Part 9

1418 Kata
Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Ketika keluar dari gedung kampusnya, sudah ada Lena dan Abby yang menunggu Cassie. Namun, kali ini Cassie menolak untuk pulang bersama mereka. Tentu hal ini karena ia sudah ada janji dengan Alex. "Sepertinya ada yang sudah baikkan sekarang," goda Lena. Cassie hanya tersenyum malu melihat teman-temannya mencoba menggodanya sambil menggoyang-goyangkan badannya. "Ayo, Cassie kita pergi," ajak Alex datang menghampiri. "Boleh aku ikut?" tanya Lena. "Ya, boleh mereka ikut?" tanya Cassie. "Hmm ... maaf tapi kali ini kita berdua saja," jawab Alex. "Yah ... Apa kalian sedang ingin berduaan?" tanya Lena. "Ya, begitulah," kata Alex menggoda sambil mengalengkan tangannya ke pundak Cassie. "Apa kalian sudah pacaran?" tanya Abby. "Tentu saja tidak. Itu, tidak mungkin," sanggah Cassie. "Mengapa tidak mungkin. Kalian pasangan yang serasi," kata Lena. "Ya, Lena benar," kata Abby. "Eentahlah. Tapi lebih menyenangkan hubungan kita seperti ini. Bukan begitu, Alex?" tanya Cassie sambil melepaskan tangan Alex dari pundaknya. Alex hanya menggangguk dengan wajah yang kecewa. Namun kemudian tersenyum dan mengajak Cassie segera pergi. Merekapun meninggalkan Lena dan Abby yang ingin ikut bersama mereka. Dengan mobil Alex, mereka pergi ke suatu mall. Alex bilang ia ingin mencari hadiah untuk tantenya. Ia ingin Cassie yang memilihkannya. Dipilihnya oleh Cassie sebuah bros perak dengan mutiara yang menghiasinya dan juga sebuah tas. Alex setuju dengan pilihan Cassie itu. Tak hanya membeli hadiah untuk tantenya, Alex mengajak Cassie untuk ke arena permainan, makan, dan juga menonton sebuah film. Hingga tak terasa waktu malam pun tiba, menuntut mereka untuk segera pulang. "Sampai jumpa," kata Cassie menuruni mobil. "Sampai jumpa dan terima kasih atas pilihannya," balas Alex. Cassie hanya tersenyum sambil melambaikan tangan sebelum ia memutuskan untuk masuk rumah. Ia merasa perilaku buruknya pada Alex sudah terbalas dengan kesenangan hari ini. Ia juga senang membantu Alex memilihkan hadiah untuk tantenya.   ***   Jumat pun tiba, Danies menjemput Cassie untuk mengunjungi rumahnya. Danies berdandan dengan sangat rapi. Dilihatnya Cassie pun tampak menawan dengan gaun sederhana berwarna navi yang disertai dengan outher berwarna putih. Ia tampak seperti langit malam yang dikelilingi cahaya bintang. "Kau siap berangkat?" tanya Danies yang kagum melihat wajah Cassie ketika Cassie membuka pintu. "Ya," jawab Cassie singkat. Danies mencoba mengulurkan tangannya. Membimbing Cassie menuju mobilnya. Namun Cassie tak menerima ulurannya. "Aku, pakai mobilku sendiri," kata Cassie. "Kau bercanda?" tanya Danies terkekeh. "Aku serius. Tidak apa-apakan. Rumah kita lumayan jauh. Kalau aku membawa mobilku sendiri, kau tidak perlu repot-repot mengantarku pulang. Lagi pula, cuaca terlihat sedang tidak baik," jawab Cassie. "Baiklah," kata Danies tersenyum kecewa. Ini terlihat lucu. Ia berharap bisa berduaan bersama Cassie di mobil. Namun, Cassie malah diantar oleh sopirnya. Tak terasa perjalanan selama satu jam pun berhasil terlewati. Dilihatnya paman Danies yang sudah menanti di depan pintu. "Selamat datang, Rossie. Emm ... maksudku Cassie. Kau terlihat sangat cantik," kata James sambil mempersilahkan Cassie masuk. Sudah pukul tujuh malam namun ibu Danies masih belum bersiap. Ia tengah sibuk mempersiapkan makanan di dapur di temani seorang pelayan. "Aku akan membantunya," kata Cassie. "Baiklah. Aku dan paman akan menunggu," kata Danies. Untuk beberapa menit Cassie cukup kaku. Ia baru pertama kali ke rumah Danies. Ia mulai memberanikan diri mendekati Serena yang sedang memotong buah. "Biar aku saja," kata Cassie sambil mengambil pisau. "Hai, Cassie. Kau tumbuh dengan sangat cantik," puji Serena melihat Cassie meraih pisau di tangannya. "Terima kasih. Anda juga terlihat sangat cantik," balas Cassie sambil memulai memotong buah. "Danies bilang kau hilang ingatan," kata Serena yang sedang mempersiapkan masakan yang lain. Cassie hanya mengangguk. "Maaf soal kerjasama itu." "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku berterima kasih kakekmu masih berbaik hati mengajarkannya berbisnis," kata Serena. "Kau tahu Cassie, untuk beberapa waktu Danies selalu mengoceh dan menjelekanmu. Namun sekarang ia sungguh menyesal," tambahnya. "Aku bisa mengerti perasaannya," kata Cassie sambil meneruskan pekerjaannya. "Apa masakannya sudah siap?" tanya James menghampiri. "Ya, sebentar lagi," jawab Serena. Masakan pun dihidangkan dan satu per satu Danies, Serena, Cassie dan James mengambil masakan yang ada. Mencicipinya dengan santai ditemani obrolan-obrolan dan candaan kecil. Terlihat bagai keluarga yang bahagia. "Kau, tahu Cassie, awalnya Danies tidak bisa menerima kalau Rossie itu kau. Ia bilang kau tidak pantas memegang nama belakang Adams dan kau juga tidak pantas memiliki mata seperti Cassie," kata Serena. "Mata?" tanya Cassie. "Ya, dia bilang saat kalian bertengkar ia tidak sengaja melihat matamu yang seolah seperti mata milik Cassie," jawab Serena. "Dan itu memang kau. Kau tahu betapa menyesalnya ia telah memperlakukanmu dengan buruk. Padahal kau adalah sahabat yang selalu ia nantikan sampai saat ini. Sampai-sampai di usianya sekarang ia tidak sempat memikirkan wanita lain selain dirimu dan sekarang kau sudah ada," kata James. "Danies bilang tidak ada wanita yang lebih berharga selain ibunya, kecuali kau. Sungguh menyentuh," tambahnya. "Ayolah, paman. Berhenti membicarakanku. Kita makan saja," kata Danies tersipu malu. Sementara Cassie tiba-tiba terlihat tidak bersemangat. Ia tidak nyaman mendengar Danies selama ini merindukannya. Apalagi Danies begitu hafal dengan matanya. Hubungan mereka tidak lebih dari seorang sahabat, bukan kekasih.   ***   Setelah makan, Danies mengajak Cassie mengelilingi taman belakang rumahnya. Rumah dengan gaya minimalis itu cukup besar, namun tidak lebih besar dari rumah Cassie. Langit terlihat sangat gelap. Tak ada bintang yang terlihat. Mungkin karena kabut yang cukup tebal disertai rintik-rintik hujan. "Kau kedinginan?" tanya Danies. "Sedikit. Tapi, aku suka udaranya. Sangat menenangkan," jawab Cassie sambil mengulurkan tangannya hingga tetes hujan jatuh pada telapak tangannya. "Kau tahu. Saat kita kecil, kita sedang bermain di rumah pohon. Saat itu hujan lebat sampai kita tidak bisa turun. Lalu, Meti datang membawakan payung dan ketika aku turun kakiku terpeleset hingga memar. Seketika kau berlari menuju rumahmu tanpa memakai payung. Lalu kau mengambil salep untuk memarku. Kau mengoleskannya pada kakiku. Aku terlihat meringis kesakitan, lalu kau bilang tenang Danies ini hanya luka kecil sebentar lagi kau pasti sembuh." kata Danies teringat akan masa kecil mereka. "Sikapmu sangat dewasa sekali." "Danies, mengapa kau begitu merindukanku?" tanya Cassie. "Eentahlah. Aku sangat sedih karena aku harus berpisah denganmu dan sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan penggantimu. Kau sangat istimewa bagiku Cassie. Mungkin dulu aku menganggapmu bagaikan adikku, tapi sekarang rasa itu seperti aku jatuh cinta padamu," jawab Danies menjelaskan bagaimana Cassie membuatnya tertarik saat mereka pertama kali mereka bertemu. Sungguh ironis, di usianya yang baru 15 tahun, Danies jatuh hati pada Cassie yang baru 9 tahun. Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Ia tidak yakin apakah itu benar-benar cinta atau hanya sebatas kasih sayang kakak pada adiknya. Persahabatan mereka membuat ikatan dihatinya semakin kuat, apalagi kedua orangtua Cassie yang mampu memberikan kasih sayang padanya seperti orangTuanya sendiri. Kasih sayang yang selama ini ia tidak pernah dapatkan dari orangTuanya. Itu membuat Cassie spesial di hatinya. Walaupun sudah berpisah selama bertahun-tahun, tapi Danies tidak bisa melupakan Cassie. Mungkinkah itu yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Ia sendiri sudah mencoba melupakan Cassie, tapi tak ada satu wanitapun yang berhasil menggantikan posisinya di hatinya. Pertemuan mereka kembali saat ini seolah membuat Danies jatuh cinta kembali pada Cassie. "Maaf. Tapi, aku tidak memaksa hatimu juga untuk menyukaiku. Tidak apa-apakan kalau aku menyukaimu?" tanya Danies sedikit canggung. Cassie sendiri bingung harus menjawab apa. Ia mencoba menarik napas yang begitu segar karena rintik hujan tadi. Danies benar-benar to the point mengungkapkan perasaannya. Padahal mereka baru beberapa minggu bertemu. "Tidak apa-apa. Itu hak semua orang, mau membenci atau menyukai siapa. Bukan begitu, Danies?" kata Cassie sambil tersenyum. Menandakan bahwa ia juga punya hak untuk menyukai orang lain. "Ya," kata Danies sambil keduanya melangkah masuk karena udara semakin dingin. Namun, dalam hati Danies berharap kalau Cassie dapat membalas cintanya. Hari semakin malam, bersyukur hujan sudah mulai berhenti. Cassie memutuskan untuk kembali pulang. "Terima kasih atas segalanya, Ibu Serena," kata Cassie. "Apa kau yakin? Sebaiknya kau menginap," tanya Serena. "Ya, tidak apa-apa. Mungkin lain kali aku bisa main ke sini lagi," jawab Cassie. "Ya, lagi pula besok libur," kata James. "Maaf, tapi ...," kata Cassie tak tahu harus berkata apa lagi. "Baiklah, kalau begitu hati-hati. Sampaikan salamku pada kakek dan orangtuamu," kata Serena sambil memeluk Cassie. "Ya. Sampai jumpa," kata Cassie melambaikan tangan dan masuk ke mobilnya. Mereka membalas lambaikan Cassie. Berdiri sampai mobil Cassie tak terlihat lagi. "Aku senang Cassie kemari," kata Serena. "Ya. Aku harap kita bisa seperti dulu," kata Danies. Ia sendiri sekarang bingung dengan tingkah apa yang akan Cassie tampakan setelah kejadian ini. Apakah sikap Cassie akan biasa-biasa saja, menyukainya, atau malah menjauhinya. Disisi lain, Cassie tampak bingung dengan perkataan Danies tadi. Ini membuat pikirannya semakin kacau mengingat Danies ternyata menyimpan perasaan padanya, namun ia sendiri tidak menyimpan perasaan sedikitpun pada Danies. Ditemani perjalanan yang cukup panjang dan musik di mobilnya, Cassie memutuskan untuk tidur. Setidaknya tidur bisa menenangkan pikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN