Keenan Kalah

1628 Kata
Saat akan meletakkan helm miliknya ke dalam jok motor, Keenan menyadari jika kue favorit Sinta, kekasihnya masih ada di stang motor miliknya. Mungkin karena kekasihnya itu tadi buru-buru, jadi ia juga tidak sempat mengingat ada kue itu yang ternyata masih ia letakkan di sana. Bergegas ia pun kembali menuju apartemen perempuannya. Menekan password yang sudah begitu Keenan hafal, ia pun membuka pintu setelah bunyi bib panjang berbunyi. Laki-laki itu perlahan melangkahkan kaki memasuki ruangan kekasihnya. Akhir-akhir ini hubungan mereka berjalan lebih baik dari sebelumnya. Bahkan sedikit demi sedikit mulai sudah ada perkembangan. Dari Sinta yang lebih sering mengajaknya keluar, hingga yang paling membuat laki-laki itu tidak menyangka adalah perempuannya memberitahukan kode masuk rumahnya. Itu berarti Sinta sudah percaya dengan Keenan. Dengan senyum yang masih terukir di wajahnya ia berjalan memasuki ruang tengah apartemen sang kekasih. Mengernyitkan wajah, laki-laki itu menghentikan langkahnya saat tahu, jika kekasihnya itu tidak sendiri. "Lo masih pacaran sama si ganteng?" tanya seorang wanita yang berdiri membelakangi dirinya. Sinta mengangguk malas. Perempuan itu membuka kulkas dan mengambil botol air mineral dari sana. "Mau?" tawarnya kepada lawan bicaranya sebelum akhirnya meminumnya. Seseorang itu menggelengkan kepala dan menyenderkan badannya pada tembok, sembari mengamati Sinta yang tengah sibuk membuka camilan yang ada di dapur. "Kapan mau lo putusin?" Sinta terdiam beberapa detik, menatap temannya itu tidak suka. "Kenapa pengen banget gue putus, sih?" "Lo cinta beneran sama dia emang? Kayaknya gak mungkin deh, meskipun dia ganteng juga." "Sok tahu banget sih, lo." Sinta terlihat sedang memaksakan senyumannya. "Gue kenal lo dari dulu tahu ... bukannya lo sukanya sama, Beni?" Beni? Keenan menegang, menggenggam bingkisan kue yang tadi ia bawa dengan begitu eratnya. Kenapa semua perempuan lebih tertarik dengan laki-laki itu? Menurutnya dia juga tidak kalah keren, jika dibandingkan dengan Beni. Tapi mengapa, Ana bahkan kekasihnya menyukai laki-laki yang sama? Menjengkelkan sekali. "Itu kan dulu." "Beni lebih bisa menjamin hidup lo BTW, dari pada pacar lo itu. Eh, tapi Beni masih pacaran ya sama siapa teman lo itu?" "Dia bukan teman gue! Dan soal terjaminnya hidup gue, lo gak usah khawatir. Gue tetap pacaran sama Keenan dan subsidi gue juga masih lancar. Lo masak udah lupa sama om Irwan, sih? Dia yang menjamin gue selama ini." "Lo masih hubungan sama om Irwan, Sin? Gila!" Teman Sinta tertawa setelahnya. Sinta ikut terkekeh. "Lo tahu gue hampir kepergok. Untung yang mergoki itu Ana, kalau istrinya sih bakalan mampus gue." "Jadi Ana-Ana itu yang bikin wajah lo bengep tempo hari?" "Sialan dia! Hampir saja sumber uang gue lenyap." Tempo hari saat Sinta sedang melakukan aktivitasnya dengan sumber uangnya, tiba-tiba Ana menghadangnya. Orang yang bernama Irwan itu tidak ia sangka ternyata adalah suami dari tante Ana. Setelah kepergian om Irwan, Ana yang ternyata sengaja membuntuti Sinta sedari lama, tiba-tiba menarik rambutnya dari belakang. Mereka berkelahi dan berakhirlah keduanya di kantor polisi. Sinta tahu Ana tidak akan memberi tahukan kejadian yang ia lihat kepada tantenya begitu saja. Lagi pula perempuan itu tidak akan membiarkan tantenya sedih mengetahui kenyataan, bahwa suaminya berselingkuh darinya. Dia hafal betul dengan sifat sok baiknya Ana. "Terus soal cowok lo yang polos itu kalo lo uda bosan, bisa dong sama gue ... gue juga pengen dong ngerasain punya cowok, kayak cowok lo?" Sinta menaikkan satu alisnya ke atas. "Ambil aja." Perempuan itu mengibaskan tangannya. Sebenarnya dia hanya asal bicara, mana mungkin ia menyerahkan Keenan pada temannya itu begitu saja. Tanpa Sinta sadari ada pria yang tengah mereka bicarakan sedang berdiri mengepalkan kedua tangan dengan begitu kuatnya. Sampai detik ini pun Keenan masih berusaha untuk menyangkal apa yang baru saja ia dengar. Sayangnya, ini semua tetaplah sebuah kenyataan pahit yang baru dilontarkan oleh Sinta. Sebuah kebenaran yang sebenarnya sudah diprediksi oleh orang tuanya sedari awal. Mamanya pasti tertawa, jika mengetahui kebodohan anaknya. Kata-kata Sinta yang akan memberikan dirinya kepada orang asing itu, begitu menyakiti egonya. Memang Sinta pikir dirinya ini apa? Ambil saja? Kenapa kata-kata itu begitu familiar sih di telinga Keenan? "Lo beneran gak ada rasa sama sekali, kenapa lo bisa jadian sama dia?" "Dulu gue kira dia kaya. Akrab gitu sama pak Daren. Eh taunnya karyawan biasa juga." Siapa yang gak menyangka, Keenan ternyata adalah karyawan biasa sama seperti dirinya, dengan tampilannya yang seperti itu. Teman Sinta tertawa dengan begitu kencangnya. Perempuan itu berbalik berniat untuk duduk di kursi yang ada di belakangnya. Akan tetapi seketika tawanya terhenti saat di sana, tepat di hadapannya, dengan jelas ia melihat seseorang yang sedang mereka bicarakan berdiri menatap dirinya dengan tatapan yang begitu menyeramkannya. Sinta yang heran karena temannya itu mendadak tidak bersuara, mengikuti arah pandangnya. Ia melotot begitu melihat Keenan ada di sana tengah juga menatapnya. Please jangan sekarang.... Sinta berjalan mendekati Keenan dengan takut-takut. "Sayang...," cicitnya. Keenan tersenyum, entah kenapa kali ini senyum laki-laki itu terlihat menakutkan. Sinta begitu menyukai senyuman Keenan, akan tetapi bukan senyuman yang seperti ini. Ini sama sekali tidak benar. "Kita udahan." Akhirnya ucapan itu terlontar juga dari mulut Keenan. "Sayang?" Sinta memegang tangan Keenan, ia belum siap, jika harus kehilangan laki-laki yang sudah dua tahun ini menemaninya begitu saja. Dia hanya asal bicara demi menyudahi bicara temannya. Walau sebagian memang juga ada benarnya. “Kamu salah paham.” Keenan mengernyit, tatapannya ia alihkan kepada perempuan yang berdiri di belakang Sinta. "Meskipun gue putus sama lo, Sin ... gue juga pilih-pilihlah kalau mau cari cewek lain pengganti lo. Teman lo itu bukan selera gue, harusnya dia ngaca dulu." Kembali ia menatap Sinta. "Thanks uda ngebuka mata gue. Semoga lo dapat seseorang yang bisa mencukupi hidup lo, dan sayangnya itu bukan gue yang menurut lo ini jauh dari apa yang lo ekspektasikan." Keenan beranjak pergi meninggalkan kedua wanita yang masih syok dengan ucapannya barusan. "Shiiit ... shiit ... shiiiit!" rutuk Keenan. Impiannya selama ini untuk membuktikan kepada sang mama, tentang bagaimana baiknya Sinta akhirnya kandas juga. Ia tetap saja kalah. Kalah dari intuisi sang mama. Dirinya memang bodoh, padahal orang awam pun akan langsung mengetahui dengan sikap Sinta selama ini kepada dirinya. Bahwa perempuan itu tidak benar-benar menyukainya. Dirinya memang sengaja membutakan diri. "Gue di depan rumah lo." "Kenapa lagi?" jawab seseorang dari seberang. Suara wanita itu terdengar serak, mungkin dia sudah tertidur sebelumnya karena jam sudah menunjuk angka sebelas malam. "Cepetan ke luar." "Gila lo!" "Gue di depan, cepat!" "iyaaaaaa!" Keenan kembali mengantongi ponselnya setelah menelepon Ana. Dia tidak berpikir panjang, entah mengapa yang ada di kepalanya sekarang dia harus bertemu dengan wanita itu. "Gue putus sama, Sinta." Wanita yang sudah memakai baju tidur itu menghela napas, lalu mendekatinya. "Sini, gue setirin lo mau ke mana sekarang?" Keenan ikut menghela napas dan menyerahkan motor miliknya kepada Ana. Menghela napas lega, karena Ana masih mau bertemu dengan dirinya. "Kita jalan-jalan keliling Jakarta, mau?" "Emang Akang berani bayar berapa?" Ana mulai menstater motor milik Keenan. "Berapa aja yang Neng minta." "Cih." Mereka berdua diam, tak satu pun yang berani mengeluarkan suara. Keduanya hanya diam menikmati udara malam sambil melihat lalu-lalang mobil dan motor di atas kendaraan yang mereka kendarai. Angin malam menerbangkan helai demi helai rambut Ana, suasana menjadi begitu melankolis apalagi menurut pandangan Keenan. Hatinya sedih, seseorang yang ia percayai ternyata hanya menganggap dirinya sampah. Tetapi suasana sedih itu mendadak sirna, saat rambut Ana berkibas terlalu kencang mengenai wajah Keenan dengan begitu kerasnya. Laki-laki itu cemberut, sepertinya perempuan itu masih dendam dengan dirinya. Karena bahkan rambut perempuan itu saja, tampak geregetan dan ikut andil dalam melakukan pembalasan kepada dirinya. Keenan merapikan rambut Ana yang menari-nari di depan wajahnya sambil menggerutu. "An ... gue punya tebak-tebakan." "Males." "Ayolah, An...." "Iya apa?" Keenan tersenyum memamerkan gigi kelincinya di spion motor. Entah kenapa senyum laki-laki itu selalu menular. Membuat Ana ikut tersenyum juga dibuatnya. "Tebak ya, An ... penyanyi luar negeri yang suka sepedaan siapa namanya?" "Selena Gowes," jawab Ana spontan tanpa berpikir. Keenan cemberut. "Penyanyi luar negeri yang susah nelen siapa namanya?" "Ed shered." "Penyanyi yang sering gak sadar diri?" Ana memutar bola matanya malas. "Pingsan mambo." "Serah lah...," rajuk Keenan. Yang benar saja, dari mana Ana tahu semua tebakan yang ia berikan tadi? Gak asyik banget ini perempuan. Akhirnya Ana kembali tertawa. Umur berapa sih laki-laki yang ia bonceng ini? "An, berhenti dulu. Ada yang jualan gulali, tuh?" Ana lagi-lagi mengernyit. "Umur berapa sih, lo?" Lagi pula kenapa tengah malam seperti ini masih ada orang yang berjualan, sih? Yang benar saja, jualan gulali? "Ayolah, An...." Ana akhirnya menurut saja. Menepikan motor, perempuan itu lalu memutuskan menunggu Keenan di sebuah kursi taman. Keenan kembali berlari ke arahnya. "Minta uang, An." Laki-laki itu, menengadahkan tangannya kepada Ana. "Gak bawa uang cash," lanjutnya. "Idih ... belum-belum sudah minta nafkah aja, lo!" "Ayolah, An ... lagi pengen gulali nih...." "Serah lo dah!" Ana menyerahkan uang dua puluh ribuan kepada Keenan. Benar saja, beberapa menit kemudian laki-laki itu kembali dengan gulali yang ada di tangannya. "Kemanisan gulalinya." "Namanya aja gulali, Keen ... kalau pahit itu namanya hidup lo!" Keenan menatap Ana, yang ditatap malah melengos menahan tawa. "Lo jahat banget sih, An." Akhirnya Ana benar-benar tertawa, ia pun lalu beranjak berdiri. "Lo udah bawel, berarti lo uda gak apa-apa. Ayo antarin gue pulang." "An, sorry ya?" "Buat yang mana? Salah lo banyak sama gue." "Mana ada gue banyak salah sama lo!" "Jadi minta maaf, gak?" "Ya, jadi." Keenan mengangguk pasrah. "Buat?" "Buat yang di kantor polisi." Keenan masih sering kepikiran dengan sikapnya tempo hari di kantor polisi. "Buat apa lagi, kalau minta maaf jangan setengah-setengah! Sekalian tuh, lo buat makalah tentang permintaan maafnya lo ke gue, terus lo laminating." "Nglunjak, ya lo lama-lama." Ana terkekeh, cukup lega karena Keenan sudah terlihat baik-baik saja. "Bener kata lo. Gue gak cukup kenal sama, Sinta." "Okelaah, uda gue maafin." "Jadi gak perlu buat makalah nih gue?" "Kalo lo mau besok ya dikumpulinya." Keenan lagi-lagi tertawa. Setidaknya ia tahu siapa yang tulus dengan dirinya. Tetapi walau baru berpisah dengan Sinta, kenapa tidak sesedih yang ia kira, ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN