Berjalan Sesuai Rencana

1024 Kata
"Apa?! Ini aku gak salah denger?! Tanggung jawab macam apa ini, Ningrum!" Pekikan seorang pria paruh baya yang usianya setengah abad lebih itu menggema di dalam ruang keluarga kediaman Sanjaya. Rahang pria itu mengeras dan sorot matanya terlihat tajam menatap istrinya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari sang istri. "Ya, oke, Fandy memang salah! Tapi di sini dia juga menderita!” Ningrum yang sejak tadi duduk di sofa itu beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami yang mulai berdiri dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Demi apa pun jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat melihat sang suami yang terlihat begitu emosi. Ia takut apa yang ia dan Rafa rencanakan itu pada akhirnya ketahuan oleh suaminya. "Ya itu yang mereka mau, Pah," jawabnya dengan suara pelan. "Mau tidak mau, Mama iyakan dan tandatangani surat itu. Mama tidak punya pilihan lain. Mama tertekan, tidak bisa apa-apa. Jadi ya … gimana!” Sanjaya mengepalkan kedua tangannya, rahangnya semakin mengeras. "Papa tidak terima!" serunya dengan nada suara yang lantang. "Kita bawa saja masalah ini ke pengadilan! Biar pengadilan yang menentukan hasil akhirnya!" Ningrum membelalakkan matanya. Napasnya tercekat. Ia dan Rafa bisa habis jika suaminya benar-benar melakukan itu. Semua rencana dan kebohongan yang sudah ia susun dengan rapi pasti akan terbongkar. Terlebih lagi, ia dan Rafa jelas akan berada dalam masalah yang besar karena semua adalah rencana mereka berdua. "Ja—jangan, Pah." Wajah Ningrum menegang seketika. "Ma—masalahnya Mama kan sudah menandatangani surat itu. Itu artinya Mama sudah menyetujui. Kalau masalah ini berlanjut ke pengadilan, Mama juga pasti akan kena!" Sanjaya menatap istrinya dengan tajam. "Dan lagi, Mama tidak mau Fandy masuk penjara. Fandy itu sekarang lumpuh, mau bagaimana dia hidup di dalam penjara dalam keadaan lumpuh seperti itu? Dia juga kan harus terapi dan rawat jalan. Waktu berobat dia akan terbuang hanya untuk menghadapi masalah itu! Itu gak baik untuk pemulihan dia. Belum lagi kondisi keuangan kita sekarang sedang kurang stabil, kan? Bayangkan kalau kita kalah di pengadilan. Mau berapa banyak lagi uang yang harus kita keluarkan? Belum lagi, biaya pengacara pasti mahal! Kita mau gimana nanti, Pah? Mending uangnya kita fokuskan untuk pengobatan Fandy agar dia bisa berjalan kembali.” Raut wajah Irfan mulai berubah, pikirannya mulai terbagi. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya juga. "Dan lagi, masalahnya sekarang Fandy bisa benar-benar jadi tersangka. Ada kadar alkohol yang lumayan besar dalam darahnya saat dia menyetir." Irfan terperanjat. "Apa?! Fandy minum pas lagi nyetir?” Ningrum mengangguk pelan. "Jadi, ya ... jelas dia akan ditetapkan sebagai tersangka dan hukumannya tidak main-main. Apalagi korbannya meninggal. Saat di pengadilan nanti, pihak korban pasti akan memberatkan Fandy. Mereka akan bilang, seharusnya Fandy tidak boleh menyetir kalau sedang mabuk, harusnya Fandy juga memeriksa kondisi mobilnya dulu sebelum dipakai. Di sini memang kita yang salah besar, Pah.” Irfan mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya kini terasa begitu sangat berat. "Kita tidak punya pilihan lain, Pah. Kita ikuti saja maunya mereka. Daripada uang kita terbuang untuk pengacara yang jelas kekalahan ada di depan mata dan juga pasti membuang waktu, lebih baik kita gunakan waktu dan uang yang kita punya untuk Fandy. Kita pakai uang itu untuk biaya terapi Fandy. Kakinya harus segera diterapi biar dia bisa jalan lagi. Atau dia akan lumpuh selamanya. Mama tidak mau hal itu terjadi.” “Huuuhhh!” Irfan menghela napas begitu panjang. "Iya … kamu benar juga." Ningrum tersenyum kecil, menyembunyikan rasa puasnya. Rencananya dengan Rafa berjalan dengan mulus sekali. Namun sesaat kemudian, ia kembali memasang wajah yang terlihat berat. "Maafkan Mama ya, Pah. Saat menandatangani surat itu, Mama benar-benar tertekan. Pikiran Mama hanya satu saat itu, bagaimana caranya agar Fandy tidak masuk penjara dan masalah itu tidak jadi panjang.” Tak ada jawaban dari Irfan. Ia kembali duduk diam di sofa dengan pandangan kosong. Kepalanya terasa berat sekali. "Hmm … bagaimana perjalanan bisnis Papa?" tanya Ningrum berusaha mengalihkan topik. "Semua berjalan lancar?" Irfan mengangkat wajahnya, rautnya terlihat lelah. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu menggeleng pelan. "Enggak. Papa tidak berhasil mendapatkan proyeknya." Ningrum cukup tersentak. "Perusahaan akan collapse, Pah?" tanya dengan raut wajah yang serius. Demi apa pun, ia enggan jika hidup dalam kemiskinan. "Enggak" jawab Irfan cepat. "Papa tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Memang proyek besar yang Papa incar tidak berhasil Papa dapatkan, tapi masih ada beberapa proyek lain. Walaupun tidak sebesar yang Papa incar, setidaknya cukup untuk membuat perusahaan tetap berjalan karena ini proyek yang lumayan panjang. Dan jika proyek ini berjalan lancar, seiring berjalannya waktu, perusahaan akan stabil." Ningrum menghela napas lega. Itu artinya, dia masih bisa hidup nyaman tanpa harus khawatir akan kekurangan uang. "Papa siap-siap dulu. Mau ke rumah sakit melihat kondisi Fandy,” ucap Irfan beranjak dari duduknya. Ningrum langsung ikut bangkit. "Ah, Papa mau ke rumah sakit? Ya udah, Mama ikut nemenin Papa, ya.” Irfan mengangguk, lalu berjalan ke arah kamarnya. Ningrum melangkah, hendak masuk ke kamar juga. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia lantas menoleh, melihat Rafa yang sedang bersembunyi di balik dinding yang mengarah ke arah dapur. “Mam? Mamaaa?” panggilnya lirih. "Ya ampun, Rafa?!" serunya terkejut. Ia menatap sang putra yang berdiri dengan ekspresi tak berdosa. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Ningrum setelah melangkah menghampiri putranya. "Ya, nguping lah. Mau apa lagi?" Ningrum melotot, tapi Rafa hanya terkekeh kecil. “Kamu ini!” "Semua aman kan, Mam?" tanyanya dengan nada santai. "Rencana kita berjalan dengan lancar. Hidup kita akan tetap aman dan damai setelah ini. Ideku itu emang brilian! Aaahh … hampir saja hidup kita terusik. Untung otakku ini cerdas.” "Tapi prosesnya buat Mama jantungan tahu!" dengus Ningrum masih sedikit kesal. “Kita hampir saja ketahuan! Kamu tidak dengar tadi, Papamu mau memperpanjang masalah ini! Bayangkan jika hal itu sampai terjadi, kita bisa habis Rafa! Kita akan hidup memggembel! Iyuuhhh … Mama tidak mau jika hal itu sampai terjadi! Untung saja otak dan mulut ini pandai sekali. Kalau tidak? Aaaahhhh … Mama tidak bisa membayangkannya sama sekali.” Rafa menyeringai. Ia melangkah mendekat, menepuk pundak ibunya. "I'm so sorry, Mam," ucapnya dengan nada bercanda. “Toh yang terpenting kan sekarang sudah aman. Kita akan tetap hidup enak setelah ini.” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN