Bab 8

1563 Kata
"Wow, teman, ya?" Stella berdecak, lalu menghampiri Disa. "Terus? Lo mau apa?"                 Disa tersenyum miring, dan berdiri dengan percaya diri. "Lo harus minta maaf ke Bram. Semua ucapan lo itu bener-bener jahat, Stell. Lo harusnya malu."                 "Minta maaf? Lo siapa, berani nyuruh-nyuruh gue?"                 "Gue DISA. Salam kenal, Stella." Disa tersenyum miring, dan langsung menjambak rambut Stella yang panjang.                 "Argh ... s****n!" Stella emosi, dan balas menjambak rambut Disa. "Lo bener-bener nyari ribut, ya?!"                 "Iya! Makanya, lo harus minta maaf ke Bram!"                 "Nggak akan!"                 Stella dan Disa terus saling menjambak, dan mendorong, hingga keduanya sama-sama lelah. Tapi, mereka tidak berhenti, dan malah semakin bersemangat untuk berkelahi.                 "Dasar nenek sihir nggak punya hati! Bram itu cowok baik, nggak seharusnya lo sejahat itu sama dia!" Disa mendorong Stella ke dinding, dan masih dengan kuat menjambak rambut Stella.                 "Argh ... lo sinting, Dis!"                 "Masih untung, lo cuma gue jambak. Gue belum ngeluarin jurus bela diri gue yang lain, Stell. Apa lo mau coba?"                 "Lepasin gue!" Stella dengan geram menjambak ramhut disa lebih keras. Tapi, Disa hanya terkekeh.                 "Lo mau minta maaf, nggak?"                 "Nggak akan!"                 Mereka melanjutkan perkelahian itu lebih sengit, dan para murid perempuan yang mau ke toilet, juga jadi takut untuk masuk. Dan untung saja, ada seorang murid perempuan yang langsung meminta bantuan. *** Jelita menghampiri Troy dan Guntur yang sedang duduk-duduk di kantin. "Troy! Disa lagi jambak-jambakan sama Stella di toilet!"                 Mata Troy dan Guntur melebar. Dan dengan cepat, mereka berdua berlari ke toilet perempuan.                 "Disa!"                 Gerakan Disa terhenti saat mendengar suara sahabat baiknya, yang terdengar sangat marah. "Troy?"                 Disa langsung melepaskan tangannya dari rambut Stella, dan Stella pun juga demikian. Mereka cukup panik saat Troy masuk ke dalam toilet, dan memisahkan mereka.                 "Ngapain berantem sama Stella? Udah gue bilang, jangan cari masalah terus, Dis! Jangan bikin gue khawatir!" Troy mencengkram lengan Disa, dengan cukup keras.                 "Sori, Troy..." Disa meringis.                 "Tuh, rambut lo jadi berantakan. Tambah jelek, deh." Tangan Troy yang satunya merapihkan rambut Disa. Membuat gadis itu terdiam, dan menunduk malu. "Kalau lo kenapa-napa, gimana?"                 Stella cukup iri melihat Disa yang memiliki Troy di saat-saat seperti ini. Dengan kesal, dan menahan air mata, Stella langsung berlari melewati Troy, Disa, Guntur, dan murid-murid lainnya yang menonton di depan toilet.                 Stella terus berlari, dan ia juga tidak tahu harus ke mana. Sampai akhirnya, ia berhenti, di depan perpustakaan. Di sekolahnya, perpustakaan adalah tempat yang paling sepi.                  Paling-paling hanya ada penjaga perpustakaan dan beberapa murid yang sedang mengerjakan tugas. Tempat yang cocok untuk menenangkan diri, bagi Stella.                 Perempuan itu masuk, dan bersembunyi di sudut perpustakaan. Ia duduk di lantai dan memeluk lututnya. Jika biasanya, ia terlihat galak dan cerewet, kali ini, ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi.                 Akhirnya, Stella menangis.                 "Gue nggak salah. Kenapa Disa gitu banget, sih? Kenapa dia belain Bram, sampai kayak gitu?"                 Stella terus menangis, dan bergumam pelan untuk mengeluarkan uneg-unegnya. "Kalau gue tau, surat itu bukan dari Bram, gue juga nggak akan marah-marah ke Bram. Gue kan nggak tau...                 "Terus, kenapa Disa beruntung banget sih hidupnya? Dia punya Troy, yang selalu khawatir sama dia. Sedangkan gue? Gue nggak punya siapa-siapa. Nggak ada yang khawatir sama gue ... nggak ada."                 Stella terus menangis, dan memeluk lututnya. Tapi, tak lama kemudian, ia merasa, ada seseorang yang mengusap kepalanya dengan pelan.                 "Pasti ada. Mungkin, lo cuma nggak sadar."                 Stella mengangkat wajahnya, dan melihat lelaki yang berdiri di hadapannya, dengan sedikit membungkuk. "Bram?"                 Bram tersenyum kecil. "Hey."                 Stella menghapus air matanya dengan cepat. "Ngapain lo?! Pergi sana."                 "Nggak mau." Bram memilih duduk di sebelah Stella, dan meluruskan kakinya.                 "Nyebelin, dasar," cibir Stella pelan.                 "Gue emang nyebelin." Bram terkekeh. "Maaf ... gue tadi nggak sengaja denger semuanya."                 "Terus? Lo mau ketawa, ya? Bahagia karena gue ternyata sangat menyedihkan."                 "Iya, gue sebenernya mau ketawa, tapi ternyata nggak bisa. Gue nggak sejahat itu..."                 Stella berdecih. "Dasar sok baik."                 "Dasar sok jahat," balas Bram menyengir. "Apa lo nggak capek, pura-pura jahat mulu di depan gue?"                 "Siapa yang pura-pura? Gue beneran jahat! Gue bener-bener benci sama lo, Bram." Stella membuang pandangannya ke arah lain.                 "Karena gue pendek, ya? Memangnya jadi orang pendek itu, hina banget ya, di mata lo?" tanya Bram sedikit dramatis. Oh, mungkin ketularan Guntur.                 Perasaan tidak enak, langsung menghampiri Stella. "Nggak. Sebenernya bukan karena lo pendek. Gue sebenernya ... suka kalau berhasil buat lo kesal. Makanya gue sering ngehina lo pendek."                 Bram langsung terbatuk. "Aduh, gue nggak salah denger, nih?"                 "Terserah, sekarang lo jadi tau semuanya. Puas?"                 Tanpa diduga, Bram tersenyum tipis dan tangannya merapihkan rambut Stella. "Lo sama Disa habis ngapain, sih? Rambut lo jadi kayak habis kesamber petir gini," ejek Bram.                 Stella akhirnya berani melihat wajah Bram. Dan rasanya aneh, melihat Bram tetap tersenyum, walau tadi ... ia sudah menghina Bram habis-habisan di kantin. Hati Bram terbuat dari apa, sih?                 "Bram, lo nggak marah sama gue? Soal surat itu, gue minta maaf. Gue kira, itu beneran dari lo."                 "Ohh, lo udah tau, surat itu dari siapa?"                 Stella mengangguk. "Guntur. Dia yang ngaku tadi."                 "Terus?"                 Stella mengernyit. "Terus apa maksudnya?"                 "Lo nggak narik kerah seragam Guntur juga? Atau tampar, gitu? Atau ... jelek-jelekin dia di depan umum kayak ke gue tadi?"                 Stella menggeleng. "Gue ngerasa biasa aja saat tau ternyata surat itu dari Guntur."                 "Hmm, jadi sebenci itu ya, lo sama gue? Gue punya dosa apa sih sama lo, Stell?" Bram menutup wajahnya dengan satu tangannya.                 "Eh, sebenernya ... nggak gitu, kok. Maaf, gue juga nggak ngerti. Kok gue tadi marah-marah, ya? Aduh, bodoh banget. Gue lagi PMS. Sori." Stella panik, dan menyentuh pundak Bram.                 Namun, tiba-tiba, Bram terkekeh geli. "Jangan panik gitu, dong. Gue gapapa, kok."                 "s****n, gue kira lo beneran sedih!"                 "Tadi sih, gue bener-bener sedih. Makanya gue ke sini, buat tenangin diri gue. Tapi, sejak lihat lo nangis, gue ngerasa ... lo jauh lebih sedih daripada gue," ucap Bram serius.                 Stella menghela napas. "Gue tadi berantem sama Disa. Jambak-jambakan gitu di toilet. Dan yang bikin gue sedih, bukan karena kepala gue jadi sakit. Tapi, karena tadi gue lihat Troy khawatir banget sama Disa. Gue jadi ngerasa begitu menyedihkan. Pasti lo juga mikir gue gitu, kan?"                 Bram menggeleng. "Gue nggak pernah mikir kalau lo itu menyedihkan. Lo selalu gue cantik, Stell."                 "Jangan gombal, Mas." Stella memutar bola matanya.                 "Gue serius. Tapi, coba deh, lo lebih sering senyum. Pasti lebih cantik."                 "Senyum?"                 Bram mengangguk. "Iya, karena dengan tersenyum, lo bisa menghilangkan kesedihan, dan menyembunyikan luka. Tersenyum juga jauh lebih baik, daripada marah-marah." jawab Bram, lalu tersenyum lebar. "Sebentar lagi bel masuk, yuk ke kelas."                 Saat Bram bangkit berdiri, Stella menyentuh tangan Bram. "Bantuin gue berdiri, dong."                 Bram terkekeh. "Aduh, tuan putri tenyata manja banget." Bram mengulurkan tangannya, dan menarik tangan Stella. Tapi, saat Stella berhasil beriri, kakinya sedikit tersandung, hingga Bram harus memeluk pinggang Stella agar tidak jatuh. "Hati-hati, Stell."                 Stella masih terdiam, dan melihat wajah Bram dari dekat. Kenapa ia baru sadar sekarang, kalau ternyata ... Bram ganteng.                 Jantung Bram rasanya mau copot, karena wajahnya diperhatikan Stella dari jarak sedekat ini. Untungnya, dia punya ide. Bram langsung meniup mata Stella, agar gadis itu berkedip.                 "Lo ngapain? Ada yang aneh di wajah gue, ya?" tanya Bram menahan tawa.                 "Hah? Nggak ada. Ih, lepas!" Stella baru sadar, kalau posisinya dengan Bram ternyata sangat dekat. Seperti di sinetron saja!                 "Gue nggak modus, ya! Lo tadi hampir jatuh, Stell..."                 "Bodo. Lo pasti modus. Dasar jomblo!" Stella dengan salah tingkah, berjalan meninggalkan Bram.                 Lelaki itu tersenyum lebar, lalu menggaruk kepalanya dengan bingung. "Bukannya dia juga jomblo? Dasar Stella..." *** Bram mengajak Disa untuk bicara berdua di lapangan, setelah pulang sekolah. Sebenarnya,Bram harus latihan band, tapi ia ingin mengobrol dulu sebentar dengan Disa.                 "Makasih, lho." Bram mulai bicara, dan tersenyum geli. "Gue nggak nyangka, lo mau belain cowok biasa aja kayak gue."                 "Apaan, sih? Gue belain lo, karena lo nggak salah. Lagipula, gue bener-bener muak sama kelakuan Stella di kantin tadi. Dia keterlaluan sama lo." Disa merengut kesal, dan melipat tangannya di depan perut. Disa dan Bram berdiri di pinggir lapangan.                 "Dia nggak sejahat itu, kok. Mungkin dia lagi ada masalah, dan surat itu bikin dia kesal, terus dia jadi ngelampiasin gitu ke gue."                 "Lo nggak sakit hati? Dia udah buat lo malu, Bram." Disa menaikkan satu alisnya.                 "Sakit hati? Dia udah berkali-kali bikin gue sakit hati. Jadi, sekarang gue udah kebal. Hehe." Bram menyengir lebar.                 "Lo ternyata nggak jauh berbeda sama Troy. Terlalu baik. Sumpah, sifat kalian yang kayak gitu, bikin gue iri."                 Bram terkekeh. "Lo harus maafin Stella. Rasanya memaafkan itu luar biasa, lho!"                 "Ogah. Gue nggak mau maafin cewek jahat kayak dia." Disa mendengus.                 "Stella tadi udah minta maaf ke gue. Kita nggak sengaja ketemu di perpus." Bram menggaruk tengkuknya. Mengingat kejadian di perpustakaan tadi, membuatnya salah tingkah.                 "Bagus, lah. Tuh cewek berarti dengerin perkataan gue."                 Bram tertawa pelan, dan mengacak rambut Disa. "Ampun, deh. Lo sangar banget, gue jadi takut."                 "Ih, rambut gue jadi berantakan lagi!" Disa memukul bahu Bram dengan keras.                 "Rapihin rambut gue! Buruan!"                 "Aduh, gue harus latihan band, nih!"                 "Jangan kabur! Buruan rapihin rambut gue!" Disa menahan lengan Bram, saat lelaki itu hampir mau kabur.                 "Iya, deh." Bram merapihkan rambut Disa dengan setengah hati, "Lucuan kalau acak-acakan, Dis. Jadi kesannya seksi gitu..."                 "Seksi pala lo benjol! Yang ada, gue kayak orang gila."                 Bram tertawa. "Orang gila yang seksi, Dis."                 "Bodo amat, Bram. Lo yang gila!"                 Dari kejauhan, Stella melihat Bram dan Disa di lapangan, sedang tertawa bersama. Ternyata, Bram juga merapihkan rambut Disa.                 Lo ternyata baik sama semua orang ya, Bram? Harusnya gue ngerti...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN