Keenan berusaha memejamkan kedua matanya, tapi nihil usahanya sia-sia. Mungkin karena beberapa masalah tidak mampu ia selesaikan dengan baik. Tidak seperti pekerjaannya yang selalu dapat ia cari jalan keluarnya. Urusan kantor ternyata lebih mudah daripada urusan kehidupannya.
Setelah kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu, sekarang Keenan tidak lagi bisa menghubungi Ana. Wanita itu tidak pernah mengangkat panggilan darinya atau pun membalas pesannya.
Pertunangan mereka benar-benar sudah batal. Untung saja statusnya sebagai anak dari kedua orang tuanya juga tidak ikut menjadi batal. Karena, ya mungkin bukan dia yang memutus pertunangan itu, melainkan Analah yang memutuskannya. Entah apa alasan yang dibuat dari perempuan itu, dirinya juga tidak tahu karena kedua orang tuanya pun tidak mengatakannya.
Hubungan Keenan dengan Sinta setelah itu juga tidak pernah ada masalah. Walau sikap kedua orang tuanya agak terlihat sedikit berbeda. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Intinya semua sudah kembali seperti semula. Seharusnya.
Seharusnya Keenan sekarang sudah bisa menikmati hidupnya, kebebasannya, tanpa adanya permintaan aneh-aneh dari sang mama. Dia sendiri jadi memiliki lebih banyak waktu untuk bertemu dengan Sinta kekasihnya. Meski tetap hubungan mereka masih backstreet dari orang tua Keenan. Soal mata-mata, untuk sementara ini dirinya juga masih bisa mengatasinya.
Keenan memainkan lampu tidur yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya. Perlahan kedua mata miliknya pun mulai terpejam pada akhirnya.
Belum sempat rohnya menaiki pesawat untuk berkeliling dunia, suara dering ponsel mengganggu tidurnya.
"Iya hallo."
"Kak Keen, Kakak sudah tidur? Maafin Tiara ya ganggu. Orang rumah pada gak ada yang bisa dihubungi. Kak Ana juga. Kakak bisa bantu Tiara, gak?"
"Kenapa, Ra?"
"Tolong bisa jemput Tiara gak, Kak? Hari ini Tiara pulang kuliahnya malaman, mau naik angkutan umum takut."
"Ok ... ok tunggu di sana."
Dua jam kemudian Keenan dan Tiara sudah berada di depan kediaman Tiara.
"Makasih ya, Kak. Maaf banget jadi ngrepotin." Tiara tidak menyangka jika mantan tunangan kakaknya itu masih saja mau membantu dirinya. Padahal dirinya hanya iseng saja menghubungi laki-laki itu. Kalau pun mantan tunangan kakaknya itu tidak bisa dihubungi pun, dia masih memiliki teman-temannya untuk mengantarnya.
Ada hal lain yang sebenarnya menjadi alasan Tiara menghubungi Keenan. Yaitu teman-temannya. Perempuan itu pamer kepada teman-temannya, mengatakan jika dia memiliki calon kakak ipar mirip banget dengan Jeon Jung-kook anggota boy band korea favorit kawan-kawannya.
Maka dari itu, jika mereka ingin melihat calon kakak iparnya mereka harus merayu mamanya, agar Tiara bisa ikut liburan bersama teman-teman satu jurusannya.
Mamanya tidak pernah mengizinkan Tiara ikut acara-acara di luar acara kampusnya. Beliau bilang acara-acara seperti itu tidaklah penting dan cenderung berbahaya. Jika Tiara ingin liburan, maka mamanya akan memfasilitasnya, dan itu benar-benar tidak pernah bikin perempuan itu bahagia.
Tapi sebenarnya di dalam hati Tiara yang paling dalam, dirinya juga merasa sungkan. Perempuan itu kasihan kepada Keenan. Di luar ekspektasi, teman-temannya malah seperti kesurupan begitu melihat mantan calon kakak iparnya secara langsung. Teman-temannya tidak membiarkan laki-laki itu, bahkan untuk sekedar bernapas. Mereka mencecar Keenan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang membuatnya malu mengenal mereka.
"Kakak bisa bahasa Indonesia?"
"Nama kakak beneran Keenan? Gak ada nama Jungkooknya, beneran?"
"Kakak sodaranya Lee min ho?"
Tiara menggelengkan kepala, malu sekali dia. Apalagi saat mengingat salah satu temannya yang bertanya kepada Keenan, apakah laki-laki itu saudaranya Lee min Ho? Apa mereka pikir orang Korea semua saudaraan dengan Lee min Ho?
"Kamu kenapa, Ra?"
Tiara kembali lagi menggeleng. "Enggak apa-apa kak. Makasih banyak ya, Kak. Habis gak tahu lagi Tiara mau menghubungi siapa."
"Iya, kalau kamu ada masalah hubungi Kakak aja gak apa, gak perlu sungkan."
Beberapa saat berselang, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat Keenan dan Tiara yang tengah berbincang. Muncul Ana di sana disusul seseorang yang Keenan kenali bernama Daren. Laki-laki jangkung berkaca mata itu tersenyum malu-malu yang menurut Keenan begitu memalukan.
Keenan tidak pernah tahu, jika Daren bisa tersenyum seperti itu dengan wanita. Dia kira laki-laki itu terlalu menyukai pekerjaannya dan akan menikah dengan tumpukan berkas saking tidak pernahnya bersosialisasi dengan manusia yang lainnya.
Meskipun pada kenyataannya Keenan juga seperti itu, akan tetapi dia masih lebih baik dari pada Daren. Setidaknya dia masih memiliki teman.
Mendadak awan hitam muncul menyelimuti hati Keenan. Melihat tawa dari dua orang yang baru saja turun dari mobil itu, membuat Keenan sebal setengah mati.
"Oh jadi ini toh sebabnya gak bisa dihubungi adiknya. Kakak lo kencan ternyata, Ra. Sampai dihubungi adiknya saja gak diangkat."
Kepala Keenan makin mendidih saat Ana sengaja mengacuhkan dirinya. Perempuan itu malah berbincang dan tersenyum manis kepada Daren.
"Makasih ya, Ren. Hati-hati." Ana melambaikan tangan ke arah Daren. Daren pun juga melakukan hal yang sama. Karena itu perut Keenan serasa diaduk saking mualnya melihat adegan yang menurutnya menjijikan itu.
"Iya aku pulang dulu. Makasih waktunya." Daren sengaja mengencangkan suaranya. Asisten dari paman Keenan itu pun juga bahkan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ana. Mengacuhkan atasannya.
"Dari mana saja, jam segini baru pulang? Gak becus banget jadi kakak?"
Jantung Tiara mulai tidak aman. Apalagi saat melihat lirikan membunuh dari sang kakak. Minta tolong mantan calon suami kakaknya aja sudah salah, apalagi ini dirinya masih mengobrol di depan rumah, alih-alih langsung masuk ke dalam rumah. Ya gimana lagi, Tiara kan tidak mau anggurin laki-laki good looking begitu saja.
Setelah Tiara tahu ada bau-bau gencatan senjata yang akan terjadi antara kakaknya dengan Keenan, buru-buru Tiara memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Setidaknya, jika di rumah dia bisa selamat karena ada mama dan papanya.
"Kak Keen, makasih yaaaa ... Tiara mau langsung ke dalam ada urusan."
Ana berjalan bermaksud menyusul Tiara untuk segera memberi pelajaran bagi adiknya itu. Akan tetapi sebuah tangan yang ia tahu pasti milik dari Keenan, mencekal dirinya.
"Dari mana saja? Ini udah jam sebelas malam," ulang Keenan macam emak-emak.
"Terus hubungannya sama lo?"
"Gu ... gue cuma khawatir sama Tiara. Kalau tadi gue gak bisa dihubungi juga gimana? Kalau dia naik angkutan umum dan terjadi apa-apa sama dia gimana? Apa lo gak sedih?"
"Lebay deh lo. Ngapain juga lo khawatir sama adek gue? Kurang kerjaan." Ana tahu adiknya itu pasti memiliki rencana dengan menghubungi Keenan. Perempuan itu berusaha melepas cekalan tangan Keenan yang semakin lama semakin sulit dilepaskan. "Lepasin gak?"
"Kalau gue gak mau?"
"Lo maunya apa lagi sih, Keen? Lo pengen pertunangan ini gue yang ngebatalin gue sudah lakuin. Terus apa lagi?"
"Kenapa bisa lo ketawa-ketawa gitu? Pertunangan lo batal, An!"
"Lah, kenapa juga gue harus nangis? Kurang kerjaan banget! Oke gue masuk, gak ada perlu lagi, kan?"
Cekalan tangan Keenan makin menguat, saat Ana berusaha melepaskannya. "Lo gak makasih sama gue?"
Ana menghela napas dan memutar kedua bola matanya. "Buat?"
"Gue udah mengantar adik lo sampai rumah."
"Terima kasih."
"Lo!"
"Apalagi sih? Udah pulang sana."
Keenan menunduk. "An!"
"Ya ampun kenapa lagi sih, Keen? Ngantuk nih. Kata lo ini udah malam, kan? Lebih baik cepat pulang deh."
"Lo ngusir gue?"
"Iya."
"Awas ada kodok!"
Otomatis Ana langsung melompat ke dalam gendongan Keenan tanpa banyak berpikir lagi. Keenan membeku, di depannya ia dapat melihat Tiara tengah terkikik jahil sambil mengangkat jempolnya ke atas sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
"Kodoknya masih ada?" tanya Ana dalam dekapan Keenan.
"Keen ... Kodoknya masih ada?"
"Keen!" teriak Ana menatap Keenan begitu tak ada jawaban dari laki-laki itu.
Keenan berdehem. "Udah ... udah gak ada. Turun cepat berat tahu lo!"
Ana turun dari gendongan Keenan lalu mendorong laki-laki itu sampai terhuyung ke belakang. Perempuan itu berlari masuk ke dalam rumah sambil memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan.
Di lain tempat Keenan juga melakukan hal yang sama. Laki-laki itu terdiam sembari memegang d**a kirinya.
Keenan buru-buru menggelengkan kepala dan mengenyahkan pikiran-pikiran anehnya sebelum masuk ke dalam mobil miliknya.