Berantai

1181 Kata
Setelah beberapa jam dalam perjalanan Sandi dan Muti pun telah sampai di kediaman ibu Sandi. Muti dan Sandi terus masuk kedalam rumah dan melihat keadaan ibunda yang berada di kamar tidurnya. Sandi meminta ibundanya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat, untuk ditindak lanjuti perawatanya. Namun sayang ibu Sandi tidak mau menuruti apa kata Sandi. Ia ingin tetap dirawat di rumah oleh bidan desa setempat. Akhirnya ibu Sandi pun dirawat dirumah oleh bidan desa yang bernama Mira. Dan Sandi pun tidak mempermasalahkan semua itu. Bagi Sandi yang terpenting ibundanya cepat sembuh dan sehat seperti semula. Setelah Sandi dua hari di rumah sang ibunda, (Ibu Aida Rahma) nama ibu Sandi. Beliau pun telah mulai membaik kesehatannya, dan karena Muti tidak mengambil izin lama, ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah dan kembali mengajar. Namun untuk Sandi ia masih tetap berada di rumah ibunya, hingga sang ibu sehat seperti semula. Karena bagaimana pun Sandi adalah anak semata wayang, ia harus lebih bisa memahami keadaan sang ibu. Dan setelah pulangnya Muti dari rumah mertuanya, ternyata ibu Sandi meminta sesuatu kepada Sandi. "Sandi anak ku, kemarilah nak mendekat ke ibu." Sandi pun mendekat kepada ibundanya dan duduk disampingnya. "Ada apa Bu?" Tanya Sandi ke sang Ibu. "Ibu menginginkan sesuatu dari Sandi?" tanya Sandi ke ibundanya. "Iya nak," jawab ibu Sandi ke Sandi." Ibu Sandi pun bilang ke Sandi tentang apa yang ia fikirkan terhadap Muti. Rupa-rupanya ibu Sandi pun mendengar perbincangan Muti dengan tetangga sebelah sewaktu baru sampai di rumahnya. Ibu Aida pun mendengar tentang apa yang diucapkan oleh tetangganya mengenai karakternya itu. Namun Ibu Sandi pun mengalihkan fakta bahwa yang menjelek-jelekan dirinya adalah Muti. "Istrimu memfitnah ibu nak," ucap ibu Sandi ke Sandi. "Ibu dikira berpura-pura sakit nak oleh istri kamu!" "Pantas saja dia ingin cepat pulang kerumahnya, tidak mau menunggu ibu sampai sembuh." Tetapi Sandi tidak percay dengan ucapan sang ibundanya. Karena Sandi pun juga memahami bagaimana karakter Mutia yang sesungguhnya. Tapi memang seperti itulah karakter yang dimiliki oleh ibu Sandi, ia ingin terlihat lebih benar dihadapan anaknya. Sandi pun meluruskan kata-kata yang diucapan oleh ibundanya tentang Muti. "Bu," ucap Sandi kepada ibunya, "Muti pulang bukan karena menganggap ibu berpura-pura sakit, tetapi karena memang ada tugas sekolah yang tidak bisa ditinggalkan lebih lama bu." Ibu Sandi pun terlihat kesal karena anak semata wayangnya lebih membela istrinya tenimbang ibunya sendiri, dan karena merasa tidak dibela oleh Sandi, akhirnya ibu Sandi pun memerintahkan Sandi untuk pulang sekalian ke esokan harinya. "Esok kau boleh pulang nak, karena kau lebih mempercayai istrimu daripada ibu yang telah melahirkanmu, membesarkanmu, dan menyayangimu hingga kini!" wajah ibu Sandi pun memerah karena marah terhadap Sandi. Sandi pun tertunduk diam, bingung dengan ucapan (Amarah) ibundanya. Setelah ibunya terdiam dari amarahnya, Sandi berusaha memberi pengertian kepada ibunya. "Ibu," ucap Sandi ke sang ibu. "Engakau adalah wanita satu satunya yang paling aqu sayangi bu, Sandi akan tinggal bersama ibu hingga ibu sembuh dari sakit." Ucap Sandi dengan nada pelan. "Ibu cepat sembuh ya? Sembari Sandi mencium kening ibunya yang pemarah itu dan menunggu beliau hingga tertidur lelap." Dan keesokan harinya ibu Sandi mendatangkan seorang bidan kerumahnya untuk memeriksa kesehatanya. Mira nama Bidan tersebut, tetapi yang tidak disangka oleh Sandi adalah ternyata seorang bidan itu akan dijodohkan denganya. Sandi mengetahui tentang itu karena ia mendengar sendiri percakapan ibundanya dengan bidan tersebut. Dengan raut muka yang marah setelah mengetahui bahwa ibunya bersekongkol dengan bidan itu untuk membuat Sandi dan Mutia berpisah, Sandi pun langsung berpamitan untuk pulang ke rumah sang istri dan anaknya. Dan setelah rahasianya terbongkar oleh Sandi, ibu Sandi akhirnya memohon dengan sangat kepada Sandi untuk tidak pulang terlebih dahulu dan meminta ma'af tidak akan mengulangi perjodohan itu lagi. Sandi pun tidak berdaya jika ibundanya telah memelas dan meminta maaf kepadanya. Akhirnya Sandi pun memaafkan ibunya dan tetap mau tinggal beberapa hari di rumah sang ibu. Tetapi ternyata ucapan maaf dari ibu Sandi tersebut hanya tipu daya belaka, melainkan ia menggunakan cara halus supaya Sandi tidak mengetahui rencananya untuk menjodohkan dia dengan gadis pilihanya, yang berprofesi sebagai Bidan Desa itu. Dan setelah beberapa hari Sandi tinggal bersama sang ibu, ia pun meminta izin untuk pulang. "Lusa Sandi pulang ya Bu?" ucap Sandi meminta izin kepada ibunya." Ibu Sandi pun mengangguk dan memberikan izin kepada Sandi untuk kembali pulang dan bertugas." Tetapi dengan diam-diam ia memasang perangkap untuk anak semata wayangnya itu yang supaya Sandi bisa berpisah dengan Muti dan tunduk dengan perintah ibunya. Hal itu pun akhirnya terjadi. Setelah satu pekan telah berlalu dan kini sampai kepekan berikutnya. Sandi pun berkunjung kembali ke rumah ibundanya hanya seorang diri, Muti tidak ikut dikarenakan usia anaknya yang masih kecil dan kasian jika terlalu sering diajak nepergian dengan menempuh jarak jauh. Setelah tiga jam perjalanan telah Sandi tempuh dengan mengendarai kendaraan bermotor, akhirnya Sandi pun sampai di rumah sang ibunda. Rumah dimana Sandi dilahirkan dan dibesarkan hingga ia mendapat kesuksesan seperti saat ini. Tentunya rumah yang penuh dengan kenangan-kenangan dan susah untuk dilupakan. Sayang sekali ayah Sandi tidak sempat merasakan keberhasilan anaknya itu. Beliau telah berpulang kepangkuan Ilahi Allah SWT sejak Sandi duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Hingga saat ini ibu Sandi tidak mau membukakan pintu hati untuk pria lain. Melainkan ingin menjodohkan Sandi dengan perempuan pilihanya yang akan membuat hancur pernikahan Sandi dengan istri tercintanya. Sesampainya Sandi di rumah ibunya, ia pun disambut dengan penuh kegembiraan oleh sang ibu. Ternyata dibalik itu semua ibu Sandi kali ini telah memasang jurus untuk menaklukan hati Sandi supaya mau dijodohkan dengan perempuan pilihanya. Yaitu dengan cara masang sesajen yang ditaruh diatas pintu masuk rumahnya. Dengan tujuan supaya Sandi lupa dengan anak dan istrinya karena akan dijodohkan dengan wanita yang telah menjadi pilihanya tersebut. Setelah beberapa jam Sandi tiba di rumah ibunya, gadis yang mempunyai profesi sebagai seorang bidan desa yang akan dijodohkan dengan Sandi itupun datang ke rumah orang tua Sandi sembari membawa oleh-oleh kesukaan ibu Sandi, dengan niat mencari simpati ke Sandi dan juga ibunya. Saat itu Sandi tengah tertidur lelab di kamarnya, dan tiba-tiba Mira masuk ke kemar Sandi tanpa sepengetahuan Sandi dan pintu kamar Sandi saat itu tidak terkunci. Dengan perasaan yakin bahwa Sandi telah terpengaruhi oleh mantra atau ilmu sihir yang ibu Sandi pasang diatas pintu rumahnya, Mira perlahan menggoda Sandi dengan membuka baju Sandi dan semua pakaian yang Sandi kenakan itu. Setelah itu ia pun melakukan hasratnya ke Sandi. Di antara rasa sadar dan tidak Sandi merespon perempuan itu. Gadis yang memang sengaja ibu Sandi beri kesempatan untuk masuk ke kamar anaknya. Dan akhirnya hal terlarang pun terjadi. Dibawah alam sadarnya Sandi melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Namun karena dipengaruhi oleh ilmu sihir Sandi pun turut patuh dengan apa yang Mira inginkan. Dan kini tanpa ia sadari Sandi telah membuat hancur pernikahanya sendiri. Berhasilah sudah apa yang selama ini ibu Sandi inginkan ke Sandi. Yaitu ia tidak suka memiliki menantu seperti Muti dan ingin memisahkanya. Padahal Mutia adalah wanita baik-baik. Dan berasal dari keluarga yang baik pula. Orang tua Muti seorang yang berhati mulia, dan setiap orang yang telah mengenalnya pasti tidak akan meragukan kebaikan orang tua Muti. Namun entah mengapa ibu Sandi sampai tidak setuju memiliki menantu seperti Mutia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN