Kejutan dari Keenan

1403 Kata
"Mau minum apa, Nak Keenan?" tawar mama Ana. Saat ini Keenan sedang berada di rumah Ana untuk menjemputnya menghadiri acara ulang tahun kantor. Butuh usaha ekstra untuk mengajak perempuan itu, karena sekarang status mereka bukan lagi sebagai tunangan. Tetapi, dilain hal Keenan merasa bersyukur, sebab perlakuan orang tua Ana kepada dirinya masih sama seperti dulu. Orang tua Ana masih sebaik itu. "Gak usah repot-repot, Tante." "Minuman aja. Eh, itu Ana! Tumben cepat." tunjuk mama Ana kepada anaknya. "Yuk, Keen! Capcuuus. Ana pergi dulu, Ma." Ana mencium pipi mamanya untuk berpamitan, disusul oleh Keenan yang mencium tangan mama Ana. "Lo ngapain sih ngajak gue segala, Keen?" "Abis ngajak siapa lagi gue?" "Dasar jomblo!" "Apa kabar situ?" "Ayok ah masuk," ajak Keenan begitu mereka sudah ada di depan venue, tempat acara kantor akan diadakan. Meneruskan perdebatan dengan Ana, tidak akan pernah ada ujungnya. Awalnya tidak ada yang menyadari kedatangan keduanya. Semua berubah begitu Keenan mulai menaiki podium untuk menyampaikan pidato penyambutan sebagai pimpinan perusahaan. Suasana mendadak menjadi hening. Para karyawan yang sempat bekerja dengan Keenan sontak syok. Ini benar-benar kejutan bagi mereka, yang mengenal dekat dengan seorang Keenan. Keenan sebenarnya sudah memprediksi sambutan yang akan ia terima. Akan tetapi tidak menyangka, jika rekan-rekannya seterkejut itu. Dia menahan tawa begitu melihat ekspresi dari rekan-rekan yang mengenalinya. Apalagi saat melihat wajah Adit, laki-laki yang selalu mengolok-olok dirinya itu terlihat begitu pucat. Raka pun juga tak kalah syoknya. Laki-laki itu bahkan hampir menumpahkan minuman yang ia bawa. "Idih senyum-senyum nih orang." Ana sih tahu memang, jika Keenan orangnya rada aneh. Herannya, kok semakin lama gilanya semakin bertambah, bukannya berkurang. "Gue lucu aja liat tampang teman-teman gue," bisiknya setelah usai memberi sambutannya. Ana mengikuti arah pandang Keenan. "Mau lo samperin?" "Pastilah...." Keenan lalu berjalan mendekat ke arah teman-temannya. "Ayo." Laki-laki itu merangkul pinggang Ana agar ikut dengannya. "Muka lo kenapa jadi putian, Dit," ejek Keenan begitu berdiri tepat diantara teman-teman satu divisinya dulu di kantor. "Bukan putih ini pucat yang ada, dod ... eh pucat, Pak." Hampir saja keceplosan, ia mengatai bosnya. Dia belum terbiasa dengan kenyataan ini, walau tampang teman satu divisinya itu memang sesuai dengan jabatannya yang sekarang. Dia hanya menyesal saja dengan perilakunya yang selalu mengejek Keenan. Apa pun yang laki-laki itu lakukan bahkan tak luput dari komentarnya. Sungguh kenyataan yang sangat membagongkan. Jangan sampai dipecat gara-gara ulahnya dulu. Semoga saja Keenan bukan orang yang pendendam. "Biasa aja kali ngomongnya. Lo mau ngatain gue, kan?" Adit memasang tampang sok coolnya. "Mana berani saya mengatai Anda, Pak." "Itu, lo bilang gue, tai?" "Mengatai, Bapak ... bukan tai." Butiran keringat keluar dari pori-pori kulit Adit. Mendadak hotel bintang lima terasa seperti kamar di rumahnya yang terasa panas. "Itu lo bilang tai." "Ampuni aku Tuhaaaaan...." Keenan pun tertawa diiringi juga dengan teman-temannya yang lain. Mereka diam-diam bersyukur, Keenan tetap bersikap seperti biasa, kendati dia sebenarnya adalah atasan mereka. "Lo ... eh Bapak beneran direktur utama, kita?" Raka bersuara. Keenan menaikkan satu alisnya. "Menurut, lo?" "Pantesan selalu nyuruh kita kerja-kerja, kalau kita lagi asyik menggombal di kantor...." Adit dengan penuh semangat ikut mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Raka. Karena sialnya yang sering diomeli oleh Keenan adalah dirinya. Kalau dirunut ke belakang, Keenan memang selalu berangkat lebih awal dari mereka semua yang ada di kantor. Sering dan hampir selalu pulang paling akhir, juga paling gencar menyuruh mereka agar bekerja lebih serius. Sekarang misteri sudah benar-benar terpecahkan. "Ini ceweknya, Pak?" Raka melirik perempuan cantik yang ada di sebelah Keenan. Laki-laki itu menggeleng. Raka langsung antusias begitu tahu, jika perempuan cantik yang tengah digandeng Keenan bukan kekasih atasannya. Ia pun buru-buru menjabat tangan Ana dengan kedua tangannya. "Bisa nih ... kenalin, Mbak saya Raka. Status jomblo, umur dua puluh tujuh tahun, makanan kesukaan bakso, min--" Raka mengaduh saat Adit memukul kepalanya. "Ana ... jomblo juga," balas Ana sembari menyambut jabatan tangan dari Raka, yang langsung disusul senyuman lebar dari laki-laki itu. Keenan buru-buru menepis tangan Raka. Dengan perasaan kesal, ia menatap tajam laki-laki itu. Bisa-bisanya Ana terus terang mengatakan jika dirinya jomblo, harusnya perempuan itu menghargai dirinya sebagai pasangannya saat ini, tidak malah berterus terang seperti itu. "Sudah kenalannya?" ucap Keenan ketus. Raka memicingkan matanya. "Katanya bukan ceweknya, kok posesif?" "Urusan, lo?" Raka menyenggol lengan Keenan. "Selow Pak bos...," ucap Raka. Ia harus menghentikan aksinya sebelum surat pemecatan ada di meja kerjanya besok pagi. "Keenan? Dia CEO kita? Aduh pernah salah ngomong gak ya, gue?" kata salah satu karyawan. "Pantes auranya beda gitu. Meskipun kerja sebagai karyawan biasa aura dia dari dulu kan aura orang kaya." "Weeee ... kita dibodohi, Guys!" "Setidaknya kita pernah makan dan hang out sama bos besar, ya?" "Gantengnya...." "Keenan yang naik motor itu bukan, sih?" "Pantes gue dulu pernah ditolak sama dia, gue cuma remahan, Guys." "Tahu gitu gue pepet terus deh...." "Lo gak liat noh ceweknya ... mana bisa lo saingan sama dia." "Itu manusia apa bukan sih bening banget!" Masih banyak celoteh-celoteh yang tidak sengaja terdengar oleh telinga Sinta. Keenan yang dari dulu sudah banyak digandrungi wanita, semakin banyak penggemarnya saja, setelah tahu jabatan laki-laki itu yang sebenarnya. "Sin, lo gak apa-apa?" Sinta jelas adalah salah satu orang yang paling merana dan kaget di antara mereka semua, yang selama ini menyia-nyiakan Keenan. Baru beberapa hari yang lalu dia putus, dan hal seperti saat ini malah terjadi. Bodohnya dirinya... Ana, lagi-lagi dia mencuri start darinya. Lagi-lagi dia kalah. Mungkin kah sekarang mereka kembali bertunangan setelah Keenan putus darinya? "Kok lo bisa gak tahu sih, Sin? Dua tahun lo pacaran." Sinta melotot ke arah temannya itu. "Itu juga gara-gara lo, kita putus." Kalau tidak ada kejadian tempo hari di apartemennya, saat ini mereka juga masih berpacaran. "Kok, gue?" "Lo kan yang awalnya nyerocos terus!" Teman Sinta tersenyum kecut. "Maaf, deh." "Keenan ternyata ... gak menyangka gue, Ben!" Jessi yang diam-diam menyukai Keenan pun juga terlihat tidak percaya dengan apa yang terjadi beberapa waktu tadi. Beni sudah tidak berniat melanjutkan pesta ini. Bukan karena Keenan yang ternyata adalah atasan mereka, bukan. Itu semua tidak sepenting itu bagi Beni. Yang menyakitkan adalah kedatangan laki-laki itu dengan Ana perempuan yang ia cintai. Beni pun memutuskan untuk bergegas keluar dari gedung, meninggalkan acara yang baru saja di mulai. Bruuuk!!! "Maaf, kamu gak apa-apa?" Laki-laki itu membantu seseorang yang hampir jatuh akibat ulahnya. "Sinta?" Sinta tak kalah ikut kaget. "Ben...." Akhirnya mereka berdua memutuskan pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel untuk berbicara. "Lo sama Keenan?" "Kita uda putus." "Jadi sekarang mereka kembali bertunangan?" Sinta mengendikan bahu, pura-pura acuh. Memikirkannya saja dia tidak sanggup. "Dari dulu Ana selalu merebut apa yang gue miliki, termasuk lo." Beni mengamati Sinta, heran dengan rasa benci dari perempuan itu yang dari dulu tidak pernah luntur. Padahal yang ia tahu sendiri, Ana tidak pernah berbuat jahat kepada perempuan di hadapannya itu. Dia sangat mengenal Ananya, walau lebih dulu ia mengenal Sinta. Sinta meratapi hidupnya saat ini. Hidup Ana memang seenak itu. Lagi-lagi tidak perlu berusaha keras, tinggal duduk manis jodoh yang kaya dan sempurna pasti akan datang sendiri. Tuhan kapan adilnya, sih? "Maaf buat yang kemarin. Gue malu-maluin, ya?" "Gak apalah ... gue tahu, lo masih sesuka itu sama Ana." "Gimana kabar, lo?" "Menurut, lo?" Beni mengendikan bahunya. "Gue masih penasaran, kenapa lo dulu menghindar dari gue, Sin?" "Gue menghindar? Bukannya lo yang sibuk dengan pacar lo itu, sehingga lupa sama gue. Teman lo ini yang lebih dulu kenal sama lo." "Gue? Gue gak lupa sama lo, Sin. Lo ingat dulu meskipun gue pacaran sama Ana, gue selalu nomor satuin elo, kan? Sampai lo sendiri yang tiba-tiba mengilang." Omongan Beni memang ada benarnya, meskipun dia pacaran dengan Ana, Beni akan selalu ada ketika dia membutuhkannya. Meskipun begitu, egonya melarang keras untuk mengakui kebenarannya. Beni mengibaskan tangan. "Udahlah yang lalu biarkan berlalu, yuk bareng gue. Lo sendirian, kan?" Dia harus memperbaiki hubungannya dengan Sinta yang sempat kacau ini. Sinta adalah sahabat baiknya dulu, mereka berhubungan dekat sejak awal mereka berstatus sebagai mahasiswa baru, sebelum kesalah pahaman ini ada diantara mereka berdua. Sinta mengangguk saja, paling tidak ada Beni sekarang yang bisa diajaknya bicara secara normal, setelah ia kehilangan Keenan, salah satu orang yang baru ia sadari sangat berarti di hidupnya. Laki-laki yang selalu menghiburnya meskipun Sinta tidak pernah menceritakan kisah sebenarnya di hidupnya. Yang laki-laki itu lakukan hanyalah tetap menghiburnya saat Sinta terlihat sedih sekalipun dia tidak pernah menceritakan alasan kenapa ia sedih. Sinta tiba-tiba jadi rindu dengan Keenan. Benar kata orang bilang, jika kita akan tahu betapa berartinya orang itu saat orang itu sudah meninggalkan kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN