Semenjak hubungan Cassie dan Danies membaik, Danies menjadi semakin dekat dengan Cassie. Danies lebih sering mengunjunginya atau menelponnya. Bahkan Danies hanya menjadikan alasannya untuk belajar bersama kakeknya hanya untuk lebih dekat dengannya.
Danies seolah tak bosan mengunjunginya. Ini lebih seperti seorang kekasih yang baru saja bertemu setelah jarak memisahkan mereka begitu lama. Namun, hal itu membuat Cassie merasa canggung. Berbeda dengan Danies yang sangat akrab dengan semua orang di rumahnya, termasuk dengan pekerja rumah tangga. Ia seperti mencoba mencari perhatian dari setiap penghuni rumah.
Malam itu Alex berkunjung ke rumah Cassie. Ia merasa tidak enak dengan kejadian pakaian Cassie yang kotor tadi siang. Ia juga ingin meminta kejelasan Cassie akan sikapnya yang berubah akhir-akhir ini.
Bel pintu terus saja berbunyi. Cassie melihat dari balik jendela lantai atas. Terlihat itu adalah Alex yang datang.
Pelayan di rumah itu hendak membuka pintu, namun Cassie melarangnya. "Jangan buka pintunya."
"Tapi, itu Tuan Alex," kata Ellen, salah satu pelayan di rumah itu. Di rumah itu hanya ada 2 pelayan wanita, satu sopir, dan 2 security.
"Kalau begitu katakan padanya aku tidak ingin diganggu," kata Cassie.
Pelayan itu pun membuka pintu. Mengatakan pada Alex kalau Cassie tidak ingin diganggu. Namun, Alex tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Cassie. Ia ingin meminta kejelasan pada sahabatnya itu.
"Sebaiknya Anda pergi, Tuan. Kalau tidak, nona Cassie akan sangat marah," pinta Elle .
"Aku tidak akan pergi," jawab Alex sambil mencoba menerobos masuk.
"Tapi, Tuan," kata Ellen yang mencoba menghalangi Alex dari depan pintu.
Sementara Alex tidak menggubrisnya. Ia terus memanggil nama Cassie, berharap akan turun menemuinya. "Cassie ... Cassie ...."
Mendengar teriakan Alex, Cassie akhirnya memutuskan untuk pergi kebawah.
"Apa pelayanku tadi tak mengatakan kalau aku tidak ingin diganggu?" tanya Cassie.
"Maafkan saya nona, saya sudah berusaha," kata Ellen tertunduk lalu meninggalkan Cassie ke dapur.
Alex merasa bingung dengan tingkah Cassie. Apalagi sekarang Cassie tidak mau bertemu dengannya. Seolah-olah Cassie menyimpan amarah padanya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Alex bingung. "Aku minta maaf jika aku ada salah. Namun, jangan hukum aku dengan kau mencuekkan aku seperti ini," tambahnya.
Cassie hanya terdiam. Ia sendiri bingung menjelaskannya bagaimana pada Alex. Namun, kekesalannya memuncak ketika tiba-tiba Danies juga muncul.
"Oh, bagus. Lihatlah siapa yang datang?" tanya Cassie menyindir.
"Hai, Cassie," sapa Danies.
"Kalian berdua benar-benar menggangguku. Pergi dari sini!" teriak Cassie sambil menutup pintu dengan keras.
Alex dan Danies hanya bisa termenung. Apalagi Danies, ia baru saja datang dan Cassie sudah mengusirnya.
"Apa kau sedang ada masalah dengannya?" tanya Danies.
"Tidak. Kau sendiri?" kata Alex balik bertanya.
"Tidak," jawab Danies singkat.
"Oh iya, kita pernah bertemu di kafe, bukan?" tanya Alex baru tersadar. Teringat akan wajah Danies.
"Ya, benar," jawab Danies.
Kini mereka berdua terlihat mengobrol sambil duduk di teras.
"Sedang apa kau?" tanya Danies.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya," jawab Alex. "Kau sendiri?"
"Aku sedang berkonsultasi mengenai perusahaan dengan kakeknya," kata Danies.
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu. Seketika Alex dan Danies menoleh ke belakang. Berharap kalau itu adalah Cassie yang berubah pikiran. Namun harapan mereka pupus ketika yang membukanya adalah Ellen si pelayan.
"Maaf, Tuan-Tuan. Tapi, kalian harus pergi. Kalau tidak nona Cassie akan semakin marah," pinta Ellen.
"Baiklah, kami akan pergi," kata Danies.
Ellen pun menutup pintu kembali. Sementara Danies dan Alex saling bertatapan bingung. Mereka berdua mencoba masuk ke mobil mereka masing-masing. Namun, tetap saja ada yang mengganjal di hati mereka.
"Kau tahu, mengapa Cassie bisa seperti itu?" tanya Alex.
"Eentahlah. Mungkin dia sedang datang bulan atau mungkin ... kau tahulah kalau wanita memang sulit dimengerti," jawab Danies.
"Ya, kau benar. Mereka sangat pandai membuat para lelaki kebingungan," jawab Alex.
Alex dan Danies pun pergi meninggalkan rumah Cassie. Sementara Cassie hanya uring-uringan tidak jelas di kamarnya.
Mendengar keributan di luar, Pak John memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Ia mencoba menghampiri Cassie di kamarnya.
"Boleh kakek masuk, Rossie?" tanya Pak John dari balik pintu.
"Aku sedang tidak ingin diganggu," kata Cassie. Suaranya terdengar kurang jelas, karena bantal yang mencoba menutupi wajahnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan kejadian tadi siang?" tanya Pak John merasa khawatir.
"Aku baik-baik saja. Kakek tidak usah khawatir. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri," teriak Cassie.
"Baiklah. Tapi kakek tidak ingin melihatmu seperti ini lagi. Apa kau mengerti?" tanya Pak John.
"Baiklah," kata Cassie.
Pak John pun memutuskan untuk meninggalkan Cassie. Memberinya waktu untuk menenangkan diri. Sejak kecil, Cassie memang selalu menutup diri jika ia mempunyai masalah dan itu membuat keluarganya tak mengerti dengan apa yang sedang ia alami.
***
Alarm yang terpasang di handphone Cassie berbunyi. Namun tangan Cassie hanya merayap lalu mematikannya kembali, seolah tidak ingin bangun. Ia mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Namun terasa berat. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak enak hati dengan kejadian tadi malam. Ia sendiri merasa bingung ketika tangannya membanting pintu dengan keras dan mengusir Danies dan Alex.
Ia mencoba meraih handphone-nya kembali mencari nomor Danies lalu menelponnya, mencoba memperbaiki keadaan.
Agak lama Danies mengangkat handphone-nya. Mungkin Danies sedang mandi atau mungkin masih tidur.
"Hai, Danies. Apa aku tidak mengganggu?" tanya Cassie.
"Ya. Tidak apa-apa. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Danies sambil mengucek-ngucek matanya. Terdengar ia berbicara dengan suara yang masih berat seperti orang baru bangun tidur.
"Aku hanya ingin minta maaf soal semalam. Maaf jika aku tidak bisa mengontrol emosi," jawab Cassie sambil menggigit jarinya dan wajah bersalah.
"Tidak apa-apa. Kau tahu, aku juga pernah kehilangan kontrol bukan." kata Danies.
"Ya dan rasanya itu buruk sekali," kata Cassie.
"Tidak apa-apa. Apa kau sedang ada masalah dengan temanmu?" tanya Danies penasaran.
"Tidak. Semalam aku hanya benar-benar sedang ingin sendiri," jawab Cassie.
"Hmm ... aku mengerti. Rasa sakit itu pasti membuat moodmu kacau dan ingin sendiri," kata Danies tiba-tiba berspekulasi.
"Rasa sakit?" tanya Cassie bingung.
"Ya ... Tamu bulanan. Apa itu benar?" kata Danies sekaligus bertanya sambil malu-malu.
Cassie tertawa mendengar ucapan Danies. "Maaf, tapi aku sedang tidak mengalaminya. Hmm ... memangnya apa wanita selalu kehilangan mood gara-gara hal itu?"
"Oh, aku minta maaf. Hanya saja, kebanyakan wanita saat datang bulan marah tiba-tiba," kata Danies merasa bersalah. Ia memukul-mukul kepalanya merasa bodoh.
"Apa kekasihmu juga sering marah-marah?" tanya Cassie menggoda.
"Hmm ... syukurnya aku tidak punya kekasih, sehingga aku tidak perlu menjadi pelampiasan rasa sakitnya," jawab Danies tertawa. "Memangnya seperti apa rasa sakitnya?"
Sepertinya Danies mulai penasaran mengapa wanita biasanya mudah marah dan moodnya berubah-ubah ketika sedang datang bulan.
Cassie mencoba untuk tidak tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Danies yang begitu penasaran. Ia mencoba menjelaskannya dengan baik.
"Rasanya memang sakit dan itu sulit dihilangkan. Tapi, sebenarnya itu tidak ada kaitannya dengan mood seseorang dan asal kau tahu, aku tidak pernah marah-marah disaat itu," kata Cassie.
"Maaf jika aku lancang bertanya seperti itu," kata Danies.
"Tidak apa-apa. Dengan begitu mungkin kau akan terbiasa menghadapi istri atau anak perempuanmu," kata Cassie.
"Ya, kau benar." Danies terdiam sejenak. "Oh iya, ibuku mengundangmu untuk makan malam hari Jumat. Aku harap kau mau menghadirinya," pinta Danies.
"Baiklah. Akan aku usahakan," kata Cassie.
"Terima kasih. Aku akan menjemputmu nanti," kata Danies bahagia.
"Ya, aku tunggu. Sampai jumpa nanti Jumat," kata Cassie mencoba mengakhiri pembicaraan. Namun ia terlupa ingin mengatakan sesuatu pada Danies. "Oh ya, Danies. Sebaiknya, kau tidak usah berkunjung ke rumahku setiap hari. Mungkin kau bisa menemuiku setiap Sabtu pagi atau sore. Kau tahu saat ini kuliahku sedang padat dan aku hanya menginginkan waktu santaiku untuk tidur atau sekadar bersantai. Aku harap kau mengerti."
"Baiklah, aku mengerti," kata Danies.
"Sampai jumpa dan fokuslah pada pekerjaanmu saat ini," kata Cassie.
Dalam hatinya, Cassie merasa tidak enak karena membatasi kunjungan Danies. Tapi itulah yang ia inginkan dan dia tahu Danies pasti akan memahaminya.
Kini tinggal Alex. Ia harus minta maaf padanya, karena sikap cueknya akhir-akhir ini. Namun ia tidak sempat untuk meleponnya. Ia hanya bisa mengirim sebuah pesan.
"Maaf atas kejadian semalam. Aku harap kau mengerti. Kau bilang ingin mengajakku pergi, baiklah kita pergi sehabis aku pulang kuliah"
Tak perlu menunggu waktu lama. Balasan dari Alex pun langsung menghampirinya.
"Maafkan aku juga. Baiklah aku akan menunggumu di taman. Sampai jumpa. Senang bisa melihatmu tersenyum lagi"