"Hai, Cassie. Maukah kau menemaniku pergi sepulang kuliah?" tanya Alex sambil menghampiri Cassie yang sedang berjalan bersama teman-temannya.
Namun Cassie hanya diam mengacuhkan. Pergi berlalu begitu saja.
"Ayo teman-teman!" ajak Cassie meninggalkan Alex.
Seperti biasa mereka berkumpul di kantin kampus sehabis mata kuliah mereka selesai. Abby dan Lena memang satu jurusan. Beruntung Cassie memiliki jadwal yang sama seperti mereka.
Mereka terlihat menikmati makanan dan minuman mereka sambil bercanda ria. Seperti biasa Lena selalu membicarakan sesuatu yang tak ada habisnya. Ia seperti tidak pernah ketinggalan bahan pembicaraan. Selalu saja ada. entah itu isu politik, berita televisi, sinetron, film, national geografic, mata kuliah, dan yang tak kalah sering adalah membicarakan pria-pria tampan di kampusnya. Walau begitu Cassie dan Abby tampaknya sudah terbiasa dengan apa yang Lena lakukan. Bagi mereka Lena adalah sosok gadis lucu, periang, dan terkadang lugu.
"Mengapa kau mengacuhkan Alex? Apa kalian bertengkar?" tanya Lena sambil meminum jusnya.
"Ya. Aku perhatikan akhir-akhir ini sikapmu berubah. Apa kalian ada masalah?" tanya Abby.
"Apa Alex sekarang sudah mempunyai kekasih dan kau cemburu?" tanya Lena.
"Oh, Tuhan. Kalian bertanya begitu banyak seolah sedang mengintrogasiku. Aku hanya sedang tidak mau berbicara dengannya dan aku akan sangat senang jika Alex mempunyai kekasih. Itu berarti ia tidak harus mengikutiku lagi," jawab Cassie sambil memegang minumannya.
"Wow ... wow ... siapa yang datang?" teriak anak-anak di kantin.
"Lihat Abby siapa yang datang!" kata Lena dengan mata yang mencolok.
"Hai, seksi. Mau makan bersamaku?" teriak pria di kantin.
Bruuk....
"Oh, Tuhan," kata Cassie kaget saat seseorang menumpahkan makanan dan minuman tepat di tubuhnya.
"Maaf. Maafkan aku. Aku tidak sengaja," kata gadis yang sedari tadi dicibir seisi kantin.
"Apa yang sudah kau lakukan kutu buku?" kata Abby.
"Astaga Cassie, kau tidak apa-apa?" tanya Lena sambil membantu Cassie membersihkan pakaiannya.
Cassie hanya bisa mencoba membersihkan pakaiannya yang begitu kotor dengan tissu.
"Kakiku tersandung. Coba saja kalau Abby menempatkan kakinya dengan baik," kata gadis itu. Itu adalah Mia. Gadis yang selalu dibicarakan seisi universitas. Bukan karena kepintarannya, tetapi karena perilakunya yang menyendiri dan aneh, dan selalu membaca buku di perpustakaan. Karena itulah mereka selalu menyebutnya kutu buku, karena Mia tak pernah bergaul dengan manusia tetapi selalu dengan buku-bukunya.
"Kau menyalahkanku, Mia?" tanya Abby mulai naik darah. "Apa aku sudah gila ingin membuat pakaian sahabatku sendiri kotor seperti itu?"
"Tapi kau sendiri yang duduk sembarangan," jawab Mia. "Kau ingin aku terjatuh bukan?"
"Terserah padaku posisi duduk dan kakiku bagaimana. Kau sendiri yang berjalan tidak hati-hati. Makanya, kalau berjalan itu pandang ke depan, bukan malah tertunduk ke bawah," kata Abby kesal.
"Sudahlah Abby, aku baik-baik saja," kata Cassie mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Tidak Cassie. Dia menuduhku," kata Abby menolak. "Apa lihat-lihat? Apa kau mau menjambak rambutku seperti dulu?" tanyanya yang melihat Mia dengan tatapan tajam.
Tak perlu menunggu lama. Tiba-tiba saja Mia menjambak rambut Abby. Ia bahkan melemparinya minuman yang ada di meja Abby. Sontak seisi kantin kaget melihat tingkah Mia. Tak menyangka Mia akan melakukannya.
"Lawan, Abby," teriak salah satu mahasiswa.
"Ya. Lawan ... lawan ... lawan ...." Seisi kantin menyemangati.
"Abby, sebaiknya kita pergi," bujuk Cassie.
Namun, Abby tak menghiraukan ajakan sahabatnya itu. Ia mulai naik pitam. Tak terima apa yang sudah Mia lakukan padanya. Ia pun membalas dan menjambak Mia. Semua orang seolah mendukung Abby. Ada juga yang turut melemparkan minuman pada Mia. Mereka berguling-guling saling lawan, membuat seisi kantin gaduh bak acara pergulatan. Tak ada satu orang pun yang justru melerai mereka. Bahkan ada yang bertaruh siapa yang akan menang, Abby atau Mia. Itu menyangkut Cassie, kesayangan mereka, karena itu siapa pun yang menyakiti Cassie, mereka tidak terima.
Cassie sudah bersusah payah melerainya, namun ia tidak mampu. Ia malah terjatuh akibat dorongan Abby dan Mia. Belum lagi banyaknya pasukan yang seolah membantu Abby.
"Apa-apaan kalian? Semuanya bubar!" teriak Alex yang datang tiba-tiba, karena salah satu mahasiswa memanggilnya ke kantin.
Barulah anak-anak terdiam dan membubarkan diri. Duduk kembali ke kursinya masing-masing atau pergi dari kantin. Sementara Abby dan Mia masih berguling-guling di lantai.
Alex mengangkat mereka berdua dan mencoba menasihatinya.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian merasa jagoan di sini?" tanya Alex. "Ini kampus, bukan arena gulat. Kalian sudah tingkat dua, seharusnya kalian menjadi contoh bagi adik tingkat kalian. Bukan melakukan hal memalukan seperti ini,"
"Alex, dia telah mengotori pakaian Cassie. Kau juga seharusnya marah padanya. Dia juga telah memfitnahku dan dia yang melawanku duluan," kata Abby. Tangannya mencoba meraih Mia, namun dihentikan oleh Alex.
"Tapi, memang benar kau yang melakukannya," kata Mia yang mencoba melawan Abby.
"Sudah. Aku tidak mau mendengar kalian lagi. Ayo minta maaf," kata Alex mencoba mendamaikan mereka.
"Aku tidak mau," tolak Abby membuang muka.
"Ya. Aku juga tidak mau," kata Mia.
"Ayolah, Abby. Tidak ada salahnya meminta maaf," kata Lena membisikan pada telinga Abby.
"Tapi, dia telah merendahkanku," kata Abby yang tetap pada egonya.
"Ayo. Aku hitung sampai tiga atau aku adukan pada Ketua Jurusan kalian masing-masing. Atau aku hukum kalian selama satu bulan menjadi layanan kebersihan kampus," kata Alex mengancam.
Alex mulai berhitung. Beruntung di hitungan terakhir akhirnya Mia dan Abby mau berjabat tangan. Walau itu hanya formalitas.
"Bagus. Ingat, aku tidak mau melihat kalian seperti ini lagi. Kalian harusnya bersikap dewasa," kata Alex tersenyum.
Mia pun pergi. Sambil semua orang memandanginya tak percaya.
"Kau tidak apa-apa, Cassie?" tanya Alex khawatir.
"Ayo, teman-teman. Sebaiknya kita ke kamar mandi!" ajak Cassie.
"Sebaiknya kau pulang saja," kata Alex.
"Untung saja ada kau, Alex," kata Lena mencoba menarik napas.
"Ayo, aku antar kau pulang!" ajak Alex sambil meraih tangan Cassie.
"Berhentilah seolah-olah kau pahlawan. Aku tidak perlu banTuanmu," kata Cassie sambil melepaskan tangan Alex dan meraih tangan Lena dan Abby pergi.
"Cassie!" teriak Alex yang kebingungan dengan sikap Cassie padanya. Rasanya tak ada masalah di antara mereka.
"Bye, Alex!" kata Lena sambil melambaikan sebelah tangannya.
***
Cassie dan Abby mencoba membersihkan pakaian mereka. Tapi sepertinya pakaian Cassie benar-benar penuh noda tak bisa dihilangkan hanya dengan air. Malangnya ia tidak membawa baju ganti. Noda itu bahkan tidak bisa ditutupi dengan jaketnya. Ia tidak mungkin bisa masuk kelas dengan pakaian seperti ini.
Di dalam kamar mandi, Abby mencoba membersihkan pakaiannya sambil terus-terusan mengomel. Kali ini ia seperti Lena yang selalu berbicara tanpa jeda.
"Sudahlah, Abby. Kau, lihat. Pakaianmu juga jadi kotor," kata Cassie.
"Aku sangat kesal padanya. Mengapa kau malah menghentikanku? Ingin sekali aku menjambak rambutnya sampai rontok," kata Abby.
"Kau lihat, Cassie. Mia seperti monster," kata Lena.
"Ya. Aku tahu. Tapi, kau dulu yang mencoba menselengkar kakinya agar tersandung dan aku yang jadi korbannya," kata Cassie.
"Apa aku tidak salah dengar? Apa kau baru saja membelanya?" tanya Abby.
"Aku tidak membelanya. Hanya saja, kalau kau tidak mencoba membuatnya tersandung ...," jawab Cassie.
"Tapi dia pantas mendapatkannya. Kau lihat tadi, semua orang juga mencibir dan melemparinya dengan minuman. Kalau kau tidak lupa, Mia yang terlebih dahulu menjambak rambutku," kata Abby.
"Tapi kau yang memancingnya duluan," kata Cassie. "Mengapa kau begitu membencinya? Tidakkah kau bisa berteman dengannya seperti kalian SD?"
"Kau ini kenapa Cassie? Jangan karena kau sedang bermasalah dengan Alex. Kau juga menyalahkanku," kata Abby tak terima. "Kau bisa dengan mudahnya begitu, karena kau tidak pernah merasakan betapa takutnya kau saat ada yang membelai wajahmu."
"Tapi itu salah ayahnya, bukan Mia," kata Cassie mencoba menjelaskan.
"Jadi sekarang kau mau membelanya? Baiklah, jika kau ingin berteman dengannya silahkan. Kalian berdua sangat cocok. Dasar kalian kutu buku!" kata Abby dengan nada tinggi.
"Abby aku tidak membelanya. Aku bukan kutu buku. Lagi pula apa salahnya jika kau suka membaca buku. Itu membuatmu menjadi lebih pintar," kata Cassie.
Mereka berdebat seolah mereka bukanlah sahabat. Keduanya tak ada yang mencoba mengalah atau diam. Walau Cassie berbicara dengan nada biasa, tapi perkataannya tidak pada waktu yang tepat. Kondisi Abby sedang marah.
"Ayolah kawan-kawan. Mengapa sekarang kalian bertengkar seperti ini? Jika Mia tahu, pasti ia sedang tersenyum melihat tingkah kalian," kata Lena mencoba menenangkan.
"Ya, kau benar. Mia memang menginginkan kita bertengkar," kata Abby mulai sadar.
"Abby, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu," kata Cassie memelas.
"Ya, Abby maafkanlah Cassie. Mungkin saat ini ia sedang datang bulan," celetuk Lena.
Abby seketika tertawa mendengar perkataan Lena.
"Hei. Aku sedang tidak datang bulan dan itu tidak ada hubungannya," kata Cassie.
"Maaf tapi moodmu terlihat kurang bagus akhir-akhir ini," kata Lena penuh sesal.
"Ayo, ceritakan apa masalahmu?" tanya Abby dengan nada yang lebih rendah. Kini sikapnya seolah berubah seperti dewasa.
"Tidak ada. Benar-benar tidak ada," kata Cassie. Tapi dari sorot matanya seperti ada yang sedang disembunyikan.
"Jadi, sahabat kita ini sedang main rahasia-rahasiaan," kata Abby menggoda.
"Ayolah, Cassie. Jangan membuatku penasaran," kata Lena.
"Benar kawan-kawan. Hmm ... sepertinya dengan pakaian seperti ini aku mau pulang," kata Cassie tersenyum.
"Kau bisa meminjam pakaian mahasiswa yang tinggal di asrama," kata Lena menyarankan.
"Tidak usah. Ayo, kita pergi!" ajak Cassie.
Abby dan Cassie pun pulang. Ini baru pertama kalinya Cassie ijin tidak masuk kuliah. Ia adalah anak yang rajin dan juga cerdas. Tak heran bila Abby memanggilnya kutu buku saat ia marah.
Cassie memanglah mahasiswi tingkat dua. Tapi bukan program sarjana seperti Abby dan Lena. Ia adalah mahasiswi pascasarjana yang mengambil program kedokteran, karena itulah Alex memanggilnya bu dokter.
Usia Cassie memang baru saja 19 tahun. Ia mengikuti akselerasi di setiap tingkat sekolah. SD 5 tahun, SMP 2 tahun, SMA 2 tahun, dan ia mampu menyelesaikan program sarjananya hanya dalam waktu 3 tahun. Jika melihat dari prestasi Cassie saat kecil, ia memang sudah cerdas dari dulu. Ia pun bisa masuk dalam program kedokteran karena beasiswa.
Menjadi satu-satunya mahasiswi termuda di jurusannya, membuat Cassie merasa kurang nyaman. Maka dari itu, ia lebih milih berteman dengan orang yang seusianya. Beruntung ia menemukan sosok Lena dan Abby yang selalu membuatnya tersenyum.