Putusnya Pertunangan

1755 Kata
Sudah dari lima menit yang lalu Keenan memandangi ponsel miliknya. Laki-laki itu mulai gelisah, sebab beberapa panggilan dan pesan darinya tak kunjung ada balasan dari Sinta. Dia jadi berpikir apa lagi kesalahannya kali ini? Keenan ingin langsung menemui Sinta di kantor sebelah, tetapi itu bukan ide yang bagus. Bisa-bisa Sinta malah tambah marah kepada dirinya. Dia benar-benar serba salah, bahkan saat berkunjung ke apartemen Sinta saja, jika tidak janjian terlebih dulu dia tidak akan bertemu dengan kekasihnya. Ya, memang begitu kenyataannya. Apa kata-katanya kemarin melukainya? Tetapi, setelahnya Sinta tetap bersikap biasa saja. Mereka juga sempat janjian bertemu, ya, walaupun mendadak wanitanya memang membatalkannya. "Kerja ... kerja ... jangan mantengin HP terus! Kayak punya pacar aja," sindir Adit. "Usil banget lo jadi orang, Dit!" Adit terkekeh. "Habisnya lo kan yang biasanya yang nyuruh-nyuruh kita kerja. Eh, situ sekarang malah yang melamun sambil pegang HP. Jangan berlagak punya pacar deh ... lo kan jomblo." Keenan melengos. Ia sedang malas untuk berdebat dengan Adit kali ini, karena suasana hatinya sedang kurang baik. Jika terus saja ia ladeni, maka Adit juga akan terus berbicara. Hal itu akan membuat kepalanya semakin mendidih. "Eh, Keenan nyuekin gue, Ben...." Kini gantian Beni sekarang yang melengos, tidak memperdulikan Adit. "Kalian pada kenapa sih? Gak asyik banget!" Adit menatap Keenan dan Beni bergantian. Mengusap dagunya seolah sedang menganalisa. Kenapa kedua temannya ini mendadak memasang mode seperti sedang tidak ingin diganggu? Biasanya juga mereka berdua selalu seru, walau dia berbicara hal yang tidak penting sekali pun. Ana memanggil.... "Halo ada apa, An?" "Tolongin gue, Keen." Keenan spontan berdiri. Ia mendadak diserang rasa khawatir yang berlebihan mendengar suara Ana yang tidak seperti biasa. Perempuan itu menghubungi dirinya saja, itu sudah sangat aneh. "Lo kenapa? Enggak kenapa-kenapa, kan? Ada masalah?" "Nyokap lo ke kantor, mau ngajak fitting baju pengantin katanya. Gue disuruh izin pulang lebih awal masak ... dan yang lebih gawat lagi, kita nanti mau mampir ke kantor lo. Katanya mau ngajak lo sekalian juga. Mampus, kan!" Keenan menghembuskan napas lega, setidaknya tidak terjadi apa-apa dengan Ana. Perempuan itu baik-baik saja, tetapi, tunggu.... "Apaaaa!" Dia yang tidak akan baik-baik saja, jika mamanya sampai datang ke kantor. "Gue ... gue nyusul ke kantor lo! Jangan sampai mama ke sini, ok? Ulur waktu dulu, An...." Keenan merapikan mejanya lalu bergegas pergi. Teman-temannya dibuat melongo dengan adegan telepon Keenan, yang menurut mereka terlalu berlebihan. Seperti bukan kawannya yang biasanya. Siapa pun dapat mendengar apa yang tadi dibicarakan oleh laki-laki itu, sebab suaranya benar-benar menggelegar dalam suasana sunyi yang teman-temannya lain sibuk dengan pekerjaannya. "Dia ngerasa kantor ini rumahnya sendiri kayaknya, ya? Ngadi-ngadi tuh anak kalau telepon. Anak itu pikir, emang kantor ini milik keluarganya, apa ...," gerutu Raka. "Dia pengen dapat SP kayaknya," sambung Adit. Laki-laki itu lalu menyenggol lengan Beni yang ternyata juga tengah menatap kepergian Keenan. "Ana? Nama cewek bukan, sih?" Raka menatap Adit meminta jawaban. Adit langsung tersadar. mereka berdua saling tatap, detik berikutnya tersenyum satu sama lain. Melihat Beni menatap kepergian Keenan dengan raut wajah aneh, Adit yang penasaran mencoba bertanya kepada Beni. Akan tetapi Beni lagi-lagi tidak meresponsnya. Laki-laki itu malah menampilkan ekspresi marah. Ada apa dengan mereka berdua? Batin Adit penasaran. Saking buru-burunya, Keenan sampai tidak merespons saat tanpa sengaja ia berpapasan dengan Sinta. Membuat Sinta bertanya-tanya mungkinkah Keenan marah sebab dia tidak membalas pesannya? "Keen!!" Akhirnya Sinta berinisiatif mengejar kekasihnya itu juga. Keenan menoleh menghentikan langkahnya. "Aku mau minta maaf." Keenan mengernyit masih belum menyadari apa yang dimaksud oleh Sinta, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat, ada hal yang lebih penting. "Iya aku maafin. Aku pergi dulu ya, Sin? Ada urusan penting,” sahut Keenan yang terlihat buru-buru. Sinta terdiam menatap kepergian Keenan, apa hal yang lebih penting selain dirinya? Pikirnya. Keenan memasuki kantor tempat Ana bekerja dengan napas putus-putus sembari menghubungi wanita itu. "An, uda ada di lobi gue." "What! Lo terbang?" "Gue pinjam pintunya Doraemon, hehee...." Keenan mendengar Ana tertawa di seberang sana."Nyokap gue mana?" "Lagi ngobrol sama Cika. Kita nanti langsung ke butiknya Cika atau lo mau ke ruangan gue dulu?" "Gue tunggu aja di lobi cepetan! Capek gue." "Ok, tunggu." * "Ada beberapa pilihan gaun, An. Lo harus coba semuanya." Ana speechless melihat berbagai macam gaun pengantin yang berjejer di hadapannya. Dia heran sejak kapan temannya ini menyiapkan gaun-gaun itu untuk dirinya. "Malas gue mencoba semuanya," bisik Ana kepada Cika, takut kalau-kalau mama Keenan sampai mendengar ucapannya. Ana tidak ingin seperti Keenan yang baru saja terkena omel, karena terlalu banyak berkomentar ketika harus mencoba berbagai macam baju yang dipilihkan oleh sang mama. Keenan Mau meninggal gua.... Ana Sama. Keenan Cepat keluar! Uda gak kuat. Bendera putih mana ... bendera putih. Ana Lebay lo! Keenan Cepetan, An! Sebelum gue ditendang sama nyokap! Ana terkikik, memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas, ia lalu keluar dari kamar ganti. Perempuan itu rasanya juga hampir ingin meninggal begitu melihat tampilan Keenan yang ada di hadapannya. Cika menyenggol lengan Ana. "Lo mingkem dikit napa jangan malu-maluin." Ana melotot ke arah Cika. Kelihatan sekali memang, jika dia sedikit terpesona? Keenan yang sehari-hari memang sudah memakai jas ataupun kemeja, entah kenapa saat memakai baju pengantin terlihat sekali perbedaannya. "Ganteng ya, Keenan?" Cika menyenggol lengannya sekali lagi "Iya Cik kok ganteng jodoh orang." "Jodoh lo itu dodol!" "Emang gue apa? Gue orang, kan?" Cika terkikik. Saking absurdnya, dia lupa jika Ana juga manusia. "Gue suka lupa kalo lo juga manusia, An." "Waaah mantu Mama cantik sekali ... iya kan, Keen?" Mama Keenan berjalan mendekati Ana dan langsung mengamit lengan wanita itu. "Eh ... i-iya ... Ma." Keenan hampir tersedak ludahnya sendiri sebenarnya, begitu Ana keluar dari kamar ganti dengan menggunakan gaun berwarna putih itu. Akan tetapi ia tidak bisa dong menampilkan wajah terpesonanya dengan terang-terangan, karena perempuan itu pasti akan besar kepala. "Cantik...," ucap Keenan tanpa sadar. Bibirnya ternyata menghianati pemiliknya sendiri. Ana malah menyipitkan kedua matanya menatap Keenan curiga. Buru-buru perempuan itu menatap Cika. "Gue aneh, ya?" Jika Keenan mengatakan dirinya cantik, maka itu artinya sebaliknya. Cika tentu saja menggelengkan kepala. Menurutnya Ana memang tampak cantik dengan gaun rancangannya. "Oke gaun selanjutnya!" seru sang mama. Ana menyenggol-nyenggol lengan Cika, berharap sahabatnya itu memberikan solusi kepada dirinya. Akan tetapi dasar sahabatnya itu kurang peka. Walau dia senggol sampai nyungsep pun tidak berpengaruh apa-apa. "Ini Ana suka banget kok, Ma. Ana tadi juga sudah mencoba beberapa, dan ini yang paling pas." Gila aja dia harus mencoba semua gaun yang jumlahnya lebih dari tujuh itu. Dan lagi dia juga tidak pernah memakai gaun-gaun itu. Kelanjutan hubungan antara dirinya dengan Keenan saja dia tidak tahu. Buang-buang waktu sekali, kan? "Begitu?" sahut mama Keenan terlihat tampak kecewa. "Kalo kurang srek Ana sama Keenan bisa kesini sendiri kok, Ma." Ana buru-buru meralat ucapannya saat melihat raut kecewa dari mama Keenan. Sedetik kemudian raut wajah mama Keenan langsung berubah ceria. "Oke kalau begitu Mama setuju. Keenan anter Ana, ya? Mama ada urusan sama Cika. Keenan mengangguk patuh, bagaimana pun juga titah baginda ratu tidak bisa terbantahkan. "Makan dulu deh, ya? " Keenan memberhentikan motornya ke sebuah restoran seafood. Plaaaak!!! "Sinta!" Ana hampir saja terjungkal saking tidak siapnya menerima tamparan mendadak dari Sinta. Perempuan itu memegangi pipinya yang mulai terasa merah dan berdenyut. "Lo dasar ya suka sekali merebut apa yang gue miliki!" "Kamu apa-apaan sih, Sin!" Keenan mencoba menengahi. Campur aduk rasanya saat melihat pipi Ana terlihat kemerahan akibat ulah kekasihnya. "Jadi urusan penting ini? Ketemu sama Ana? Kalian ada main apa di belakang aku sih sebenarnya?" Sinta tadi sengaja mengikuti Keenan, karena penasaran dengan sikap aneh dari sang kekasih. Ternyata benar, feelingnya tidak pernah salah. Ana menggigit bibir bawahnya. Dia tidak ingin menangis, tetapi entah kenapa air matanya malah terjatuh. Dia sama sekali tidak pernah diperlakukan sejahat ini, sekalipun dengan mantan kekasihnya apalagi orang tuanya yang membesarkannya. Bisa-bisanya ini orang lain yang sebatas hanya tahu dirinya, malah melakukan hal jahat kepada dirinya. "An, lo gak apa-apa? Sakit?" Ana berdecak mendengar pertanyaan konyol Keenan. Harusnya ia menertibkan kekasihnya itu. "Asal lo tahu Sin, gue itu tunangannya cowok yang katanya pacar lo itu!" Ana menaikkan ujung bibirnya ke atas. Ia penasaran, menunggu reaksi apa yang akan ditampilkan Sinta selanjutnya. Ana melipat kedua tangannya di d**a. "Harusnya yang nampar lo itu gue. Lo kan pacaran sama tunangan gue? Tapi kalau mau ambil, ambil aja deh." Ana mengibaskan tangan tepat di hadapan wajah Sinta, lalu berniat untuk segera pergi. Akan tetapi saat baru ia akan melangkah, Keenan menahannya. "Maksud lo apa?" Keenan jelas tidak terima dengan perkataan Ana yang dengan mudah menyerahkan dirinya kepada Sinta. Memang perempuan itu kira dia apa? Barang? Apa Ana tidak merasa sedih? Harusnya perempuan itu mempertahankannya. Bukan karena dia ingin bertunangan dengannya, tetapi hanya saja ... entahlah! Ana kaget melihat Keenan yang tiba-tiba malah berbalik marah kepada dirinya. Mencoba mengontrol emosi, ia mencoba menatap laki-laki itu. Bukan kah harusnya laki-laki itu senang? Ini kan yang dia inginkan? "Sekarang lo bebas berkencan dengan cewek lo itu. Gue bakalan bilang orang tua gue kalau pertunangan kita batal, jadi lo gak perlu khawatir lagi. Oh ya, urusin tuh cewek gila lo itu. Enak aja main tampar-tampar!" Ana menghentakan cekalan tangan Keenan. "An...," panggil Keenan serba salah. Berusaha lagi ia mencekal tangan Ana. Bukan perpisahan seperti ini yang dia harapkan. "Kita bisa ngomong baik-baik, An," mohonnya. "Dasar sialan!" Sinta tidak bisa lagi melihat drama yang baru saja ditampilkan oleh sang kekasih dan musuhnya itu. Ia berusaha kembali akan menampar Ana, tetapi kali ini usahanya digagalkan oleh Keenan, kekasihnya. Keenan menggertakkan giginya. "Ini bukan salah Ana, Sin!" Yang salah itu dirinya, yang tidak jujur selama ini sedari awal. "Sejak kapan? Kenapa kamu gak bilang sama aku?" "Udah lah urusin urusan lo itu gue mau pergi!" Ana berusaha melepas cekalan tangan Keenan sekali lagi. Keenan hendak menyusul Ana, saat perempuan itu berhasil melepaskan diri. Akan tetapi Sinta buru-buru menahannya. "Kenapa kamu gak bilang?" ulang Sinta lagi. "Gak penting juga, Sin." Keenan masih berusaha mencari keberadaan Ana yang masih sedikit terlihat dari kejauhan. Laki-laki itu mengusap rambutnya kalut, begitu Ana sudah tidak lagi terlihat. "Kamu suka sama Ana?" Keenan kembali menoleh ke arah Sinta. "Bukan gitu Sayang...." "Aku mau balik kantor!" Keenan memejamkan matanya sebentar, sedikit mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. "Barengan sama aku," ucapnya pada akhirnya. "Gak perlu!" Keenan mencekal pergelangan tangan Sinta. "Jangan kayak gini, Sin. Ayo aku antar!" Ponsel Keenan bergetar saat ia baru saja memarkir motornya di parkiran kantor. Ana Lo uda bebas. Keenan buru-buru menelepon Ana begitu ada satu pesan dari wanita itu, akan tetapi sampai panggilan kelima pun tidak ada tanda-tanda wanita itu akan mengangkatnya. Ponselnya kembali bergetar tapi kali ini bukan panggilan dari Ana, melainkan dari sang mama. "Iya Ma. Keenan segera pulang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN