Tak terasa sembilan tahun berlalu, tak ada lagi mimpi buruk, tak ada lagi seseorang yang menghantui. Walau tak bisa mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, karena tak bisa dipungkiri kita tak akan berpisah dengannya. Ia selalu ada dalam memori, tapi setidaknya kita bisa mengucapkan selamat datang pada saat ini dan juga masa depan.
Ini terasa hal yang paling sempurna. Setidaknya ia bisa merasakan bagaimana hidup normal. Teman, keluarga, tugas-tugas kuliah, mendengar curhatan orang lain, jalan-jalan, dan yang tak kalah penting media sosial. Tapi, tunggu dulu, sempurna adalah kata yang paling menakutkan baginya. Ketika ia merasa paling sempurna, maka ketika itu pula ia merasa kalau itu tidak mungkin. Kebahagiaan selalu datang diiringi kesedihan, begitu juga sebaliknya. Bagaikan bumi yang berputar, bulan disertai kegelapan selalu muncul diiringi tenggelamnya sinar matahari yang menghangatkan. Terus seperti itu, tak ada yang mengalah untuk memberikan waktu yang lebih lama. Tapi satu yang paling penting, semua itu tidaklah terjadi begitu saja, pasti ada sesuatu dibalik semua itu.
Tok ... tok ... tok...
Bunyi itu seketika membangunkannya dari sebuah lamunan.
"Ayo, Cassie. Kau tak akan melewatkannya!" teriak orang yang mengetuk pintu tadi. Kali ini ia sudah membuka pintu dan menarik tangan gadis yang sedang melamun di tempat tidur itu.
"Ayolah, ini masih pagi. Maksudku hari ini tak ada jadwal kuliah," jawab Cassie sambil bermalas-malasan di kasur.
"Pertama, ini sudah siang. Kedua, apa kau mau melewatkannya sendiri tak ada yang mendukungnya di pertandingan?" tanya Lena. Sahabat Cassie di kampus. Sebenarnya mereka tidak satu jurusan, apa lagi satu fakultas, tapi sejak pertama kali masuk kuliah mereka langsung akrab.
"Alex," jawab Cassie santai.
"Ya. Ayo, cepat bersihkan iler dan rambutmu," kata Lena.
"Hei, aku tidak mengiler dan lihatlah aku masih tetap cantik dengan rambut ini," kata Cassie sambil mengaca dan mengibas-ngibaskan rambutnya menggoda.
"Jangan banyak bercanda. Ayo, cepat bersihkan tubuhmu aku akan tunggu di luar," kata Lena sambil mendorong Cassie ke kamar mandi.
Seketika Cassie masuk ke kamar mandi. Namun baru saja beberapa detik, ia sudah memperlihatkan kepalanya ke luar. "Kau tahu Lena, Alex tak akan merengek karena sendirian."
15 menit sudah berlalu. Kini Cassie tampak sudah lebih baik. Wajah cantik dengan rambut sedikit ikal berwarna pirang gelap dan mata coklat kekuningannya sudah siap membuat para lelaki di kampusnya terpesona. Ia pun segera beranjak menuju dapur untuk sarapan, namun baru saja ia selesai minum Lena langsung menyeretnya pergi.
"Sudah tidak ada lagi waktu. Ayo!" kata Lena dengan terburu-buru.
***
Baru saja Cassie membuka pintu mobil yang dikendarai Lena. Sudah banyak teriakan dari para lelaki. Namun sayang, tak ada satu lelaki pun yang berhasil menakhlukkannya. Boleh percaya atau tidak, di zaman seperti ini Cassie tidak memiliki kekasih, bukan karena ia sudah putus atau tak ada yang mau dengannya. Hanya saja saat ini ia belum memikirkan untuk memulai hubungan dengan seseorang.
"Kalian ke mana saja? Acaranya sudah dimulai," tanya Abby. Sahabat Cassie lainnya.
Mereka terlihat terburu-buru sudah tidak sabar. Ini adalah pekan olahraga dan seni di kampusnya. Kalau sudah begini orang-orang berbondong-bondong untuk melihat atau mendukung yang sedang lomba.
"Alex ... Alex ... Alex ...." Terdengar teriakan dari arena renang.
"Sudah kubilang Lena, Alex tak akan sendiri," kata Cassie tersenyum.
"Itu semua tidak berarti, karena ia hanya menginginkan kita ada di sini," rengek Lena.
"Maaf, tapi maksudmu Cassie. Bukan kita," sanggah Abby.
"Dia tidak memerlukanku. Dia punya banyak penggemar di sini. Lagi pula, di tempat yang sesak ini ia tidak akan mengenali kita," kata Cassie.
Namun, baru saja ia berbicara dan duduk di bangku penonton sudah ada teriakan memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan Alex. "Cassie!"
"Kau lihat. Di tempat yang sesak ini, ia masih saja mengenalimu," kata Lena terlihat iri.
"Hei, jika kau menyukainya mengapa kau tidak mendekatinya dan mengatakan isi hatimu padanya? Lagi pula ia masih single," kata Cassie menyarankan.
Alex adalah presiden kampus. Ia adalah pria yang tampan dan terlihat cool, namun begitu ia selalu bersikap ramah sehingga para gadis di kampusnya meleleh melihatnya.
Di mata para mahasiswa, Alex dan Cassie sungguh terlihat sebagai pasangan serasi. Yang satu raja dan yang satu ratu kampus. Namun itu adalah hal aneh bagi Cassie melihat orang menyanding-nyandingkan seseorang yang menurut mereka serasi. Bagi Cassie, Alex tak lebih dari sekadar sahabat atau kakak.
"Kau jangan diam saja. Ayo beri dia dukungan!" kata Abby yang juga mulai menggoda Cassie.
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus teriak?" tanya Cassie yang sedari tadi hanya duduk memandangi Alex dan yang lainnya berenang.
"Alex ... Alex ... Alex ...!" teriak Lena yang paling keras. "Ayo ikuti aku!"
"Ayo, Alex!" teriak Cassie seketika saat Alex mulai mendekati tepi kolam.
Semua ruangan bergemuruh melihat Alex yang memenangkan pertandingan. Cassie dan sahabat-sahabatnya itu pun menghampiri Alex selepas ia ganti baju.
"Senang melihatmu datang. kukira kau tidak akan datang," kata Alex sambil menegak botol minum.
"Hei, sudah kukatakan kalau jangan minum sambil berdiri," kata Cassie terlihat kesal.
"Baiklah, bu dokter," balas Alex sambil duduk.
"Selamat Alex, kau telah memenangkan pertandingan itu," puji Abby.
"Walau jika ia tidak menang, tapi ia sudah memenangkan hati banyak wanita," kata Cassie. "Termasuk Lena," godanya.
Seketika wajah Lena memerah. "Ayo, kita ke kantin. Kau tahu, temanku Cassie ini bahkan belum sarapan karena tidak ingin ketinggalan menonton pertandinganmu," ajaknya mengalihkan pembicaraan.
"Ya, itu benar dan Alex yang teraktir," kata Abby.
Semuanya teriak tanda setuju. Tak ketinggalan juga teman-teman Alex lainnya ikut meramaikan.
Mereka pun bercakap-cakap merayakan kemenangan Alex. Banyak kiriman bunga untuknya. entah dari siapa saja, tapi kebanyakan dari mahasiswi tingkat 1. Sepertinya bunga-bunga itu sudah mereka persiapkan sebelumnya, tak peduli Alex kalah atau menang.
"Ini untukmu!" kata seorang lelaki yang menghampiri meja sambil menaruh bunga di meja Cassie.
"Hei, tapi aku tidak memenangkan apa pun. Mungkin kau salah alamat," teriak Cassie memanggil lelaki itu yang kini sudah pergi.
"Wow. Cassie. Andai aku seperti dirimu. Dicintai banyak orang," kata Lena sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Abby.
"Kau tak perlu merasakan cinta dari banyak orang. Merasakan cinta dari seseorang yang kau sayangi itu saja sudah cukup," kata Cassie.
"Oh, oh, oh. Lihatlah siapa yang datang?! Si kutu buku itu," teriak Xavier teman Alex.
Semua orang menghina gadis yang lewat di depan mereka, apalagi Abby. Ia yang paling bersemangat.
"Abby, hentikan!" pinta Cassie sambil menyentuh tangan Abby. "Mengapa kalian selalu menghinanya. Itu tidak berperikemanusiaan."
"Oh, Alex. Lihatlah Cassie kecil-mu. Dia sungguh baik," ejek Steve. Teman Alex lainnya.
"Maaf, tapi aku bukan Cassie kecilnya Alex dan kalian lihat sendiri aku sudah besar," kata Cassie kesal.
"Hentikan, Steve. Cassie benar," kata Alex membela.
"Dan kau, Abby. Mengapa kau paling bersemangat?" tanya Cassie terlihat kesal dengan perbuatan teman-temannya itu.
"Ayolah Cassie, Mia pantas mendapatkannya. Kau lihat, tidak ada yang mau pergi makan atau jalan bersamanya. Dia itu aneh dan mengerikan," jawab Abby.
"Malangnya kau pernah bersahabat dengannya, Abby," kata Lena.
"Sudahlah, Lena. Itu hanya masa lalu," kata Abby.
"Jadi, kau pernah bersahabat dengannya? Bagaimana rasanya? Apa dia tidak menggigit?" tanya Xavier.
"Ayolah teman-teman kita ganti saja topik pembicaraan. Seharusnya kita bersenang-senang," kata Abby.
"Aku dengar bulan lalu ia memenangkan olimpiade," celetuk Cassie.
"Sudahlah, Cassie. Lagi pula itu tidak membuatnya untuk memenangkan satu temanpun," kata Steve.
Jujur saja, Cassie prihatin melihat Mia yang tidak memiliki teman. Ia selalu sendiri dan parahnya orang-orang selalu mengejeknya. entah apa yang sudah ia lakukan, seburuk itukah ia? Tapi, perlu kalian ketahui kalau Mia adalah murid tercerdas di jurusan Biologi.
***
Mendengar Abby pernah bersahabat dengan Mia, Cassie menjadi semakin penasaran. Apa yang membuat mereka tak lagi bersahabat. Apakah Mia memang dari dulu seperti itu. Atau ... Ah ... terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Malangnya, kenapa Cassie sekarang harus tertarik pada Mia. Kenapa tidak saat tahun pertamanya, bukan tahun kedua seperti sekarang.
"Hai, Cassie. Kau mau ke mana?" tanya Alex sambil berlari mengejar Cassie.
"Aku mau pulang," jawab Cassie.
"Tapi masih banyak acaranya," kata Alex.
"Kau tahukan, aku tidak suka berlama-lama menonton pertandingan," kata Cassie.
"Kalau begitu, aku akan mengantarkanmu," kata Alex menawarkan.
"Tidak usah. Kau adalah presiden di sini. Kau harus ada. Lagi pula aku bisa pulang sendiri," kata Cassie.
"Baiklah. Hati-hati," kata Alex. Sementara Cassie hanya tersenyum kemudian membalikan badan dan pergi.
Baru saja beberapa meter ia melangkah, tiba-tiba terdengar teriakan memanggilnya.
"Cassie!" kata Lena.
"Ada apa?" tanya Cassie.
"Kau mau pulang?" kata Lena balik bertanya.
"Ya. Aku bosan di sini," jawab Cassie.
"Kalau begitu aku ikut," pinta Lena sambil menggandeng tangan Cassie. Lena adalah gadis yang periang dan juga cerewet.
Merekapun akhirnya pulang bersama dengan mobil Lena tadi.
Namun belum juga Cassie sampai rumah, ia celetuk bertanya pada Lena mengenai persahabatan Abby dan Mia. Lena sangat dekat dengan Abby. Ia juga teman SD Abby. Pasti Lena tahu banyak tentang Abby.
"Hai, Lena. Boleh aku bertanya?" tanya Cassie. Seketika ia membalikan wajahnya kepada Lena dari memandangi pemandangan dari kaca mobil.
"Tentu saja," jawab Lena singkat.
"Kau berteman dengan Abby cukup lama. Maksudku kau pasti tahu alasan kenapa Abby dan Mia harus mengakhiri persahabatan mereka," kata Cassie.
"Ya. Aku tahu. Tapi untuk apa kita membicarakan ini. Abby juga sepertinya tidak ingin kita membicarakannya," kata Lena yang matanya tertuju pada jalan.
"Ayolah, Lena. Aku hanya penasaran," bujuk Cassie.
"Hmm ... baiklah. Dulu Abby dan Mia adalah seorang sahabat. Bisa dibilang mereka saling membutuhkan. Kau lihat bukan, Abby sangat ahli dalam bidang sosial, bahasa dan sebagainya, tapi ia kurang dalam hal eksakta. Sedangkan Mia seperti kebalikan Abby. Mereka selalu belajar bersama dan sering menginap juga menghabiskan waktu bersama-sama. Saat itu Abby sedang menginap di rumah Mia. Tiba-tiba saja ayah Mia datang dalam kondisi mabuk dan marah-marah. Ia memandangi wajah Mia dan Abby seperti kau tahu ... Sungguh mengerikan. Ia melecehkan Mia dan Abby menghalanginya. Namun tangan ayah Mia malah membelai pipi Abby. Hal itu membuat Abby menjadi sangat ketakutan. Untung saja ibu Mia datang dan menyuruh mereka berdua masuk kamar, tapi kau tahu apa yang selanjutnya terjadi?" tanya Lena.
"Apa?" kata Cassie penasaran.
"Ayah Mia membunuh ibu Mia. Kemudian ayahnya dipenjara dan Mia tinggal dengan orangtua angkatnya. Semua orang di sekolah selalu mengejek Mia, karena ayahnya seorang pembunuh. Mereka juga mengejek Abby, karena berteman dengan anak seorang pembunuh. Itu membuat Abby lelah. Ia juga sangat kesal bila mengingat ayah Mia yang membelai pipinya. Akhirnya ia menghindar dari Mia dan Mia berubah menjadi pribadi yang sangat pendiam dan pemurung," kata Lena menjelaskan.
"Lalu mengapa mereka mengatakan kalau Mia aneh?" tanya Cassie yang masih penasaran.
"Itu karena Mia tidak punya teman dan diam-diam ia suka berbicara sendiri. Ia bilang kalau ia sedang berbicara dengan ibunya, karena itu mereka menyangka Mia gila. Sejak saat itu perilaku Mia berubah menjadi seorang yang apatis," kata Lena.
"Dia depresi. Seharusnya saat itu kalian tidak menjauhinya. Dia butuh teman," kata Cassie sambil membayangkan.
"Kau salah. Banyak yang simpati pada Mia termasuk Abby. Namun, kau tahu saat Abby mencoba mendekatinya?" tanya Lena. Sedangkan yang ditanya hanya menggelengkan kepala. "Dia menjambak rambut Abby kemudian mendorongnya hingga terjatuh. Dari saat itulah, Abby tidak menyukai Mia,"
"Mungkin Mia kecewa, karena Abby menghindarinya dan tidak ada di sampingnya. Kau tahu, teman seharusnya ada disaat suka maupun duka," kata Cassie yang terus berpikiran positif.
"Saat itu kau tidak ada di sana. Kau tidak tahu betapa mengerikannya Mia. Untung aku tidak sekelas dengannya," kata Lena sambil merinding.
Kini Cassie mulai memahami sedikit demi sedikit. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Danies. Apa jadinya jika Danies tahu kalau ayahnya juga seorang pembunuh. Apa mungkin ia akan berubah seperti Mia sekarang? Semoga saja tidak.