Siang itu terlihat Lena, Abby, Alex, Steve, dan Xavier yang tengah makan siang di kantin. Namun, Cassie harus datang terlambat karena ia masih ada kelas.
Beberapa menit telah berlalu, Cassie pun memutuskan untuk menyusul mereka ke kantin.
Dilihatnya teman-temannya sudah berkumpul memulai makan tanpanya.
Cassie mencoba mendekati meja teman-temannya itu. Kali ini, ia tidak memesan makanan. Lagi pula ia membawa minum dari rumah.
"Sampai jumpa!" sapa Cassie pada lelaki yang menemaninya ke kantin. Lelaki itu memutuskan untuk memesan makanan dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
"Wow, Cassie. Bukankah itu Eric. Salah satu pria terpintar di kelasmu?" tanya Abby.
Cassie hanya tersenyum mengangguk.
"Kau beruntung sekali bisa dekat dengannya. Dia sangat tampan, imut, dan juga baik. Berapa usianya?" tanya Lena yang terlihat ngiler melihat Eric, teman sekelas Cassie.
"Tahun sekarang usianya 23 tahun," jawab Cassie sambil mengeluarkan botol minumannya.
"Apa kalian...?" tanya Xavier menggoda.
"Tentu tidak," jawab Cassie menandakan tidak ada hubungan apa-apa dengan Eric. "Ia hanya teman sekelasku dan sekarang ia menjadi partner tugas kelompokku."
"Ayolah, aku bisa melihat kalian berdua saling menyukai," kata Steve ikut menggoda.
Belum juga mereka selesai menggoda Cassie, tiba-tiba datang seorang pria memberikan Cassie coklat di meja Cassie lalu pergi seperti biasa. Pria itu adalah Mason, orang yang sama memberikan Cassie bunga saat pekan olah raga lalu. Ia memang sering memberikan Cassie hadiah, namun Cassie tak pernah menanggapinya.
"Cassie, kau harus memutuskan dengan Eric atau Mason," kata Steve.
"Coba aku lihat," kata Abby sambil merebut surat yang tertempel di atas coklat.
Semoga kau menyukainya.
Penggemar beratmu,
M.
Itulah kata-kata yang ada di surat itu.
"Dia tidak pernah bosan memberikanmu hadiah. Mungkin kau bisa mempertimbangkannya. Kalau dilihat-lihat, Mason cukup tampan," kata Abby.
"Aku dengar ia juga senang membuat karikatur," kata Lena.
"Ya, dia pernah memberikannya padaku," kata Cassie.
"Mungkin kau harus mengadakan audisi untuk memilih siapa yang pantas menjadi kekasihmu," kata Xavier.
"Kalau begitu aku akan ikut mendaftar," celetuk Alex tiba-tiba setelah ia terdiam dari tadi.
"Kalau saja aku tidak punya kekasih. Mungkin aku juga akan ikut mendaftar," kata Steve terkekeh.
"Sudahlah. Kita ganti topik saja," kata Cassie kesal.
Cassie mencoba menatap Alex. Memahami apa yang baru saja Alex katakan. Itu tidak mungkin. Mereka sudah bersahabat cukup lama dan Cassie menginginkan tetap begitu. Tapi, itu mungkin hanya gurawan Alex saja. Tak ada yang menganggap ucapan Alex tadi sebagai serius. Lagi pula, banyak wanita yang mengelilingi Alex dan pasti salah satunya adalah idaman Alex.
***
Sudah dua minggu, Cassie jarang makan bersama teman-temannya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Eric. Mungkin karena tugas kampusnya.
Melihat hal itu, Alex memutuskan untuk main ke rumah Cassie di hari Sabtu. Sengaja ia datang pagi-pagi dengan niat mengajak Cassie jogging.
"Tuan Alex datang nona," kata Ellen menghampiri Cassie yang sedang bermain monopoli bersama Danies di gazebo dekat kolam.
Danies memang sudah datang dari pagi-pagi buta. Mereka terlihat menikmati permainan. Apalagi Cassie yang menertawakan Danies karena sudah 3 kali putaran, Danies selalu kalah dalam permainan.
"Oh, Danies, sebaiknya kita akhiri permainan ini sebelum kau bangkrut lagi," goda Cassie sambil tertawa puas.
"Tidak akan. Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu," jawab Danies sambil mengocok dadu.
"Ellen, tolong biarkan Alex masuk," kata Cassie sambil memperhatikan dadu yang di kocok Danies, tanpa sempat ia melihat Ellen.
"Baiklah," kata Ellen.
Setelah Ellen membukakan pintu, Alex pun masuk. Ia melangkah mengikuti Ellen yang menunjukkan Cassie sedang duduk di gazebo.
"Cassie," sapa Alex setelah ia memerhatikan tingkah Cassie yang sedang puas tertawa.
"Hai, Alex. Mau ikut bermain?" tanya Cassie sambil tertawa.
"Tidak, terima kasih. Maaf jika aku mengganggu. Aku akan pergi," kata Alex sambil membalikan badannya.
"Tunggu, Alex," kata Cassie berlari menghampiri Alex.
Alex pun berhenti setelah Cassie berhasil meraih tangannya.
"Kau baru saja datang. Tidakkah kau ingin bermain denganku. Ini seru sekali," kata Cassie bersemangat.
"Terima kasih, tapi aku tidak ingin menganggu kesenangan kalian," jawab Alex dengan wajah datar. Sesekali Alex melihat Danies dengan tatapan yang tak teralihkan.
"Tapi, kau tidak menganggu," kata Cassie terlihat bingung.
"Sampai jumpa," kata Alex tiba-tiba memutuskan untuk pergi.
Cassie hanya terdiam melihat Alex pergi. Ia masih bingung dengan tingkah Alex barusan.
Cassie pun kembali menghampiri Danies untuk melanjutkan permainan.
Mereka memulai mengocok kembali, terlihat kali ini Danies yang menang.
"Yes, kau lihat Cassie. Sudah aku bilang, aku akan mengalahkanmu," kata Danies.
Cassie tidak menanggapi ucapan Danies. Ia hanya diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Hingga ia tersadar kalau ia memang sedang tidak fokus saat Danies menepuk bahunya.
"Daar ... Kau tidak apa-apa?" tanya Danies.
"Ya. Sebaiknya kita sudahi permainan ini," kata Cassie kaget tersadar.
"Ayolah, kita main satu kali lagi. Aku baru saja menang, jangan karena kau kalah lalu kau ingin mengakhiri permainan ini," kata Danies tersenyum.
"Bagaimana jika kita nonton tv saja?" kata Cassie menawarkan.
"Ok," jawab Danies sambil merapikan mainan.
Alih-alih Cassie akan bersikap seperti biasa, ia justru semakin diam saat nonton tv. Sementara Danies tertawa melihat tingkah lucu kartun yang ditontonnya.
Cassie sepertinya masih memikirkan Alex.
***
Saat di kampus, Cassie mencoba berbaur kembali dengan teman-temannya. Kali ini ia tidak ditemani dengan Eric.
"Hai," sapa Cassie.
"Di mana Eric?" tanya Abby.
"Dia bersama teman-temannya," jawab Cassie.
"Apa ini?" tanya Lena ketika melihat gantungan kunci yang menempel di tas Cassie.
"Oh, itu souvenir dari Eric. OrangTuanya baru pulang dari Thailand," jawab Cassie tersenyum.
"Itu cantik sekali," kata Abby sambil memegang gantungan itu.
Seperti biasa, Mason mendatangi Cassie. Kali ini ia tidak membawakan Cassie bunga, coklat, atau hadiah apa pun.
"Hai, Cassie. Nanti malam aku mengadakan pesta ulang tahun di rumahku. Aku harap kau mau datang," kata Mason memberanikan diri sambil memberikan kartu undangan pada Cassie.
"Apa kami boleh datang?" tanya Xavier.
"Tentu saja. Kalian semua boleh datang. Aku akan sangat senang," jawab Mason.
"Maaf, tapi Cassie sepertinya tidak akan datang," kata Alex.
"Apa maksudmu?" tanya Cassie.
"Cassie ada urusan mengenai pameran denganku. Jadi maaf, Cassie tidak bisa hadir," kata Alex menjelaskan pada Mason.
"Baiklah. Aku pergi dulu," kata Mason terlihat kecewa.
"Mason, maafkan aku. Mungkin lain kali dan selamat ulang tahun," kata Cassie menyesal. Sebenarnya ia ingin menghadiri pesta itu. Apalagi selama ini Mason sangat baik padanya.
"Pameran apa Alex? Mengapa kau tiba-tiba membicarakan ini tanpa memberitahuku?" tanya Cassie bingung.
"Pameran seni tanteku yang akan dilakasanakan hari Kamis," jawab Alex.
"Kalau acaranya hari kamis, mengapa kita membicarakannya hari ini?" tanya Cassie terlihat kesal. "Mason pasti kecewa kita tidak bisa datang. Ia sudah bersusah payah menyiapkan ulang tahunnya."
"Tapi acara tanteku jauh lebih penting," jawab Alex dengan nada mulai tinggi.
"Tapi, kita bisa membicarakannya besok," kata Cassie.
"Oh, jadi kau lebih memilih Mason daripada aku? Apa sekarang kau menyukai Mason?" tanya Alex. Kali ini ia bebicara dengan nada sangat tinggi.
"Apa?" kata Cassie.
"Hei, kawan tenanglah," kata Steve mencoba menenangkan.
"Cassie, sebaiknya kau jangan begitu murahan dengan meladeni setiap lelaki," kata Alex ketus.
"Murahan? Apa aku tidak salah dengar? Ada apa denganmu? Apa kau salah minum obat?" tanya Cassie tak terima.
"Alex," teriak Abby.
"Apa aku pernah mempersoalkan wanita-wanita yang mengelilingimu?" kata Cassie tak terima.
"Setidaknya aku tidak meladeni mereka semua," jawab Alex.
"Meladeni bagaimana?" tanya Cassie. Kali ini air mata hampir membasahi pipinya karena merasa Alex telah merendahkan dirinya.
"Ada apa ini? Minggu lalu Cassie yang bersikap tidak baik padamu, lalu sekarang kau yang bersikap seperti ini? Apa masalah kalian sebenarnya?" tanya Abby.
"Mungkin saat itu, ia kesal karena kekasihnya mengacuhkannya jadi ia melampiaskannya padaku," kata Alex.
"Sudah cukup Alex. Sebaiknya aku pergi," kata Cassie pergi.
"Apa kau sadar dengan perkataanmu tadi Alex? Kau sangat keterlaluan," kata Lena terlihat kesal.
Abby dan Lena menyusul Cassie yang pergi dalam keadaan menangis, mencoba menenangkan hatinya.
Sementara Alex tengah mengontrol napas dan hatinya yang sedang panas.
"Kau aneh Alex," kata Xavier tak menyangka Alex bisa berkata kasar seperti itu pada Cassie.
Tak hanya teman-temannya, para pengunjung kantin pun sempat melirik Alex dan merasa aneh tak menyangka.
Alex hanya tertunduk. Diminumnya segelas air hingga habis. Ia sendiri tak habis pikir bisa berkata seperti itu. Seolah ada setan yang merasuk dalam otaknya.