Di ambang pintu masuk rumahnya, Dara berdiri membeku. Alih-alih kedua kakinya mendadak terasa berat untuk melangkah. Matanya bahkan tidak mampu berkedip ketika melihat mamanya sedang berbicara dengan seorang lelaki paruh baya di ruang tamu. "Pa... pa?" ucapnya terbata-bata. Meski pelan, suara Dara mampu mengalihkan perhatian Weny dan lelaki itu. "Ara, kamu udah pulang?" tanya Weny seraya beranjak dari sofa, kemudian berjalan menghampiri Dara sambil tersenyum. Dara mencium punggung tangan Weny, setelah itu mengikuti langkah mamanya untuk duduk di ruang tamu. Gadis itu semakin sesak ketika melihat lelaki yang begitu mirip dengan papanya duduk di hadapannya sekarang. "Pa... pa?" Cuma itu satu-satunya kata yang mampu ia katakan saat ini. Weny mengusap lengan putri sulungnya seraya berkat

