"Uda lama gak lari, lari sebentar capeknya bukan main, deh...."
Beni menyodorkan sebotol air mineral kepada Sinta. Saat ini mereka baru saja selesai berlari berkeliling di acara car freeday.
"Kriuuuuuk...."
Sinta nyengir mendengar bunyi perutnya yang mulai minta jatah untuk diisi.
Beni yang sadar, menatap Sinta jahil sambil terkekeh. "Mau bubur ayam? Beli buryam yuuuk...," ajak Beni pada akhirnya.
"Braaaaaaak!!!"
Beni yang kaget mendengar suara keras itu otomatis menoleh. Sontak ia terkaget, begitu mengetahui tak jauh darinya ada seseorang yang penting bagi dirinya tengah jatuh tersungkur akibat sepeda yang menabraknya.
Jantung Beni bahkan seolah terhenti melihat darah yang mengalir dari kaki Ana. Perempuan itu terduduk menahan sakit, dengan posisi salah satu kakinya masih tertimpa oleh roda sepeda.
Tanpa berpikir panjang Beni langsung berlari menghampiri Ana, seolah lupa sekarang dirinya sedang dengan siapa.
"Kamu gak apa-apa? Mana yang sakit, mana kaki kamu? Tangan?" Segera ia membantu Ana untuk berdiri.
Ana memfokuskan pandangannya kepada seseorang yang tengah membantunya untuk berdiri. Dia mengerjap, berharap apa yang dia lihat memang benar adalah benar Beni.
Beni masih saja terlihat tampan, walau pun dalam posisi panik seperti saat ini. Rasa sakit yang tadi ia rasakan pun, mendadak hilang begitu saja saat melihat wajah laki-laki yang lama sekali tidak ia temui.
"Ben?"
"Ayo aku bantu berdiri, An. Masnya bisa naik sepeda gak sih! Yang benar dong!" sembur Beni kepada seseorang yang telah menyebabkan Ana kesakitan.
Beni benar terlihat begitu marah. Apakah laki-laki itu masih begitu mengkhawatirkannya? Ia begitu merindukan laki-laki ini.
Mas-mas yang dimaksud Beni tadi menggaruk tengkuknya merasa bersalah. "Maaf, Mas. Mbaknya mau dibawa ke klinik dekat sini?"
Ana mengibaskan tangannya merasa bersalah. Kejadian ini juga bisa terjadi, akibat dirinya sendiri juga yang lalai. Dia berlari menyeberang, tanpa memperhatikan jalan.
"Gak apa-apa, Mas. Masnya duluan aja. Saya tidak apa-apa."
Mas-mas yang dimaksud tadi tersenyum kikuk, berpamitan meninggalkan Ana sembari sesekali melirik Beni. Laki-laki itu tampak bersalah, tetapi terlihat bingung akan berbuat apa.
Beni menatap Ana tampak tidak begitu senang melihat keputusan dari wanita itu, yang dengan mudah membiarkan orang yang telah menabraknya pergi begitu saja.
"Kenapa?"
"Kamu itu yang kenapa?" sahut Ana sebal. Dia benar-benar merasa tidak enak dengan laki-laki yang telah menabraknya barusan. Beni terlalu berlebihan.
Karena melihat keseriusan Ana, pada akhirnya Beni mengalah juga. Ia lalu memapah perempuan itu, duduk di tempat yang lebih aman. Laki-laki itu menemukan sebuah kursi yang tersedia di sepanjang jalan dan mendudukkannya di sana.
"Beneran gak apa-apa ? Ini lecet-lecet lo, An! Ayo aku anter. Gak usah keras kepala deh kamu, ayo!" Beni hendak akan kembali memberdirikan Ana, urung sebab Ana menahannya.
"Kenapa?"
Beni tersentak, ia terdiam karena menyadari jika tindakannya terlalu berlebihan. Laki-laki itu duduk di sebelah Ana, membuang napas ia menatap sang mantan kekasihnya. Beni mengusap rambutnya dengan kasar lalu menunduk.
"Kenapa? Jangan kayak gini...."
Ana masih bisa melihat sebegitu khawatirnya Beni kepada dirinya. Jangan sampai ia juga berpikir, jika laki-laki itu juga masih mencintainya.
Beni masih diam menatap Ana, begitu pun juga perempuan itu.
Ana rindu sekali dengan Beni. Ingin sekali ia memegang wajah laki-laki itu. Memegang wajahnya untuk menyamarkan gurat-gurat kecemasan yang terlihat jelas di sana, mengusap peluh yang ada di dahinya, atau juga membersihkan kaos putih yang terlihat kusut akibat membopong dirinya.
Begitu pun dengan Beni, ingin sekali laki-laki itu memeluk Ana. Memberitahu perempuan itu, jika dirinya sangat merindukannya, atau bilang bahwa dia tidak ingin, jika perempuan itu terluka. Akan tetapi, lagi-lagi logikanya melarang itu semua. Dia sadar semua itu, akan malah memperumit keadaan.
Meskipun hatinya bersikeras untuk melarang bersinggungan dengan Ana, tetapi tanpa sadar tangan Beni malah terulur juga mengusap kepala Ana. Rasanya sulit sekali menahan ini semua terlalu lama. Dia sakit, sangat sakit sekali.
"An--"
"Lo kenapa, An?"
Keenan langsung berjongkok untuk melihat keadaan Ana. Memegangi badan wanita itu untuk memastikan jika dia baik-baik saja.
"Gak apa-apa. Keserempet sepeda doang, Keen. Gue kan kuat." Ana mengangkat tangan kanannya ke udara dan menekuknya, selayaknya atlet binaraga.
"Hah? Siniin liat!" Keenan meletakkan dua buah minuman favorit pesanan Ana ke sembarang tempat, lalu lagi memeriksa keadaan Ana. Semuanya tak luput dari perhatian Beni. "Ayo kita obati! Di dekat sini ada klinik, An. Kita obati di sana, ya?"
Keenan mengikuti arah pandang Ana dan baru menyadari ada seseorang yang ternyata duduk di sebelah perempuan itu. "Ben, lo di sini?"
"Beni yang nolong gue tadi." Ana buru-buru menjelaskan entah untuk apa.
"Makasih," ucap Keenan.
"Gak perlu makasih ke gue," balas Beni datar.
Melihat ekspresi Beni baru saja, Keenan baru tersadar, jika pertemuan mereka terakhir kali bukan pertemuan yang berakhir baik. Mereka sempat adu kekuatan dan saling berkata kasar. Mungkin itu sebabnya, jika saat ini Beni terlihat begitu jengkel kepada dirinya.
"Lo ... hmmm buat yang tempo hari, gue minta maaf."
Beni terkejut. Dia malah yang hampir lupa dengan kejadian tempo hari. Padahal awalnya dia yang akan minta maaf kepada Keenan, tahunya laki-laki itulah yang duluan meminta maaf.
"Gak perlu, gue yang harusnya minta maaf ke elo. Gue yang salah."
Ana mengernyit bingung dengan percakapan dua orang laki-laki itu, yang sama sekali tak dimengertinya. "Ada masalah apa emang kalian?"
Kedua laki-laki itu kompak menggelengkan kepala.
"Gue mau pulang aja Keen kalo gitu."
"Oh, oke." Keenan buru-buru memapah Ana.
"Yakin gak mau dibawa ke klinik dulu?" Beni masih berusaha meyakinkan Ana. Lagi pula dia juga sedikit terganggu dengan kedekatan antara Keenan dan perempuan itu saat ini.
"Gak usah cuma lecet aja kok, lo lupa gue uda sering lagi lecet-lecet kayak gini, tapi kan gu--"
"Lo kuat, kan?"
Ana terkekeh. "Gue duluan." Ana melambaikan tangan setelahnya.
Beni pun mengangguk saja.
"Ayo," ajak Keenan memapah Ana untuk segera pergi dari situasi aneh ini. "Duluan, Ben."
Lagi-lagi Beni hanya mengangguk. Tapi lalu menarik pergelangan tangan Ana.
Saat Ana menoleh, hingga beberapa saat pun Beni hanya berdiam diri. Sebelum akhirnya benar-benar melepas tangan mantan kekasihnya. "Hati-hati," ucapnya pada akhirnya.
Dilain tempat ada seorang perempuan yang terlupakan keberadaannya. Perempuan yang saat ini tengah mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuatnya.
Pemandangan yang memuakan....
"Lo masih sesuka itu sama, Ana?" Sinta mendekati Beni lalu duduk di sebelahnya.
"Cabut, yuk."
Sinta melengos sebal begitu Beni tidak menjawab pertanyaannya. Tak patah arang perempuan itu lalu memegang bahu Beni. "Mereka balikan, Ben?"
"Gak ngerti gue."
"Kalo masih suka kenapa putus?" Beni cuma menggelengkan kepalanya tanpa berniat membahasnya lebih jauh. Pandangannya masih terpaut ke arah punggung Ana yang masih dapat ia lihat dari kejauhan.
"Lo mau jadian lagi sama, Ana?"
Beni mengangguk jujur. "Gue masih mau banget ... andai bisa."
"Lo takut kalah saing sama, Keenan?"
Beni menggeleng lalu menatap Sinta lurus ia tersenyum. Senyum yang begitu dibenci oleh perempuan itu. "Jangan senyum kayak gitu ... nyebelin tahu gak."
Sinta paling tidak suka melihat bibir Beni hanya setengah tergerak. Itu kah yang laki-laki itu selalu bilang sebuah senyuman?
*
"Ayo gue bantu." Keenan melepas seatbelt lalu turun membantu Ana untuk berdiri.
"Lo Keen Ana kenapa?" tanya mama Ana tampak khawatir.
"Ana jatuh tadi, Tan keserempet sepeda."
"Ada-ada saja kamu, An...."
"Biasa, Ma ... Ana mau menguji kekuatan."
Mama mencebik melihat kelakuan anaknya yang dari dulu tidak pernah berubah. Dulu setiap pulang sekolah ada saja luka di badan anak perempuannya itu.
"Lo butuh apa, An?" tanya Keenan setelah berhasil mendudukkan Ana di kursi ruang tamu.
"Enggak butuh apa-apa gue. Heh! Lo pikir gue sakit apa?" Ana berkacak pinggang. "heh! Jangan gitu liat guenya! Geli tahu, Keeen."
Dengan hanya melihat tatapan yang diberikan oleh Keenan, ia tahu apa arti dari tatapan itu. Laki-laki itu menganggap dirinya pesakitan.
Keenan tersenyum lalu ikut duduk di samping Ana menyenderkan badannya di sofa ruang tamu.
Ana masih menatap aneh gerak-gerik Keenan. Perempuan itu justru takut melihat Keenan senyum-senyum tidak jelas seperti saat ini.
"Ini minum dulu, Keen," tawar mama Ana.
"Makasih, Te...."
Mama Ana mengangguk. "Mama tinggal dulu."
"An...."
"Hmmm?"
"Lo mau balikan sama, Beni?"
"Maksudnya?" Ana menatap Keenan heran.
"Enggak. Beni kan uda ada cewek." Ia hampir lupa dengan kenyataan bahwa waktu itu pernah memergoki, Beni dengan seorang perempuan.
"Kalo dia ternyata belum ada cewek?"
"Enggak tahu."
"Enggak tahu?"
"Iya enggak tahu! Kepo banget sih lo!"
Dia masih menyukai Beni. Bagaimana dengan Beni sendiri? Walaupun perhatian laki-laki itu masih sama seperti dulu, akan tetapi hati orang siapa yang tahu, kan?
Lagi pula dirinya tidak benar-benar mengenal Beni dengan cukup baik. Bahkan dia tidak tahu bahwa seorang Beni, ternyata juga suka mengunjungi sebuah klub malam, yang Ana kira tempat seperti itu tidak pernah ada di dalam pikiran laki-laki itu.
Dari hal sesederhana itu pun Ana tidak mengetahuinya. Bagaimana dia bisa berharap lebih?