Bab 9

1517 Kata
Bram masuk ke dalam studio musik, dan langsung disambut wajah masam dari teman-teman satu band-nya.                 "Sori, telat." Bram meringis dan menggaruk belakang kepalanya.                 "Kita udah lama nunggu, lo ke mana aja, sih?" Guntur mendengus dan membuang bungkus keripik kentang yang ada di tangannya ke tempat sampah terdekat.                 "Gue sampai ngantuk, Bram. Astaga..." Troy menutup mulutnya, saat ia menguap dengan lebar.                 "Profesional dikit, dong. Jangan kayak bocah." Oh, akhirnya Nico bersuara! Mood Bram jadi semakin buruk saja.                 Bram menghela napas, dan ia melihat Stella sedang membaca buku di sofa yang bebeda dengan yang lain. Stella tidak mengatakan apapun. Tidak marah-marah, ataupun menyapa Bram yang terlambat.                 "Gue tadi ada urusan. Erm ... ayo kita mulai aja," ujar Bram meringis, dan menaruh tas ranselnya di dekat Guntur.                 "Urusan, ya?" Stella akhirnya bangkit berdiri, dan berdecak. "Lo bisa izin dulu, 'kan? Jangan seenaknya sendiri, lo pikir, band ini punya nenek moyang lo?"                 Rahang Bram mengeras, entah kenapa, kata-kata Stella begitu menyakitkan lagi. "Maaf, Stell."                 "Jangan diulangi lagi, yaudah ayo mulai latihan. Jangan buang-buang waktu." Stella menyuruh yang lain untuk bersiap di posisi masing-masing.                 Nico sudah memegang standing mic, Troy sudah memegang gitar, Guntur juga sudah duduk dan memegang stick drum kesayangannya. Tapi, Bram masih diam dan memandang Stella dengan bingung. Stella kembali jutek padanya, padahal tadi di perpustakaan, ia sudah lumayan baik. Iya 'kan?                 Masa hanya karena terlambat latihan, Stella semarah ini pada Bram?                 "Bro! Buruan, kenapa malah bengong?" Guntur berteriak, menyadarkan Bram yang sedang melamun.                 "Eh, iya." Bram buru-buru mengambil bass, dan berdiri di sebelah kiri Nico.                 "Lagu latihan kali ini apa?" tanya Bram, saat Troy baru mau mulai memetik gitar.                 "Astaga, Bram..." Troy menggeleng prihatin. "Gue lupa kalau lo tadi nggak ikut diskusi. Sori. Hehe."                 "Jangan minta maaf, Troy. Salah dia sendiri terlambat," ucap Stella sinis.                 "Stell, gue harus minta maaf berapa kali, sih? Iya, gue salah! Gue janji nggak akan terlambat lagi. Sekarang kasih tau, kita mau bawain lagu apa?" Bram merasa gemas dengan tingkah Stella yang terus menyalahkan dirinya.                 "She looks so perfect by 5Sos." Nico berujar datar. "Udahlah, Stell. Bram cuma terlambat, nggak usah lebay gitu marahnya."                 "Lebay? Terserah, gue cuma mau menjalankan tugas. Gue nggak suka sama orang yang nggak disiplin. Itu aja."                 "Oh, Nona OSIS hanya menjalankan tugas? Yakin?" Nico semakin membuat suasana panas.                 "Apa masalah lo sih, Nic?!"                 "Lo lebay, gue nggak suka!"                 "Ini demi kebaikan kalian!"                 "Jangan sok ngatur!"                 Bram menutup telinga, dan memejamkan matanya. "Cukup!" Napas Bram terengah-engah, ia tidak suka mendengar pertengkaran. Itu membuatnya merasa sesak.                 Dengan cepat, Bram menaruh bass-nya kembali, dan keluar dari studio musik. Tentunya dengan membanting pintu.                 "Puas kalian? Bram jadi pergi, karena kalian bertengkar. Dia tuh nggak bisa denger orang bertengkar." Guntur bangkit berdiri, dan berniat menyusul Bram. Ia tahu, Bram sedikit trauma.                 Stella memijat pelipisnya. "Jangan, Guntur. Gue aja yang nyusul dia," ucap Stella lalu keluar dari studio musik.                 Jujur, Stella merasa bersalah. Tapi, ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia merasa sangat marah pada Bram, saat melihat lelaki itu bersama musuhnya. Disa.                 Cemburu? Tidak mungkin.                 Bram sedang mengatur napasnya dan duduk di lantai dekat ruang studio musik. Ia benar-benar kacau. Ia teringat dengan kedua orang tuanya yang pernah bertengkar hebat dulu.                 "Bram, ayo masuk. Gue janji nggak akan marah-marah lagi."                 Stella melipat tangannya dan berjalan mendekati Bram. Tapi, lelaki itu tetap diam dan memandangi tangannya yang gemetar. "Bram? Are you okay?"                 "Never." Bram memejamkan mata, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. "Maaf, gue nggak bisa profesional. Lebih baik, gue keluar dari band aja."                 Dahi Stella mengernyit. "Lo nggak betah di band, karena ada gue, ya?"                 "Bukan, Stell."                 "Terus?"                 Bram menghela napas. "Duduk sini sama gue." Ia menepuk tempat di sebelahnya.                 "Kalau gue nggak mau, gimana?"                 "Gue nggak mau cerita, kalau lo tetap berdiri begitu. Lo nggak capek?"                 "Fine!" Stella akhirnya mengalah, dan duduk di sebelah Bram. "Lo sebenernya kenapa, sih?"                 "Harusnya gue yang nanya gitu ke lo, Stell." Bram terkekeh pelan. "Lo tadi kembali menjadi Stella yang pura-pura jahat. Padahal tadi di perpus, kita udah cukup akrab."                 Akrab? Benarkah?                 "Gue cuma nggak suka lo terlambat, dan dateng latihan sesuka hati," jawab Stella datar.                 "Gue ada urusan, dan gue udah minta maaf. Kenapa lo kayak masih marah banget?"                 "Urusan? Sama Disa 'kan?"                 Bram menoleh, dan melihat Stella yang terlihat kesal. "Kok tau sih, tadi gue sama Disa?"                 "Gue lihat lo, dan..."                 "Dan apa? Kesal? Jadi gitu, ya?" Bram mengusap dagunya.                 "Apa, sih? Gue nggak cemburu!"                 "Yang bilang lo cemburu tuh, siapa? Gue nggak nuduh lo cemburu, kok." Bram terkekeh.                 Wajah Stella rasanya memanas. "Emangnya lo ngapain tadi sama Disa?"                 "Ngobrol."                 "Yakin? Ngobrol apa? Kok kelihatannya bahagia banget?!" Stella menutup mulutnya, saat sadar, ucapannya terdengar begitu posesif. Ada yang salah dengan otaknya.                 "Lo lucu banget, sumpah." Bram tertawa pelan. "Ih, cute"                 "Apaan, sih?! Nggak lucu. Gue ... nggak cemburu."                 "Cemburu juga gapapa, gue nggak keberatan." Bram menyengir jahil. "Muka lo sampai merah gitu."                 "Muka gue merah, karena kesal! Lo ngeselin."                 "Oke, percaya, kok." Bram mengangguk mengerti. "Lo tuh pinter berpura-pura, ya? Di depan yang lain tadi, lo kelihatan benci banget sama gue. Tapi, sekarang..."                 "Sekarang kenapa? Gue sama aja. Gue benci sama lo. Benci banget!"                 Bram malah tersenyum melirik Stella. "Benci, ya? Yaudah, gue keluar dari band aja, deh. Lo benci banget sama gue 'kan?"                 "Eh, jangan!" Tanpa sadar, Stella menyentuh lengan Bram. "Gue ... nggak benci sama lo, kok! Gue cuma bercanda."                 Bram lagi-lagi tertawa. "Iya, iya. Gue juga bercanda. Santai aja. Nggak usah panik."                 Di saat mereka berdua terdiam beberapa menit, Bram tiba-tiba mengembuskan napas leganya. "Bisa nggak, kita kayak gini terus?"                 Stella mengernyit. "Maksudnya?"                 "Tanpa marah-marah, dan kita bisa jadi diri kita sendiri." Bram memejamkan mata, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Stella. Bram kira, Stella akan marah dan langsung memukul kepalanya. Tapi, ternyata tidak.                 "Gue nggak bisa." Stella menghela napas. "Gue udah terbiasa berpura-pura. Gue emang harus galak, biar nggak dianggap lemah."                 "Lemah?" Bram mengernyit. "Menjadi lebih baik, bukan berarti lemah. Gue nggak tau apa masalah lo, tapi gue ... nggak mau lihat lo berpura-pura terus."                 Hati Stella merasa hangat mendengar ucapan Bram yang terdengar lembut. "Lo harusnya nggak usah baik sama gue, Bram. Gue selalu jahat sama lo."                 "Ralat, pura-pura jahat."                 Stella mendengus geli. "Terserah, deh. By the way, kata Guntur, lo nggak suka denger orang bertengkar, ya?"                 Bram mengangguk pelan. "Iya."                 "Kenapa?"                 "Kapan-kapan gue ceritain, tapi jangan sekarang, ya. Gue nggak mau lo jadi kasihan sama gue."                 Kasihan?                 Stella melirik Bram yang masih bersandar di bahunya. "Bram, udah kali. Berat."                 "Eh, iya. Sampai lupa." Bram kembali duduk dengan benar, dan mengusap tengkuknya dengan canggung.                 "Lo udah baikan 'kan?" tanya Stella.                 "Iya, ayo latihan." Bram tersenyum lebar, bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya untuk membantu Stella berdiri.                 "Thanks." Stella tersenyum, menerima uluran tangan Bram.                 Saat mereka berdua masuk ke dalam studio musik, keduanya saling berpandangan bingung, karena melihat ketiga temannya malah tertidur.                 Guntur dan Troy tidur di sofa, dan tentu saja Guntur menyandarkan kepalanya ke bahu Troy. Mulutnya juga terbuka lebar. Sedangkan Nico, ia memilih berbaring sendiri di sofa yang lain, dengan lengan yang menutupi wajahnya.                 "Kita kelamaan ngobrol ya, Stell?"                 "Kayaknya sih, iya."                 Bram terkekeh. "Gara-gara gue, kita kayaknya batal latihan. Udah sore."                 "Yaudah, bangunin mereka, gih. Gue mau pulang."                 "O-oke." *** Bram menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup sederhana. Ia melirik seseorang yang duduk di sebelahnya. "Bangun, Nyet. Udah nyampe."                 Guntur terbangun cukup terkejut. "Ganggu mimpi orang aja, sih! Tadi gue mimpi hampir ciuman sama Stella."                 "Well, mimpi yang menggelikan," cibir Bram geli, membayangkan Stella dicium oleh Guntur. "Jangan mimpi gitu lagi, Bro."                 "Kenapa? Cemburu?"                 Bram menoleh cepat ke Guntur. "Cemburu? Apaan, sih? Ngaco."                 "Tenang, Mas Bram. Gue orangnya setia, kok. Stella emang cantik, tapi di hati aku cuma ada kamu, Mas."                 Bram membuka kaca jendelanya, dan berlagak muntah. "Huwek, sekali lagi, lo bicara seperti homo, gue akan menendang p****t lo itu!" ancam Bram dengan tegas. Guntur tertawa puas. "Mau dong ditendang..."                 Saat Bram melototi Guntur dengan galak, dengan buru-buru, Guntur langsung keluar dari mobil. "Daah! Sampai berjumpa besok, Sahabatku!"                 Bram mendengus. Dan terus memerhatikan Guntur hingga masuk rumah, ternyata ibunya Guntur yang membukakan pintu. Ia selalu disambut dengan hangat oleh ibundanya. Sangat berbeda dengan Bram, yang selalu pulang dan disambut oleh kesepian.                 "Guntur beruntung." Bram melajukan mobilnya, untuk pulang. Tidak terlalu jauh dari rumah Guntur, sih.                 Setelah memarkirkan mobil di garasi, Bram masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Hanny lagi-lagi belum pulang. Pasti sedang kerja kelompok, deh.                 Bram terus berjalan, dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang besar dan empuk. "Haaaahh..." Bram mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar lelah.                 "Den Bram sudah pulang? Mau Bibi buatkan s**u hangat?"                 Bram memandang Si Bibi dengan datar. "Bibi ngeledek saya, ya?"                 "Nggak, Den."                 "Kali ini, buatin saya jus jeruk aja. Saya mual dengan s**u, Bi." Bram memejamkan matanya, dan tanpa sadar, ia malah ketiduran selama beberapa menit.                 "Den! Ada telepon dari Tuan! Bangun, Den."                 Bram mengernyit, lalu matanya terbuka. "Mana?"                 Si Bibi memberikan telepon rumah pada Bram, yang masih berbaring malas di sofa. "Ada apa, Pih?"                 "Bram, nanti malam akan ada tamu spesial. Kamu harus siap-siap sama Hanny. Kalian harus terlihat manis, oke? Papih punya kejutan..."                 "Kejutan?"                 "Iya, kalian pasti terkejut."                 Kayaknya, Bram nggak akan terkejut, Pih...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN