Bram mengunci dirinya di kamar, dan tidak memedulikan ketukan pintu dari Joni--papinya. "Bram, ayolah. Jangan menghindar terus. Kali ini, Papi benar-benar serius..." Bram menutup telinganya dengan bantal, dan tetap diam. Ia berharap, papinya cepat menyerah untuk memaksanya keluar dan menemui calon ibu tirinya. "Yasudah! Asal kamu tahu, Hanny lagi ngobrol sama calon istri Papi. Dan dia terlihat bahagia. Nggak kayak kamu, Bram..." Joni akhirnya menyerah, dan menjauh dari pintu kamar putra satu-satunya itu. Dalam hati, Bram kesal dengan sikap adiknya yang terlalu manis. Apa ia semudah itu menerima calon istri papi? Bram tidak bisa melupakan ibu kandungnya, walau sudah bertahun-tahun berlalu, tapi perasaan kehilangannya belum

