Danies tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam hatinya ia tak ingin kalau Rossie itu Cassie. Keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Tapi, apakah itu benar. Ia sendiri tak pernah mengobrol dengan baik dengan Rossie. Saat pertemuan pertama, Rossie mengajaknya beradu mulut, tapi jika dipikir-pikir pertemuan berikutnya justru Danies sendiri yang mengajak Rossie beradu mulut. Ia teringat akan perkataan ibunya tempo lalu, bagaimana jika itu adalah Cassie akankah ia melampiaskan kekesalan dan kemarahannya seperti pada Rossie. Dan jawabannya adalah tidak. Itu adalah hal yang tidak adil. Sepertinya jika Cassie melakukan kesalahan apa pun ia akan menerimanya dengan mudah, tapi tidak untuk orang lain, tidak juga untuk Rossie yang membuat dirinya kesal berkelanjutnya.
Danies seolah menutup mata dan hatinya pada sosok positif Rossie, hanya ada hal negatif dibayangnya. Itu membuat Danies sendiri bingung. Mengapa dan mengapa. Namun ia harus melihat dengan mata dan hati yang jernih.
"Kau mau ke mana?" tanya Serena.
"Aku akan menemui Pak John Adams. Ia janji akan mengajarkanku dalam mengelola perusahaan," jawab Danies.
"Apa paman tidak salah dengar?" tanya James sambil tersedak.
"Tentu tidak. Sampai sekarang kita belum mendapat kerjasama dengan perusahaan baru yang berkompeten. Tidak ada salahnya untuk meminta pendapat dari sang maestro bukan?" kata Danies balik bertanya.
"Bukankah kau membencinya?" tanya Serena. "Apa ini ada kaitannya dengan Rossie?"
"Aku hanya tidak ingin perusahaan kita terus terpuruk. Aku tidak membencinya hanya saja tekanan ini membuatku cepat sekali merasa kesal. Ibu benar, perilaku yang aku lakukan pada Rossie salah. Tapi, bagaimana aku harus menebusnya?" kata Danies sambil memegang kedua tangan ibunya.
"Ibu senang jika kau mau memperbaiki semuanya. Ingatlah wanita memang terkadang membuat para lelaki kesal, namun jauh dari lubuk hatinya setiap wanita memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang," jawab Serena.
"Tak hanya itu, seberapa besar marahnya seorang wanita, ia akan mudahnya luluh dan memaafkannya hanya dengan coklat, bunga atau rayuan lainnya. Apalagi kalau orang itu sudah bersujud menangis meminta maaf. Kalau tidak percaya coba saja lakukan!" tambah James.
"Hmm ... baiklah aku akan mencobanya," kata Danies sambil tertawa.
Jawaban ibu dan pamannya itu memang benar. Tuhan tidaklah menciptakan hati wanita dari batu yang keras, tapi seperti air yang mudah berubah gerakannya. Tapi, apa yang ia dapat ketika dulu ia mencoba meminta maaf pada Rossie? Kerjasamanya gagal total. Tapi itu tak masalah, tak ada salahnya untuk mencoba walau lagi dan lagi.
***
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya reseptionis.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan John Adams," jawab Danies.
Namun tiba-tiba seseorang memanggilnya. "Danies"
"Suatu kejutan besar kau kemari. Apa yang bisa saya bantu? Ayo kita bicarakan di kantor saya," kata orang yang memanggilnya tadi. Itu adalah Pak John Adams yang baru saja selesai bertemu dengan klien.
Danies hanya mengangguk dan tersenyum tanda setuju. Ia pun pergi ke ruangan Pak John.
"Silahkan duduk. Ayo katakan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Pak John.
"Dulu Anda menawarkan untuk menjadi konsultan saya. Kalau tidak keberatan saya ingin Anda membagi ilmu Anda untuk saya pelajari," jawab Danies canggung.
"Itu bagus. Saya dengan senang hati bila bisa membantu kau," kata Pak John.
"Terima kasih sebelumnya," balas Danies bahagia.
"Kalau begitu, nanti kita bicarakan lagi kapan pertemuan yang tepat," kata Pak John.
"Baiklah," sahut Danies. "Oh iya, saya benar-benar minta maaf atas perilaku saya pada Rossie. Saya sungguh menyesal," tambah Danies memberanikan diri.
"Memangnya apa yang sudah kau lakukan pada Rossie? Rossie tak pernah mengatakan apa pun tentangmu. Apa kalian ada masalah?" tanya Pak John bingung.
Rossie tak pernah mengatakan apa pun pada Pak John? Apa itu benar? Atau Pak John hanya pura-pura tidak tahu. Itu membuat Danies salah tingkah.
"Hanya sedikit kesalahfahaman saja. Tolong sampaikan permintaan maafku padanya," jawab Danies tersipu malu.
"Baiklah. Hmm ... setiap hubungan itu ada masanya untuk berselisih. entah itu adik-kakak, sahabat, kekasih, suami-istri atau bos dan karyawannya. Tapi aku senang jika kalian tak berlama-lama berselisih," kata Pak John.
Dalam hatinya Danies merasa tenang melihat reaksi dari Pak John tadi. Tapi hal itu membuat dirinya semakin bersalah, karena selama ini ia berpikir Rossie sudah mengadukannya yang macam-macam. Sekali lagi Danies merasa betapa bodohnya ia tak bisa menahan emosi.
***
Di rumah, Pak John menceritakan pada Cassie tentang permintaan Danies tadi.
"Kau tahu, Rossie. Tadi Danies menemui kakek di kantor. Ia meminta kakek mengajarkannya dan yang lebih mengejutkan lagi ia meminta kakek menyampaikan permintaan maaf untukmu," kata Pak John sambil memakan makanannya.
"Benarkah? Mungkin ibu atau pamannya yang menyuruhnya," kata Cassie.
"Oh iya, kakek baru saja membelikan beberapa buku dan pakaian untuk anak panti asuhan yang selalu kau kunjungi. Kapan kau akan ke sana lagi?" tanya Pak John.
"Mungkin hari Minggu," jawab Cassie singkat.
"Kau tahu, Rossie. Kakek sangat bangga memilikimu," puji Pak John.
Rossie adalah cucu satu-satunya yang ia miliki. Ia sangat berharga. Satu-satunya pewaris keluarga Adams.
***
Tak terasa seminggu berlalu. Sejak hari di mana Danies bertemu Cassie di malam dana, ia selalu membuntuti ke mana pun Cassie pergi. Dimulai mengintipnya di kampus, hingga ia tahu di mana tempat ia tinggal. Ia menginginkan tak ada keraguan dalam dirinya. Ia akan memastikan kalau itu benar-benar Cassie, sahabat kecilnya.
"Mau ke mana kau Cassie?" kata Danies sambil membuntuti Cassie yang menaiki sebuah taksi dengan barang bawaan yang begitu banyak. Itu sangat aneh, untuk anak sekaya Cassie, Danies tak pernah melihat Cassie pergi ke kampus membawa mobil. Cassie selalu ikut bersama mobil temannya, naik bis, atau taksi.
Sudah hampir setengah jam ia membuntuti taksi yang mengantar Cassie dan taksi itu pun berhenti pada suatu tempat "Panti Asuhan".
Dilihatnya Cassie yang dibantu sopir taksi membawa barang-barang ke dalam panti itu. Jadi itu adalah sumbangan untuk anak-anak panti.
Diam-diam ia mengintip. Banyak anak-anak yang memburu Cassie. Mereka seperti sudah mengenal Cassie sejak lama, itu berarti Cassie sering ke sana. Dilihatnya senyum dan canda tawa dari wajah Cassie yang berseri serta anak-anak sebelum mereka masuk ke dalam panti.
Tak terasa sudah dua jam Danies menunggu dan Cassie juga belum keluar dari panti. Sepertinya Cassie benar-benar betah di sana. Namun itu membuat rasa penasarannya terbayar. Kini ia yakin kalau itu adalah Cassienya. Sosok gadis baik hati yang penuh kelembutan, namun terkadang menampakkan wajah dingin.
"Tunggu!" teriak Danies membuka pintu mobil ketika Cassie sudah keluar dari panti dan mencoba mencari taksi.
"Danies. Sedang apa kau?" tanya Cassie kaget.
"Aku kebetulan lewat dan melihatmu," jawab Danies.
"Sepertinya kau sering kebetulan melihatku," kata Cassie tersenyum kecil.
"Ya, kau benar. Sepertinya Tuhan memang menakdirkan kita untuk saling bertemu," kata Danies mendekati Cassie.
Seketika Cassie mundur ketika tangan Danies mencoba menyentuh tangannya. "Kau ingin menyakiti tanganku lagi?"
"Tentu tidak. Aku ingin minta maaf. Tak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu. Aku benar-benar menyesal. Seandainya saja aku tahu sejak awal kalau itu kau. Andai saja kau memakai gelangnya. Itu akan memudahkanku mengenalimu," kata Danies sambil memegang dan melihat tangan kiri Cassie.
"Aku tak mengerti yang kau ucapkan," kata Cassie terlihat bingung. "Oh, sekarang aku tahu. Kau melakukannya karena kau ingin kakekku mengajarimu, ‘kan? Danies kau tak perlu berpura-pura baik hanya karena menginginkan kakekku mengajarimu. Itu urusan kau dengan kakekku," tambahnya.
"Itu lucu. Bukan aku yang berpura-pura. Mengapa kau tak mengatakan kalau kau itu adalah Cassie dan mengapa kau tidak memakai gelang pemberianku?" tanya Danies tertawa dan matanya berkaca-kaca.
"Kau tidak pernah memberikanku gelang. Cassie, darimana kau tahu nama panggilanku yang lain?" kata Cassie kebingungan.
"Ayolah, Cassie. Aku sudah tahu kalau kau adalah Cassie, sahabat kecilku. Andai saja kakekmu tidak memanggilmu dengan sebutan Rossie, mungkin aku takkan menyakiti tanganmu dan menghancurkan hatimu dengan perkataanku. Mengapa kakekmu memanggilmu Rossie, tidak seperti teman-temanmu yang lain?" tanya Danies. "Tunggu dulu, aku lupa. Apa itu karena nama tengahmu, Cassandra Rose Adams?"
"Nenekku bernama Rossie. Kakekku bilang aku mirip dengannya. Setiap kali ia melihatku, ia melihat nenekku, karena itulah ia memanggilku Rossie agar ia menganggap nenekku masih hidup. Tapi jujur saja aku tidak menyukainya. Itu seperti seseorang melihatku sebagai mayat yang hidup. Aku lebih senang jika kakek memanggilku Rose, sesuai nama tengahku, bukan Rossie," jawab Cassie. "Tapi darimana kau tahu nama lengkapku?"
"Sudahku bilang kalau kau adalah sahabatku, tentu aku tahu tentangmu. Ayolah Cassie, berhentilah bercanda seolah kau hilang ingatan," kata Danies yang terus saja tertawa.
"Tapi aku benar-benar tidak mengenalmu dan kau juga tidak pernah memberiku gelang," kata Cassie.
"Oh tidak. Apa kau mengalami kecelakaan? Apa kau hilang ingatan?" tanya Danies tak percaya. "Seharusnya aku tak pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu menjagamu dan tenang saja, aku akan berusaha agar ingatanmu kembali dan kita bisa berteman dan bersama kembali seperti dulu," tambahnya penuh kekhawatiran.
"Aku benar-benar minta maaf Danies, tapi aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu. Aku sudah memaafkan semua yang kau lakukan padaku. Sudah kukatakan kalau sebaiknya kita melupakan semua yang sudah terjadi pada kita. Baiklah, aku menerima permintaanmu menjadi temanku, tapi berjanjilah kau tak akan mengingatkanku akan masa lalu, karena itu membuat kepalaku begitu sakit. Berjanjilah kita akan menjadi teman baru seperti baru saja kenal," kata Cassie sambil memberikan kelingkingnya.
"Aku janji!" kata Danies sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Cassie.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa," kata Cassie pamit. Jujur saja, ia tidak ingin berlama-lama dengan Danies. Persetujuan permintaan pertemanan dengan Danies hanya karena ia tidak ingin Danies tiba-tiba menjadi seorang monster lagi.
"Tunggu dulu. Hubungan kita baru saja membaik. Biarkan aku mengantarmu pulang," kata Danies menawarkan diri sambil membuka pintu mobilnya.
"Maaf, tapi aku bisa pulang sendiri. Lagi pula, aku masih belum bisa percaya padamu sepenuhnya," kata Cassie tersenyum.
"Tapi kita sudah lama bersahabat," sanggah Danies.
"Tapi aku baru saja mengenalmu. Kita baru beberapa kali bertemu. Kau adalah orang asing bagiku. kuharap kau mengerti," kata Cassie mencoba menjelaskan.
"Tapi, kita bukan orang asing. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada orangtuamu. Kakekmu mungkin tak mengenalku, tapi orangtuamu sangat mengenalku. Kau bahkan pernah menginap di rumahku," kata Danies terlihat kecewa. "Apa kau belum bisa memaafkanku?" tambahnya sambil mencoba bersujud.
"Danies apa yang kau lakukan?" tanya Cassie bingung melihat tingkah Danies yang tiba-tiba saja bersujud memegang kakinya. Cassie pun menyuruhnya untuk kembali berdiri.
Untuk beberapa saat Cassie terdiam. Ia melihat wajah Danies yang memelas. Dalam hatinya ia tahu, kalau Danies orang baik, tapi tetap saja ia tidak mudah menerima ajakannya.
"Baiklah," kata Cassie sambil menggigit bibirnya.
"Ayo, kalau begitu. Terima kasih Rossie, maksudku Cassie," kata Danies kegirangan dan mempersilahkan Cassie masuk. Ternyata ucapan pamannya benar, wanita akan mudah luluh apalagi ketika pria bersujud padanya.
***
Diperjalanan Danies terus saja bercerita akan persahabatan kecilnya dan hatinya yang selama ini merindukannya.
"Danies, kau sudah berjanji kau tidak akan mengatakan masa lalu kita bukan?" pinta Cassie tersenyum.
"Baiklah, aku minta maaf. Hanya saja, aku benar-benar tidak percaya kalau kau sekarang berada di sampingku. Aku sudah lama menginginkan kita bertemu kembali," kata Danies bersemangat.
"Ngomong-ngomong, mengapa kau tahu kalau aku adalah Cassie sahabatmu?" tanya Cassie. "Apa kakekku yang memberitahunya?"
"Tidak, kau tahu kalau kakekmu selalu memanggilmu Rossie dan aku tak akan pernah sadar kalau itu adalah kau. Beruntung aku tahu dirimu saat kau tampil dalam acara malam dana. Saat itu aku benar-benar bingung harus berbuat apa," jawab Danies.
"Malam dana? Kau menghadirinya?" tanya Cassie.
"Ya. Beruntung aku bertemu dengan temanmu yang bersamamu di pekan raya. Dia bilang di kampusnya akan mengadakan malam dana untuk beramal pada korban Suriah. Emm ... siapa namanya? Kalau tidak salah Alex, ya Alex deKam, benar?" kata Danies yang masih memancarkan kegembiraan.
Cassie hanya bisa menyandarkan pipinya pada kaca mobil sambil memandangi pemandangan dan berpikir orang yang selama ini membencinya tiba-tiba berubah baik dan sopan padanya.
"Belok kiri," kata Cassie saat memasuki kawasan rumahnya.
"Tenang saja, aku sudah tahu," kata Danies.
"Tahu? Jadi apa saja yang sudah kau ketahui tentangku?" tanya Cassie penasaran.
"Ya, aku tahu kampusmu walau tidak tahu jurusanmu, aku tahu teman-teman yang biasa pergi bersamamu, dan aku tahu di mana rumahmu. Oh Cassie, kita tinggal di negara bagian yang sama tapi selama ini kita tidak saling jumpa," kata Danies menjelaskan.
"Terang saja kita tak saling bertemu, karena kita berbeda kota. Darimana kau tahu semua itu? Apa kau membuntutiku?" tanya Cassie.
"Maafkan, aku. Tapi aku ingin memastikan kalau kau adalah Cassie, sahabatku," jawab Danies mengangguk kemudian memperlihatkan wajah yang menyesal.
"Danies, kau membuatku takut. Pantas saja seolah ada mengikutiku. Jangan pernah membututiku lagi, Ok," pinta Cassie kesal.
"Ok," kata Danies.