Petir seolah telah menyambar perasaanku. Kabut hitam berkumpul di atas kepalaku. Kini hanya bayangan yang menghitam menghalangi sinar matahari diiringi tetes hujan yang menghadiri pemakaman ibuku. Selama ini, hanya ibu yang selalu bersamaku. Ibu yang selalu dekat dan mengerti aku. Ia lebih dari sekedar malaikat penjagaku, ia juga adalah sahabatku. Aku mungkin tak terlalu dekat dengan ayahku, karena ia terlalu sibuk bekerja. Tapi, bagaimana sekarang? Siapa yang akan mampu menemaniku lagi? Siapa yang akan menghiburku? Siapa yang akan mengusap tetes air mataku? Tuhan sungguh kejam. Mengapa ia tega merenggut seseorang yang aku sayangi? Mengapa ia tidak merenggutku saja? Kenapa? Kenapa? Aku hanya bisa bertanya-tanya. Perlahan separuh jiwaku hancur seperti ada lubang yang menghilangkan sesuatu

