Aku benci Ayah tiriku
Bab 01
Hari ini adalah hari ketiga setelah kepergian ibuku, Pauline Mclouis. Aku yang masih berselimut duka, harus sering menangis karena kini aku merasa menjadi gadis sebatang kara. Berbeda dengan seorang pria yang kini sedang berada di kamar utama lantai satu rumah ini. Walaupun jarak kamar kami jauh, namun aku masih dapat mendengar dengan jelas jeritan dan juga rintihan seorang wanita yang ada di dalam kamar pria itu. Sungguh menjijikkan dan tidak tahu malu! Aku benci mereka semua! Aku sangat membenci Nickollas Stanley, pria yang kini tinggal bersamaku. Pria yang tak lain adalah suami dari ibuku sendiri.
Seperti tak ada rasa duka sedikit pun dari pria yang bernama Nickollas Stanley, di hari ketiga kematian ibuku dia justru sudah berani membawa wanita. Bahkan saat ibuku masih terbaring sakit, Nickollas Stanley berapa kali aku melihat pria itu membawa wanita lain di rumah ini. Bukankah dia bisa disebut pria gila?! Sejak awal aku bertemu dengannya aku sudah tidak suka. Parasnya yang tak sebaik perilakunya, benar-benar mencerminkan seorang pria arogan. Sampai sekarang aku belum tahu alasan apa ibuku menikahi pria yang umurnya jauh lebih muda seperti dirinya.
Merasa muak dengan suara-suara yang terdengar menjijikkan itu aku lebih memilih memakai headset, kemudian menyetel musik dan tidur! Aku hanya berharap aku bisa tidak mendengar suara itu lagi setelah malam ini, namun ternyata sepertinya aku salah.
Pagi harinya saat sedang membuat sarapan untuk diriku sendiri, aku melihat seorang wanita berambut pirang dengan tubuh langsingnya yang ideal keluar dari dalam kamar Nickollas Stanley. Pakaian seksi yang dikenakan wanita itu sangat terlihat jelas sengaja mengundang hasrat pria yang melihatnya.
Wanita itu melirik sekilas ke arahku yang tengah menaruh sandwich yang baru saja aku buat di meja makan yang memang jaraknya tak jauh dari kamar milik Nickollas.
“Hey, gadis kecil jaga matamu saat melihatku. Apa kau tak pernah melihat wanita cantik sebelumnya?” Wanita itu dengan penuh percaya diri berkata.
Aku yang enggan membalasnya berusaha tuli dan tetap makan dengan cuek.
“Ada apa, Nola? Bukankah kau bilang akan pulang?” Pria yang bernama Nickollas Stanley itu akhirnya keluar dengan penampilan cueknya yang hanya mengenakan boxer, seakan sengaja memamerkan otot perutnya yang sixpack dan terlihat jantan.
“Kau lihat, gadis kecil yang kau sebut anak tirimu itu, berani sekali dia menatapku. Aku rasa dia cemburu pada kita, Nick sayang...” Wanita itu bergelayut manja di lengan kokoh milik Nickollas. Aku yang melihatnya semakin merasa jijik.
“Berhentilah bersikap manja! Biarkan saja dia, anggap saja dia tak ada.” Nickollas menepis tangan wanita itu.
“Baiklah, aku pulang, Sayang. Jaga matamu untukku. Sampai bertemu di akhir pekan selanjutnya.” Wanita itu dengan gaya genitnya mengecup pipi Nick di depanku seraya melirik sekilas ke arahku dengan senyuman angkuhnya.
Setelah wanita itu pergi Nickollas berjalan ke dapur melewatiku untuk mengambil minum, tanpa menoleh sedikit pun ke arahku yang masih duduk dengan sandwich di tangan.
“Bisakah kau sedikit menghormati kematian ibuku dengan tak membawa wanita ke rumah ini?” aku memberanikan diri menegurnya.
“Kau sedang bicara padaku, gadis kecil?” Dengan gaya cueknya yang menyebalkan Nickollas tersenyum miring menatap sekilas padaku.
“Aku bukan gadis kecil, aku punya nama dan namaku Selena!” protesku tak terima.
Pria itu terkekeh seakan mengejekku.
“Di mataku kau adalah gadis kecil yang tak menarik sama sekali. Bahkan aku tak pernah menganggap kau ada di rumah ini.”
“Ini rumah ibuku, Pauline Mclouis! Kau hanya suami numpang lewat yang tak malu!” Aku berdiri dengan berani, menatap pria angkuh yang berada tak jauh di depanku.
“Apa kau bilang?!” Tanpa aku duga Nickollas menghampiriku dan menatapku tajam.
“Rumah ini bukan lagi milik ibumu! Aku dan ibumu memiliki perjanjian yang sah untuk itu! Kau anak kecil tak tahu apa-apa! Dan yang pasti yang menumpang di rumah ini bukanlah aku tapi kau!!” tukasnya mengejutkanku.
Aku membulatkan kedua netraku merasa tak percaya dengan apa yang aku dengar tadi.
“A-apa?! Itu tidak mungkin!!” seruku tak percaya dan pria bernama Nickollas itu tersenyum mengejek padaku.
“Aku memiliki bukti yang sah untuk bisa membuktikan ucapanku. Jadi jangan mencoba macam-macam padaku mulai sekarang, kau dengar itu gadis kecil?” Setelah mengucapkannya Nickollas berbalik dan berjalan pergi ke kamarnya kembali, sedangkan aku masih terpaku dengan tatapan kosong yang masih seperti terasa mimpi setelah mendengar ucapan pria yang merupakan ayah tiriku sendiri.
***
Waktu berjalan begitu cepat, setelah ibuku meninggal aku merasa duniaku sekarang bagai neraka saat aku kembali ke rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, kini berganti seperti neraka bagiku. Bagaimana tidak? Setiap malam aku harus mendengar suara-suara menjijikkan itu kembali, dan yang lebih gila si m***m Nickollas Stanley selalu membawa wanita yang berbeda hampir setiap malam!
Bagaimana bisa ibuku menikah dengan pria gila seks seperti Nickollas Stanley? Aku benar-benar tak habis pikir!
“Oh, Nick! Aku mohon lebih cepat, Sayang! Lebih dalam!” Suara itu terdengar jelas ketika malam itu aku baru pulang dan berjalan melewati kamar utama.
Gila! Ini sangat gila! Sampai kapan aku harus melihat kegilaan ayah tiriku sendiri di rumah yang dulu bagai surga bagiku dan kini berganti seperti neraka. Aku tak bisa membiarkan hal ini terus terjadi, kegilaan ini harus berakhir sekarang juga!
Dengan memasang seluruh keberanianku, aku pun mengetuk keras pintu kamar Nickollas seperti orang gila. Aku sengaja melakukannya agar mereka terganggu dan menghentikan perbuatan tidak senonoh yang mengganggu ketenangan rumah ini.
“Hei, apa kau ini sinting?! Apa yang kau lakukan, hah?!” Pintu di depanku terbuka dan kini aku bisa melihat pria yang merupakan ayah tiriku itu berdiri dengan hanya mengenakan penutup kain seadanya di antara kedua pahanya, sedangkan sang wanita terbaring dengan tubuh polosnya yang seperti tanpa malu sengaja memperlihatkannya padaku.
“Aku sinting karena mendengar suara m***m kalian! Apa kau tidak bisa menghentikan perbuatan menjijikkan kalian berdua di rumah ini?!” aku memprotes keras.
Bukannya merasa bersalah, pria tak tahu malu di depanku justru tertawa keras.
“Hey, gadis kecil. Kau ini siapa? Berani mengaturku di rumahku sendiri? Jika kau terganggu dengan aktivitasku apa kau berencana ingin bergabung dengan kami sekarang?” Pria di hadapanku menyeringai dengan tatapan mengejek.
Kedua netraku melotot merasa sangat terhina dengan apa yang baru saja Nickollas ucapkan. Bisa aku lihat wanita yang terbaring polos di ranjang itu pun tertawa mengejek padaku. Dadaku bergemuruh dengan cepat menahan emosi yang amat sangat.
Nickollas Stanley benar-benar pria tidak berakhlak!
“Kalian berdua memang benar-benar pasangan tidak waras!!!” teriakku keras.
Tak mau melihat pasangan gila di depanku lebih lama lagi, aku pun lebih memilih pergi menuju kamarku dengan kedua netra yang berubah merah dengan cepat karena merasakan emosi yang amat sangat.
Seperti sengaja untuk membuatku semakin kesal, kedua pasangan m***m yang aku lihat tadi sengaja lebih keras mengeluarkan suara kegiatan panas mereka. Aku yang merasa frustasi hanya bisa menutup telingaku dengan kedua tanganku.
“Nickollas Sinting!! Maniak!!” aku mengumpat keras mengeluarkan segala emosiku dengan melemparkan bantal ke sembarang tempat.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus keluar dari rumah ini dan pergi? Namun, aku tak punya tempat lain selain rumah ini. Dan selama ini aku memang hidup dengan uang yang diberikan ayah tiriku untuk membiayai hidup dan juga biaya kuliahku. Dengan kata lain untuk saat ini hidupku masih bergantung pada Nickollas Stanley yang sekarang merupakan waliku sendiri, karena aku memang tak memiliki siapa pun selain ibuku yang sudah pergi lebih dulu meninggalkan aku.
Tidak! Aku tidak boleh seperti ini! Hidupku tidak akan selamanya tergantung pada si m***m Nickollas. Aku harus menghasilkan uang sendiri dengan bekerja agar aku bisa menjadi wanita mandiri dan tidak tergantung pada ayah tiriku yang tak bermoral seperti Nickollas Stanley.
***