Ting ... tong ...
Terdengar suara bel dari luar. entah siapa yang datang malam-malam begini. Ini sudah malam ya walaupun ini masih pukul delapan, tapi tetap saja langit sudah berubah menjadi hitam.
Seketika Cassie membuka pintu kamarnya, menuruni anak tangga. Saat ini tak ada siapa-siapa di rumah. Hanya ada dia dan seorang pekerja rumah tangga.
"Hai. Apa aku tidak menganggu?" tanya orang yang memencet bel dari tadi. Ternyata itu adalah Alex.
Sejak pertemuan mereka dua setengah tahun lalu, Alex memang sering ke rumah Cassie. Walaupun hanya untuk berbincang-bincang layaknya teman. Alex juga tak pernah malu untuk curhat kepada Cassie dan meminta pendapatnya dalam mengambil keputusan. Termasuk dalam melaksanakan jabatannya sebagai badan eksekutif kampus. Hubungan mereka terlihat begitu akrab layaknya adik dan kakak.
"Sebenarnya aku baru saja mau tidur," jawab Cassie di depan pintu.
"Tapi ini masih belum terlalu malam," kata Alex terlihat kecewa. "Padahal aku baru saja ingin mengajakmu ke luar. Ya, hanya sekadar merayakan kemenanganku tadi."
"Tapi kita telah merayakannya di kampus," kata Cassie.
"Ya, aku tahu. Tapi aku ingin merayakannya berdua denganmu," kata Alex memelas.
"Hmm ... kalau begitu, kita rayakan saja di sini. Aku sedang tidak ingin keluar," kata Cassie yang masih menyenderkan tubuhnya di pintu, tanpa mempersilahkan Alex masuk.
"Ayolah. Kita akan pulang jam 10," pinta Alex.
"Baiklah. Tapi tidak lebih," kata Cassie menyetujui.
Setelah Cassie mengambil jaket dan tasnya mereka pun berangkat. Mereka pergi ke pekan raya. Tak banyak permainan yang mereka mainkan karena mengingat antrian dan Cassie harus pulang sebelum pukul sepuluh.
"Mau lihat aksiku?" kata Alex yang sedang mencoba permainan menembak.
Cassie hanya tersenyum. Ia tidak yakin Alex akan memenangkan permainan.
Satu persatu peluru itu ditembakan pada papan yang ada. Kali ini adalah hari keberuntungannya. Alex terus saja tersenyum dan tertawa melihat aksinya. Sesekali ia memuji dirinya sendiri. Tinggal satu peluru lagi untuk ia dinyatakan berhasil dan memenangkan sebuah hadiah.
Namun berbeda dengan Cassie. Kepalanya terasa sakit setiap Alex menembakan peluru. Seolah ada yang melayang dipikirannya.
"Yes. Kau lihat Cassie, aku menang," kata Alex. Namun saat ia menoleh Cassie tak ada di sana. Ia pun bingung tak tahu Cassie ke mana.
Ia mencoba mencari Cassie, tak lupa ia membawa boneka hadiah menembak tadi. Ini sungguh tempat yang sesak. Ia tak tahu harus mencarinya di mana. Bahkan menelpon pun tak berguna karena suara yang begitu bising.
Sementara itu Cassie sedang duduk di salah satu bangku, mencoba menahan rasa sakitnya. Belum juga rasa sakit itu hilang, terdengar suara yang tak asing baginya. Tak hanya itu, suara itu membuatnya semakin sakit kepala.
"Sedang apa kau malam-malam? Menghabiskan malam dengan kekasihmu? Ke mana dia? Aku tidak melihatnya," kata seseorang.
"Aku tidak mengerti yang kau ucapkan," kata Cassie sambil memegang kepalanya. Namun kaget bukan kepalang saat ia mulai menatap wajah yang berbicara tadi.
"Atau kau sedang menghabiskan waktu sendiri karena meratapi kesalahanmu itu?" tanya seseorang tadi.
"Danies?" kata Cassie kaget. "Aku harus pergi."
"Tunggu dulu. Kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa kau terburu-buru?" tanya seseorang tadi. Siapa lagi kalau bukan Danies.
"Mengapa kau selalu memegang tanganku keras-keras? Rasanya baru saja tanganku terasa baikan," jawab Cassie. Saat ia ingin pergi, Danies malah menarik dan memegang tangannya dengan kuat.
"Ayolah, Rossie. Tak baik gadis sepertimu malam-malam sendiri," kata Danies.
"Itu semua bukan urusanmu. Dan mengapa kau juga sendiri ke sini?" tanya Cassie sambil mencoba melepaskan genggaman Danies.
"Aku datang bersama teman-temanku. Namun aku sedang berkeliling mencari minuman. Kau sendiri?" jawab Danies yang malah balik bertanya.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu," kata Cassie kemudian pergi meninggalkan Danies.
"Kau akan menyesal Rossie!" teriak Danies.
Cassie terus saja berlari menghindari Danies. Danies benar-benar membuat kepalanya semakin sakit. Ingin rasanya ia pulang dan tidur. Beruntung ia segera bertemu dengan Alex.
"Cassie dari mana saja kau?" tanya Alex.
"Ini sudah setengah 10. Aku ingin pulang," kata Cassie.
"Baiklah. Ayo, kita pulang. Apa kau baik-baik saja?" tanya Alex.
"Ya," jawab Cassie singkat sambil berjalan ke luar.
Merekapun akhirnya pulang. Walaupun selama diperjalanan Cassie hanya terdiam membisu. Tak ada senyum keceriaan seperti saat pertama datang ke pekan raya.
"Ini!" kata Alex sambil memberikan boneka pada Cassie.
"Apa ini?" tanya Cassie.
"Itu hadiah dari menembak tadi. Aku harap kau suka," jawab Alex.
"Terima kasih. Kalau begitu, aku masuk dulu," kata Cassie sambil membuka pintu rumahnya.
"Tunggu. Tapi, aku penasaran mengapa tadi kau meninggalkanku sendirian? Kau tahu aku sangat kesulitan mencarimu," kata Alex.
"Maaf. Tadi aku hanya keliling-keliling saja," jawab Cassie.
"Baiklah. Aku pulang dulu. Terima kasih untuk malamnya. Oh iya satu lagi. Jangan lupa pekan ini akan ada malam dana," kata Alex. Langkahnya perlahan mundur meninggalkan rumah Cassie. Sementara Cassie tak banyak basa-basi langsung masuk rumah dan pergi tidur.
***
Di kampusnya, memang tak hanya diselenggarakan olah raga ataupun kesenian saja. Puncaknya adalah malam dana. Di mana semua anak berkumpul menyumbangkan semua uang hasil kemenangannya untuk disumbangakan, ada juga lelang barang-barang kesayangan, sedangkan mahasiswa yang tak ikut lombapun boleh menyumbangkan uang mereka. Sebelumnya para mahasiswa pun turun ke jalan-jalan untuk meminta sumbangan. Semua ini adalah bentuk kepedulian mereka yang bekerja sama dengan UNICEF untuk para korban di Suriah.
"Mau menyumbang?" kata Alex menghampiri seorang laki-laki yang seorang sedang meminum kopi di sebuah kafe. Alex dan teman-temannya tak hanya meminta begitu saja. Sebelumnya ia dan teman-temannya menyanyikan beberapa lagu dan ada juga yang memainkan biola.
"Hei, aku bertemu denganmu di pekan raya tadi malam. Tapi ke mana wanita yang bersamamu tadi malam?" tanya Danies. Ya, tadi malam ia membuntuti Cassie dan melihatnya dengan Alex.
"Oh, itu Cassie sahabatku. Ia sedang mencari sumbangan ke daerah lain," jawab Alex.
"Cassie? Cassie Adams?" tanya Danies dalam hati.
"Maaf. Tapi apakah Anda mau menyumbangkan sedikit uang Anda?" tanya Alex membangunkan Danies dari lamunannya.
"Oh tentu saja. Maaf aku hanya bisa menyumbang sedikit," jawab Danies sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula sesuatu yang sedikit itu akan menjadi banyak bagi mereka," kata Alex tersenyum.
"UCLA. Jadi, kalian dari UCLA?" tanya Danies saat melihat tulisan di box sumbangan, "Pray for Suriah, Pray for the our world"–UCLA and UNICEF
"Ya. Oh iya, pekan ini kami juga akan mengadakan malam dana, Anda bisa ke sana untuk ikut berpartisipasi," jawab Alex.
"Tentu. Aku akan ke sana," kata Danies tersenyum.
"Ayo, Alex kita pergi ke tempat lain!" teriak Xavier.
Danies hanya bisa terus berpikir sambil sesekali ia meminum kopinya. Mungkinkah gadis yang tadi malam itu adalah Cassie. Cassie, sahabat kecilnya. Orang yang selama ini ia rindukan. Tapi, itu adalah Rossie. Gadis menyebalkan yang membuatkan harus bersusah payah mendapatkan kerjasama dengan perusahaan lain. Tapi, bagaimana jika itu benar. Hubungannya selama ini sudah kacau, tapi kalaupun itu benar itu gara-gara Rossie. Andai ia berkata kalau ia adalah Cassie. Tapi, jika itu Cassie mengapa ia tega membiarkannya tidak bekerjasama dengan perusahaan kakeknya, ia sendiri pasti sudah tahu nama lengkap Danies dari proposal yang diberikan pada perusahaan kakeknya.
***
Akhirnya, malam dana pun tiba. Acara yang dimulai dari jam 7 dan akan berakhir jam 12 nanti dibuka dengan berbagai kreasi seni. Ada yang menyanyi solo, band, bermain musik, juga menari.
"Mengapa kau tidak menari saja?" tanya Abby di belakang panggung.
"Ya, itu benar. Aku lihat piala kau menari di kamarmu. Kakekmu bilang kau menari dengan memadukan unsur bela diri. Wow itu sangat keren," kata Lena.
"Asal kalian tahu, itu adalah tarianku yang terakhir," kata Cassie sambil membersihkan violin yang dibawanya untuk tampil.
"Kalau ia menari tentu aku tidak akan menemaninya di panggung saat ini," kata Alex datang tiba-tiba sambil membawa gitar.
Alex dan Cassie akan duet menyanyi sambil Alex memainkan gitar dan Cassie memainkan violin.
"Ya, ya ... aku sudah tidak sabar melihat kalian tampil," kata Lena. Ia memang orang yang paling bersemangat. Sementara yang lain hanya tersenyum mengiyakan.
Lena, Abby, Xavier, Steve, dan teman-teman lainnya pun pergi ke depan untuk melihat pertunjukkan. Sementara Alex dan Cassie latihan dan menunggu nama mereka dipanggil.
***
Tak disangka, Danies memutuskan untuk menghadiri malam dana itu. Terlihat sudah sesak karena mahasiswa dan orang luar yang menonton. Beruntung ia bisa menyempil-nyempil agar bisa melihat dengan jelas.
"Sekarang kita akan tampilkan kesayangan kita, Alex deKam dan Cassandra Adams," teriak MC di panggung.
Sontak semua orang berteriak. Sudah hampir setengah jalan acaranya dan ini adalah yang ditunggu-tunggu. Raja dan ratu kampus akan tampil. Sebenarnya mereka dikagumi bukan hanya ketampanan Alex dengan mata biru dan rambut coklatnya, atau Cassie dengan mata coklat dan rambut pirang gelapnya. Itu karena prestasi dan kepribadian mereka di kampus sungguh-sungguh membuat semua orang kagum.
Deg!
Nama yang dipanggil MC tadi sungguh membuat jantung Danies berdebar. Dilihatnya orang yang dipanggil tadi keluar dan berada di atas panggung. Itu adalah Rossie dan pria yang di sebelahnya adalah orang yang menemaninya di pekan raya, orang yang sama meminta sumbangan padanya. Jadi itu memang benar Cassie. Ingin sekali ia berteriak, berlari dan memeluk . gadis itu. Namun ia tidak berani mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Rossie. Ia hanya bisa melihatnya tampil dari kejauhan. Tak berani mendekatinya.
Untuk pertama kalinya ia memandang Rossie dalam bentuk Cassie. Walau dalam hati ia masih sedikit ragu, karena mungkin saja hanya namanya saja yang sama. Tak ada rasa kesal atau benci di hatinya. Ia melihat sosok Cassie yang sedang beraksi dengan penuh senyum yang menenangkan hatinya.
Tanpa terasa Danies di sana sampai acara berakhir. Ia pun menyumbang lagi. Acara berakhir dengan pengumuman jumlah dana yang terkumpul dan disaksikan langsung oleh UNICEF, bank dan kepolisian untuk keabsahan dana itu. Selepasnya ia hanya bisa pulang dengan harapan dapat memeluk Cassie dan bercengkrama seperti dulu.