenna sempat termangu, kehilangan fokusnya karena memperhatikan mata barista itu yang hilang ketika ia tersenyum, namun suaranya terdengar berat. Sangat tidak sesuai dengan potongan wajahnya yang sekilas tampak lucu. Tak lama kemudian Jenna tersadar sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu bergegas menyerahkan sebuah botol minum yang sengaja dibawanya dari rumah sebagai pengganti kemasan sekali pakai dari café. Ia termasuk orang yang mengerti dengan ramah lingkungan.
Ketika Jenna tengah diam berdiri tegak sambil menunggu pesanannya, dua anak laki-laki yang sedang bergelut di belakangnya tiba-tiba saja tidak sengaja menabrak bahunya yang membuatnya langsung terhentak ke depan dan tas kamera yang disandangnya terjatuh ke lantai. Dia bisa mendengar suara pecahan dari dalam tas yang sudah tergeletak di atas lantai.
Anak laki-laki itu langsung meminta maaf dan memungut tas kamera Jenna. Mereka langsung membungkuk sembilan puluh derajat dan meminta maaf berulang kali. Seketika kejadian itu menjadi pusat perhatian seluruh pelanggan café. Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama, Jenna segera mengambil alih tasnya dari tangan salah satu anak laki-laki dengan potongan rambut cepak.
Jenna tersenyum hangat. “Tidak apa-apa, tidak masalah. Lagi pula kalian tidak sengaja bukan?” ungkap Jenna sambil menyentuh pundak salah satu anak laki-laki yang tampak ketakutan itu. Berusaha menenangkannya.
“Tidak ada apa-apa di dalamnya, jadi kalian tidak perlu khawatir. Sekarang kalian sudah boleh pergi, jangan sampai kalian terlambat sekolah. Okay?” lanjut Jenna memberi instruksi sambil sedikit membungkuk membalas permintaan maaf dari kedua anak itu. Jenna langsung memaafkan mereka, menurutnya tidak ada gunanya mempermasalahkan hal tersebut. Dia bisa memperbaiki kameranya nanti daripada membuat kedua anak laki-laki tadi membolos sekolah karena kejadian pagi itu.
“Pesanannya sudah siap.” Tepat saat itu barista yang melayani Jenna tadi bersuara memecah keheningan sesaat yang memenuhi langit-langit café. Sementara dua anak laki-laki tadi berlari keluar segera meninggalkan café.
Jenna menoleh, kembali berjalan mendekati meja kasir sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Kedua tangannya terangkat hendak menerima botol minumnya yang kini sudah terisi penuh.
“Kameranya sudah di cek?” Barista itu tiba-tiba menanyakan kondisi kameranya. Berlagak sok tahu dan sok akrab. “Aku rasa lensa ataukan flashnya patah, kau bisa datang ke lantai dua kafe, kami menyebutnya camera clinik.” Barista itu berhenti sejenak untuk tertawa pelan menyaksikan raut wajah Jenna yang tampak bingung, “semoga kau bisa menyelesaikan masalah kameramu di sana,” jelasnya sambil menyerahkan botol minum Jenna ‘lagi’ yang sudah terisi penuh tadi setelah sempat tertahan karena pertanyaan sok akrab yang dilontarkannya beberapa detik lalu.
Alis Jenna terangkat. Ia baru tahu kalau lantai dua kafe ini digunakan untuk hal yang berguna seperti camera clinic. “Benarkah?” Jenna bertanya kembali memastikan, tampak antusias. Kali ini botol minumnya sudah berada dalam genggaman. Entah apa yang dilakukannya selama dua tahun terakhir sampai-sampai tidak mengetahui ada tempat yang paling dibutuhkannya ada di lingkungan yang ditinggalinya.
Barista di hadapan Jenna mengangguk. Tepat sebelum Jenna berbalik, barista itu memberikan sebuah kartu nama.
Kaysan Hillel. Member of Phos Clinic.
“Kau juga bisa menjadi member. Datanglah jam tujuh nanti malam,” tutup barista yang masih saja tersenyum pada Jenna. Dengan sedikit heran, Jenna menerima kartu nama itu dan segera meninggalkan café.
****
Jenna sudah terlambat hampir dua puluh menit karena kejadian yang menimpanya di café. Ia menarik nafas panjang. Miss Lian pasti sudah berdiri di depan pintu menanti kehadirannya. Bagaimana tidak? Jenna memiliki janji pemotretan dengan model pakaian baru yang dijadwalkan tiga puluh menit lagi, dan ia sudah kehilangan banyak waktu untuk melakukan persiapan. Tapi yang paling parah adalah ia tidak tahu bagaimana kondisi kameranya saat ini. Jenna hanya berharap kameranya dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jika tidak, tamatlah riwayatnya.
Dengan cepat Jenna memeriksa kamera. Ia bahkan tidak sempat meminum minuman yang sudah ditentengnya sebelum memasuki area tempur pagi itu.
Tangannya memeriksa setiap sudut kamera. Jenna menghembuskan nafas lega. Kameranya masih berfungsi dengan baik, hanya saja flash kameranya terbelah menjadi dua bagian. Tiba-tiba saja tebakan barista di café tadi terlintas di benaknya. Bagaimana ia tahu bagian mana yang rusak hanya dengan mendengar suara pecahan? Jenna membatin. Tapi sudahlah. Ia segera membuyarkan lamunan. Tidak penting.
Waktu berjalan dengan cepat. Segala persiapan sudah siap. Model yang menjadi bintang utama hari itu pun sudah tampil cantik dengan pakaian dan riasan yang sudah disediakan.
Pemotretan pagi itu merupakan projek kedua yang diterima Jenna atas perintah Miss Lian. Jika ia tidak salah hitung, ini yang kedua kalinya, mengingat Jenna baru bekerja selama satu bulan. Tapi waktu tidak menjadi halangan, dengan cepat Jenna berubah menjadi seorang fotografer professional. Jenna meminta staff lain menaikkan lighting. Sesekali Jenna mengarahkan model untuk berpose.
“Lebih santai, arahkan pandanganmu ke sudut ruangan,” teriaknya santai memberi arahan.
“Cobalah untuk berekspresi lebih ceria, senyumnya jangan terlalu lebar,” serunya sekali lagi. “Oke. Tahan!” Model yang diarahkannya menurut.
Tiga jam berjalan dengan cepat. Pemotretan selesai. Jenna duduk di depan layar komputer. Memeriksa semua hasil foto yang di ambilnya pagi itu. Sedangkan staff lain merapikan ruangan dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Jenna, ini yang ke empat kalinya bukan?” Miss Lian sudah duduk di samping Jenna. Mengingatkan Jenna yang sering datang terlambat. “Jangan sampai kau kehilangan bonus yang sudah kau kumpulkan selama ini, ya,” lanjut Miss Lian pura-pura serius.
Jenna menyerngitkan hidung manja. “Aku tidak dipecat kan?” jawabnya sambil tertawa yang terdengar dipaksakan.
Jenna beruntung bisa bekerja dengan Miss Lian. Usianya baru tiga puluh tiga tahun. Tidak jauh berbeda dari Jenna. Meskipun Jenna baru bekerja selama satu bulan, tapi Miss Lian sangat ramah dan tidak pemarah seperti tempat kerja lamanya. Bahkan Jenna sering bercanda dengan Miss Lian. Jenna nyaman bekerja di sana meskipun tidak mendapatkan banyak projek. Lihatlah kejadian hari ini, Miss Lian tidak marah meskipun kameranya tidak sebagus biasanya, karena wanita yang sudah dianggap Jenna sebagai saudaranya itu percaya dengan kemampuannya dalam hal fotografi. Hal ini jugalah yang dirasakan Jenna saat bekerja. Perasaan yang sulit dijelaskan ketika ia menemukan orang yang percaya pada kemampuannya.
“Selesaikan hari ini ya,” perintah Miss Lian sambil menepuk pelan pundak Jenna.
Jenna menoleh dengan kepala sedikit mendongak menatap Miss Lian yang sudah bangkit dari kursi. “Baiklah, anggap ini sebagai permintaan maafku karena terlambat dan kameraku hari ini, okay?” balasnya sambil tersenyum pada Miss Lian.
“Semoga harimu menyenangkan, jangan lupa bangunkan aku besok pagi,” teriaknya bercanda pada Miss Lian yang sudah berada di luar ruang kerja Jenna.
Jenna menarik nafas. Lalu meluruskan kedua tangannya ke depan lalu meregangkan jari-jari tangan. “Oke, akan kuhajar kali ini,” gumamnya bertekad menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.
Sebuah kartu nama berwarna hijau sempat menarik perhatian Jenna saat hendak meletakkan kamera di atas meja samping komputer. Sekilas kartu nama itu ikut membuat potret wajah barista itu melintas di benaknya. Satu detik kemudian Jenna segera menggeleng-gelengkan kepala mengalihkan pandangan pada jam kecil disampingnya lagi menunjukkan pukul dua siang. Ah, masih lama, pikir Jenna singkat saat itu. Jenna mengabaikan kartu nama hijau itu dan kembali menyibukkan diri di depan komputer yang kini sudah menyala.
*****